Jalan Raya Pos, Kalimalang, Tol MBZ: Jalur Bersejarah Bekasi

Daftar Isi

Setiap pagi ratusan ribu warga Bekasi bergerak ke Jakarta lewat tiga jalur yang berjajar nyaris sejajar: Jalan Kalimalang di bawah, Tol Jakarta–Cikampek di sampingnya, dan Tol Layang MBZ yang melayang di atas semuanya. Kalau kamu berdiri di jembatan penyeberangan di sekitar Jatibening dan melihat ke timur, tiga generasi jalan itu terlihat sekaligus. Tapi jalur paling tua justru nggak kelihatan dari situ: jalan lama Jakarta–Bekasi–Karawang yang kini bernama Jalan Raya Bekasi, Jalan Sultan Agung, dan Jalan Ir. H. Juanda.

Jawaban singkat untuk pertanyaan yang sering muncul: Jalan Raya Pos Daendels (1808) tidak melewati Bekasi. Dari Batavia jalan itu berbelok ke selatan lewat Meester Cornelis (Jatinegara) ke Buitenzorg (Bogor), Puncak, Cianjur, Bandung, Sumedang, lalu Cirebon. Jalur Batavia–Bekasi–Karawang yang kita kenal sebagai Pantura adalah jalan pos kelas satu yang ditetapkan pemerintah kolonial belakangan (resolusi 1836), dilengkapi jembatan jalan raya di atas Kali Bekasi pada 1913, lalu disusul Kalimalang (1960-an), Tol Jakarta–Cikampek (1988), dan Tol Layang MBZ (2019).

Tulisan ini menelusuri lima jalur itu satu per satu, dari jalan pos zaman kuda sampai jalan layang terpanjang di Indonesia, dan bagaimana masing-masing ikut membentuk wajah Bekasi hari ini.

Tiga jalur berjajar di Bekasi: Jalan Kalimalang di bawah, Tol Jakarta-Cikampek di tengah, dan Tol Layang MBZ di atas, dengan rel kereta dan gedung apartemen di sekitarnya
Tiga generasi jalur dalam satu bingkai: Jalan Kalimalang, Tol Jakarta–Cikampek, dan Tol Layang MBZ di kawasan Bekasi, 2022. Foto: @preplime via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Apakah Jalan Raya Pos Daendels Lewat Bekasi?

Ini kesalahpahaman yang paling sering kita dengar: "Pantura itu jalan Daendels". Faktanya tidak sesederhana itu. Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memerintahkan pembangunan De Groote Postweg pada 5 Mei 1808, dan dalam waktu sekitar setahun jalan sepanjang kira-kira 1.000 km dari Anyer sampai Panarukan itu selesai. Wikipedia mencatat Daendels mengawasi langsung ruas Batavia ke Buitenzorg (Bogor) lewat Meester Cornelis, lalu masuk Priangan, sementara ruas dari Cirebon ke timur diserahkan ke bupati-bupati setempat dengan kerja wajib. Korbannya diperdebatkan: dari 500 orang menurut Nicolaus Engelhard sampai sekitar 12.000 menurut catatan Mayor William Thorn.

Perhatikan rutenya: dari Batavia jalan itu berbelok ke selatan, bukan ke timur. Antara News (2018) menegaskan bahwa jalan antara Jakarta, Bekasi, Karawang, dan Cikampek sebenarnya tidak termasuk jalan yang dibangun Daendels, meskipun kini jadi bagian jalur Pantura. Situs Sebekasi menjelaskan alasannya: kawasan Bogor sampai Sumedang waktu itu penuh perkebunan kopi, komoditas andalan yang harganya mahal, jadi jalan diarahkan ke sana. Dataran rendah Bekasi–Karawang yang basah dan penuh rawa tidak menawarkan hal yang sama.

Jadi kalau ada yang bilang Jalan Ir. H. Juanda atau Jalan Raya Bekasi adalah "peninggalan Daendels", lebih tepat dibilang: jalan itu seangkatan dengan era jalan pos, tapi bukan bagian dari proyek Anyer–Panarukan.

