Kesenian Tradisional Bekasi: Tanjidor, Topeng, dan Ujungan

Daftar Isi

Kalau ada hajatan kawinan di kampung-kampung Babelan, Tambun, atau Cibarusah, kamu mungkin masih bisa mendengar terompet dan tuba tanjidor meraung dari kejauhan, atau melihat penari topeng menggigit kedok kayunya sambil bergoyang lincah. Tapi tanya anak muda Bekasi hari ini apa itu ujungan atau gambang rancag, jawabannya sering cuma gelengan kepala.

Padahal Bekasi punya deretan kesenian tradisional yang khas: Tanjidor (orkes tiup warisan budak tuan tanah abad ke-19), Topeng Bekasi alias Topeng Betawi pinggiran (dirintis Mak Kinang dan Kong Djiun sejak 1918), Ujungan (adu rotan yang baru ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada Juli 2026), Wayang Kulit Bekasi (dibawa dalang Balentet dari Cirebon sekitar 1918), plus Gambang Kromong, Rebana Biang, dan tradisi silat para jawara. Semuanya lahir dari pertemuan budaya Betawi, Sunda, Jawa, Tionghoa, Arab, dan Eropa di pinggiran Batavia.

Artikel ini merangkum asal-usul tiap kesenian, siapa tokoh dan sanggar yang menjaganya, mana yang sudah diakui sebagai warisan budaya, dan bagaimana kondisinya sekarang di tengah kota industri.

Dua pemain tanjidor berpakaian Betawi memainkan terompet dan tuba di atas bangku kayu
Pemain tanjidor dengan terompet dan tuba, alat tiup Eropa yang jadi ciri orkes rakyat Betawi, 2018. Foto: M. Jeffry Hanafiah (Emjeha) via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Tanjidor: Orkes Tiup Warisan Budak Tuan Tanah

Dari mana tanjidor berasal? Versi yang paling banyak dipegang, seperti dirangkum Tirto.id (2022) dan Wikipedia, menunjuk pada Augustijn Michiels alias Mayor Jantje, tuan tanah kaya keturunan Belanda di Citrap (Citeureup) pada abad ke-19. Ia membentuk kelompok musik dari para budaknya dan mendatangkan pelatih Eropa untuk mengajarkan alat tiup. Setelah perbudakan dihapus pada 1860, bekas pemain musik itu menyebar dan membentuk orkes sendiri di Jakarta, Depok, Cibinong, Jonggol, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Ada juga versi kedua yang menyebut asal Portugis, dengan nama dari kata tangedor, tapi versi Mayor Jantje lebih kuat karena punya jejak sejarah yang jelas.

Soal nama, ada dua tafsir: dari bahasa Portugis tangedor (pemain alat musik) atau dari kata Betawi tanji (sejenis tambur) dan dor (bunyinya). Instrumennya jelas Eropa: klarinet, piston atau terompet, trombon, tuba atau sousafon, ditambah tambur dan simbal, dimainkan 7 sampai 10 orang.

Yang membedakan tanjidor Bekasi dari tanjidor Jakarta, menurut situs Budaya Indonesia, adalah masuknya unsur gamelan Sunda atau Parahyangan pada kelompok-kelompok di wilayah kabupaten, sementara kelompok di kota lebih kental warna Betawinya. Repertoarnya lagu-lagu lama seperti Kramton, Bananas, Cente Manis, Keramat Karem, Merpati Putih, dan Surilang. Fungsinya tetap sama sejak dulu: mengarak pengantin, meramaikan sunatan, pawai 17 Agustus, dan perayaan Cap Go Meh. Dinamika naik-turunnya di Kabupaten Bekasi antara 1970 dan 1995 bahkan pernah jadi bahan skripsi sejarah di Universitas Pendidikan Indonesia. Saking lekatnya dengan identitas daerah, tanjidor dijadikan salah satu motif Batik Bekasi.

Topeng Bekasi: Dari Mak Kinang dan Kong Djiun ke Sanggar Tambun

Topeng Betawi lahir di pinggiran Batavia, wilayah yang sering disebut "Betawi Ora", termasuk Bekasi. Wikipedia bahasa Indonesia dan Historia.id (2022) sepakat bahwa kesenian ini pertama kali dibentuk oleh pasangan Mak Kinang binti Kinin dan Kong Djiun bin Dorak pada 1918, terinspirasi Topeng Cirebon yang masuk lewat Indramayu dan Karawang. Tiga anak mereka, Bokir, Dalih, dan Kisam, kemudian mendirikan grup masing-masing: Setia Warga, Kinang Putra, dan Ratna Sari. Bokir belakangan terkenal sebagai pelawak layar kaca, tapi akarnya adalah topeng.

