Bahasa Betawi Ora: Dialek Betawi Pinggiran Khas Bekasi
Coba perhatikan obrolan di warung kopi Babelan, Tambun, atau Cikarang. Kalau kamu dengar orang bilang "ora" untuk menolak, "iyak" untuk mengiyakan, dan "apa" yang tetap dibaca "apa" (bukan "apè" seperti di sinetron Jakarta), berarti kamu sedang mendengar Betawi Ora: dialek Betawi yang tumbuh di pinggiran, dan jadi bahasa sehari-hari sebagian besar orang Bekasi asli.
Jawaban singkatnya: Betawi Ora, yang oleh para ahli bahasa disebut juga Betawi Pinggiran atau Betawi Udik, adalah ragam bahasa Betawi yang dituturkan di luar Jakarta, terutama Bekasi, Depok, Tangerang, dan utara Bogor. Cirinya: bunyi a di akhir kata tetap a (bukan è seperti Betawi Kota), kosakatanya banyak menyerap bahasa Jawa dan Sunda, dan kata "ora" (dari bahasa Jawa, artinya "tidak") dipakai begitu sering sampai jadi nama dialeknya.
Artikel ini membahas dari mana dialek itu datang, apa bedanya dengan Betawi Jakarta, kata-kata apa saja yang cuma ada di Bekasi, apa kata penelitian linguistik, dan bagaimana nasibnya sekarang di tengah gempuran perumahan dan bahasa gaul.

Apa Itu Betawi Ora dan Kenapa Namanya "Ora"?
Bahasa Betawi sendiri adalah bahasa Melayu kreol yang lahir di Batavia dari pergaulan berbagai suku: Melayu, Jawa, Sunda, Bali, Bugis, Tionghoa, Arab, Portugis, sampai Belanda. Nah, di dalam bahasa Betawi itu, para peneliti membagi paling tidak dua ragam besar. Yang pertama Betawi Tengahan atau Betawi Kota, dituturkan di jantung Jakarta seperti Tanah Abang, Kemayoran, Kramat, sampai Jatinegara. Yang kedua Betawi Pinggiran, alias Betawi Udik atau Betawi Ora, yang hidup di daerah sekeliling Jakarta: Bekasi, Depok, Tangerang, dan utara Bogor.
Sebutan "Ora" sendiri diambil dari kata yang paling mencolok dalam dialek ini: ora, serapan dari bahasa Jawa yang artinya "tidak" atau "nggak". Orang Betawi Kota bilang kagak; orang Bekasi bilang ora. Karena kata itu begitu khas, ragam pinggiran ini lalu dijuluki dengan kata tersebut, sama seperti Betawi Kota kadang dijuluki "Betawi Iye" karena kebiasaan menjawab "iye".
Dalam penelitian Mesiyarti (UI, 2014), kata ora bahkan dijadikan penanda utama: kalau warganya masih spontan bilang "ora", dialeknya dianggap masih utuh.
Dari Mana Betawi Ora Berasal: Jejak Tentara Mataram dan Migrasi Orang Jawa-Sunda
Kenapa dialek Betawi di Bekasi kental unsur Jawa, padahal Bekasi secara administratif ada di Jawa Barat yang berbudaya Sunda? Jawabannya ada di sejarah pemukiman. Bekasi sejak zaman VOC adalah daerah pendatang. Sejarawan Bekasi Endra Kusnawan, seperti dikutip detikTravel (2023), menjelaskan bahwa sejak abad ke-17 wilayah ini dihuni bekas tentara Mataram, orang Banten, Bugis, Cirebon, dan Ambon, sehingga sulit menyebut satu etnis sebagai "asli" Bekasi.
Tentara Mataram yang dimaksud adalah sisa pasukan Sultan Agung yang menyerang Batavia pada 1628–1629. Sebagian dari mereka tidak pulang ke Jawa Tengah dan menetap di sepanjang jalur Karawang–Bekasi. Makalah dialektologi Multamia Lauder (Universitas Indonesia) menyebut pengaruh Jawa pada Betawi Pinggiran memang terkait dengan sejarah pasukan Mataram tahun 1628 itu, sementara kantong-kantong penutur Jawa masih tersisa sebagai "pulau bahasa" kecil di tengah wilayah Betawi Ora dan Sunda.