Jalan Pos Batavia–Bekasi–Karawang: Poros Lama Sebelum Tol

Meski bukan karya Daendels, jalur Batavia–Bekasi–Karawang sudah punya status resmi sejak awal abad ke-19. Sejarawan amatir Akhir Matua Harahap, yang membaca koran-koran kolonial di arsip Delpher, mengutip Javasche Courant 30 Januari 1836: resolusi pemerintah tertanggal 28 Januari 1836 membagi jalan ke dalam tiga kelas, dan salah satu jalan kelas satu adalah "de weg van Batavia naar Meester Cornelis en van daar over Poeloe Gadong en Bakassie naar het Krawangsche", jalan dari Batavia ke Meester Cornelis, lalu lewat Pulo Gadung dan Bekasi menuju wilayah Karawang.

Kalau kita petakan ke nama jalan sekarang, rute itu kira-kira: Jatinegara – Jalan Bekasi Raya (Pulo Gadung, Cakung) – Jalan Sultan Agung (Medan Satria, Kranji) – Jalan Ir. H. Juanda (Bekasi Jaya, kawasan Pasar Baru dan Proyek) – menyeberang Kali Bekasi – Jalan Diponegoro (Tambun) – Cibitung – Cikarang – Karawang. Wikipedia Indonesia mencatat Jalan Bekasi Raya membentang 15 km dari Bali Mester, Jatinegara, sampai Medan Satria, Bekasi, dan berlanjut menjadi Jalan Sultan Agung di Kota Bekasi.

Poros inilah yang menentukan letak "kota" Bekasi lama. Harahap menggambarkan peta tahun 1900: di pangkal jalan menuju Batavia berdiri landhuis tuan tanah, di belakangnya kantor kepala distrik, di depannya kantor mantri polisi dan penjara, di sisi lain landraad, dan di seberang sungai ada pasar. Waktu itu belum ada jembatan; orang menyeberang dengan getek. Cerita tuan tanah dan pasar yang tumbuh di poros ini bisa kamu baca di artikel Sejarah Pasar Bekasi.

Jembatan Kali Bekasi 1913: titik temu tiga moda

Kereta api lebih dulu punya jembatan. Jembatan rel BOS (Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij) di atas Kali Bekasi, panjang sekitar 70 meter, resmi dilalui kereta pada 14 Agustus 1890 dan sampai sekarang masih dipakai KRL (Sindonews, 2022). Jembatan untuk jalan raya baru menyusul dua dekade kemudian. Harahap mengutip Bataviaasch Nieuwsblad 14 Maret 1913 yang melaporkan pemerintah mengalokasikan f 44.680 untuk membangun jembatan lalu lintas biasa di sebelah jembatan kereta api di Bekasi. Edisi 9 Mei 1913 menambahkan bahwa proyek ini satu paket dengan perbaikan "jalan besar dari Meester Cornelis ke Bekasi dan Krawang".

Dengan jembatan 1913 itu, Bekasi untuk pertama kalinya terhubung oleh tiga moda sekaligus: sungai, kereta api, dan jalan raya. Titik temu ketiganya, di sekitar Stasiun Bekasi dan Pasar Bekasi, tetap jadi jantung kota sampai hari ini. Sejarah stasiunnya kita bahas di artikel Sejarah Stasiun Bekasi.

Jalan Kalimalang: Jalan Inspeksi yang Jadi Urat Nadi

Jalur kedua lahir bukan dari kebutuhan lalu lintas, melainkan air. Kalimalang sebenarnya nama populer untuk Saluran Induk Tarum Barat, kanal buatan yang membawa air Sungai Citarum dari Bendung Curug di Karawang ke Jakarta. Dalam liputan interaktif Kompas.id tentang Citarum, panjangnya tercatat 68,67 km, dirancang mengairi 56.628 hektare sawah, dan menjadi sumber utama air baku ibu kota. Saluran ini bagian dari sistem Waduk Jatiluhur yang dibangun 1957–1967 dan diresmikan Presiden Soeharto pada 26 Agustus 1967, dengan Bendung Curug (1965) rancangan Prof. Sedyatmo sebagai titik pembagi ke Tarum Barat, Tarum Tengah, dan Tarum Timur.

