Asal-Usul Nama Bekasi: Dari Candrabhaga ke Bekassie

Daftar Isi

Setiap hari jutaan orang menyebut kata "Bekasi": di papan tujuan KRL, di alamat paket, di obrolan soal macet Kalimalang. Tapi coba tanya sepuluh warga dari mana nama itu datang, jawabannya bakal beragam, dari "bekas kali" sampai "bekas sisi". Padahal jejaknya jauh lebih tua daripada yang kita kira.

Teori yang paling banyak dipegang sejarawan: nama Bekasi berasal dari Candrabhaga, nama sungai yang disebut dalam Prasasti Tugu peninggalan Kerajaan Tarumanegara abad ke-5 Masehi. Menurut ahli bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno Poerbatjaraka, kata itu bergeser jadi Bhagasasi, dipendekkan jadi Bhagasi, ditulis orang Belanda sebagai Bacassie atau Bekassie, lalu akhirnya menjadi "Bekasi" yang kita kenal sekarang.

Artikel ini menelusuri perjalanan nama itu dari batu prasasti berusia 1.500 tahun, lewat meja kerja seorang filolog, sampai ke ejaan kolonial dan papan nama kota hari ini. Sekaligus kita bahas teori tandingan dan mana yang paling kuat.

Foto lawas pemandangan sungai di Bekasi (ditulis Bekassi) dekat Batavia sekitar tahun 1890, koleksi KITLV
"Riviergezicht te Bekassi nabij Batavia" — pemandangan sungai di Bekasi, sekitar 1890. Perhatikan ejaan "Bekassi" pada judul aslinya. Foto: Anonim, koleksi KITLV/Leiden University Library via Wikimedia Commons (CC BY 4.0).

Dari Mana Nama Bekasi Berasal? Jawabannya Ada di Prasasti Tugu

Sumber tertulis paling tua yang dikaitkan dengan nama Bekasi adalah Prasasti Tugu. Batu bulat telur setinggi kira-kira satu meter ini ditemukan di Kampung Batutumbuh, Desa Tugu (sekarang Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara), tercatat pertama kali dalam laporan Bataviaasch Genootschap tahun 1879, dan sejak 1911 disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan nomor inventaris D.124.

Prasasti beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta itu bercerita tentang dua sungai. Yang pertama, Candrabhaga, digali untuk dialirkan ke laut setelah melewati istana kerajaan. Yang kedua, Gomati, digali atas perintah Raja Purnawarman pada tahun ke-22 pemerintahannya, sepanjang 6.122 busur (dhanus), selesai dalam 21 hari, dan dirayakan dengan hadiah 1.000 ekor sapi untuk para brahmana. Ini adalah prasasti terpanjang dari masa Tarumanegara, dan berdasarkan analisis bentuk aksaranya diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-5.

Nah, dari nama sungai Candrabhaga inilah benang merah ke "Bekasi" ditarik. Kalau kamu penasaran lebih jauh soal isi prasasti dan jejak Tarumanegara di wilayah kita, Planet Bekasi mengulasnya terpisah dalam artikel Prasasti Tugu dan Jejak Kerajaan Tarumanegara di Bekasi.

Teori Poerbatjaraka: Candrabhaga Menjadi Bhagasasi

Orang yang pertama kali merangkai hubungan Candrabhaga dengan Bekasi adalah R.M. Ng. Poerbatjaraka (1884–1964), filolog Indonesia yang menguasai bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Penjelasannya, seperti dirangkum situs Disparbud Kota Bekasi (2018) dan Kompas.com (2021), kira-kira begini:

  • Candra dalam bahasa Sanskerta berarti "bulan". Dalam bahasa Jawa Kuno/Sunda kuno, bulan juga disebut sasi atau sasih.
  • Bhaga berarti "bagian". Jadi Candrabhaga bisa dibaca sebagai "bagian dari bulan".
  • Ketika kata candra diganti padanannya sasi, susunannya pun berubah: Candrabhaga → Sasibhaga → Bhagasasi.
  • Dalam pengucapan sehari-hari, Bhagasasi memendek jadi Bhagasi.
  • Lidah dan pena orang Belanda kemudian menuliskannya sebagai Bacassie, dan lama-lama jadi Bekasi.