Di sisi lain, Bekasi berbatasan langsung dengan daerah berbahasa Sunda (Bogor, Karawang, Purwakarta) dan dulunya sebagian besar Kabupaten Bekasi memang berbahasa Sunda. Dari pertemuan tiga unsur inilah, Melayu Betawi dari arah Jakarta, Jawa dari para pendatang, dan Sunda dari tetangga, lahir campuran yang kemudian disebut Betawi Ora. Kalau kamu penasaran bagaimana campuran itu tercermin di nama-nama tempat, baca juga Asal-Usul Nama Kecamatan di Bekasi.
Beda Betawi Ora dengan Betawi Kota: Bukan Cuma Soal "Apa" dan "Apè"
1. Bunyi akhir kata: a tetap a
Perbedaan yang paling gampang ditangkap telinga adalah vokal di akhir kata. Betawi Kota mengubah a di akhir kata menjadi è (seperti "e" pada "bebek"): apa jadi apè, ada jadi adè, gua jadi guè, kenapa jadi kenapè. Betawi Ora mempertahankan bunyi a, sering malah ditekan dengan hembusan h di ujung: apa atau apah, ada atau adah, gua atau guah, saya jadi sayah. Wikipedia bahasa Inggris untuk bahasa Betawi merangkum tiga realisasi bunyi ini: è untuk Jakarta kota, ah untuk pinggiran, dan ə (pepet) untuk ragam lama yang dicatat Von de Wall pada 1909 dan kini sudah punah.
2. Kosakata: lebih kaya serapan Jawa dan Sunda
Wikipedia bahasa Indonesia mencatat bahwa Betawi Pinggiran "lebih kentara dan dekat dalam penyerapan kosakata asingnya", umumnya dari bahasa Sunda dan Jawa, sehingga kosakatanya lebih beragam dibanding Betawi Tengahan. Sebaliknya, Betawi Kota lebih banyak menyerap dari bahasa Arab dan Tionghoa (Hokkien), misalnya ane, ente, cepek, gopek. Kata-kata Hokkien itu tetap dipakai di Bekasi juga, tapi ditambah lapisan Jawa-Sunda yang tidak dikenal di Jakarta.
3. Intonasi mirip, pilihan kata beda
Intonasi dan tempo bicara keduanya sebenarnya mirip: sama-sama cepat dan blak-blakan. Yang membedakan adalah pilihan kata. Penulis Mojok, Suzan Lesmana (2021), menggambarkannya lewat tokoh-tokoh sinetron Si Doel Anak Sekolahan: sama-sama dialog Betawi, tapi kalau disimak baik-baik terasa bedanya.
Contoh Kosakata Betawi Ora Khas Bekasi
Berikut daftar kata yang dihimpun dari berbagai sumber (Mojok, Budaya-Indonesia.org, KPMS Kombantim, penelitian Mesiyarti dan Sri Munawarah). Perhatikan berapa banyak yang berbau Jawa dan Sunda:
- ora = tidak (Jawa). Betawi Kota: kagak.
- iyak = iya. Betawi Kota: iye.
- baba = ayah. Betawi Kota: babeh.
- bagen / bagenin = biarkan, biarin.
- danta = jelas, terang. "Ora danta" = nggak jelas.
- ilok / ilokan = masa sih? benarkah?
- awang = malas.
- bocah = anak (Jawa); lanang = laki-laki; wadon = perempuan.
- kulon = barat (Jawa).
- engkong = kakek (Hokkien, dipakai juga di Jakarta).
- tegongan = tikungan.
- ge = saja, juga ("gua ge ora tau").
- pisan = sangat (Sunda); meureun = mungkin (Sunda).
- prele = peduli ("kagak prele" = nggak peduli).
Coba rangkai jadi kalimat: "Bagen gua mah, mau dikata apa ge." (Biarin aja saya, mau dibilang apa juga.) Kalimat ini dikutip detikTravel sebagai contoh percakapan khas Bekasi. Atau contoh dari Mesiyarti: "Kalu ora uring-uringan pasti dah nyap-nyapan lagi." Orang Jakarta paham maksudnya, tapi langsung tahu bahwa yang bicara bukan orang Kota.
