Asal-Usul Kuliner Khas Bekasi: Gabus Pucung sampai Bandeng Rorod
Coba tanya orang Bekasi apa makanan khas kotanya. Sebagian bakal bingung sebentar, lalu menjawab "bandeng rorod" atau "dodol", dan yang lebih tua mungkin menyebut "sayur gabus pucung" sambil menambahkan, "tapi sekarang susah nyarinya." Di kota yang penuh mal dan kawasan industri ini, kuliner asli sering tenggelam di balik ayam geprek dan kopi kekinian. Padahal setiap hidangan itu menyimpan cerita soal rawa, sawah, pesisir, dan tradisi hajatan orang Bekasi.
Jawaban singkatnya: kuliner khas Bekasi lahir dari budaya Betawi pinggiran (Betawi Ora) yang bercampur dengan pengaruh Sunda pesisir. Menurut Disparbud Kota Bekasi, sepuluh makanan yang dianggap paling khas adalah bandeng rorod, bir pletok, dodol Bekasi, kue akar kelapa (procot), geplak, gipang, rengginang, wajik, sayur gabus pucung, dan tape uli. Hampir semuanya adalah makanan hajatan, Lebaran, dan tradisi nyorog, bukan makanan warung sehari-hari, dan itulah kenapa sebagian kini makin langka.
Artikel ini menelusuri asal-usul lima yang paling ikonik: gabus pucung, bandeng rorod, dodol, kue akar kelapa, dan bir pletok, plus mana yang masih gampang kamu temukan hari ini.

Kenapa Kuliner Bekasi Rasanya "Betawi Banget"?
Disparbud Kota Bekasi (2017) menjelaskan bahwa kuliner Bekasi sangat dipengaruhi budaya Betawi karena kedekatannya dengan Jakarta. Ini bukan kebetulan. Secara sejarah, Bekasi adalah bagian dari Ommelanden Batavia, dan penduduk aslinya adalah orang Betawi pinggiran yang hidup dari sawah, rawa, dan tambak, bukan dari kota. Bahan bakunya pun bahan pinggiran: ikan gabus dari rawa, bandeng dari tambak pesisir Babelan dan Muara Gembong, ketan dan kelapa dari kebun, serta rempah seperti jahe dan secang.
Yang menyatukan semuanya adalah tradisi. Hampir semua makanan khas Bekasi muncul pada momen tertentu: Lebaran, hajatan pernikahan dan sunatan, atau nyorog, kebiasaan mengantar makanan ke orang tua dan kerabat yang lebih tua menjelang Ramadan. Penelitian Niken Vioreza dan kawan-kawan (2024) di Kampung Penggilingan Baru, Bekasi Utara, mencatat isi rantang nyorog biasanya sayur gabus pucung, ketupat, dodol Betawi, rengginang, bandeng, dan daging kerbau. Kalau kamu penasaran soal akar budaya Betawi pinggiran di Bekasi, artikel Kampung Adat Kranggan membahasnya lebih jauh.
Gabus Pucung: Ikan Rawa yang Jadi Warisan Budaya
Kalau harus memilih satu makanan yang paling "Bekasi", Disparbud Kota Bekasi menunjuk sayur gabus pucung, sambil menambahkan bahwa hidangan ini kini sulit ditemukan. Bentuknya mirip rawon: ikan gabus digoreng, lalu disiram kuah hitam dari buah pucung (kluwek) yang dibumbui kemiri, bawang, jahe, kunyit, dan daun salam. Rasanya gurih, sedikit asam, dan pahit kalau pucungnya salah olah.
Asal-usulnya dijelaskan Lembaga Kebudayaan Betawi lewat situs kebudayaanbetawi.com: dulu Batavia dan sekitarnya penuh rawa dan sawah, ikan gabus melimpah, dan pohon pucung tumbuh di tepi sungai dan pekarangan. Wikipedia bahasa Indonesia menambahkan versi yang sedikit berbeda: pada masa kolonial orang Betawi tidak mampu membeli ikan mahal seperti mas atau bandeng, jadi mereka memanfaatkan gabus yang murah dan gampang ditangkap di rawa. Dua versi ini tidak bertentangan, dua-duanya menegaskan gabus pucung adalah makanan rakyat, bukan makanan bangsawan.
Ironinya, sekarang justru terbalik. Rawa dan sawah Bekasi sudah jadi perumahan, sehingga gabus makin langka dan harganya menurut Wikipedia bahasa Indonesia bisa Rp50–100 ribu per kilogram. Warung gabus pucung nyaris tidak ada di Jakarta; menurut LKB, penjualnya justru bertahan di daerah pinggiran seperti Bekasi, Tangerang, Bogor, dan Pondok Cabe. Pemerintah menetapkan gabus pucung sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2014 (SK 270/P/2014), dan di Bekasi ikan ini bahkan diabadikan sebagai motif batik "Ikan Gabus" menurut Disparbud.
