Kampung Sawah Bekasi: Kampung Betawi Tiga Agama sejak 1874

Daftar Isi

Bayangkan kamu berdiri di Jalan Raya Kampung Sawah, Pondok Melati, pada Minggu pagi. Dari satu titik, kamu bisa melihat menara gereja Katolik, atap gereja Protestan, dan kubah masjid agung, semuanya dalam jarak seratusan meter. Lonceng, kidung, dan azan bergantian tanpa ada yang merasa terganggu. Orang menyebutnya "Segitiga Emas", dan sudah lebih dari seabad kampung Betawi ini hidup begitu.

Kampung Sawah adalah kampung Betawi di Kelurahan Jatimurni dan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, yang terkenal karena warganya, sama-sama orang Betawi, memeluk tiga agama berbeda: Islam, Kristen Protestan, dan Katolik. Jemaat Protestannya (kini GKP Kampung Sawah) tercatat sejak 16 Juni 1874, umat Katoliknya lahir lewat pembaptisan 18 orang pada 6 Oktober 1896 (kini Paroki Santo Servatius), dan Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi berdiri di antara keduanya. Kerukunan ini bukan program pemerintah, melainkan kebiasaan turun-temurun yang tumbuh dari ikatan keluarga.

Artikel ini menelusuri bagaimana Injil masuk ke kampung Betawi, kenapa satu kampung bisa punya dua gereja dan satu masjid yang saling bertetangga, tradisi Lebaran dan Natal bersama, marga-marga Betawi Kristen yang khas, dan bagaimana kondisinya hari ini.

Tampak depan Gereja Katolik Santo Servatius Kampung Sawah, Pondok Melati, Kota Bekasi, dengan arsitektur bergaya rumah Betawi
Gereja Santo Servatius, Paroki Kampung Sawah, dengan atap dan ornamen bergaya rumah Betawi (foto 2022). Foto: Medelam via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Di Mana Kampung Sawah dan Kenapa Disebut Kampung Betawi?

Kampung Sawah terletak di ujung barat daya Kota Bekasi, di Kecamatan Pondok Melati, berbatasan langsung dengan Jakarta Timur (Lubang Buaya dan Pondok Gede). Kompas.com menyebut luas kawasan ini kurang lebih 12 km². Namanya sederhana: dulu daerah ini memang hamparan sawah dan kebun, dan menurut catatan Gereja Servatius pada akhir abad ke-19 kawasan ini masih seperti hutan yang gelap, dihuni orang-orang berbahasa Melayu Betawi dengan campuran berbagai keturunan.

Soal "Betawi atau bukan", ada perdebatan kecil. Kajian akademik dan Wikipedia menyebut warga Kampung Sawah, termasuk yang Kristen, sebagai orang Betawi; bahasa yang mereka pakai di rumah dan bahkan dalam doa adalah Betawi. Tapi budayawan Alwi Shahab berpendapat bahwa sebagian warga Kristen di sini lebih tepat disebut "orang Jakarta", karena leluhur mereka pendatang yang masuk setelah komunitas Betawi terbentuk. Kompasiana yang merangkum sejarah gereja menyebut pada 1880-an ada rombongan orang Kristen dari lereng Gunung Muria (Jepara) dan Mojowarno (Jawa Timur) yang dipindahkan ke Gunung Putri dan Kampung Sawah. Apa pun asalnya, dalam dua-tiga generasi mereka sudah melebur: pakaian sadaria dan kebaya encim, lenong, tanjidor, dan dodol adalah milik bersama warga Muslim maupun Kristen.

Bagaimana Injil Masuk ke Kampung Sawah? Kisah Meester Anthing

Tokoh kuncinya adalah Frederik Lodewijk Anthing (1820–1883), orang Belanda kelahiran Batavia yang menjabat wakil ketua Mahkamah Agung Hindia Belanda. Setelah pensiun, Anthing mengabdikan hidup dan uangnya sendiri untuk pekabaran Injil. Prinsipnya terkenal: inlander moet worden gewonnen door den inlander, orang pribumi harus dimenangkan oleh orang pribumi. Ia melatih sekitar 50 penginjil pribumi di rumahnya di Batavia, dan mengemas ajaran Kristen (Doa Bapa Kami, Pengakuan Iman, Trinitas) dalam bentuk "elmu sajati" yang cocok dengan budaya ngelmu masyarakat Sunda-Betawi saat itu. Pemerintah kolonial baru mengizinkan penginjilan di sekitar Batavia pada 1873.