Wikipedia bahasa Inggris menyebut Poerbatjaraka mengemukakan teori ini sekitar tahun 1951, dan Adeng dalam jurnal Patanjala (2014) mengutip pendapat yang sama: nama Bekasi berasal dari Chandrabhaga yang berubah menjadi Bhagasasi, ditulis Belanda sebagai Bacassie, hingga menjadi Bekasi. Poin pentingnya: ini rekonstruksi linguistik, bukan kutipan dari dokumen yang menyebut kata "Bhagasasi" secara langsung. Sampai sekarang belum ada prasasti atau naskah kuno yang memuat kata "Bhagasasi" atau "Bagasasi". Yang ada adalah "Candrabhaga" di Prasasti Tugu, lalu lompatan ke ejaan Belanda "Bacassie/Bekassie" beberapa abad kemudian. Rantai di tengahnya adalah rekonstruksi ahli yang masuk akal, tapi bukan bukti fisik.

Kenapa "bagian dari bulan"? Ada versi lain: "bahagia"

Di sini ada perbedaan kecil antarsumber. Disparbud Kota Bekasi dan Kompas.com memaknai bhaga sebagai "bagian", sehingga Candrabhaga adalah "bagian dari bulan". Sementara Adeng (2014) menyebut versi kedua yang memaknai bhaga sebagai "bahagia", dan Wikipedia Inggris untuk Kali Bekasi juga menulis "moon" dan "happy". Dari sinilah julukan populer "Bekasi Kota Bulan" muncul. Yang mana yang benar? Dalam bahasa Sanskerta, bhaga memang punya banyak arti, termasuk "bagian", "keberuntungan", dan "kemakmuran", jadi kedua tafsir sama-sama punya pijakan. Yang jelas, kedua versi sepakat bahwa unsur "bulan" ada di dalamnya.

Apakah Candrabhaga Benar-Benar Kali Bekasi?

Ini bagian yang jarang dibahas tapi penting. Teori Poerbatjaraka mengasumsikan sungai Candrabhaga di Prasasti Tugu adalah Kali Bekasi sekarang, yang mengalir dari pertemuan Cikeas dan Cileungsi di perbatasan Kota Bekasi–Bogor menuju Teluk Jakarta di Babelan. Wikipedia Indonesia untuk Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi mengikuti pandangan ini.

Tapi tidak semua ahli setuju. Pada 1972, J. Noorduyn dan H.Th. Verstappen menerbitkan penelitian Purnavarman's River-works near Tugu di jurnal BKI. Mereka menggabungkan analisis teks dengan geomorfologi, dan menyimpulkan bahwa Candrabhaga dan Gomati kemungkinan berada di sekitar Tugu, Jakarta Utara, tepat di lokasi prasasti ditemukan. Menurut mereka, bekas aliran Candrabhaga adalah Kali Cakung yang mengalir ke utara, dan batu prasasti diletakkan persis di sudut pertemuan alur lama dan alur baru. Panjang 6.122 busur mereka hitung sekitar 11 km.

Jadi ada dua kemungkinan yang hidup berdampingan: Candrabhaga adalah Kali Bekasi (versi Poerbatjaraka, yang paling populer dan dipakai pemerintah daerah) atau Candrabhaga adalah Kali Cakung di kawasan Tugu (versi Noorduyn–Verstappen, yang lebih kuat secara arkeologis-geografis). Kalau versi kedua benar, hubungan nama Bekasi dengan Candrabhaga tetap mungkin, tapi jalurnya perlu dijelaskan ulang, misalnya karena wilayah Bekasi dulu memang mencakup daerah Tugu–Cilincing yang kini masuk Jakarta Utara. Ini pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Teori Tandingan: "Bekas Kali" dan Tebakan Rakyat Lainnya

Di warung kopi, kamu mungkin pernah dengar versi bahwa Bekasi berasal dari "bekas kali" atau "bekas sisi", merujuk pada banyaknya sungai dan rawa di dataran rendah ini. Versi ini menarik sebagai cerita rakyat, tapi tidak ada satu pun sumber sejarah atau kajian akademik yang mendukungnya. Bentuk ejaan kolonial seperti Bacassie dan Bekassi yang sudah muncul sejak abad ke-18 justru menunjukkan nama ini sudah jadi satu kata utuh jauh sebelum bahasa Indonesia modern lahir.

