Asal-Usul Kerajinan Bambu Bojongmangu, Sentra UMKM Bekasi
Kalau kamu ke arah selatan Kabupaten Bekasi, lewat Setu dan Cikarang Pusat terus naik ke perbukitan, kamu bakal masuk ke satu-satunya kecamatan di Bekasi yang lebih mirip Bogor daripada kawasan industri: Bojongmangu. Di sana, hampir separuh lahan warga ditumbuhi rumpun bambu, dan dari rumpun itu lahir satu sentra kerajinan yang jarang disorot dibanding batik atau kuliner Bekasi.
Jawaban singkatnya: sentra kerajinan bambu Bojongmangu tumbuh dari melimpahnya bambu di enam desa (Medalkrisna, Sukabungah, Sukamukti, Bojongmangu, Karang Indah, dan Karangmulya), yang awalnya cuma dijual sebagai batang mentah seharga Rp2.000–10.000 per batang. Baru sekitar 2013, warga bernama Kardi di Desa Karangmulya mulai mengubahnya jadi karya seni: anyaman bentuk hewan, wayang golek, sampai miniatur rumah panggung, di bawah UMKM yang belakangan dikenal sebagai Baraya Craft.
Artikel ini menelusuri bagaimana sentra ini lahir, siapa perajinnya, bagaimana keterampilannya diwariskan (atau justru terancam putus), dan kenapa kondisinya sekarang jadi cermin kecil dari nasib banyak kerajinan rumahan di tengah Bekasi yang makin industrial.

Kenapa Bojongmangu Bisa Jadi Sentra Bambu Terbesar di Kabupaten Bekasi?
Bojongmangu adalah kecamatan paling ujung selatan Kabupaten Bekasi, berbatasan dengan wilayah Purwakarta dan Cianjur, dengan kontur berbukit yang beda jauh dari Bekasi yang identik dengan pabrik dan perumahan. Menurut situs resmi Pemerintah Kabupaten Bekasi, kondisi tanah dan topografi ini membuat bambu tumbuh subur secara alami, tanpa perlu ditanam sengaja, di enam desa: Medalkrisna, Sukabungah, Sukamukti, Bojongmangu, Karang Indah, dan Karangmulya, dengan Desa Bojongmangu sebagai penghasil terbanyak.
Sejak lama, bambu memang jadi salah satu sumber penghasilan warga di sana. Polanya sederhana: batang bambu ditebang dari kebun, lalu dijual langsung dengan harga Rp2.000–5.000 per batang, atau sekitar Rp10.000 kalau dijual ke pengepul yang mengangkutnya keluar wilayah. Sebagian batang juga dipakai warga sendiri untuk membangun rumah panggung berdinding bilik bambu, gaya arsitektur yang menurut Radar Bekasi masih bertahan di Kampung Guha, Desa Karang Indah, karena kontur tanah yang tidak stabil membuat rumah panggung jadi solusi turun-temurun, sekaligus dulu berfungsi menyamarkan keberadaan warga dari tentara kolonial Belanda.
Selama bertahun-tahun, potensi ini berhenti di level "bahan mentah". Bambu ditebang, dijual, habis, tanpa nilai tambah kerajinan. Titik baliknya baru terjadi belakangan, ketika beberapa warga mulai melihat bambu bukan cuma sebagai kayu murah, tapi bahan baku karya seni.
Dari Jual Batang ke Karya Seni: Lahirnya Baraya Craft
Cerita paling terdokumentasi datang dari Kardi, warga Desa Karangmulya yang akrab disapa Mang Kardi. Menurut laporan Pemkab Bekasi dan Berita Cikarang, Mang Kardi (35 tahun saat diwawancara akhir 2021) mulai menekuni pengolahan bambu menjadi karya seni sejak 2013. Alasannya praktis: bambu melimpah di sekelilingnya, tapi nilai jualnya sebagai batang mentah kecil. Kalau diolah jadi kerajinan, harganya bisa berlipat, dari Rp100.000 sampai Rp500.000 per karya tergantung tingkat kerumitan.
Usaha ini kemudian dikenal dengan nama Baraya Craft, singkatan dari "Bambu Juara Karangmulya", nama yang menegaskan kerajinan ini identik dengan desanya sendiri. Ketua UMKM setempat menyebut karya-karya ini sebagai "ikon dan jati diri" Kecamatan Bojongmangu, karena bahan bakunya benar-benar bersumber dari kebun sendiri, bukan didatangkan dari luar.