Wilayah Sebar: Dari Tangerang sampai Batujaya Karawang
Betawi Ora bukan cuma bahasa Bekasi. Wikipedia bahasa Indonesia merinci wilayah tuturnya: Kota Depok, Kota Bekasi, bagian utara Kabupaten Bekasi, Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, timur laut Kabupaten Tangerang, utara Kabupaten Bogor, utara Kota Bogor (sekitar Tanah Sareal), bahkan sampai Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya di utara Karawang. Pangkalan data bahasa Glottolog mencatat enam varian Betawi berdasarkan lokasi: Bekasi, Cikarang, Depok, Parung, Serpong, dan Tangerang.
Di dalam Bekasi sendiri, kekentalannya tidak merata. Menurut Budaya-Indonesia.org, daerah Cikarang, Babelan, dan Tambun masih mempertahankan Betawi Ora dengan kuat, sementara Bekasi kota mengalami percampuran bahasa yang jauh lebih intensif. Makanya kalau kamu tinggal di perumahan di Bekasi Selatan, mungkin jarang dengar "ora"; tapi coba main ke Muaragembong atau Cabangbungin.
Di ujung barat, dialek Tangerang dan Parung punya rasa Sunda yang lebih tebal, sedangkan di ujung timur, Bekasi dan Karawang, unsur Jawanya lebih terasa. Salah satu kantong yang menarik adalah Kampung Adat Kranggan di Jatisampurna, tempat adat Betawi pinggiran masih dijaga secara turun-temurun.
Apa Kata Penelitian Linguistik: Muhadjir, Chaer, Grijns, sampai Mesiyarti
Bahasa Betawi termasuk dialek Melayu yang paling banyak diteliti di Indonesia. Beberapa nama yang wajib disebut:
- Muhadjir, guru besar linguistik Universitas Indonesia, menulis Morfologi Dialek Jakarta (1984) dan buku Bahasa Betawi: Sejarah dan Perkembangannya (Yayasan Obor Indonesia, 2000; dicetak ulang 2017). Buku terakhir ini membahas kedudukan Betawi di antara bahasa Melayu lokal lain, struktur fonologi-morfologi-sintaksisnya, peran Betawi sebagai alat komunikasi antaretnis, dan sumbangannya pada bahasa Indonesia modern. Nama Muhadjir juga tercatat sebagai editor tesis Mesiyarti tentang Betawi Ora.
- Abdul Chaer, penyusun Kamus Dialek Jakarta (1976) dan penulis buku Folklor Betawi (2012), membagi Betawi Jakarta ke dalam empat sub-dialek berdasarkan bunyi: Meester (Jatinegara), Tanah Abang, Karet, dan Kebayoran. Chaer pula yang pada 2018 diwawancarai Liputan6 soal terdesaknya bahasa Sunda oleh Betawi di Bekasi.
- C.D. Grijns, peneliti Belanda dari KITLV, dalam Jakarta Malay: A Multidimensional Approach to Spatial Variation (1991) memetakan tujuh varian Melayu Jakarta, termasuk varian Pasar Rebo, Ciputat, Gunungsindur, Mauk–Sepatan, dan Pebayuran di Kabupaten Bekasi. Grijns juga yang mencetuskan istilah "bahasa Jakarta modern" untuk ragam gaul yang muncul sejak 1970-an.
- Multamia R.M.T. Lauder (Tawangsih), pakar dialektologi UI, memetakan bahasa di Bekasi sejak 1978 dan 1983. Dari pemetaan lanjutan oleh Ramawirawan (2010) diketahui bahwa tiga area bahasa yang ada di Bekasi pada 1978 menyusut jadi dua area pada 2010, karena batas antar-dialek makin kabur.
- Mesiyarti, dalam tesis Dialek Betawi Ora di Jabodetabek: Sebuah Kajian Dialektologi (FIB UI, 2014, dibimbing Tawangsih), memetakan 50 kecamatan di seluruh Jabodetabek. Hasilnya: 26 kecamatan masih berdialek Betawi Ora secara definitif (lengkap dengan kata ora), 13 kecamatan berada dalam bentuk peralihan (kosakata khas masih ada tapi ora hilang), dan 10 kecamatan sudah jarang memakainya. Kesimpulannya: Betawi Ora tidak punah, tapi daerah sebarnya bergeser ke timur dan tenggara Jabodetabek, alias ke arah Bekasi dan Karawang.
