5 Pejuang Kemerdekaan Bekasi 1945 Selain KH Noer Alie

Daftar Isi

Kalau ditanya siapa pejuang kemerdekaan asal Bekasi, kebanyakan orang cuma bisa jawab satu nama: KH Noer Alie. Padahal di balik peristiwa Kali Bekasi, pertempuran Rawagede, sampai berdirinya Kabupaten Bekasi, ada nama-nama lain yang perannya nggak kalah besar — mulai dari perwira TKR, ulama panglima laskar, sampai jawara kampung yang bikin tentara Belanda kelabakan.

Konvoi pasukan Resimen Punjab ke-16 di dekat Bekasi, akhir 1945
Konvoi pasukan Britania-India dari Resimen Punjab ke-16 di sekitar Bekasi, akhir 1945 — era yang sama dengan perjuangan tokoh-tokoh dalam artikel ini (bukan foto tokoh yang dibahas, karena tidak ada foto pribadi mereka yang berlisensi bebas di Wikimedia Commons). Foto: E.E. Miller dan Duncan MacTavish, koleksi Imperial War Museums, via Wikimedia Commons (Domain publik).

Lima di antaranya yang catatannya paling kuat secara sejarah adalah Kapten (kelak Mayor Jenderal) Lukas Kustaryo, Mayor Sambas Atmadinata, Letnan Dua Zakaria Burhanudin, KH Darip dari Klender, dan Mayor Madmuin Hasibuan. Ditambah satu nama dari babak selanjutnya, Marzuki Urmaini, yang memperjuangkan kelahiran Kabupaten Bekasi setelah revolusi usai.

Artikel ini ngajak kamu kenalan sama mereka satu per satu: siapa mereka, di medan mana mereka bertempur, dan kenapa jejak mereka pantas diingat warga Bekasi hari ini.

Lukas Kustaryo, "Begundal" yang Bikin Repot Belanda di Karawang-Bekasi

Lukas Kustaryo lahir di Magetan, Jawa Timur, pada 20 Oktober 1920. Ia bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) di Brigade III/Kian Santang, Purwakarta, pada masa pendudukan Jepang. Begitu revolusi pecah, ia jadi komandan kompi di satuan yang dikenal sebagai Kompi Siliwangi Karawang-Bekasi, kemudian menjabat Komandan Kompi Batalyon I Sudarsono di garis depan Karawang-Bekasi pada 1945-1947.

Taktiknya yang nyeleneh bikin dia dijuluki "Begundal Karawang" oleh pasukan Belanda: ia kerap menyamar pakai seragam tentara Belanda untuk menyusup dan menyerang balik, sekaligus rutin menyabotase jalur kereta yang dipakai Belanda mengangkut logistik dan senjata. Reputasinya sebagai gerilyawan licin membuat Belanda menganggapnya target prioritas.

Puncaknya terjadi pada 8 Desember 1947, saat Belanda menggelar operasi pengepungan besar-besaran di kawasan Rawagede (kini Balongsari, Karawang) khusus untuk memburu Lukas. Ia berhasil lolos dan bersembunyi di Desa Pasirawi selama sepekan, tapi kegagalan menangkapnya justru memicu kemarahan pasukan Belanda yang kemudian melakukan pembantaian warga sipil Rawagede — salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah revolusi Indonesia. Setelah kemerdekaan, karier militer Lukas terus menanjak hingga pensiun dengan pangkat Mayor Jenderal TNI. Ia wafat pada 8 Juni 1997 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cipanas.

Mayor Sambas Atmadinata dan Letda Zakaria Burhanudin: Dalang di Balik Insiden Kali Bekasi

Peristiwa paling terkenal yang melahirkan julukan "Kota Patriot" untuk Bekasi terjadi pada 19 Oktober 1945, dan dua nama yang paling terlibat adalah Mayor Sambas Atmadinata dan wakilnya, Letnan Dua Zakaria Burhanudin.