Bandeng Rorod: Oleh-Oleh Bekasi yang Umurnya Baru Belasan Tahun
Ini yang sering bikin kaget: bandeng rorod, yang sekarang dipromosikan sebagai oleh-oleh khas Bekasi, ternyata produk yang relatif baru. Radar Bekasi (2022) menelusuri kisahnya: bisnis bandeng rorod dimulai pada 2011 oleh Mpok Omah di Perumnas 3, Bekasi Timur, lalu diteruskan putranya, Afif Ridwan. Alasannya sederhana: waktu itu Bekasi belum punya oleh-oleh yang benar-benar khas. Versi beku yang tahan lama menyusul pada 2012.
Nama "rorod" sendiri, menurut Radar Bekasi, berasal dari dialek Betawi yang berarti mencabut paksa tulang besar dari ikan. Prosesnya: duri besar dicabut, daging dikerok dari kulit, duri-duri halus dipisahkan, lalu daging dibumbui, dimasukkan kembali ke kulit ikan, dan dikukus. Dulu semua dikerjakan tangan, belakangan dibantu mesin pemisah tulang. Itulah bedanya dengan bandeng presto Semarang yang durinya dilunakkan, bukan dibuang.
Meski produknya baru, akarnya lama. Bandeng adalah ikan tambak pesisir utara Bekasi, dari Tarumajaya, Babelan, sampai Muara Gembong, dan inijabar.com (2025) mencatat pengusaha kecil di kawasan itu ikut memproduksi versi mereka sendiri. Bandeng juga sudah lama jadi isi rantang nyorog dan hidangan Lebaran, misalnya dalam bentuk pecak bandeng. Jadi bandeng rorod bisa dibilang tradisi lama dalam kemasan baru. Kabar baiknya, ini kuliner Bekasi yang paling gampang ditemukan sekarang: dijual beku, dikemas modern, dan sebagian produsen sudah mengantongi sertifikat halal.
Dodol Bekasi: Enam Jam Ngaduk di Atas Kayu Bakar
Menurut Disparbud Kota Bekasi (2017), kalau kamu tanya warga asli Bekasi penganan apa yang identik dengan Lebaran, jawabannya dodol Bekasi. Bahannya sederhana: tepung ketan, gula merah, kelapa, dan santan. Yang tidak sederhana adalah prosesnya. Adonan dimasak dalam kenceng, kuali tembaga besar, di atas api kayu bakar (bukan gas atau minyak tanah) selama kurang lebih enam jam, dan harus diaduk terus tanpa henti dengan tenaga yang konsisten. Karena berat, dodol biasanya hanya dibuat untuk Lebaran, pernikahan, dan sunatan, lalu dibagikan ke tetangga dan kerabat.

Di sinilah nilai sosialnya. Ngaduk dodol adalah kerja gotong royong: pengaduk bergantian berjam-jam, sementara yang lain menyiapkan bahan dan menjaga api. Republika (2023) menulis bagi masyarakat Betawi, Lebaran tanpa dodol rasanya belum lengkap, dan dodol jadi buah tangan wajib saat yang muda mengunjungi yang tua. Disparbud mencatat keterampilan membuat dodol biasanya diwariskan dalam keluarga, bukan dipelajari dari luar, sehingga kalau satu generasi berhenti, resepnya ikut hilang.
Untungnya di Kabupaten Bekasi masih ada kampung yang hidup dari dodol. Situs resmi bekasikab.go.id (2022) melaporkan di Kampung Ceger, Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung, ada lebih dari 40 produsen dodol. Salah satunya, Hasan dari Rumah Produksi Dodol Bestar, masih memakai tungku kayu dan mengaduk 7–8 jam per kuali, dengan varian ketan hitam, wijen, durian, sampai keju, seharga Rp35–50 ribu per kilogram. Menjelang Lebaran omzetnya naik 50 persen. Dodol Betawi sendiri ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2017.
Kue Akar Kelapa alias Kue Procot: Camilan Wajib Lebaran
Di toples Lebaran orang Bekasi, kue kering bergelombang berwarna cokelat keemasan ini hampir selalu ada. Namanya kue akar kelapa, dan di Bekasi sering disebut kue procot. Menurut Disparbud Kota Bekasi, nama "akar kelapa" diambil dari bentuknya yang mirip akar pohon kelapa, sedangkan "procot" merujuk pada cara membuatnya: adonan dikeluarkan pelan-pelan dari tabung yang sudah dilubangi langsung ke minyak panas. Bahannya tepung ketan, telur, gula, margarin, dan santan.