Pengakuan resmi datang pada November 2021, ketika Baraya Craft ikut serta dalam ajang UMKM BEKEN yang digelar Pemerintah Kabupaten Bekasi dan meraih Juara Harapan 2 kategori kerajinan tangan. Sejak itu, menurut Pemkab Bekasi, pesanan mulai datang bukan hanya dari perorangan, tapi juga dinas pemerintah dan sekolah, sekaligus merambah pemasaran daring ke luar Bojongmangu.
Apa Saja yang Dibuat? Dari Wayang Golek sampai Miniatur Rumah Panggung
Produk Baraya Craft cukup beragam untuk ukuran UMKM rumahan. Berdasarkan laporan Pemkab Bekasi dan Berita Cikarang, jenis kerajinannya meliputi:
- Anyaman berbentuk hewan, dibentuk dari bilah-bilah bambu yang dianyam menyerupai berbagai fauna.
- Tokoh pewayangan dan wayang golek dari bambu, memadukan keterampilan mengukir dan menganyam.
- Miniatur rumah panggung, yang justru mengabadikan arsitektur bilik bambu khas Bojongmangu sendiri dalam bentuk karya seni kecil.
Kombinasi ini menarik karena tidak melulu meniru kerajinan bambu dari daerah lain seperti anyaman tikar atau bakul yang umum ditemukan di banyak sentra bambu Jawa. Ada usaha menonjolkan identitas lokal, terutama lewat miniatur rumah panggung yang jadi arsitektur khas kampung-kampung di Bojongmangu.

Bagaimana Keterampilan Ini Diwariskan?
Berbeda dengan sentra kerajinan bambu yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun di daerah lain, keterampilan mengolah bambu di Bojongmangu tidak diwariskan lewat garis keluarga yang panjang. Yang diwariskan lebih dulu justru keterampilan yang lebih tua: membangun rumah panggung berdinding bilik bambu. Menurut Kepala Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Bojongmangu, Kandi Sunarya, kepada Radar Bekasi, gaya rumah panggung rendah dengan dinding anyaman bambu ini adalah respons turun-temurun terhadap kondisi tanah yang labil di kawasan lembah dan perbukitan, sekaligus warisan siasat leluhur bersembunyi dari tentara Belanda. Keterampilan menganyam dinding bilik dan mendirikan rumah panggung inilah yang sebenarnya sudah lama hidup di Bojongmangu, jauh sebelum ada UMKM kerajinan bernama Baraya Craft.
Sementara itu, keterampilan mengolah bambu jadi produk kerajinan bernilai jual seperti yang dirintis Mang Kardi sejak 2013 masih tergolong baru dan personal, dipelajari sendiri lewat coba-coba memanfaatkan bahan yang ada di sekeliling, bukan turun dari kakek-nenek. Yang jadi persoalan, penelitian dari Universitas Pelita Bangsa yang dilakukan November–Desember 2023 di Desa Karangmulya justru mencatat kondisi yang mengkhawatirkan untuk regenerasi: saat penelitian berlangsung, praktis hanya ada satu pengrajin bambu yang aktif beroperasi, yakni UMKM Baraya. Studi ini secara eksplisit menyebut kondisi tersebut menunjukkan minimnya partisipasi anak muda di sektor kerajinan bambu, meski potensi bahan baku di desa itu sangat besar.
Dengan kata lain, alih-alih pewarisan lintas generasi seperti dodol Bekasi yang menurut Disparbud Kota Bekasi memang sengaja dijaga dalam keluarga (baca juga Asal-Usul Kuliner Khas Bekasi), kerajinan bambu Bojongmangu justru berjuang supaya ada generasi berikutnya yang mau meneruskannya sama sekali.
Tantangan di Tengah Industrialisasi Bekasi: Regenerasi dan Pemasaran
Ironi besar Bojongmangu adalah lokasinya. Ia berada di kabupaten yang sama dengan kawasan industri raksasa seperti Cikarang, Jababeka, dan MM2100, yang menyerap ratusan ribu tenaga kerja Bekasi ke pabrik dan sektor formal. Bagi anak muda Bojongmangu, bekerja di pabrik atau merantau ke kota jelas lebih menjanjikan secara finansial dibanding menekuni kerajinan bambu yang pasarnya masih terbatas dan belum stabil.