Sambas Atmadinata lahir tahun 1925, bergabung dengan PETA pada masa Jepang, dan setelah proklamasi menjadi Komandan Batalyon V BKR (Badan Keamanan Rakyat) untuk wilayah Bekasi. Ia memimpin pasukan menghadapi Inggris dan Belanda sepanjang masa revolusi, termasuk pertempuran di Rawa Pasung pada 29 November 1945 saat pasukannya menahan laju tentara Inggris. Setelah revolusi usai, kariernya melesat sampai pangkat Mayor Jenderal; ia sempat menjabat Menteri Muda Urusan Veteran di era Presiden Sukarno, Jaksa Agung sementara, dan Duta Besar RI untuk Rumania pada 1965-1968.

Zakaria Burhanudin, lahir di Kampung Dua Ratus, Bekasi, pada 1924, adalah Wakil Komandan Sambas di BKR/TKR Bekasi. Pada 19 Oktober 1945 sore, ia menerima perintah membiarkan sebuah kereta berisi sekitar 90 anggota Kaigun (Angkatan Laut Jepang) melintas menuju Lapangan Terbang Kalijati, Subang, untuk dipulangkan. Alih-alih meloloskannya, Zakaria justru mengalihkan kereta itu ke jalur buntu di dekat Kali Bekasi. Massa dan pejuang lokal mengepung kereta, dan ketika terjadi insiden tembakan saat pemeriksaan dokumen, situasi berubah jadi penyerangan. Seluruh 90 tawanan Jepang akhirnya dieksekusi di tepi Kali Bekasi tanpa persetujuan komando di atasnya — sebuah tindakan yang membuat air kali dikabarkan berubah warna karena darah korban.

Insiden ini memicu protes keras dari pihak Jepang dan direspons langsung oleh Presiden Sukarno yang berkunjung ke Bekasi pada 25 Oktober 1945. Menurut catatan sejarah yang beredar, saat Sambas mengetahui tindakan Zakaria yang di luar perintah, ia sempat murka besar sebelum akhirnya memilih melindungi dan bertanggung jawab atas anak buahnya sendiri. Zakaria kemudian tercatat sebagai perwira polisi pertama asal Bekasi, mengabdi di kepolisian RI hingga masa tuanya, dan wafat pada 19 Januari 2008. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bulak Kapal, Bekasi.

Haji Darip, Panglima Perang dari Klender

Selain di wilayah Bekasi Timur dan Karawang, front pertempuran lain yang menyatu dengan sejarah Bekasi ada di kawasan Klender — kini masuk Jakarta Timur, tapi dulu satu kesatuan budaya dan perjuangan dengan Bekasi. Di sinilah nama KH Darip, atau lebih dikenal Haji Darip, jadi legenda.

Darip (nama aslinya Muhammad Arif) lahir tahun 1886 di Klender dari pasangan H. Kurdin dan Hj. Nyai Ma'i, tanpa pendidikan formal. Ia sempat dipenjara Jepang dan baru dibebaskan pada Agustus 1945, tepat menjelang proklamasi. Setelah bebas, ia menjadi saksi peristiwa Rengasdengklok dan ikut membantu mengamankan situasi menjelang kepulangan Soekarno-Hatta ke Jakarta.

Darip lantas mengorganisir rakyat Klender dan sekitarnya lewat laskar Barisan Rakyat Indonesia (BARA) yang dibentuknya pada 20 Agustus 1945, kemudian membentuk pula Barisan Perang Rakyat Indonesia (BPRI) yang bergerak sampai ke Cikarang, Bekasi. Karena kiprahnya memimpin pertempuran di berbagai front sekitar Jakarta-Bekasi melawan Sekutu dan Belanda, ia dijuluki "Panglima Perang dari Klender". Belanda sempat menangkapnya pada 1948 dan memenjarakannya hingga Desember 1949. Setelah kemerdekaan diakui, Darip masih aktif membantu mengatasi gangguan keamanan seperti pemberontakan DI/TII dan peristiwa G30S/PKI. Ia wafat pada 13 Juni 1981 dan dimakamkan di Klender sesuai wasiatnya. Sebagai penghormatan, pada 2022 Pemprov DKI Jakarta mengganti nama Jalan Bekasi Timur Raya menjadi Jalan Haji Darip.