Ini kue Betawi tulen. Wikipedia bahasa Indonesia mencatat kue akar kelapa berasal dari Betawi dan sekitarnya, dan Bekasi pernah menjadi produsen terbesarnya meskipun produksi massalnya kini menurun. Good News From Indonesia (2025), mengutip buku Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi karya Windoro Adi, menyebut kue ini melambangkan pohon kelapa yang bisa tumbuh di mana saja dan semua bagiannya berguna, pesan agar manusia juga bermanfaat di mana pun ia berada. Bersama kembang goyang dan tape uli, akar kelapa adalah trio kue Lebaran Betawi, dan pada 2019 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda dengan nama "Kue Akar Kelape".
Disparbud juga mencatat kue Lebaran Bekasi lain yang lebih jarang: sagon yang digarang di atas bara dan dulu banyak dibuat di Tambun, geplak berbentuk wajik yang biasa jadi hantaran pernikahan, kue duit berbentuk koin, serta gipang dan rengginang.
Bir Pletok Versi Bekasi: "Bir" Tanpa Alkohol dari Zaman Kolonial
Meski namanya bir, bir pletok sama sekali tidak mengandung alkohol. Liputan6 (2023) merangkum asal-usulnya: pada masa kolonial, orang Belanda minum bir dan anggur untuk menghangatkan badan, dan orang Betawi membuat versi mereka sendiri dari jahe, serai, pandan, cengkih, kapulaga, dan pala, dengan kayu secang sebagai pemberi warna merah. Soal nama "pletok", ada beberapa versi: bunyi tutup botol anggur yang dibuka, bunyi bambu tempat mengocok minuman, atau bunyi es batu beradu dalam wadah. Tidak ada yang bisa memastikan mana yang benar.
Disparbud Kota Bekasi memasukkan bir pletok sebagai minuman khas Bekasi karena berasal dari budaya Betawi yang sama. Menurut Liputan6, dulu bir pletok diminum pada malam hari dan sempat jadi dagangan pedagang keliling, sedangkan sekarang lebih mudah dijumpai dalam bentuk botolan dan bubuk instan di toko oleh-oleh, dengan harga mulai sekitar Rp25 ribu. Bir pletok ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2014, bersamaan dengan gabus pucung.
Mana yang Masih Gampang Ditemukan Sekarang?
- Bandeng rorod: paling mudah. Tersedia beku di toko oleh-oleh Bekasi, gerai UMKM, dan pesanan daring; produsen tersebar dari Bekasi Timur sampai pesisir Babelan dan Muara Gembong.
- Dodol Bekasi: mudah menjelang Lebaran, agak sulit di luar musim. Pusatnya Kampung Ceger, Cibitung, selain produsen rumahan yang hanya bikin menjelang hari raya.
- Kue akar kelapa/procot: mudah di pasar tradisional dan toko kue kering, terutama Ramadan sampai Lebaran.
- Bir pletok: mudah dalam bentuk botolan atau bubuk di toko oleh-oleh; versi segar biasanya hanya di acara budaya.
- Gabus pucung: paling sulit. Hanya di beberapa warung Betawi tertentu dan di rantang nyorog keluarga; harga gabus yang mahal bikin banyak penjual berhenti.
Fakta Singkat
- 10 kuliner khas versi Disparbud Kota Bekasi: bandeng rorod, bir pletok, dodol, kue akar kelapa (procot), geplak, gipang, rengginang, wajik, sayur gabus pucung, tape uli.
- Gabus pucung: ikan rawa + kluwek; Warisan Budaya Takbenda 2014; harga gabus kini Rp50–100 ribu/kg.
- Bandeng rorod: dirintis 2011 oleh Mpok Omah di Perumnas 3 Bekasi Timur; "rorod" = mencabut paksa tulang.
- Dodol Bekasi: dimasak 6–8 jam di kuali tembaga (kenceng) dengan kayu bakar; lebih dari 40 produsen di Kampung Ceger, Cibitung; Dodol Betawi WBTB 2017.
- Kue akar kelapa: disebut "procot" di Bekasi; Bekasi pernah jadi produsen terbesar; WBTB 2019.
- Bir pletok: minuman rempah tanpa alkohol dari masa kolonial; WBTB 2014.
- Nyorog: tradisi mengantar rantang ke orang tua menjelang Ramadan; isinya gabus pucung, ketupat, dodol, rengginang, bandeng, daging kerbau.
Pertanyaan Umum Seputar Kuliner Khas Bekasi
Apa makanan khas Bekasi yang paling asli?