Dari kerja Anthing dan murid-muridnya lahirlah "jemaat-jemaat Anthing" di Kampung Sawah, Pondok Melati, Gunung Putri, Cakung, Cigelam, Ciater, sampai Cikuya di Banten. Situs GKP Kampung Sawah mencatat enam orang pertama yang dibaptis pada 1870-an, di antaranya Silas, Nora, Yohana, Martin Ilang, Hendrik Noron, dan Eni Niman, dan tanggal 16 Juni 1874 dipegang sebagai hari lahir jemaat. Pada 1886, jemaat sudah 104 orang, terbagi dalam kelompok-kelompok yang dipimpin Matias, Laban Rikin, Lukas Rikin, dan Yoseh Baiin, lalu disatukan di bawah Pendeta C. Albers dari zending Belanda (NZV). Setelah Anthing wafat, jemaat-jemaatnya diasuh NZV dan kelak menjadi cikal bakal Gereja Kristen Pasundan (GKP). Gedung kebaktian pertama dibangun 1902 (13,5 x 6,5 meter) di tanah Lukas Rikin dan merangkap sekolah, dipindah ke lokasi sekarang pada 1911, dan diperluas jadi 21 x 10 meter pada 1947 saat jemaatnya mencapai 605 jiwa.

Ada juga versi cerita rakyat yang lebih romantis dari buku Robin Hood Betawi karya Alwi Shahab (2002): Kristen masuk lewat seorang jawara Betawi yang menikahi putri tuan tanah Belanda dan ikut agama istrinya. Peneliti Helmi Suhaimi (2016) menambahkan faktor ekonomi dan hubungan dengan tuan tanah. Versi-versi ini menarik, tapi catatan gereja dan zending soal Anthing jauh lebih terdokumentasi.

Kenapa Satu Kampung Punya Gereja Protestan dan Katolik?

Jawabannya: perpecahan jemaat pada 1895. Menurut catatan Paroki Servatius, jemaat Protestan Kampung Sawah pecah jadi tiga kubu yang saling bermusuhan: kelompok Guru Laban di Kampung Sawah barat, kelompok Yoseh di timur, dan kelompok Guru Nathanael. Nathanael, yang dipecat dari jabatan guru pembantu, mencari bantuan ke Gereja Katedral di Lapangan Banteng. Ia dibaptis Katolik pada 22 Juni 1896, dan pada 6 Oktober 1896 Pastor Bernardus Schweitz, S.J., membaptis 18 orang, yang hingga kini diperingati sebagai hari lahir umat Katolik Kampung Sawah. Di antara 18 orang itu ada Sam Napiun, leluhur Jacob Napiun, tokoh Katolik Betawi yang masih aktif sampai sekarang.

Perjalanan umat Katolik ini berliku. Gereja sederhana berkapasitas 50 orang berdiri 1897, tapi pada 1902–1904 pemerintah kolonial melarang pelayanan, dan 1906 banyak umat termasuk Nathanael pindah ke Gereja Metodis; pada 1917 hanya tersisa satu keluarga Katolik. Kebangkitan datang 1920–1921 lewat Pastor van der Loo, S.J.: umat kembali dari Metodis, jumlahnya naik dari 20 jadi 150, dan pada 1922 dibangun gereja kedua bermenara di lokasi sekarang. Pada 1930 paroki diserahkan ke Ordo Fransiskan; Pastor Oscar Cremers, O.F.M. menjadi imam pertama yang menetap (1935), membangun gereja permanen yang diberkati 23 September 1937, membuka sekolah misi dan Klinik Melania. Paroki resmi berdiri 1936 dengan nama Santo Antonius Padua, dan baru pada 1995 pelindungnya diganti menjadi Santo Servatius, mengikuti Pastor Rudolf Kurris, S.J., yang berasal dari Maastricht, kota Basilika Santo Servatius.

Gedoran 1945: luka yang disembuhkan bersama

Ada babak kelam yang jarang dibicarakan. Pada Oktober 1945, di tengah kekacauan awal revolusi, gereja Kampung Sawah dijarah dan dibakar kelompok bersenjata dalam peristiwa yang dikenal sebagai gedoran. Umat mengungsi ke Jakarta dan sekitarnya, baru kembali bertahap pada 1946. Konteksnya adalah gejolak sosial di Bekasi pascaproklamasi, masa yang sama dengan peristiwa yang kami bahas di artikel Pertempuran Bekasi 1945. Bahwa setelah itu warga Muslim dan Kristen bisa hidup rukun kembali, bahkan makin erat, adalah bagian penting dari cerita Kampung Sawah yang jarang disebut.

