KH Noer Alie, Singa Karawang-Bekasi: Ulama Pejuang dari Babelan
Kalau kamu pernah macet-macetan di sepanjang Kalimalang, kamu sebenarnya sedang lewat di jalan yang memakai nama seorang kiai kampung dari Babelan. Jalan KH Noer Ali, nama resmi ruas Kalimalang di Kota Bekasi, diambil dari ulama yang oleh lawan dan kawannya dijuluki "Singa Karawang-Bekasi". Tapi coba tanya orang di sekitarmu siapa sebenarnya sosok di balik nama itu, jawabannya sering cuma "pahlawan Bekasi" tanpa cerita lanjutan.
KH Noer Alie (1914–1992) adalah ulama kelahiran Ujungmalang (kini Ujungharapan), Babelan, Kabupaten Bekasi, yang belajar enam tahun di Mekkah, pulang mendirikan pesantren di kampungnya, lalu memimpin Laskar Rakyat dan Hizbullah Bekasi melawan Sekutu dan Belanda pada 1945–1949. Dia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional lewat Keppres No. 085/TK/2006 tanggal 3 November 2006. Warisannya yang paling nyata hari ini adalah Yayasan Attaqwa di Ujungharapan, jaringan pendidikan Islam dengan puluhan cabang di Bekasi dan sekitarnya.
Artikel ini menelusuri perjalanan hidupnya: dari anak petani yang dikirim mengaji, santri di Mekkah yang menolak jadi pegawai pemerintah kolonial, komandan pertempuran Sasak Kapuk, gerilyawan yang bikin Belanda kewalahan di Karawang, sampai kiai yang memilih membangun sekolah ketimbang mengejar jabatan.

Siapa KH Noer Alie dan dari Mana Asalnya?
Noer Alie lahir pada 15 Juli 1914 di Kampung Ujungmalang, wilayah Babelan, di utara Bekasi. Ayahnya bernama Anwar bin Layu dan ibunya Maimunah binti Tarbin. Dia anak keempat dari sepuluh bersaudara dalam keluarga petani Betawi pinggiran yang hidup sederhana. Kampung Ujungmalang belakangan berganti nama menjadi Ujungharapan, dan sampai sekarang jadi pusat kegiatan Yayasan Attaqwa.
Seperti banyak anak kampung Bekasi waktu itu, pendidikan Noer Alie dimulai dari surau. Menurut biografi yang dirangkum Jakarta Islamic Centre (mengacu pada buku Ali Anwar, KH. Noer Alie: Kemandirian Ulama Pejuang), sekitar 1922 dia belajar membaca Al-Qur'an dan huruf Arab pada Guru Maksum di Bulak, lalu sekitar 1925 melanjutkan ke Guru Mughni di Ujungmalang untuk belajar bahasa Arab, fikih, dan tauhid. Pada awal 1930-an dia mengaji pada Guru Marzuqi di Cipinang Muara, salah satu ulama Betawi paling berpengaruh saat itu, dan pada 1933 sudah dipercaya menjadi badal alias pengganti mengajar ketika sang guru berhalangan.
Enam Tahun di Mekkah dan Pesan yang Mengubah Hidupnya
Pada 1934, dalam usia 20 tahun, Noer Alie berangkat ke Mekkah untuk berhaji sekaligus memperdalam ilmu agama. Dia tinggal di sana enam tahun. Guru-gurunya antara lain Syaikh Ali al-Maliki untuk hadis, Syaikh Umar Hamdan untuk kitab-kitab hadis induk, Syaikh Ahmad Fatoni untuk fikih, dan Syaikh Muhammad Amin al-Quthbi untuk tata bahasa, sastra, tauhid, dan logika. Guru Marzuqi sebelumnya sudah berpesan supaya dia berguru pada Syaikh Ali al-Maliki, dan pesan itu dijalankan.
Di Mekkah, Noer Alie bukan santri yang cuma duduk di halaqah. Pada 1937 dia ikut mendirikan Persatuan Pelajar Betawi (PBB) bersama pelajar-pelajar asal Batavia dan sekitarnya, dan dipercaya memimpinnya. Dari sini terlihat bakat organisasinya, sesuatu yang bakal sangat berguna beberapa tahun kemudian.
Ada satu momen yang sering diceritakan murid-muridnya. Menjelang pulang, gurunya berpesan agar Noer Alie tidak menjadi penghulu (pejabat agama yang digaji pemerintah kolonial), melainkan mengajar. Kalau dia memilih jalan mengajar, sang guru menyatakan rida dunia dan akhirat. Noer Alie memegang pesan itu sampai akhir hayat: dia menolak menjadi pegawai pemerintah, termasuk saat Jepang menawarinya kerja sama pada 1942.