- Sri Munawarah (UI, 2023) meneliti Depok dan menemukan Betawi Pinggiran sebagai area terluas di kota itu, dengan penanda kata ora dan kata-kata Jawa seperti wadon, lanang, bocah.
Benang merahnya: Betawi Ora adalah dialek yang nyata, punya ciri sendiri, dan sedang bergerak. Bukan sekadar "Betawi yang salah ucap".
Kondisi Kini: Terdesak Perumahan, Tapi Belum Punah
Ada dua arus yang bergerak berlawanan di Bekasi. Di satu sisi, Betawi Ora "menang" atas bahasa Sunda: data pemetaan Balai Bahasa Jawa Barat yang dikutip Liputan6 (2018) menunjukkan sebagian besar wilayah Kabupaten Bekasi yang dulu berbahasa Sunda kini terdesak bahasa Betawi, akibat urbanisasi dan migrasi orang Betawi dari Jakarta sejak 1970-an. Di sisi lain, Betawi Ora sendiri terdesak oleh bahasa Indonesia dan bahasa gaul Jakarta di kalangan anak muda, terutama di kawasan perumahan yang dihuni pendatang dari seluruh Indonesia. Penelitian Riris Tiani dan M. Syaiful (Undip, 2018) menyebut pergeseran dialek Betawi antargenerasi bersifat sebagian, bukan total: kosakata lama seperti pangkeng (kamar) diganti kata Indonesia, tapi identitas Betawinya tetap bertahan.
Kabar baiknya, upaya pelestarian mulai muncul dari berbagai arah:
- Di Kampung Sawah, Pondok Melati, Kota Bekasi, Gereja Santo Servatius (berdiri 1896) memakai bahasa Betawi Pinggiran dalam panduan misa dan doa-doanya. Foto buku panduan misa Oktober 2024 di atas adalah buktinya. Ini contoh langka dialek daerah masuk ke ranah ibadah formal.
- Wikipedia bahasa Betawi (bew.wikipedia.org) resmi diluncurkan Mei 2024 sebagai Wikipedia ke-16 dalam bahasa yang dituturkan di Indonesia, dan pada Januari 2026 komunitas Wikimedia menggelar pelatihan Wikisource bahasa Betawi di sebuah SMK di Kota Bekasi.
- Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra (2022) mendorong lahirnya regulasi khusus pelindungan bahasa dan sastra Betawi serta pembentukan semacam Balai Bahasa Jakarta, karena bahasa Betawi justru makin populer di kalangan non-Betawi sementara komunitas penuturnya terus tergusur.
- Kamus-kamus swadaya bermunculan di blog dan media sosial, misalnya "Kamus Bahasa Betawi Bekasi" yang dikelola warga sejak 2013.

Fakta Singkat
- Nama lain Betawi Ora: Betawi Pinggiran, Betawi Udik; lawannya Betawi Tengahan/Kota/"Betawi Iye".
- Kata ora berasal dari bahasa Jawa, artinya "tidak"; Betawi Kota memakai kagak.
- Ciri bunyi: akhiran a tetap a/ah (apa, ada, guah), bukan è (apè, adè, guè).
- Wilayah: Bekasi, Depok, Tangerang, Tangsel, utara Bogor, sampai Batujaya–Pakisjaya (Karawang).
- Glottolog mencatat 6 varian: Bekasi, Cikarang, Depok, Parung, Serpong, Tangerang.
- Tesis Mesiyarti (UI, 2014): dari 50 kecamatan Jabodetabek, 26 masih berdialek Betawi Ora definitif; sebarannya bergeser ke timur-tenggara.
- Sensus 2000 mencatat sekitar 5 juta penutur bahasa Betawi (semua dialek).
- Wikipedia bahasa Betawi diluncurkan Mei 2024.
Pertanyaan Umum Seputar Bahasa Betawi Ora
Apa arti "ora" dalam bahasa Betawi Bekasi?
"Ora" artinya "tidak" atau "nggak". Kata ini diserap dari bahasa Jawa dan menjadi ciri paling khas dialek Betawi pinggiran, sehingga dialeknya dijuluki Betawi Ora. Padanannya dalam Betawi Jakarta adalah "kagak".
Apa bedanya Betawi Ora dengan Betawi Jakarta?