Ada juga yang mengaitkan nama Bekasi dengan sebutan lama "Dayeuh Sundasembawa" atau "Jayagiri", yang menurut Wikipedia Indonesia dan Kompas.com pernah menjadi sebutan wilayah ini pada masa Tarumanegara. Perlu dicatat, sebutan-sebutan itu bersumber dari naskah yang kredibilitasnya masih diperdebatkan sejarawan, jadi sebaiknya dianggap sebagai tradisi, bukan fakta yang sudah terverifikasi.

Bekassie, Bacassie, Bekassi: Nama Bekasi di Era Kolonial

Begitu Belanda berkuasa di Batavia, nama daerah di timur kota ini mulai muncul dalam catatan administratif dengan berbagai ejaan. Disparbud Kota Bekasi, mengutip buku Sejarah Bekasi karya Andi Sopandi, mencatat variasi ejaan dari abad ke-18 hingga ke-20: Bacassie, Bekasjie, Bekasie, Bekassi, sebelum akhirnya baku menjadi "Bekasi".

Bukti visualnya masih bisa kita lihat. Foto koleksi KITLV yang jadi gambar utama artikel ini berjudul asli "Riviergezicht te Bekassi nabij Batavia" (pemandangan sungai di Bekassi dekat Batavia), diperkirakan dibuat sekitar 1890. Ejaan "Bekassi" dengan dua "s" adalah cara orang Belanda menjaga bunyi "s" tetap tajam, karena "Bekasi" dengan satu "s" dalam ejaan Belanda bisa terbaca "Bekazi".

Secara administratif, pada masa kolonial Bekasi adalah sebuah distrik di bawah Regentschap (kabupaten) Meester Cornelis, Karesidenian Batavia. Wilayahnya dikenal sebagai daerah pertanian subur yang sebagian besar dikuasai pemilik tanah partikelir, yaitu tanah swasta milik pengusaha Eropa dan Tionghoa yang punya kuasa hampir seperti pemerintah kecil. Adeng (2014) menjelaskan sistem tanah partikelir ini berkembang setelah VOC memperkuat kontrol atas kawasan sekitar Batavia pasca serangan Mataram 1628–1630. Cerita soal tanah partikelir dan perlawanan warganya bisa kamu baca dalam artikel Sejarah Kota Bekasi: Dari Kabupaten 1950 Sampai Pemekaran 1997.

Dari Nama Sungai Jadi Nama Kabupaten dan Kota

Menariknya, nama "Bekasi" sebagai nama daerah otonom baru resmi lahir setelah kemerdekaan. Sebelum itu, wilayahnya bernama Kabupaten Jatinegara. Lewat Resolusi 17 Januari 1950 yang diperjuangkan tokoh-tokoh setempat, nama itu diganti menjadi Kabupaten Bekasi, dan kabupaten ini resmi terbentuk 15 Agustus 1950 berdasarkan Undang-Undang No. 14 Tahun 1950.

Nama itu kemudian terus "beranak": Kota Administratif Bekasi dibentuk 20 April 1982, ditingkatkan menjadi Kotamadya pada 16 Desember 1996 dan diresmikan 10 Maret 1997. Hari ini ada dua daerah yang sama-sama menyandang nama Bekasi, yaitu Kota Bekasi dengan penduduk lebih dari 2,6 juta jiwa (perkiraan resmi pertengahan 2025) dan Kabupaten Bekasi yang lebih luas di sisi utara dan timurnya. Kalau ditotal, ada lebih dari lima juta orang yang setiap hari menuliskan nama warisan Candrabhaga itu di KTP-nya.

Fakta Singkat

  • Asal nama: Candrabhaga, nama sungai dalam Prasasti Tugu (Tarumanegara, pertengahan abad ke-5 M).
  • Rantai perubahan: Candrabhaga → Sasibhaga/Bhagasasi → Bhagasi → Bacassie/Bekassie (Belanda) → Bekasi.
  • Pencetus teori: R.M. Ng. Poerbatjaraka (1884–1964), ahli Sanskerta dan Jawa Kuno; dikutip sejak sekitar 1951.
  • Arti: candra = bulan; bhaga = bagian (versi lain: bahagia/keberuntungan). Dari sini julukan "Kota Bulan".
  • Teori lokasi tandingan: Noorduyn & Verstappen (1972) menempatkan Candrabhaga di Kali Cakung, Tugu, bukan Kali Bekasi.
  • Ejaan kolonial: Bacassie, Bekasjie, Bekasie, Bekassi (abad ke-18 s.d. ke-20); foto KITLV c. 1890 memakai "Bekassi".
  • Nama resmi daerah: Kabupaten Bekasi (15 Agustus 1950, UU No. 14/1950); Kota Bekasi (diresmikan 10 Maret 1997).