Nama "Kalimalang" sendiri, menurut Sindonews (2022) dan Radar Bekasi (2023), datang dari arahnya yang "malang" alias melintang: sungai alami di Bekasi mengalir dari selatan ke utara menuju laut, tapi kanal ini justru memotong dari timur ke barat, bahkan menyeberang di atas Kali Sunter dan Kali Bekasi lewat bangunan talang dan sifon. Kanal digali pada 1960-an, menurut Sindonews sebagian besar secara manual oleh tenaga manusia. Air Kalimalang hari ini disedot PDAM Tirta Bhagasasi, PDAM Tirta Patriot, dan operator air Jakarta; Merdeka.com menyebut lebih dari 80 persen air baku pelanggan PAM di Jakarta bersumber dari Jatiluhur lewat kanal ini. Pada 2016 Kementerian PUPR merehabilitasi ruas Bekasi–Cawang sepanjang 13,5 km untuk menaikkan kapasitas dari 16 menjadi 21 meter kubik per detik.

Nah, jalan di pinggir kanal itu awalnya cuma jalan inspeksi untuk petugas pengairan. Tapi karena lurus, datar, dan menembus langsung dari Cawang ke Bekasi, jalan inspeksi ini berubah jadi jalan arteri. Wikipedia mencatat Jalan Kalimalang membentang sekitar 20 km melewati enam kecamatan dari Cawang sampai Bekasi. Di Kota Bekasi ruasnya bernama Jalan KH Noer Ali, mengambil nama ulama yang dijuluki Singa Karawang-Bekasi. Sejak 1996 di atas Kalimalang mulai dibangun Tol Becakayu (Bekasi–Cawang–Kampung Melayu), yang sempat mangkrak 16 tahun setelah krisis 1998 dan baru diresmikan seksi pertamanya pada 3 November 2017.

Tol Jakarta–Cikampek 1988: Jalan yang Menggeser Pusat Kota

Jalur ketiga adalah yang paling mengubah peta Bekasi. Tol Jakarta–Cikampek sepanjang 73 km mulai uji coba 21 September 1988 dan diresmikan Presiden Soeharto pada 19 November 1988, dikelola PT Jasa Marga dengan pembiayaan dari Bank Dunia (IBRD). Di wilayah Bekasi ada rangkaian gerbang: Bekasi Barat (KM 13), Bekasi Timur (KM 16), Tambun (KM 21), Cibitung (KM 24), lalu tiga pintu Cikarang (Barat, Utama, Timur) sebelum masuk Karawang.

Efeknya terasa dalam dua arah. Ke barat, tol membuat Bekasi jadi kota komuter: perumahan-perumahan besar tumbuh di sekitar pintu Bekasi Barat dan Bekasi Timur, dan pusat gravitasi kota bergeser dari poros lama Juanda–Pasar Bekasi ke koridor Ahmad Yani yang menghubungkan gerbang tol dengan Kalimalang. Ke timur, tol jadi tulang punggung kawasan industri: Jababeka, MM2100, EJIP, Lippo Cikarang, dan Delta Silicon semuanya menempel di pintu-pintu tol Cibitung dan Cikarang. Cerita lengkapnya ada di artikel Sejarah Cikarang: Dari Sawah Jadi Kota Industri Jababeka.

Karena beban itulah tol ini jadi langganan macet. Sejak 2 Maret 2011 sistem transaksinya diubah jadi terbuka, bayar di gerbang keluar tanpa ambil tiket, untuk mengurangi antrean. Tapi solusi permanennya datang dari atas.

Tol Layang MBZ 2019: Jalan Layang Terpanjang di Indonesia

Jalur keempat dibangun persis di atas jalur ketiga. Jalan Tol Jakarta–Cikampek II (Elevated) dikerjakan sejak awal 2017 oleh PT Waskita Karya bersama PT Acset Indonusa, dan diresmikan Presiden Joko Widodo pada 12 Desember 2019. Panjangnya 36,4 km dari Junction Cikunir sampai Karawang Barat, dengan nilai investasi Rp16,2 triliun, dikelola PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek. Menurut Kementerian PUPR, ini jalan tol layang terpanjang di Indonesia sekaligus double decker motorway pertama, karena berdiri tepat di atas Tol Jakarta–Cikampek yang lama.