Studi Universitas Pelita Bangsa (2024) yang meneliti UMKM Baraya Craft menemukan dua masalah utama yang saling berkaitan: pemasaran yang "cukup kurang" karena masih mengandalkan cara konvensional (dari mulut ke mulut dan datang langsung), serta minimnya branding digital yang membuat produk sulit menjangkau pembeli di luar Bojongmangu. Sebagai respons, tim pengabdian masyarakat kampus ini mendampingi UMKM Baraya Craft membangun kehadiran digital, termasuk pendaftaran dan optimalisasi toko di platform Shopee serta pembuatan konten produk yang lebih menarik, dengan harapan memperluas jaringan pasar sekaligus memperkuat identitas merek.
Sementara itu, dari sisi pemerintah, rencana pengembangan sudah ada sejak sebelum pandemi. Warga setempat menyebut kepada Pemkab Bekasi bahwa pernah ada rencana pelatihan kerajinan bambu dari Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda), tapi tertunda akibat pandemi Covid-19. Warga berharap pelatihan semacam ini dilanjutkan, disertai pendampingan modal dan pemasaran, supaya produksi kerajinan bisa naik kelas dari usaha perorangan seperti Mang Kardi menjadi sentra yang benar-benar melibatkan banyak keluarga.
Masa Depan: Wisata Hutan Bambu dan Ekonomi Kreatif
Salah satu jalan keluar yang mulai dilirik adalah menggabungkan kerajinan dengan sektor wisata. Bojongmangu punya modal alam berupa hamparan rumpun bambu yang menurut Pemkab Bekasi berpotensi dikembangkan jadi objek wisata hutan bambu, mirip destinasi serupa di daerah lain yang berhasil menarik pengunjung berfoto sekaligus belanja suvenir. Idenya sederhana: kalau wisatawan datang untuk menikmati rimbunnya hutan bambu, mereka juga bisa jadi pembeli langsung produk kerajinan seperti buatan Baraya Craft, tanpa harus bergantung penuh pada pemasaran daring.
Pemerintah Kabupaten Bekasi disebut sudah punya rencana membangun kawasan wisata kampung bambu di sekitar Situ Abidin, salah satu wilayah di Bojongmangu, meski sejauh ini masih tahap wacana. Kalau rencana ini benar-benar terwujud dan dibarengi pelatihan keterampilan yang konsisten, bukan cuma sesekali, sentra kerajinan bambu Bojongmangu punya peluang keluar dari status "satu-satunya pengrajin aktif" seperti dicatat penelitian 2023, menuju sentra dengan lebih banyak keluarga yang menggantungkan hidup darinya, sekaligus menjaga arsitektur rumah bilik bambu yang jadi kearifan lokal kampung ini agar tidak sekadar dikenang lewat miniatur.
Fakta Singkat
- Lokasi: Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, meliputi enam desa penghasil bambu: Medalkrisna, Sukabungah, Sukamukti, Bojongmangu, Karang Indah, dan Karangmulya.
- Perintis kerajinan: Kardi (Mang Kardi), warga Desa Karangmulya, mulai mengolah bambu jadi karya seni sejak 2013.
- Nama UMKM: Baraya Craft, singkatan dari "Bambu Juara Karangmulya".
- Harga jual bambu mentah: Rp2.000–5.000/batang langsung dari kebun, atau sekitar Rp10.000/batang lewat pengepul.
- Harga produk kerajinan: Rp100.000–500.000 per karya, tergantung kerumitan.
- Prestasi: Juara Harapan 2 kategori kerajinan tangan di ajang UMKM BEKEN, November 2021.
- Kondisi 2023: Penelitian Universitas Pelita Bangsa mencatat hanya satu pengrajin bambu aktif di Desa Karangmulya, menandakan minimnya regenerasi anak muda.
Pertanyaan Umum Seputar Kerajinan Bambu Bojongmangu Bekasi
Kenapa Bojongmangu bisa jadi sentra bambu terbesar di Kabupaten Bekasi?
Karena kondisi tanah dan topografi berbukit di enam desanya membuat bambu tumbuh subur secara alami tanpa perlu ditanam sengaja, hingga menurut Pemkab Bekasi hampir separuh lahan di kecamatan ini ditumbuhi bambu.