Pertunjukan Topeng Betawi adalah teater total. Menurut Wikipedia, strukturnya tiga bagian: musik dan nyanyian pembuka disusul tari Topeng Kedok dengan pergantian tiga kedok (Panji yang lembut berkedok putih, Samba yang lincah berkedok merah muda, dan Jingga yang agresif berkedok merah tua), lalu lakon drama yang bisa berlangsung semalaman tanpa kedok, dan ditutup tokoh Jantuk berkedok hitam yang memberi nasihat rumah tangga. Musiknya rebab, gong, kendang, kempul, kulanter, dan kecrek. Ciri khas yang selalu bikin penonton takjub: kedok kayunya tidak diikat, melainkan digigit penari sepanjang tarian.

Sanggar yang masih hidup di Bekasi

Di Bekasi, seni ini dikenal sebagai Topeng Bekasi atau Topeng Tambun. Kajian LPPM Institut Kesenian Jakarta (2023) mencatat Sanggar Sinar Seli Asih yang dikelola Karsa, seniman tradisi generasi ketiga: sanggarnya resmi didirikan orang tuanya pada 1991, tapi cikal bakalnya sudah dirintis kakeknya yang mengembangkan Topeng Tambun sejak sekitar 1900-an. Infobekasi.co.id (April 2026) menambahkan Sanggar Margasari Kacrit Putra di Desa Jatimulya, Tambun Selatan, dan menyebut Sinar Seli Asih berbasis di Kampung Gabus, Tambun Utara. Murid-murid sanggar hari ini kebanyakan anak sekolah yang belajar untuk mata pelajaran Seni Budaya dan muatan lokal, dengan iuran sukarela dan sesekali dukungan pemerintah daerah.

Sekelompok penari Topeng Betawi berkostum merah muda dengan mahkota kembang di panggung
Tari Topeng Betawi dengan gerak lincah dan riang, 2017 (ilustrasi; bukan pentas di Bekasi). Foto: Erwin Saleh Kurniawan via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Ujungan: Adu Rotan yang Jadi Warisan Budaya Takbenda 2026

Ujungan adalah kesenian paling "keras" di daftar ini. Dua jawara saling memukul dengan tongkat rotan sepanjang 40 sampai 125 cm, sasarannya hanya dari pinggang ke bawah, terutama tulang kering dan mata kaki. Pertandingan dipimpin wasit yang disebut bobotoh di arena sekitar 5 x 10 meter, dibuka dengan uncul, tarian jurus yang meledek lawan. Musik pengiringnya sampyong (alat pukul kayu mirip gambang), tok-tok kentongan bambu, bedug, dan gong, dengan lagu seperti Barlen dan Kembang Kawung.

Soal asal-usul, Wikipedia mencatat nama ini dari kata Sunda jung (lutut ke bawah) yang berkembang jadi ujung. Tradisi serupa ada di Majalengka, Cirebon, Banyumas, Banjarnegara, sampai Jombang, di mana ujungan dipakai sebagai ritual minta hujan saat kemarau. Di Bekasi, menurut Pemangku Seni Budaya Bekasi seperti dikutip Antara (Juli 2026), ujungan tumbuh sebagai bagian pesta panen masyarakat agraris sejak era pra-kemerdekaan sekitar 1940, sebagai ajang silaturahmi dan adu sportivitas antar-jawara kampung. Tokoh terakhir yang tercatat masih rutin memainkannya sampai 1980-an adalah Abah Natrom dan Baba Dalih.

Kabar baiknya: setelah proses dokumentasi dan kajian akademik, Ujungan Bekasi resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan lewat sidang penetapan 2 Juli 2026 yang diumumkan 3 Juli 2026. Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bekasi Iman Nugraha menyebut langkah lanjutannya adalah pembinaan komunitas, pengenalan di sekolah, dan festival budaya. Penetapan ini datang tepat waktu: Wikipedia menggambarkan ujungan di Jawa Barat sudah "di ujung kepunahan", hanya digelar sesekali pada acara khusus.