Masjid Al-Jauhar Yasfi dan Lahirnya "Segitiga Emas"

Sisi ketiga segitiga adalah Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi. Menurut Kompas.com (2019), masjid ini dibangun 1965 di atas lahan bekas sawah seluas sekitar satu hektare; sebelumnya warga Muslim hanya punya musala. Pada 1977 KH Rachmadin Afif mendirikan Yayasan Fisabilillah (Yasfi) yang kini mengelola pesantren, sekolah dari TK sampai SMA, asrama, dan GOR di kompleks yang sama. Sumber lain menyebut angka berbeda untuk tahun berdirinya masjid (1977 atau 1984), kemungkinan karena bangunan dan yayasannya berkembang bertahap. Dari masjid, GKP hanya berjarak sekitar 50 meter, dan Gereja Servatius sekitar 130 meter.

Julukan "Segitiga Emas" sendiri, menurut Jacob Napiun kepada detik.com, dilontarkan oleh KH Ma'ruf Amin ketika berkunjung: tiga rumah ibadah membentuk segitiga, dan yang "emas" adalah persaudaraan warganya. Pemerintah Kota Bekasi pada 2014 menetapkan kawasan ini sebagai kawasan kerukunan umat beragama. Kalau diurutkan, GKP (1874) yang tertua, disusul Servatius (1896), lalu masjid (1965). Tapi Jacob Napiun mengingatkan, warga tak pernah mempersoalkan siapa yang lebih dulu; orang Islam sudah ada di sini sebelum gereja berdiri, hanya rumah ibadahnya yang belakangan dibangun.

Lebaran, Natal, dan Sedekah Bumi: Tradisi yang Dirayakan Bersama

Yang membuat Kampung Sawah istimewa bukan bangunannya, melainkan kebiasaannya. Saat Idulfitri, keluarga Kristen ikut memasak ketupat dan sayur, lalu saling nganter rantang ke tetangga Muslim; saat Natal, giliran keluarga Muslim yang mengantar makanan atau sekadar datang bersilaturahmi. Pendeta William Alexander dari GKP menyebut kebiasaan "saling sowan" ini berjalan alami, termasuk berbagi lahan parkir ketika jemaat membludak di hari raya. Pemuda masjid ikut menjaga keamanan saat misa Natal, dan pemuda gereja membantu saat salat Id. Kalau ada kematian, tetangga datang membantu tanpa bertanya agamanya apa. KH Rachmadin Afif merumuskannya begini: urusan ibadah masing-masing, tapi urusan dunia harus bersatu.

Tradisi paling khas ada di Gereja Servatius: sedekah bumi setiap 13 Mei, hari peringatan Santo Servatius. Akarnya adalah bebaritan, ritual lama warga Betawi Kampung Sawah memohon keselamatan dengan makan bersama di atas daun pisang; bentuk aslinya terakhir dilakukan sekitar 1963–1964. Pada 1936 Pastor Cremers memberkati panen padi warga, dan sejak itu sedekah bumi masuk ke gereja. Sekarang umat membawa kelapa, durian, nangka, singkong, dan padi ke altar, lalu dilanjutkan pesta rakyat dengan tanjidor, lagu-lagu Benyamin S., kue abug, dan ngaduk dodol selama tujuh jam sejak dini hari, lengkap dengan pantangannya: kuali ditepuk tiga kali, api dijaga kecil, dan kalau dodol gagal, adonannya dihanyutkan ke sungai. Sejak 13 Mei 1996, ketika enam laki-laki dan enam perempuan Betawi dilantik sebagai Perkerabatan Santo Servatius berpakaian sadaria, sarung, golok, dan kebaya, misa bergaya Betawi resmi jadi identitas paroki.

Marga Betawi Kristen: Napiun, Rikin, Baiin, dan Kawan-kawan

Kalau kamu bertemu orang bernama belakang Napiun, Rikin, Baiin, Saiman, Bicin, Kadiman, Dani, atau Kelip, hampir pasti ia berakar di Kampung Sawah. Orang Betawi umumnya tidak memakai nama marga, tapi komunitas Kristen Kampung Sawah mengembangkan kebiasaan meneruskan nama leluhur laki-laki sebagai nama keluarga, kemungkinan karena administrasi baptis dan pencatatan gereja. Nama-nama ini muncul terus di catatan sejarah: Laban dan Lukas Rikin memimpin kelompok jemaat 1886, gedung gereja pertama berdiri di tanah Lukas Rikin, Musa Rikin memindahkan gereja pada 1911, Yoseh Baiin memimpin kubu timur saat perpecahan 1895, Benyamin Kadiman menjadi pemimpin umat Katolik 1920-an, dan Sam Napiun ada di antara 18 orang yang dibaptis 1896. Dari sisi Muslim, keluarga KH Rachmadin Afif dan putranya Gus Sholahudin Malik meneruskan kepemimpinan Yasfi.