Pertanyaan Umum Seputar Asal-Usul Nama Bekasi

Apa arti nama Bekasi?

Menurut teori Poerbatjaraka, Bekasi berakar dari kata Sanskerta Candrabhaga: candra berarti bulan dan bhaga berarti bagian, sehingga dimaknai "bagian dari bulan". Sebagian sumber memaknai bhaga sebagai "bahagia" atau "keberuntungan". Dari makna inilah Bekasi sering dijuluki "Kota Bulan".

Apakah Bekasi berasal dari kata "bekas kali"?

Tidak ada sumber sejarah yang mendukung tafsir itu. Ejaan Belanda seperti Bacassie dan Bekassi sudah tercatat sejak abad ke-18, jauh sebelum bahasa Indonesia modern terbentuk, dan sejarawan menelusuri asalnya ke Candrabhaga di Prasasti Tugu. "Bekas kali" lebih tepat disebut etimologi rakyat.

Di mana Prasasti Tugu ditemukan, dan kenapa dikaitkan dengan Bekasi?

Prasasti Tugu ditemukan di Kampung Batutumbuh, Desa Tugu, kini Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara, dan sekarang disimpan di Museum Nasional. Prasasti ini menyebut penggalian sungai Candrabhaga, yang oleh Poerbatjaraka disamakan dengan Kali Bekasi dan dianggap sebagai asal nama Bekasi.

Siapa Poerbatjaraka?

R.M. Ng. Poerbatjaraka (1884–1964) adalah filolog Indonesia, ahli bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno, serta salah satu pelopor kajian sastra Jawa modern. Dialah yang merekonstruksi perubahan bunyi Candrabhaga menjadi Bhagasasi hingga Bekasi.

Bagaimana orang Belanda menulis nama Bekasi?

Dokumen kolonial mencatat beragam ejaan: Bacassie, Bekasjie, Bekasie, dan Bekassi. Foto koleksi KITLV sekitar 1890 memakai judul "Riviergezicht te Bekassi nabij Batavia". Ejaan "Bekasi" baru baku pada abad ke-20.

Kapan nama Bekasi resmi jadi nama kabupaten dan kota?

Kabupaten Bekasi (sebelumnya Kabupaten Jatinegara) resmi terbentuk 15 Agustus 1950 berdasarkan UU No. 14 Tahun 1950. Kota Administratif Bekasi dibentuk 20 April 1982, lalu menjadi kotamadya yang diresmikan 10 Maret 1997.

Sumber & Referensi

  1. Disparbud Kota Bekasi, "Asal kata Bekasi" (2018), mengutip Andi Sopandi, Sejarah Bekasi. disparbud.bekasikota.go.id
  2. Kompas.com, "Asal Usul Nama Bekasi, Berasal dari Kata Baghasasi di Prasasti Tugu" (26 April 2021). kompas.com
  3. Adeng, "Sejarah Sosial Kota Bekasi", Patanjala Vol. 6 No. 3 (2014), hlm. 397–412. neliti.com (PDF)
  4. Wikipedia bahasa Indonesia, "Prasasti Tugu" (diakses 2026). id.wikipedia.org
  5. Wikipedia bahasa Indonesia, "Kabupaten Bekasi" dan "Kota Bekasi" (diakses 2026). id.wikipedia.org
  6. J. Noorduyn & H.Th. Verstappen, "Purnavarman's River-works near Tugu", Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 128 (1972). researchgate.net
  7. detik.com, "Asal-usul Nama Bekasi, Berawal dari Penggalian Sungai Chandrabaga" (2025). detik.com
  8. Wikimedia Commons, "Riviergezicht te Bekassi nabij Batavia, KITLV 28778" (c. 1890, Leiden University Library). commons.wikimedia.org

Nama kota kita ternyata nyimpen cerita 1.500 tahun: dari sungai yang digali raja, lewat lidah orang Belanda, sampai jadi tulisan di KTP kita. Kalau di kampungmu ada versi lain soal asal nama Bekasi, atau nama kampung dan kecamatanmu punya cerita sendiri, tulis di kolom komentar atau kirim ke redaksi Planet Bekasi. Cerita-cerita seperti ini kita kumpulkan di label Asal Usul, supaya generasi berikutnya nggak perlu menebak-nebak lagi.

Posting Komentar