Wayang Kulit Bekasi: Dalang Balentet dan Warisan 1918

Bekasi juga punya wayang kulit sendiri yang berbeda dari wayang Jawa maupun wayang Betawi Jakarta. Menurut Berita Cikarang dan RRI, wayang kulit Bekasi dibawa oleh dalang Balentet dari Cirebon sekitar 1918. Ia belajar pada tiga guru pedalangan, Mbah Belentuk, Mbah Rasiun, dan Mbah Cepe, lalu mendalang sampai wafat pada 1982 dan mewariskan keahliannya kepada putranya, Naman Sanjaya Balentet dan Namin. Hari ini salah satu penerusnya adalah Ki Sawal Jagur dari Sanggar Teguh Jaya Laksana di Babelan, yang rata-rata menerima sekitar empat pentas sebulan.

Ciri khasnya, seperti dicatat Disparbud Kota Bekasi, bentuk tokohnya lebih mirip wayang golek Sunda daripada wayang kulit Jawa, dialognya memakai bahasa Bekasi (Betawi pinggiran) yang dicampur Sunda, dan gamelannya sederhana: saron, bonang, gong, dan rebab. Lakonnya pun lokal, misalnya cerita tentang sejarah dan tokoh Bekasi, dengan Semar dan Cepot sebagai punakawan. Tirto.id (2022) menambahkan konteks lebih luas: wayang kulit Betawi diperkirakan lahir setelah pasukan Mataram datang ke Batavia pada 1628, dan sebagian sumber menyebutnya "wayang Tambun" karena kemungkinan berkembang dari daerah Tambun, Bekasi. Bedanya dengan wayang Jawa: durasinya hanya beberapa jam, pegangan wayangnya dari kayu, bukan tulang, dan ukirannya lebih kasar.

Kondisinya berat. Ki Sawal, seperti diberitakan, kerap dibayar seadanya dan menambah penghasilan lewat topeng dan odong-odong di acara kawinan dan sunatan, karena harus bersaing dengan organ tunggal dan dangdut.

Gambang Kromong, Gambang Rancag, dan Rebana Biang

Gambang kromong adalah orkes campuran gamelan dan alat gesek Tionghoa (sukong, tehyan, kongahyan) yang menurut Wikipedia lahir pada masa Kapitan Tionghoa Nie Hoe Kong (1736–1740). Menariknya, ada dua gaya: liau kulon di Jakarta–Tangerang yang kental warna Tionghoa-Betawi, dan liau wetan di Jakarta–Bekasi yang lebih banyak unsur Sunda. Jadi gambang kromong yang kamu dengar di hajatan Bekasi memang punya "logat" sendiri. Dari orkes ini pula lahir gambang rancag, pertunjukan pantun berkait yang dinyanyikan bergantian sambil menuturkan cerita rakyat Betawi; kesenian ini kini tergolong langka di seluruh wilayah Betawi.

Rebana biang adalah ansambel tiga rebana besar (gendung 30 cm, kotek 60 cm, dan biang sekitar 90 cm) yang berkembang di pinggiran selatan dan timur Jakarta, dari Ciganjur hingga Cakung yang berbatasan dengan Bekasi. Salah satu versi menyebut Pak Kumis membawanya dari Banten pada 1860. Fungsinya semula keagamaan dan penyambutan tamu, kini untuk kawinan dan sunatan. Rebana biang sudah ditetapkan sebagai WBTB nasional pada 2017, tapi Wikipedia mencatat keberadaannya mulai terancam.

Silat Bekasi: Jawara, Palang Pintu, dan Berebut Dandang

Bekasi adalah tanah jawara. Tradisi maen pukulan Betawi, yang menurut buku G.J. Nawi mencakup sekitar 317 aliran, hidup di kampung-kampung Bekasi lewat perguruan keluarga yang diwariskan turun-temurun. Aliran besar seperti Beksi (diciptakan Lie Tjeng Hok, 1854–1951, di Dadap, Tangerang) dan Cingkrik dari Rawa Belong punya murid sampai ke Bekasi, meski sumber tertulis yang khusus memetakan aliran silat Bekasi masih sangat minim. Pada masa revolusi, tradisi jawara ini menyatu dengan perlawanan rakyat yang digerakkan KH Noer Alie, kisah yang bisa kamu baca di artikel KH Noer Alie, Singa Karawang-Bekasi.