Pulang Kampung: Pesantren Ujungmalang dan Jalan yang Dibangun Sendiri
Noer Alie kembali ke Bekasi sekitar 1939–1940, menikah dengan Siti Rohmah binti Mughni (putri gurunya sendiri), dan langsung membuka pesantren di Ujungmalang pada 1940. Inilah cikal bakal Pesantren Attaqwa. Satu hal yang membedakan dia dari kiai pada umumnya: dia tidak cuma mengurus kitab, tapi juga infrastruktur. Pada 1941 dia menggerakkan warga membangun jalan penghubung Ujungmalang–Teluk Pucung–Pondok Ungu, supaya kampungnya yang terpencil di tengah rawa dan sawah bisa diakses. Pola "kiai pembangun" ini kelak jadi ciri khas Attaqwa.
Masa pendudukan Jepang (1942–1945) dijalaninya sebagai guru kepala agama di pesantren itu. Dia menolak diajak berkolaborasi, tapi juga tidak frontal. Ketika Jepang membentuk laskar-laskar pemuda, jaringan santri Noer Alie diam-diam ikut terlatih. Modal ini yang dipakai begitu proklamasi kemerdekaan bergema.
Laskar Rakyat, Hizbullah, dan Pertempuran Sasak Kapuk 1945
Setelah 17 Agustus 1945, Noer Alie menjadi ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) untuk wilayah Babelan, memimpin Laskar Rakyat Bekasi, dan kemudian menjadi Komandan Batalyon III Hizbullah Bekasi. Bersama Angkut Abu Gozali, dia ikut membentuk kekuatan Hizbullah Bekasi yang dilatih di Tanjung Karekok, Cikampek. Anggota pasukannya sebagian besar adalah santri dan pemuda kampung yang sudah mengenalnya sebagai guru.
Ujian pertama datang cepat. Pada 23 November 1945, sebuah pesawat Dakota milik Inggris jatuh di kawasan Cakung. Para penumpang dan awaknya, sebagian besar prajurit British-Indian, ditangkap warga dan dieksekusi beberapa hari kemudian. Inggris mengirim pasukan besar ke Bekasi untuk membalas dan mencari jenazah. Pada 29 November 1945, kolom Sekutu dengan puluhan truk, tank, dan meriam bergerak dari arah Cakung ke timur.
Noer Alie menghadang mereka di Jembatan Sasak Kapuk, Pondok Ungu. Menurut catatan Jakarta Islamic Centre yang mengacu pada Ali Anwar, dia memimpin sekitar 200 orang Laskar Rakyat, sementara Wikipedia Inggris menyebut sekitar 100 pejuang Hizbullah yang dikomandoinya. Persiapannya khas kiai: pasukan diminta berpuasa, membaca Hizbun Nasr, dan mengikuti ritual penguatan mental sebelum berangkat. Taktik tempurnya adalah gerilya jarak dekat, mencoba menghancurkan tank dengan dinamit, granat, dan bambu runcing.
Hasilnya timpang. Persenjataan Inggris jauh lebih kuat, dan sekitar 30 anggota Hizbullah Bekasi gugur di Sasak Kapuk, ditambah belasan yang tertangkap dan luka. Noer Alie sendiri selamat dengan cara menceburkan diri ke kali di bawah jembatan. Dua pekan kemudian, 13 Desember 1945, Inggris membombardir dan membakar Bekasi, peristiwa yang dikenal sebagai "Bekasi Lautan Api" dengan sekitar 600 rumah hancur. Rangkaian peristiwa ini dibahas lebih rinci dalam artikel Pertempuran Bekasi 1945: Kali Bekasi, Lautan Api, Karawang-Bekasi.
Kekalahan di Sasak Kapuk bukan akhir. Justru dari sini nama Noer Alie mulai dikenal luas sebagai kiai yang berani turun ke garis depan bersama santrinya.
Gerilya Karawang-Bekasi dan Lahirnya Julukan "Singa"
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I pada Juli 1947, Noer Alie menemui Jenderal Oerip Soemohardjo di Yogyakarta dan mendapat restu untuk melanjutkan perjuangan lewat jalur laskar, tanpa menyandang nama TNI. Dia lalu mendirikan Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah (MPHS) Jakarta Raya yang berkedudukan di Karawang. Pasukannya, diperkirakan sekitar 600 orang, bergerilya di sepanjang koridor Karawang–Bekasi, menyerang pos-pos Belanda dan menghilang lagi ke kampung-kampung.
Taktik yang paling sering diceritakan adalah perang bendera kertas. Di kawasan Rawagede, Karawang, Noer Alie memerintahkan warga membuat ribuan bendera merah putih kecil dari kertas, lalu menancapkannya di pohon dan rumah-rumah. Tujuannya bukan militer, melainkan psikologis: menunjukkan bahwa republik masih hidup dan didukung rakyat. Belanda marah besar karena mengira pasukan Indonesia masih menguasai wilayah itu. Beberapa sumber, termasuk tokoh.id dan Indonesiana, mengaitkan taktik ini dengan kemarahan Belanda yang berujung pada pembantaian Rawagede pada 9 Desember 1947, ketika ratusan penduduk laki-laki dibunuh. Perlu dicatat, pembantaian Rawagede punya banyak faktor penyebab, dan kaitan langsungnya dengan aksi bendera kertas adalah tafsir dari para penulis biografi, bukan kesimpulan yang disepakati semua sejarawan.