Idenya sederhana: memisahkan komuter jarak pendek Jakarta–Bekasi–Cikarang di jalur bawah dari pelaju jarak jauh ke Cirebon, Bandung, Semarang, dan Surabaya di jalur atas, khusus kendaraan golongan I non-bus. Pada 12 April 2021, lewat Keputusan Menteri PUPR No. 417/KPTS/M/2021, namanya diganti menjadi Jalan Layang MBZ Sheikh Mohamed bin Zayed sebagai penghormatan bagi Uni Emirat Arab; sebelumnya nama Presiden Joko Widodo sudah dipakai untuk sebuah jalan di Abu Dhabi. Koridor ini kemudian makin padat: di sisinya berdiri jalur LRT Jabodebek yang beroperasi sejak 28 Agustus 2023 dengan stasiun-stasiun di Jatibening, Cikunir, Bekasi Barat, dan Jatimulya, serta lintasan Kereta Cepat Jakarta–Bandung.

Bagaimana Jalan Membentuk Kota Bekasi?

Kalau kita tarik benang merahnya, setiap jalur meninggalkan satu lapisan kota:

  • Jalan pos (abad ke-19): menentukan letak pusat kota lama di tepi Kali Bekasi, tempat landhuis, kantor distrik, pasar, dan kemudian stasiun berkumpul. Jembatan 1913 mengunci titik itu.
  • Kalimalang (1960-an): memberi Bekasi sumber air baku sekaligus poros baru arah barat–timur yang sejajar tol; di sepanjangnya kemudian tumbuh Jakapermai, Galaxy, Metropolitan Mall, dan deretan ruko.
  • Tol Jakarta–Cikampek (1988): memindahkan pusat gravitasi ke koridor Ahmad Yani dan menyalakan industrialisasi Cikarang; Bekasi berubah dari kota pasar jadi kota komuter dan kota pabrik.
  • Tol Layang MBZ (2019) dan LRT (2023): memadatkan koridor yang sama secara vertikal, dengan apartemen-apartemen tinggi menempel di stasiun dan pintu tol.

Uniknya, semua jalur baru itu tidak menggantikan yang lama, hanya menumpuk di sampingnya atau di atasnya. Jalan Ir. H. Juanda masih dipakai, Kalimalang masih mengalir, tol lama masih macet, dan tol layang masih ramai. Bekasi adalah kota yang tumbuh dengan cara menambah lapisan, bukan menghapus.

Fakta Singkat

  • Jalan Raya Pos Daendels: diperintahkan 5 Mei 1808, Anyer–Panarukan sekitar 1.000 km; dari Batavia berbelok ke Bogor–Bandung–Cirebon, tidak melewati Bekasi.
  • Jalan pos Batavia–Bekasi–Karawang: ditetapkan sebagai jalan kelas satu lewat resolusi 28 Januari 1836 (Javasche Courant, 30 Januari 1836).
  • Jembatan Kali Bekasi: jembatan rel BOS beroperasi 14 Agustus 1890 (panjang ±70 m); jembatan jalan raya dianggarkan f 44.680 pada 1913.
  • Kalimalang / Tarum Barat: 68,67 km dari Bendung Curug ke Jakarta; sistem Jatiluhur dibangun 1957–1967, diresmikan 26 Agustus 1967; Jalan Kalimalang ±20 km Cawang–Bekasi.
  • Tol Jakarta–Cikampek: 73 km, uji coba 21 September 1988, diresmikan 19 November 1988; gerbang Bekasi Barat KM 13, Bekasi Timur KM 16, Tambun KM 21, Cibitung KM 24.
  • Tol Layang MBZ: 36,4 km Cikunir–Karawang Barat, diresmikan 12 Desember 2019, investasi Rp16,2 triliun; berganti nama 12 April 2021.
  • Becakayu: tiang pancang Agustus 1996, mangkrak sejak 1998, seksi pertama diresmikan 3 November 2017; LRT Jabodebek beroperasi 28 Agustus 2023.

Pertanyaan Umum Seputar Jalur Bersejarah Bekasi

Apakah Jalan Ir. H. Juanda Bekasi bagian dari Jalan Raya Pos Daendels?

Bukan. Jalan Raya Pos Daendels (1808) dari Batavia berbelok ke selatan lewat Meester Cornelis ke Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Cirebon. Jalur Jakarta–Bekasi–Karawang–Cikampek yang kini disebut Pantura baru ditetapkan sebagai jalan pos kelas satu lewat resolusi pemerintah kolonial tahun 1836, jadi seangkatan tapi bukan bagian proyek Daendels.

Kenapa Daendels tidak membangun jalannya lewat Bekasi?