Sejak kapan bambu Bojongmangu diolah jadi kerajinan, bukan cuma dijual mentah?
Selama bertahun-tahun bambu di Bojongmangu hanya dijual sebagai batang mentah. Pengolahan menjadi kerajinan bernilai jual baru dirintis sekitar 2013 oleh Kardi (Mang Kardi) di Desa Karangmulya, yang kemudian dikenal dengan nama usaha Baraya Craft.
Apa saja produk kerajinan bambu khas Bojongmangu?
Produknya meliputi anyaman berbentuk hewan, tokoh pewayangan dan wayang golek dari bambu, serta miniatur rumah panggung, yang khusus menampilkan arsitektur rumah bilik bambu khas Bojongmangu sendiri.
Apakah keterampilan kerajinan bambu ini diwariskan turun-temurun seperti batik atau dodol Bekasi?
Tidak sepenuhnya. Yang benar-benar turun-temurun adalah keterampilan membangun rumah panggung berdinding bilik bambu sebagai respons terhadap kondisi tanah setempat. Sementara kerajinan bambu bernilai jual seperti Baraya Craft masih tergolong baru dan dirintis satu generasi, dengan regenerasi pengrajin yang menurut penelitian 2023 masih sangat minim.
Apa tantangan terbesar sentra kerajinan bambu Bojongmangu saat ini?
Dua hal utama: minimnya anak muda yang mau meneruskan keterampilan ini, dan pemasaran yang masih konvensional sehingga sulit menjangkau pembeli di luar Bojongmangu. Sejak 2023 dan 2024, kampus dan Pemkab Bekasi mulai mendampingi lewat pelatihan digital marketing dan wacana wisata hutan bambu.
Di mana bisa melihat atau membeli kerajinan bambu Bojongmangu?
Produk Baraya Craft bisa dipesan lewat pemasaran daring dan pernah dipamerkan dalam ajang UMKM BEKEN Kabupaten Bekasi. Untuk melihat langsung proses dan bahan bakunya, kamu bisa berkunjung ke Desa Karangmulya atau desa-desa penghasil bambu lain di Kecamatan Bojongmangu.
Sumber & Referensi
- Pemerintah Kabupaten Bekasi, "UMKM Bojongmangu Mengubah Tanaman Bambu Menjadi Karya Seni Bernilai Ekonomi" (7 Desember 2021). bekasikab.go.id
- Pemerintah Kabupaten Bekasi, "Bojongmangu, Sentra Penghasil Bambu Terbesar di Kabupaten Bekasi". bekasikab.go.id
- Muhamad Syahwildan, Widiastuti, & Indra Setiawan, "Membangun Jaringan Kolaboratif UMKM Kerajinan Bambu Melalui Platform Digital di Desa Karangmulya", Lentera Pengabdian Vol. 2 No. 1, Universitas Pelita Bangsa (2024). jurnal.lenteranusa.id
- Pemerintah Kabupaten Bekasi, "Dinas Pariwisata akan Bangun Wisata Kampung Bambu di Kawasan Situ Abidin". bekasikab.go.id
- Radar Bekasi, "Di Balik Rumah Bilik Bambu di Bojongmangu Bekasi, Ada Kearifan Lokal" (16 Agustus 2026). radarbekasi.id
- Berita Cikarang, "Warga Bojongmangu Sulap Bambu Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomis" (14 Desember 2021). beritacikarang.com
Di tengah bayangan pabrik-pabrik raksasa yang identik dengan Bekasi, cerita kecil dari Bojongmangu ini mengingatkan kita bahwa masih ada kampung yang hidupnya bergantung pada rumpun bambu dan tangan-tangan yang telaten menganyamnya. Kalau kamu kebetulan dari Bojongmangu, punya kenalan pengrajin bambu, atau tahu sentra kerajinan rumahan lain di Bekasi yang belum banyak diceritakan, tulis di kolom komentar atau kirim ke redaksi Planet Bekasi. Cerita-cerita seperti ini kita kumpulkan di label Asal Usul, bersama kisah Batik Bekasi: Sejarah, 12 Motif Pakem, dan Maknanya yang juga mengangkat motif bambu sebagai salah satu ikon Kota Bekasi.
Posting Komentar