Di masa damai, silat Bekasi paling gampang disaksikan pada prosesi Palang Pintu atau Berebut Dandang dalam pernikahan adat: rombongan pengantin pria dihadang jawara pihak wanita, saling berbalas pantun, lalu beradu silat sebagai simbol kesiapan mempelai pria menjaga keluarga. Disparbud Kota Bekasi memasukkan tradisi ini dalam tujuh kebudayaan khas Bekasi, bersama ujungan yang sejatinya juga cabang dari tradisi silat.

Status Warisan Budaya dan Kondisi Kini

Sampai September 2026, inilah peta pengakuannya. Di tingkat nasional, Ujungan Bekasi ditetapkan sebagai WBTB Indonesia pada Juli 2026, sementara Tanjidor, Topeng Betawi, Gambang Kromong, dan Rebana Biang sudah lebih dulu tercatat sebagai WBTB nasional lewat usulan DKI Jakarta sebagai kesenian Betawi. Di tingkat Provinsi Jawa Barat, penetapan 2025 memasukkan Tepak Gendang Opok Kijing dan Tari Gondang dari Kabupaten Bekasi serta Ngarak Kebo Bule Kranggan dari Kota Bekasi (tradisi yang kita ulas dalam artikel Kampung Adat Kranggan).

Tantangannya seragam: regenerasi. Pelaku wayang dan ujungan rata-rata sudah sepuh, honor pentas tak sebanding dengan biaya, dan hiburan modern lebih murah. Yang membuat kesenian ini bertahan justru hal-hal sederhana: hajatan warga yang masih memesan tanjidor dan topeng, sekolah yang memasukkan topeng ke muatan lokal, dan komunitas seperti Pangsi dan Dewan Kebudayaan Daerah yang mengurus dokumentasi sampai ke meja Kementerian Kebudayaan.

Fakta Singkat

  • Tanjidor: dirintis Augustijn Michiels (Mayor Jantje) di Citrap abad ke-19; menyebar ke Bekasi setelah penghapusan perbudakan 1860; 7–10 pemain dengan klarinet, terompet, trombon, tuba.
  • Topeng Betawi/Bekasi: dibentuk Mak Kinang dan Kong Djiun pada 1918; kedok Panji, Samba, Jingga; Sanggar Sinar Seli Asih (1991, akar Topeng Tambun 1900-an) dan Margasari Kacrit Putra di Tambun.
  • Ujungan: adu rotan 40–125 cm, sasaran pinggang ke bawah, wasit bobotoh, musik sampyong; ditetapkan WBTB Indonesia 2–3 Juli 2026.
  • Wayang Kulit Bekasi: dibawa dalang Balentet dari Cirebon sekitar 1918, wafat 1982; penerus Ki Sawal Jagur, Sanggar Teguh Jaya Laksana, Babelan.
  • Gambang kromong: era Nie Hoe Kong (1736–1740); gaya liau wetan Jakarta–Bekasi lebih bernuansa Sunda.
  • Rebana biang: tiga rebana 30/60/90 cm; WBTB nasional 2017.
  • WBTB Jabar 2025 dari Bekasi: Tepak Gendang Opok Kijing, Tari Gondang (Kabupaten), Ngarak Kebo Bule Kranggan (Kota).

Pertanyaan Umum Seputar Kesenian Tradisional Bekasi

Apa saja kesenian tradisional khas Bekasi?

Yang paling dikenal adalah Tanjidor, Topeng Bekasi (Topeng Betawi pinggiran), Ujungan, dan Wayang Kulit Bekasi. Selain itu ada Gambang Kromong gaya liau wetan, Rebana Biang, tradisi silat Palang Pintu atau Berebut Dandang, serta tradisi baru yang diakui provinsi seperti Tepak Gendang Opok Kijing, Tari Gondang, dan Ngarak Kebo Bule Kranggan.

Dari mana asal tanjidor?

Versi terkuat menyebut tanjidor dirintis tuan tanah Augustijn Michiels (Mayor Jantje) di Citrap, Citeureup, pada abad ke-19 dengan melatih budaknya memainkan alat tiup Eropa. Setelah perbudakan dihapus pada 1860, para pemain menyebar ke Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi lalu membentuk orkes sendiri.

Apa itu ujungan dan kenapa jadi warisan budaya?