Kampung Sawah juga melahirkan imam dari kalangannya sendiri: katekis Marius Mariatmadja ditahbiskan pada 1971 di usia 60 tahun sebagai imam pertama asli Kampung Sawah, disusul Aloysius Yus Noron pada 1988. Dibanding komunitas Betawi Kristen lain seperti Kampung Tugu di Jakarta Utara atau "Belanda Depok", Kampung Sawah unik karena punya paroki Katolik dan jemaat Protestan Betawi sekaligus, bertetangga dengan pesantren besar.

Kampung Sawah Hari Ini

Kawasan ini sudah jauh dari kata "kampung" secara fisik: perumahan padat, jalan raya macet, dan sawah tinggal nama. Tapi komunitasnya tetap hidup. GKP Kampung Sawah kini melayani ribuan jemaat dengan dua pendeta dan 35 majelis. Gereja Servatius yang dibangun ulang 1995–1996 dengan rancangan pematung Gregorius Sidharta, menara tujuh lantai, dan relikui Santo Servatius dari Maastricht, bisa menampung sekitar 1.200 umat dan meluber ke halaman saat hari raya; pada Januari 2026 paroki meresmikan ruang adorasi baru. Data BPS 2016–2017 untuk empat kelurahan di kawasan ini mencatat lebih dari 64.000 warga Muslim, sekitar 9.000 Protestan, dan 8.300 Katolik. Alinea.id menyebut umat Katolik paroki kini sekitar 11.000 jiwa.

Tantangannya bukan lagi konflik antarwarga, melainkan arus pendatang yang tak mengenal tradisi kampung dan hoaks agama di media sosial. Agatha Ani, ketua RW 04 yang lahir dan besar di sini, menyebut warga tak mudah terprovokasi karena toleransi sudah diajarkan orang tua sejak kecil. Kegiatan lintas iman seperti Kemah Kebangsaan (2019), "Ngeriung Bareng", dan Sanggar Seni Sasak Djikin meneruskan kebiasaan itu ke generasi berikutnya. Kalau kamu ingin melihat Betawi yang tak kalah Betawi dari Kampung Adat Kranggan, datanglah ke Kampung Sawah pada 13 Mei atau saat Lebaran.

Fakta Singkat

  • Lokasi: Kelurahan Jatimurni dan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi; berbatasan dengan Jakarta Timur.
  • GKP Kampung Sawah: jemaat sejak 16 Juni 1874, dirintis penginjil F.L. Anthing (1820–1883); gedung pertama 1902, pindah ke lokasi sekarang 1911.
  • Gereja Santo Servatius: 18 orang dibaptis Pastor Bernardus Schweitz, S.J. pada 6 Oktober 1896; paroki 1936 (semula Santo Antonius Padua); gereja baru diberkati 1996; sedekah bumi tiap 13 Mei.
  • Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi: dibangun 1965 (versi Kompas.com); Yayasan Fisabilillah didirikan KH Rachmadin Afif pada 1977 dengan pesantren dan sekolah TK–SMA.
  • Jarak: masjid–GKP sekitar 50 meter, masjid–Servatius sekitar 130 meter; julukan "Segitiga Emas" dinisbatkan pada KH Ma'ruf Amin.
  • Marga Betawi Kristen: Baiin, Saiman, Bicin, Napiun, Kadiman, Dani, Rikin, Kelip.
  • Pengakuan: ditetapkan Pemkot Bekasi sebagai kawasan kerukunan umat beragama pada 2014.

Pertanyaan Umum Seputar Kampung Sawah

Di mana letak Kampung Sawah Bekasi?

Kampung Sawah berada di Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, mencakup Kelurahan Jatimurni dan Jatimelati, di perbatasan dengan Lubang Buaya dan Pondok Gede, Jakarta Timur. Tiga rumah ibadahnya berjajar di Jalan Raya Kampung Sawah.

Apa itu "Segitiga Emas" Kampung Sawah?