Betawi Jakarta (Tengahan) mengubah bunyi a di akhir kata jadi è (apè, adè, guè), sedangkan Betawi Ora mempertahankan a (apa, ada, gua/guah). Selain itu, Betawi Ora lebih banyak menyerap kosakata Jawa dan Sunda (ora, bocah, lanang, pisan), sementara Betawi Jakarta lebih banyak serapan Arab dan Hokkien.
Orang Bekasi itu sebenarnya Betawi atau Sunda?
Dua-duanya, tergantung wilayah dan sejarah keluarganya. Bagian utara dan tengah Kabupaten Bekasi serta Kota Bekasi didominasi Betawi Ora, sedangkan wilayah selatan dan timur yang berbatasan Bogor–Karawang dulu berbahasa Sunda. Data Balai Bahasa Jawa Barat (2018) menunjukkan wilayah Sunda di Bekasi makin terdesak oleh Betawi.
Apakah Betawi Ora termasuk bahasa yang terancam punah?
Menurut tesis Mesiyarti (UI, 2014), Betawi Ora tidak punah tapi mengalami pergeseran: daerah pakainya bergerak ke timur dan tenggara Jabodetabek. Ancaman utamanya adalah bahasa Indonesia dan bahasa gaul Jakarta di kalangan generasi muda, terutama di kawasan perumahan pendatang.
Di mana saja Betawi Ora dituturkan selain Bekasi?
Di Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, timur laut Kabupaten Tangerang, utara Kabupaten dan Kota Bogor, serta Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya di Karawang. Varian Tangerang dan Parung lebih kental Sunda, sedangkan varian Bekasi lebih kental Jawa.
Siapa peneliti yang pertama membedakan Betawi Kota dan Betawi Pinggiran?
Pembagian dua ragam ini sudah lama dipakai dalam kajian bahasa Betawi; nama-nama yang paling sering dirujuk adalah Muhadjir (UI), Abdul Chaer, dan C.D. Grijns (KITLV, 1991). Kajian khusus tentang Betawi Ora dilakukan Mesiyarti (2014) di bawah bimbingan Multamia Lauder.
Sumber & Referensi
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Bahasa Betawi" (diakses 2026). id.wikipedia.org
- Wikipedia (EN), "Betawi language" (diakses 2026). en.wikipedia.org
- Mesiyarti, Dialek Betawi Ora di Jabodetabek: Sebuah Kajian Dialektologi, tesis FIB Universitas Indonesia (2014). lib.ui.ac.id
- Multamia R.M.T. Lauder & Allan F. Lauder, "Recent Dialectology Research", Universitas Indonesia (2018). linguistik.fib.ui.ac.id
- Muhadjir, Bahasa Betawi: Sejarah dan Perkembangannya, Yayasan Pustaka Obor Indonesia (2000/2017). books.google.com
- Sri Munawarah, "Menyelisik Identitas Baru Masyarakat Depok: Kajian Berperspektif Sosiodialektologi", Epigram Vol. 20 No. 2, Politeknik Negeri Jakarta (2023). jurnal.pnj.ac.id
- Liputan6, "Kala Bahasa Betawi Menggeser Bahasa Sunda di Perbatasan Jakarta" (2018). liputan6.com
- detikTravel, "Kulik-kulik Tentang Bekasi, Budayanya Berasal dari Mana Sih?" (2023). travel.detik.com
- Suzan Lesmana, "Mau Pakai Dialek Betawi 'Iye' atau Betawi 'Ora'?", Mojok Terminal (2021). mojok.co
- Yahya Andi Saputra, "Bahasa Betawi Memperkuat Identitas Betawi", kebudayaanbetawi.com (2022). kebudayaanbetawi.com
Bahasa adalah arsip hidup: tiap "ora", "bagen", dan "ilokan" yang keluar dari mulut orang tua kita menyimpan jejak tentara Mataram, petani Sunda, dan pedagang Tionghoa yang pernah bertemu di tanah Bekasi. Kalau di kampungmu ada kata Betawi Ora yang belum masuk daftar di atas, atau kamu punya rekaman orang tua ngobrol pakai dialek ini, kirim ke redaksi atau tulis di komentar. Cerita-cerita bahasa dan budaya lokal kita kumpulkan di label Asal Usul, biar generasi berikutnya tetap tahu dari mana asal "ora" mereka.
Posting Komentar