Disparbud Kota Bekasi menyebut sayur gabus pucung sebagai yang paling asli Bekasi, meskipun kini paling sulit ditemukan. Ikan gabus dari rawa dimasak dengan kuah hitam dari buah pucung (kluwek), dan hidangan ini sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2014.
Apa bedanya bandeng rorod dengan bandeng presto?
Bandeng presto melunakkan duri dengan tekanan tinggi, sedangkan bandeng rorod membuang durinya sama sekali: tulang besar dicabut ("dirorod"), daging dikerok dan dipisahkan dari duri halus, lalu dibumbui dan dikukus dalam kulit ikan. Prosesnya lebih rumit, tapi hasilnya bisa dimakan tanpa khawatir tertusuk duri.
Kenapa dodol Bekasi hanya ada saat Lebaran dan hajatan?
Karena pembuatannya butuh 6–8 jam mengaduk terus-menerus di atas kayu bakar dan melibatkan banyak orang. Menurut Disparbud Kota Bekasi, dodol biasanya dibuat khusus untuk Lebaran, pernikahan, dan sunatan, lalu dibagikan ke tetangga dan kerabat, sehingga jarang dijual harian kecuali di kampung produsen seperti Ceger, Cibitung.
Apa itu tradisi nyorog?
Nyorog adalah kebiasaan Betawi, termasuk di Bekasi, mengantar makanan dalam rantang kepada orang tua, mertua, atau kerabat yang lebih tua menjelang Ramadan dan Lebaran. Isinya biasanya gabus pucung, ketupat, dodol, rengginang, dan bandeng. Penelitian di Bekasi Utara (2024) mencatat nilai gotong royong, hormat pada orang tua, dan rasa syukur di baliknya.
Kenapa kue akar kelapa disebut kue procot di Bekasi?
Karena cara membuatnya: adonan ketan "diprocot" alias dikeluarkan pelan-pelan dari tabung berlubang langsung ke minyak panas, sehingga bentuknya bergelombang mirip akar kelapa. Nama "akar kelapa" merujuk ke bentuknya, "procot" ke prosesnya.
Apakah bir pletok mengandung alkohol?
Tidak. Bir pletok dibuat dari jahe, serai, secang, dan rempah lain, dan justru lahir sebagai tandingan bir serta anggur orang Belanda pada masa kolonial. Warna merahnya berasal dari kayu secang, bukan dari fermentasi.
Sumber & Referensi
- Disparbud Kota Bekasi, "Yuk Kenal, 7 Kebudayaan di Bekasi" (11 April 2017), termasuk daftar 10 makanan khas. disparbud.bekasikota.go.id
- Disparbud Kota Bekasi, "'Dodol Bekasi' Makanan Khas Bekasi" (12 Juni 2017). disparbud.bekasikota.go.id
- Disparbud Kota Bekasi, "Sajian Kue Khas Lebaran di Bekasi" (13 Juni 2017). disparbud.bekasikota.go.id
- Lembaga Kebudayaan Betawi, "Gabus Pucung Khas Betawi yang Digemari Masyarakat" dan daftar "Warisan Budaya dan Penetapan WBTB Indonesia". kebudayaanbetawi.com
- Zaenal Aripin, "Bandeng Rorod Oleh Oleh Bekasi Layak Jadi Buah Tangan", Radar Bekasi (16 April 2022). radarbekasi.id
- Pemkab Bekasi, "Jelang Lebaran, Omset Penjualan Dodol Betawi di Kabupaten Bekasi Naik 50 Persen" (22 April 2022). bekasikab.go.id
- Niken Vioreza, Devita Cahyani Nugrahenny & Siti Romjah, "Nilai Sosial Tradisi Nyorog: Kearifan Lokal Masyarakat Betawi di Bekasi Utara", Sipendas, STKIP Kusuma Negara (2024). jurnal.stkipkusumanegara.ac.id (PDF)
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Kue akar kelapa" dan "Gabus pucung" (diakses 2026); Liputan6, "Asal-Usul Bir Pletok, 'Wine' Khas Betawi" (7 Januari 2023). id.wikipedia.org · liputan6.com
Makanan adalah sejarah yang bisa dimakan. Di balik sepiring gabus pucung ada rawa Bekasi yang sudah jadi perumahan, dan di balik sekilo dodol ada tetangga yang bergantian ngaduk semalaman. Kalau di kampungmu masih ada yang bikin sagon di atas bara, atau ada warung gabus pucung yang belum kami tahu, kabari redaksi Planet Bekasi di kolom komentar. Cerita seperti ini kita kumpulkan di label Asal Usul, bersama kisah Asal-Usul Nama Bekasi: Dari Candrabhaga ke Bekassie dan lainnya.
Posting Komentar