Kampung Adat Kranggan: Kampung Tertua Bekasi dan Tradisi Babarit
Dari Plaza Cibubur, belok ke selatan lewat Jalan Raya Kranggan, kamu bakal melewati deretan ruko, perumahan klaster, dan gerai kopi kekinian. Tapi beberapa ratus meter dari keramaian itu, masih ada rumah panggung berkayu nangka beratap rumbia, sumur-sumur tua yang dikeramatkan, dan warga yang setiap tahun menggelar doa bersama di atas hamparan daun pisang. Inilah Kampung Kranggan, yang sering disebut kampung tertua sekaligus satu-satunya kampung adat yang masih hidup di Kota Bekasi.

Kampung Adat Kranggan terletak di Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, di perbatasan Jakarta Timur, Depok, dan Kabupaten Bogor. Menurut cerita para sesepuh, kampung ini berdiri sekitar abad ke-15 oleh keturunan Prabu Siliwangi dari Pajajaran yang mengungsi ke kawasan ini. Nama "Kranggan" disebut berasal dari "Karang Gantungan" atau dari nama leluhur Pangeran Rangga. Tradisi utamanya adalah Babarit atau Babaritan, upacara sedekah bumi yang sampai 2026 masih rutin digelar, dan rumah adatnya sudah ditetapkan Pemkot Bekasi sebagai bangunan cagar budaya sejak 2011.
Artikel ini menelusuri dari mana Kranggan berasal, apa itu Babarit dan kebo bule, siapa yang menjaga adatnya, dan bagaimana kampung ini bertahan ketika proyek perumahan sudah sampai ke bibir sumur keramatnya.
Dari Mana Asal Nama Kranggan? Dua Versi dari Kolot Suta Tjamin
Sumber yang paling sering dikutip media soal asal-usul Kranggan adalah tetua adat (dalam bahasa setempat disebut Kolot atau Olot) bernama Suta Tjamin. Menurut penuturannya yang dirangkum Mubadalah.id (2023) dan Matrasnews (2023), ada dua versi:
- Versi pertama: Kranggan adalah tempat tinggal seorang Ronggo atau Rangga, jabatan pejabat daerah setingkat bupati pada masa kerajaan. Kampung "tempat Sang Rangga" lama-lama disebut Kranggan.
- Versi kedua: nama itu diambil dari tokoh sesepuh bernama Pangeran Rengga atau Rangga, leluhur yang dianggap membuka kampung.
Versi kedua ini punya jejak resmi. Wikipedia bahasa Indonesia untuk Kelurahan Jatirangga mencatat bahwa nama kelurahan itu sendiri gabungan dari "jati" (pohon jati, lambang kekuatan) dan "Rangga", nama leluhur wilayah ini, Pangeran Rangga. Jadi baik nama kampung maupun nama kelurahan sama-sama menyimpan nama tokoh yang sama. Sementara itu, tafsir "Karang Gantungan" yang muncul di beberapa media belum dijelaskan maknanya secara rinci di sumber mana pun, jadi anggap saja itu tradisi lisan yang masih perlu ditelusuri.
Soal usia kampung, hampir semua sumber (Bangunkota, detikTravel 2024, Mubadalah) menyebut sekitar abad ke-15, dan warganya diyakini keturunan Prabu Siliwangi yang mengungsi ke arah Bogor, Bekasi, Cirebon, dan Banten setelah Pajajaran melemah. Mubadalah mencatat kampung ini sudah melahirkan sembilan generasi. Perlu dicatat, angka abad ke-15 bersumber dari tradisi lisan, bukan dokumen tertulis, tapi bekas-bekasnya cukup nyata: petilasan Raden Sanglai Senopati, Sumur Binong, serta tujuh sumur keramat yang dipercaya berasal dari zaman Pajajaran.
Kranggan Itu Betawi atau Sunda? Jawabannya: Dua-duanya
Ini pertanyaan yang sering muncul. Secara administratif Kranggan ada di Kota Bekasi, wilayah yang identik dengan budaya Betawi pinggiran (Betawi Ora). Tapi bahasa adat, nama ritual, dan arsitekturnya kental Sunda: tetua disebut Kolot, upacara disebut Babarit, rumah adatnya memakai istilah jolopong, anjing tagog, dan perahu tengkurep yang semuanya kosakata rumah tradisional Sunda. Bangunkota bahkan menyebutnya salah satu desa adat Sunda tertua di kawasan ini.