Ujungan adalah seni adu rotan antara dua jawara dengan sasaran pinggang ke bawah, dipimpin wasit bobotoh dan diiringi sampyong. Karena nilai sportivitas, silaturahmi, dan keunikannya, Kementerian Kebudayaan menetapkan Ujungan Bekasi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada sidang 2 Juli 2026.

Apa bedanya Topeng Bekasi dengan Topeng Betawi Jakarta?

Akarnya sama, yaitu keluarga Mak Kinang dan Kong Djiun sejak 1918. Namun sanggar-sanggar di Bekasi seperti Sinar Seli Asih mengembangkan warna lokal pada musik dan tarian pembuka, sehingga sering disebut Topeng Tambun atau Topeng Bekasi. Gaya Jakarta sejak 1980-an lebih terstandardisasi lewat pembinaan dinas kebudayaan.

Siapa dalang wayang kulit Bekasi yang masih aktif?

Salah satunya Ki Sawal Jagur dari Sanggar Teguh Jaya Laksana, Babelan, penerus tradisi dalang Balentet yang membawa wayang kulit dari Cirebon ke Bekasi sekitar 1918. Ia masih pentas rata-rata empat kali sebulan, umumnya di hajatan warga.

Di mana bisa menonton kesenian Bekasi sekarang?

Paling mudah di hajatan kawinan dan sunatan di kampung-kampung Tambun, Babelan, dan Cikarang, pada pawai 17 Agustus, festival budaya Pemkab dan Pemkot Bekasi, serta pentas sanggar seperti Sinar Seli Asih di Tambun Utara. Untuk ujungan, pertunjukan biasanya digelar pada acara khusus yang diumumkan komunitas budaya.

Sumber & Referensi

  1. Tirto.id, "Sejarah dan Asal-Usul Tanjidor, Kesenian Unik dari Betawi" (17 Juli 2022); Wikipedia bahasa Indonesia, "Tanjidor". tirto.id
  2. Budaya Indonesia (budaya-indonesia.org), "Tanjidor Bekasi" (diakses 2026). budaya-indonesia.org
  3. Wikipedia bahasa Indonesia, "Topeng Betawi"; Historia.id, "Di Balik Topeng Betawi" (27 September 2022). id.wikipedia.org
  4. LPPM Institut Kesenian Jakarta, "Seni Topeng Betawi di Bekasi dalam Pengelolaan Sanggar Sinar Seli Asih" (2 Oktober 2023); Infobekasi.co.id, "Bertahan di Tengah Kawasan Industri, Topeng Betawi Jadi Ikon Budaya Bekasi" (4 April 2026). lppm.ikj.ac.id
  5. Wikipedia bahasa Indonesia, "Ujungan"; Antara Megapolitan, "Ujungan Bekasi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda" (7 Juli 2026); Koresponden.id, "Ujungan Bekasi Resmi Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia" (Juli 2026). megapolitan.antaranews.com
  6. Berita Cikarang, "Hari Wayang Nasional: Bekasi juga Punya Seni Wayang Kulit"; Tirto.id, "Sejarah Wayang Kulit Betawi & Perbedaan dengan Wayang Kulit Jawa" (30 November 2022). beritacikarang.com
  7. Disparbud Kota Bekasi, "Yuk Kenal, 7 Kebudayaan di Bekasi" (11 April 2017). disparbud.bekasikota.go.id
  8. Wikipedia bahasa Indonesia, "Gambang kromong", "Rebana biang", dan "Silat Beksi"; Liputan6, "Aliran Silat Betawi, dari Silat Beksi sampai Silat Troktok" (2020). id.wikipedia.org
  9. InfoPublik, "Pemprov Jabar Tetapkan 42 Warisan Budaya Tak Benda, dari Seni hingga Kuliner Tradisional" (10 Januari 2025). infopublik.id

Kesenian-kesenian ini bertahan bukan karena museum, tapi karena warga yang masih memesannya untuk hajatan dan anak-anak yang mau menggigit kedok kayu di sanggar sepulang sekolah. Kalau di kampungmu masih ada grup tanjidor, dalang, atau jawara ujungan yang belum tercatat, kabari redaksi Planet Bekasi lewat kolom komentar. Cerita-cerita seperti ini kita kumpulkan di label Asal Usul supaya nggak hilang bersama generasi terakhirnya.

Posting Komentar