Mayor Madmuin Hasibuan: dari Buruh Pelabuhan Jadi Panglima ALRI dan Ketua DPRD Pertama Bekasi

Berbeda dari nama-nama lain yang lahir di Bekasi, Madmuin Hasibuan justru berasal dari Huta Padang, tanah Batak, dan lahir sekitar tahun 1922. Sebelum revolusi, ia bekerja sebagai mandor buruh di pelabuhan Tanjung Priok pada masa pendudukan Jepang.

Ia menyaksikan langsung pembacaan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56 pada 17 Agustus 1945. Sebulan kemudian, ketika Badan Keamanan Rakyat (BKR) dibentuk pada 27 Agustus 1945, Madmuin dipercaya memegang komando sektor Jakarta Utara. Saat cikal-bakal ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) berdiri di wilayah pesisir, ia memimpin Batalyon III ALRI yang bergerilya di sepanjang Jakarta Utara hingga Bekasi, termasuk bentrok dengan pasukan Sekutu dan NICA di Jembatan Kali Kresek pada 6 Oktober 1945. Ia sempat ditangkap dan disiksa pada Desember 1945, namun dibebaskan setelah desakan pemuda setempat.

Setelah pengakuan kedaulatan pada akhir 1949, Madmuin beralih ke jalur politik. Ia bergabung dengan Partai Masyumi dan menjadi Ketua DPRDS (cikal bakal DPRD) Kabupaten Bekasi pertama, sejak 10 November 1950. Bersama KH Noer Alie, ia menjadi motor utama tuntutan pemisahan wilayah Bekasi dari Kabupaten Jatinegara menjadi kabupaten sendiri. Madmuin wafat pada 1961 karena sakit paru-paru. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan utama dan alun-alun di Kota Bekasi, meski kondisi makamnya sempat lama terbengkalai sebelum direvitalisasi pemerintah kota.

Marzuki Urmaini: Melanjutkan Perjuangan lewat Panitia Amanat Rakyat Bekasi

Perjuangan pasca-1945 nggak berhenti di medan tempur. Setelah revolusi fisik usai dan Indonesia berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS), sejumlah tokoh eks-pejuang Bekasi — termasuk KH Noer Alie, Madmuin Hasibuan, R. Supardi, Namin, Aminudin, dan Marzuki Urmaini — membentuk Panitia Amanat Rakyat Bekasi. Mereka menolak keberadaan Negara Pasundan bagian dari RIS dan menuntut Bekasi kembali bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus berdiri sebagai kabupaten sendiri, lepas dari Kabupaten Jatinegara.

Panitia ini berhasil menggerakkan rapat akbar pada 17 Februari 1950 yang dihadiri sekitar 40 ribu orang, menyampaikan tuntutan perubahan nama dan status wilayah. Perjuangan diplomatik dan politik inilah yang akhirnya melahirkan Kabupaten Bekasi seperti yang kita kenal — sebuah kelanjutan langsung dari semangat perlawanan fisik para pejuang 1945 yang berubah wujud jadi perjuangan administratif dan kelembagaan.

Fakta Singkat

  • Insiden Kali Bekasi terjadi pada 19 Oktober 1945, menewaskan sekitar 90 anggota Angkatan Laut Jepang (Kaigun).
  • Lukas Kustaryo dijuluki "Begundal Karawang" oleh Belanda dan pensiun sebagai Mayor Jenderal TNI.
  • Haji Darip membentuk laskar BARA pada 20 Agustus 1945 dan dijuluki "Panglima Perang dari Klender".
  • Mayor Madmuin Hasibuan memimpin Batalyon III ALRI dan menjadi Ketua DPRDS pertama Kabupaten Bekasi pada 1950.
  • Rapat akbar Panitia Amanat Rakyat Bekasi pada 17 Februari 1950 dihadiri sekitar 40.000 orang.
  • Pengepungan Belanda di Rawagede pada 8 Desember 1947 untuk memburu Lukas Kustaryo berujung pada pembantaian warga sipil.
  • Jalan Bekasi Timur Raya di Jakarta Timur diganti nama menjadi Jalan Haji Darip pada 2022.

Pertanyaan Umum Seputar Pejuang Kemerdekaan Bekasi

Siapa saja pejuang kemerdekaan asal Bekasi selain KH Noer Alie?