Di sisi lain, kesenian yang mengiringi sedekah bumi hari ini campur aduk khas perbatasan: rebana, ondel-ondel, lenong, dan pencak silat (yang Betawi) berdampingan dengan tari topeng, jaipong, gamelan, wayang golek, bahkan wayang kulit. Inilah wajah Kranggan yang sebenarnya: kampung Sunda tua yang hidup ratusan tahun di pinggiran Batavia, lalu menyerap budaya Betawi dari tetangganya. Kalau kamu penasaran bagaimana nama-nama kampung lain di Bekasi terbentuk dari percampuran serupa, Planet Bekasi mengulasnya dalam artikel Asal-Usul Nama Kecamatan di Bekasi.
Babarit, Sedekah Bumi ala Kranggan: Apa yang Terjadi Selama Tiga Malam
Babarit (warga juga menyebutnya Babaritan atau salametan bumi) adalah upacara doa bersama sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil bumi, sekaligus ritual tolak bala. Menurut Matrasnews, upacara ini dilaksanakan sore hari pada bulan Muharram (Sura), diawali doa bersama di balai adat, dilanjutkan ziarah ke makam sesepuh, dan di sebagian tempat ditambah penyembelihan domba. Warga percaya, kalau Babarit tidak dilaksanakan, hal-hal buruk bisa datang; itu sebabnya tata caranya nyaris tidak berubah dari generasi ke generasi.
Puncaknya bisa sangat meriah. Liputan Dakta (Januari 2022) menggambarkan perayaan yang berlangsung tiga hari tiga malam: malam pertama pencak silat, pagelaran topeng, dan jaipong; malam kedua wayang golek dan wayang kulit; malam ketiga adalah puncaknya, yaitu arak kebo bule dan sedekah bumi. Dalam ritual ini, sesajian hasil bumi diarak di atas jalinan bambu berukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter. Yang menarik, menurut Dakta perayaan besar dengan kebo bule ini hanya digelar delapan tahun sekali, sementara Babarit tahunan berskala lebih sederhana.
Seberapa sering Babarit digelar? Sumber-sumbernya beda
Di sini ada perbedaan yang perlu kamu tahu. Matrasnews dan Mubadalah menyebut Babarit dilakukan setiap Muharram. Akurat.co (2023), mengutip Lurah Jatirangga Ahmad Apandi, menyebut Babaritan digelar tiga kali setahun: bulan Mulud, Sura, dan Apit (dalam kalender Jawa-Sunda). Dakta membedakan antara Babarit tahunan dan sedekah bumi besar delapan tahunan. Kemungkinan besar ketiganya benar untuk konteks berbeda: ada Babarit kecil di tingkat kampung, dan ada perayaan besar yang kini juga difasilitasi kecamatan.
Yang jelas, tradisi ini terus hidup. Pemerintah Kota Bekasi mencatat Wakil Wali Kota Tri Adhianto menghadiri Babarit di kantor Kecamatan Jatisampurna pada September 2020, di tengah pandemi. Terbaru, pada Jumat, 17 Juli 2026, Babaritan kembali digelar di halaman kantor Kecamatan Jatisampurna, dihadiri Camat Nata Wirya dan perwakilan Wali Kota. Rangkaiannya: doa adat, persembahan hasil bumi (buah, umbi-umbian, padi, jajanan tradisional, tumpeng) di atas daun pisang, doa bersama, lalu makan bersama.
Rumah Kayu Nangka, Baju Cele, dan Gong Keramat: Warisan Fisik Kranggan
Kalau Babarit adalah warisan tak benda, Kranggan juga punya warisan yang bisa disentuh. Yang paling ikonik adalah rumah adat panggung dari kayu nangka dan bambu beratap rumbia. Ada tiga tipe atap: anjing tagog, jolopong (atau simpai), dan perahu tengkurep. Menurut Bangunkota, rumah adat Kranggan telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui Keputusan Wali Kota Bekasi Nomor 431/Kep.255-Porbudpar/VI/2011. detikTravel (November 2024) menampilkan rumah-rumah ini masih berdiri dengan gaya sederhana berbahan kayu di "kampung tertua Kota Bekasi".
Lurah Jatirangga Ahmad Apandi, dikutip Akurat.co (2023), merinci inventaris adat kampung: 7 rumah adat (Imah Panggung), 4 situs keramat, 3 makam keramat, 3 gong keramat, satu pakaian adat khas, dan satu ikat kepala tradisional. Pakaian adatnya disebut Baju Cele, bermotif kotak-kotak sederhana hitam-putih. Selain itu warga dikenal terampil dalam kerajinan bambu dan pengasapan ikan cue, keahlian yang dulu jadi penopang ekonomi kampung.