Julukan untuk tiga rumah ibadah yang bertetangga: Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi, Gereja Kristen Pasundan Kampung Sawah, dan Gereja Katolik Santo Servatius, yang jaraknya hanya 50–130 meter. Nama itu menggambarkan persaudaraan warga tiga agama yang sudah berlangsung lebih dari seabad.

Sejak kapan ada orang Betawi Kristen di Kampung Sawah?

Jemaat Protestan tercatat sejak 16 Juni 1874 hasil penginjilan Meester F.L. Anthing dan murid-muridnya, sedangkan umat Katolik lahir pada 6 Oktober 1896 ketika 18 warga dibaptis oleh Pastor Bernardus Schweitz, S.J., setelah perpecahan jemaat Protestan pada 1895.

Apakah warga Kristen Kampung Sawah benar-benar orang Betawi?

Mayoritas sumber, termasuk kajian akademik, menyebut mereka Betawi: berbahasa Betawi, berpakaian sadaria dan kebaya encim, dan merayakan tradisi Betawi seperti sedekah bumi dan ngaduk dodol. Alwi Shahab berpendapat sebagian leluhur mereka pendatang dari Jawa pada abad ke-19, tetapi dalam beberapa generasi mereka sudah melebur menjadi bagian dari Betawi Kampung Sawah.

Tradisi apa yang dirayakan bersama warga tiga agama?

Saling mengantar makanan saat Lebaran dan Natal, saling menjaga keamanan dan berbagi parkir saat hari raya, gotong royong saat ada kematian, serta sedekah bumi 13 Mei di Gereja Servatius yang diramaikan tanjidor dan ngaduk dodol.

Apa marga khas Betawi Kristen Kampung Sawah?

Nama keluarga seperti Napiun, Rikin, Baiin, Saiman, Bicin, Kadiman, Dani, dan Kelip diwariskan turun-temurun di komunitas Kristen Kampung Sawah, sesuatu yang jarang ditemukan pada orang Betawi umumnya.

Sumber & Referensi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia, "Gereja Santo Servatius, Kampung Sawah" (diakses September 2026), mengutip R. Kurris, Terpencil di Pinggiran Jakarta: Satu Abad Umat Katolik Betawi (1996) dan A. Heuken, Gereja-gereja Tua di Jakarta (2003). id.wikipedia.org
  2. GKP Kampung Sawah, "Sejarah GKP Kampung Sawah". gkpkampungsawah.org
  3. Wikipedia bahasa Indonesia, "F.L. Anthing" (diakses September 2026), mengutip Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (2006). id.wikipedia.org
  4. Kompas.com, "Kisah Segitiga Emas di Kampung Sawah Bekasi, 3 Tempat Ibadah yang Jadi Simbol Keberagaman" (24 Desember 2019). megapolitan.kompas.com
  5. detik.com, "Segitiga Emas Betawi Kampung Sawah Milik Muslim dan Kristen" (2019) dan "Tokoh Betawi Kristen Cerita Warisan Toleransi Tinggi di Kampung Sawah Bekasi" (14 Mei 2026). news.detik.com · news.detik.com
  6. NU Online, "Masyarakat Muslim-Kristen Hidup Berdampingan di Kampung Sawah Bekasi" (16 November 2021); IDN Times, "Segitiga Emas Kampung Sawah, Bukti Toleransi di Indonesia Masih Kuat" (16 November 2020). nu.or.id · idntimes.com
  7. Alinea.id, "Saat suku Betawi memeluk tiga agama berbeda di Kampung Sawah" (infografis); Gusdurian.net, "Segitiga Emas Kampung Sawah: Potret Toleransi di Sudut Betawi" (14 Maret 2025). alinea.id · gusdurian.net
  8. Kompasiana, "Sejarah Datangnya Agama Nasrani di Kampung Sawah Bekasi" (2021); Wikimedia Commons, "Church of Santo Servatius Kampung Sawah" (2022). kompasiana.com · commons.wikimedia.org

Kampung Sawah membuktikan bahwa "Betawi" bukan soal agama, melainkan soal bahasa, makanan, dan cara bertetangga. Kalau kamu keturunan Napiun, Rikin, atau Kadiman, punya foto lama gereja atau masjid Kampung Sawah, atau ingat cerita gedoran 1945 dari kakek-nenek, tulis di kolom komentar atau kirim ke redaksi Planet Bekasi. Cerita kampung-kampung Bekasi seperti ini kita kumpulkan di label Asal Usul.

Posting Komentar