Beberapa nama dengan catatan sejarah kuat antara lain Kapten Lukas Kustaryo, Mayor Sambas Atmadinata, Letnan Dua Zakaria Burhanudin, KH Darip (Klender), dan Mayor Madmuin Hasibuan. Ada juga Marzuki Urmaini yang berperan di babak perjuangan politik pasca-1945.

Apa itu Insiden atau Peristiwa Kali Bekasi?

Insiden Kali Bekasi adalah peristiwa 19 Oktober 1945 ketika rombongan kereta berisi sekitar 90 tentara Angkatan Laut Jepang dicegat dan dieksekusi oleh pejuang di tepi Kali Bekasi, dipimpin Letda Zakaria Burhanudin. Peristiwa ini jadi salah satu dasar historis julukan Bekasi sebagai "Kota Patriot".

Apakah Lukas Kustaryo orang asli Bekasi?

Bukan. Ia lahir di Magetan, Jawa Timur, tapi medan perjuangannya yang paling terkenal justru di wilayah Karawang-Bekasi, sehingga namanya lekat dengan sejarah perlawanan di dua daerah itu.

Kenapa Haji Darip dianggap tokoh Bekasi padahal berasal dari Klender?

Pada masa revolusi, kawasan Klender masih menyatu erat secara sosial dan geografis dengan wilayah pinggiran Batavia-Bekasi, dan laskar yang dipimpin Haji Darip bergerak hingga ke Cikarang, Bekasi. Karena itu kiprahnya sering dimasukkan dalam narasi sejarah perjuangan Bekasi.

Apa peran Marzuki Urmaini dalam sejarah Bekasi?

Marzuki Urmaini adalah salah satu anggota Panitia Amanat Rakyat Bekasi yang pada 1950 memperjuangkan berdirinya Kabupaten Bekasi secara mandiri, terpisah dari Kabupaten Jatinegara, melanjutkan semangat para pejuang fisik 1945.

Sumber & Referensi

  1. "Lukas Kustaryo, Pejuang yang Dijuluki Begundal Karawang", Kompas.com, 2021. kompas.com
  2. "Lukas Kustaryo", Wikipedia bahasa Indonesia. id.wikipedia.org
  3. "Haji Darip", Wikipedia bahasa Indonesia. id.wikipedia.org
  4. "Haji Darip, Panglima Perang Asal Klender yang Namanya Gantikan Jalan Bekasi Timur Raya", Kompas.com, 2022. megapolitan.kompas.com
  5. "Sepak Terjang Madmuin Hasibuan", Historia.id. historia.id
  6. "Madmuin Hasibuan", Wikipedia (English). en.wikipedia.org
  7. "Saat Kali Bekasi Berwarna Merah", Historia.id. historia.id
  8. "Di Kali Bekasi, Tentara Jepang Dibantai Atas Nama Kemerdekaan", Tirto.id. tirto.id
  9. "Zakaria Burhanudin: Pejuang Asal Kampung 200, Sosok Kunci di Balik Peristiwa Kali Bekasi", InfoBekasi.co.id, 2026. infobekasi.co.id
  10. "Kisah Mayor Sambas dan Zakaria Burhanudin: Saat Komandan Menodongkan Pistol, Lalu Memeluk Anak Buahnya", InfoBekasi.co.id, 2026. infobekasi.co.id
  11. "Sambas Atmadinata: Pejuang Bekasi yang Jadi Menteri", Wisata Sejarah Bekasi. wisatasejarahbekasi.blogspot.com
  12. "Sejarah Bekasi, Enam Tokoh Berjasa", Posbekasi.com, 2016. posbekasi.com

Nama-nama ini nggak selalu ada di buku pelajaran sekolah, tapi jejaknya masih bisa ditelusuri lewat nama jalan, makam, dan cerita turun-temurun warga Bekasi. Kalau kampungmu punya cerita atau tokoh pejuang lokal yang belum banyak diketahui, yuk share di kolom komentar — siapa tahu jadi bahan liputan Planet Bekasi berikutnya. Baca juga cerita "Asal Usul" Bekasi lainnya, termasuk soal julukan-julukan unik Bekasi seperti Kota Patriot dan Planet Bekasi.

Posting Komentar