Berkat modal budaya ini, pada 2021 Kelurahan Jatirangga masuk daftar 125 desa kreatif versi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan Kampung Adat Kranggan terdaftar di Jadesta (Jejaring Desa Wisata) Kemenparekraf dengan kategori "rintisan", dikelola Kasepuhan Kranggan.
Siapa Tokoh Adat Kranggan?
Struktur adat Kranggan berpusat pada Kolot, tetua yang bertugas mewariskan adat dan mengelola rumah adat. Nama yang paling sering muncul di media adalah Kolot Suta Tjamin, budayawan dan penutur sejarah kampung yang jadi rujukan liputan sejak 2022–2023. Tokoh lain adalah Anim Imamudin, tokoh adat Kranggan yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Bekasi saat perayaan sedekah bumi Januari 2022, dan Ahmad Apandi, Lurah Jatirangga yang aktif mempromosikan Kranggan sebagai desa kreatif.
Warga juga punya forum musyawarah bulanan bernama Arisan Paketan Sesepuh, tempat para tokoh kampung berkumpul. Selain Babarit, Bangunkota dan Bekasi Keren mencatat upacara lain yang masih dijalankan: Seren Taun (syukuran panen setahun), Ngarot (digelar Desember, pada hari Rabu yang dianggap keramat), dan Hajat Kasempur. Rinciannya belum banyak didokumentasikan media, jadi ini peluang riset buat kamu yang tertarik.
Kampung Adat di Tengah Cibubur: Status Kampung Budaya dan Ancaman Perumahan
Kranggan hidup persis di salah satu kawasan properti paling agresif di Jabodetabek. Jatisampurna berbatasan dengan Cibubur, Jakarta Timur, dan sejak 2000-an dikepung perumahan, mal, dan jalan tol. Dampaknya terasa: Bekasi Keren (2024) mencatat banyak generasi muda lebih tertarik budaya populer dan mulai melupakan tradisi, sehingga sanggar seni tari topeng dan jaipong jadi benteng terakhir regenerasi.
Ancaman paling konkret muncul pada Maret 2025. Bekasi Satu melaporkan warga mendesak Pemkot Bekasi melindungi dua situs cagar budaya, Sumur Ciburial dan Bambu Panggangan, yang menurut peta siteplan masuk area proyek perumahan Arsaroyal seluas 6,4 hektare di Jatirangga. Padahal sumur-sumur keramat itu sudah ditetapkan Pemkot Bekasi sebagai cagar budaya pada Agustus 2020, ketika Tri Adhianto masih Wakil Wali Kota. Ketua KNPI Jatisampurna Robin Irawan menegaskan warga tidak ingin warisan budaya mereka hilang begitu saja.
Soal status "kampung budaya" pun masih menggantung. Wacana menjadikan Kranggan sebagai kampung budaya sudah muncul sejak 2019, dan pada November 2025 anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi Ahmadi Madong menilai program kampung budaya Kranggan belum punya perencanaan jelas. Ia meminta Dinas Pariwisata dipanggil untuk menjelaskan arah program dan anggarannya, serta mengingatkan bahwa budaya Kranggan tidak bisa "dipukul rata" dengan wilayah lain tanpa kajian mendalam. Jadi, meskipun rumah adatnya sudah cagar budaya (2011) dan sumur keramatnya sudah dilindungi (2020), Kranggan sebagai satu kesatuan kampung adat belum punya payung hukum yang utuh.
Fakta Singkat
- Lokasi: Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi; berbatasan dengan Jakarta Timur, Depok, dan Kabupaten Bogor.
- Usia: diperkirakan berdiri abad ke-15 (tradisi lisan), oleh keturunan Prabu Siliwangi; sudah sekitar sembilan generasi.
- Asal nama: dari "Rangga/Ronggo" (jabatan pejabat daerah) atau dari leluhur Pangeran Rangga; ada pula tafsir "Karang Gantungan".
- Tradisi utama: Babarit/Babaritan (sedekah bumi), digelar setiap Muharram; perayaan besar dengan arak kebo bule tiap delapan tahun; edisi terbaru 17 Juli 2026.
- Warisan fisik: 7 rumah adat panggung kayu nangka (cagar budaya, SK Wali Kota 2011), 7 sumur keramat (cagar budaya, Agustus 2020), 3 gong keramat, Baju Cele.
- Tokoh adat: Kolot Suta Tjamin (tetua adat), Anim Imamudin, Lurah Ahmad Apandi.
- Status: desa wisata rintisan di Jadesta Kemenparekraf; Jatirangga masuk 125 desa kreatif Kemenparekraf 2021; program kampung budaya masih dipertanyakan DPRD (November 2025).
Pertanyaan Umum Seputar Kampung Adat Kranggan
Di mana letak Kampung Adat Kranggan?