Menurut ulasan Sebekasi, jalan diarahkan ke Bogor sampai Sumedang karena di sana banyak perkebunan kopi, komoditas mahal yang jadi sumber pemasukan pemerintah kolonial. Dataran rendah Bekasi–Karawang saat itu masih didominasi rawa dan sawah, sehingga tidak diprioritaskan.

Kapan jembatan jalan raya di atas Kali Bekasi dibangun?

Koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi 14 Maret 1913 melaporkan pemerintah mengalokasikan f 44.680 untuk membangun jembatan lalu lintas biasa di sebelah jembatan kereta api Bekasi. Jembatan rel BOS sendiri sudah beroperasi sejak 14 Agustus 1890 dan masih dipakai KRL sampai sekarang.

Kenapa disebut Kalimalang dan sejak kapan ada?

Kalimalang adalah nama populer Saluran Induk Tarum Barat, kanal 68,67 km dari Bendung Curug, Karawang, ke Jakarta. Disebut "malang" karena arahnya melintang timur–barat, berlawanan dengan sungai alami yang mengalir ke utara. Kanal ini dibangun pada 1960-an sebagai bagian dari sistem Waduk Jatiluhur yang diresmikan 26 Agustus 1967.

Kapan Tol Jakarta–Cikampek dan Tol Layang MBZ diresmikan?

Tol Jakarta–Cikampek (73 km) diresmikan Presiden Soeharto pada 19 November 1988 setelah uji coba sejak 21 September 1988. Tol Layang Jakarta–Cikampek II (36,4 km) diresmikan Presiden Joko Widodo pada 12 Desember 2019 dan berganti nama menjadi Jalan Layang MBZ Sheikh Mohamed bin Zayed pada 12 April 2021.

Bagaimana tol mengubah Bekasi?

Tol menggeser pusat kota dari poros lama Juanda–Pasar Bekasi ke koridor Ahmad Yani dekat pintu tol, mendorong Bekasi menjadi kota komuter, dan menyalakan kawasan industri Cibitung–Cikarang seperti Jababeka dan MM2100 yang menempel di pintu-pintu tol.

Sumber & Referensi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia, "Jalan Raya Pos" (diakses 2026). id.wikipedia.org
  2. Antara News, "Jalan Daendels yang mulai terlupakan" (2018). antaranews.com
  3. Sebekasi.com, "Kenapa Jalan Pos Buatan Daendels Tak Lewat Bekasi, Ini Jawabannya". sebekasi.com
  4. Akhir Matua Harahap, "Sejarah Bekasi (1): Asal Mula Kota Bekasi di Sungai Bekasi", Poestaha Depok (2019), mengutip Javasche Courant 30-01-1836 dan Bataviaasch Nieuwsblad 14-03-1913 & 09-05-1913. poestahadepok.blogspot.com
  5. Sindonews, "Sejarah Jembatan Bekasi, Saksi Bisu Pembantaian Tentara Jepang di Kali Bekasi" (2022). sindonews.com
  6. Kompas.id, "Pembangunan untuk Citarum" (liputan interaktif). interaktif.kompas.id
  7. Sindonews, "Asal Usul Kalimalang, Saluran Air yang Melintang di Atas Kali Sunter" (2022); Radar Bekasi, "Sejarah Kalimalang Dulu dan Kalimalang Sekarang di Bekasi" (2023). radarbekasi.id
  8. Kementerian PUPR, "Tol Jakarta–Cikampek II (Elevated) Secara Resmi Menjadi Jalan Layang MBZ Sheikh Mohamed Bin Zayed" (13 April 2021). pu.go.id
  9. Wikipedia, "Jalan Tol Jakarta–Cikampek" (ID/EN), "Jalan Tol Bekasi–Cawang–Kampung Melayu", "LRT Jabodebek" (diakses 2026). id.wikipedia.org

Lain kali kamu terjebak macet di Kalimalang atau meluncur di atas MBZ, ingat bahwa di bawahmu ada lapisan-lapisan jalan yang umurnya hampir dua abad. Punya foto lama Jalan Juanda, jembatan Bekasi, atau Kalimalang waktu masih sepi? Kirim ke redaksi Planet Bekasi atau tulis di kolom komentar. Cerita-cerita jalur dan kampung kita kumpulkan di label Asal Usul.

Posting Komentar