Kampung Kranggan berada di Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, sekitar 20 km dari pusat kota ke arah Cibubur. Kawasan ini berbatasan langsung dengan Jakarta Timur dan Kabupaten Bogor, sehingga sering dianggap bagian dari "Cibubur".
Apa itu tradisi Babarit?
Babarit atau Babaritan adalah upacara sedekah bumi warga Kranggan: doa bersama sebagai syukur atas hasil bumi dan tolak bala, biasanya sore hari di bulan Muharram, disertai ziarah ke makam sesepuh dan sajian hasil bumi di atas daun pisang. Pada perayaan besar, ditambah pertunjukan silat, topeng, jaipong, wayang, dan arak kebo bule.
Apa itu kebo bule dalam sedekah bumi Kranggan?
Kebo bule adalah arak-arakan sesajian hasil bumi yang diusung di atas jalinan bambu berukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter, menjadi puncak perayaan sedekah bumi besar. Menurut liputan Dakta (2022), ritual berskala besar ini digelar delapan tahun sekali.
Kranggan itu kampung Betawi atau Sunda?
Akar adatnya Sunda: istilah Kolot, Babarit, tipe atap jolopong dan anjing tagog, serta keyakinan sebagai keturunan Pajajaran. Tapi ratusan tahun hidup di pinggiran Batavia membuat keseniannya bercampur Betawi, seperti ondel-ondel, lenong, rebana, dan silat. Kranggan adalah contoh budaya perbatasan Betawi-Bekasi.
Apakah Kranggan sudah resmi jadi kampung budaya?
Belum sepenuhnya. Rumah adatnya sudah ditetapkan cagar budaya lewat SK Wali Kota Bekasi tahun 2011, dan sumur-sumur keramatnya dilindungi sejak Agustus 2020. Namun program "kampung budaya" secara menyeluruh masih dinilai belum jelas perencanaannya oleh DPRD Kota Bekasi pada November 2025.
Bagaimana cara berkunjung ke Kampung Adat Kranggan?
Kranggan terdaftar sebagai desa wisata rintisan di Jadesta Kemenparekraf dan dikelola Kasepuhan Kranggan. Waktu terbaik berkunjung adalah saat Babaritan (biasanya sekitar Muharram, atau jadwal yang diumumkan Kecamatan Jatisampurna). Di luar itu, kamu bisa melihat rumah adat dan situs keramat dengan izin tokoh setempat.
Sumber & Referensi
- Pemerintah Kota Bekasi, "Kecamatan Jatisampurna Gelar Budaya Babarit Sedekah Bumi" (18 September 2020). bekasikota.go.id
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Jatirangga, Jatisampurna, Bekasi" (diakses 2026). id.wikipedia.org
- Efrial Ruliandi Silalahi, "Kampung Adat Kranggan, Masih Eksis di Pinggiran Ibu Kota", Mubadalah.id (8 Februari 2023). mubadalah.id
- Dakta.com, "Jaga Tradisi, Warga Kranggan Gelar Sedekah Bumi dan Ritual Adat Arak Kebo Bule" (14 Januari 2022). dakta.com
- Akurat.co, "Mengenal Kampung Kranggan, Desa Kreatif di Kota Bekasi" (10 Juli 2023). jakarta.akurat.co
- Bangunkota, "Babaritan Kranggan" (2024). bangunkota.id
- Bekasi Satu, "Pemkot Wajib Perhatikan Situs Cagar Budaya Kranggan di Siteplan Arsaroyal" (12 Maret 2025). bekasisatu.com
- Inijabar.com, "Dewan Nilai Program Kampung Budaya di Kranggan Belum Jelas Perencanaannya" (14 November 2025). inijabar.com
- Liputan Bhagasasi, "Tradisi Adat Kampung Kranggan Babaritan 2026 Jadi Simbol Syukur dan Pelestarian Budaya" (Juli 2026). liputanbhagasasi.com
- Jadesta Kemenparekraf, "Desa Wisata Kampung Adat Kranggan" (diakses 2026). jadesta.kemenpar.go.id
Kranggan mengingatkan kita bahwa Bekasi bukan cuma kawasan industri dan perumahan; di balik klaster-klaster Cibubur masih ada kampung yang menghitung waktu dengan bulan Sura dan menyajikan hasil bumi di atas daun pisang. Kalau kamu pernah ikut Babaritan, punya foto rumah adat Kranggan zaman dulu, atau tahu cerita lain soal Pangeran Rangga, bagikan di kolom komentar atau kirim ke redaksi Planet Bekasi. Semua cerita kampung kita kumpulkan di label Asal Usul.
Posting Komentar