Dari periode gerilya inilah julukan "Singa Karawang-Bekasi" melekat. Sumber-sumber yang ada, termasuk Republika (2012) dan tokoh.id, menyebut julukan itu muncul selama masa gerilya 1947–1949, tapi tidak ada yang menyebut secara pasti siapa yang pertama kali mencetuskannya. Ada julukan kedua yang lebih jarang dikutip: "Si Belut Putih", karena dia licin, berkali-kali lolos dari pengejaran dan penangkapan Belanda. Gerilya MPHS berlangsung sampai perundingan Roem-Royen 1949.
Di tengah gerilya itu, Noer Alie juga menjalankan tugas sipil. Pada 1947–1950 dia menjadi Koordinator (pejabat) Bupati Jatinegara, wilayah yang kelak berubah menjadi Kabupaten Bekasi. Dia juga termasuk tokoh yang mendorong lahirnya Resolusi 17 Januari 1950, yang menuntut nama Kabupaten Jatinegara diganti menjadi Kabupaten Bekasi. Cerita lengkapnya bisa kamu baca di artikel Sejarah Kota Bekasi: Dari Kabupaten 1950 Sampai Pemekaran 1997.
Sesudah Merdeka: Politik Sebentar, Pendidikan Seumur Hidup
Setelah pengakuan kedaulatan, Noer Alie sempat masuk politik. Dia menjadi Ketua Masyumi Cabang Jatinegara/Bekasi (1950), Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi (1950–1956), Ketua Badan Permusyawaratan Alim Ulama dan Wakil Ketua I Masyumi Jawa Barat (1954), dan anggota Konstituante Republik Indonesia dari Masyumi pada 13 Mei 1957 sampai lembaga itu dibubarkan 5 Juli 1959. Foto di atas berasal dari masa dia duduk di Konstituante.
Tapi hatinya tetap di Ujungharapan. Sejak Februari 1950 dia membentuk Komite Pembangunan, Pemeliharaan, dan Pertolongan Islam yang mengelola madrasah-madrasah di sekitar Babelan. Komite itu resmi menjadi Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan, dan Pertolongan Islam (YP3I) pada 6 Agustus 1956. Tahun 1962 berdiri Madrasah Tsanawiyah, 1964 madrasah putri Al-Baqiyatus Shalihat, dan pada 17 Desember 1986 nama yayasan diubah menjadi Yayasan Attaqwa. Hingga 2013, menurut situs Perguruan Attaqwa, sudah berdiri sekitar 50 cabang yayasan, dengan lembaga pendidikan dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, termasuk Institut Attaqwa KH Noer Alie.
Pada 1972 dia menjadi Ketua Umum Majelis Pimpinan Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Jawa Barat, dan pada 1973 tampil sebagai salah satu ulama yang menentang RUU Perkawinan versi awal dengan mengumpulkan sekitar seribu ulama. KH Noer Alie wafat di Bekasi pada 29 Januari 1992 dalam usia 77 tahun, meninggalkan dua istri dan sepuluh anak yang masih hidup dari empat belas anak.
Pahlawan Nasional 2006 dan Nama yang Hidup di Jalan
Usulan gelar pahlawan sudah bergulir sejak 1994, dua tahun setelah wafatnya, tapi baru terwujud lebih dari satu dekade kemudian. Lewat Keputusan Presiden No. 085/TK/2006 tertanggal 3 November 2006, KH Noer Alie ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sekaligus menerima Bintang Mahaputra Adipradana. Penganugerahannya dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2006 di Istana Negara, diterima oleh putra sulungnya, KH M. Amien Noer.
Hari ini namanya ada di mana-mana di Bekasi: Jalan KH Noer Ali di sepanjang Kalimalang, Bekasi Selatan, yang jadi urat nadi Bekasi–Jakarta; serta nama Institut Attaqwa KH Noer Alie dan sekolah-sekolah di lingkungan Attaqwa. Bagi santri dan warga Ujungharapan, dia lebih sering disebut sebagai guru, sesuai pesan gurunya di Mekkah yang dia pegang seumur hidup: mengajar, bukan menjadi pejabat.
Fakta Singkat
- Nama lengkap: Kiai Haji Noer Alie (sering ditulis Noer Ali); lahir 15 Juli 1914 di Ujungmalang (kini Ujungharapan), Babelan, Bekasi; wafat 29 Januari 1992 di Bekasi.
- Pendidikan: Guru Maksum (Bulak), Guru Mughni (Ujungmalang), Guru Marzuqi (Cipinang Muara); Mekkah 1934–1940 pada Syaikh Ali al-Maliki dan lainnya.
- Pesantren: didirikan di Ujungmalang 1940; menjadi YP3I (6 Agustus 1956), lalu Yayasan Attaqwa (17 Desember 1986); sekitar 50 cabang hingga 2013.
- Pertempuran Sasak Kapuk: 29 November 1945, Pondok Ungu, melawan pasukan Inggris; sekitar 30 pejuang Hizbullah Bekasi gugur.
- Gerilya: Komandan MPHS Jakarta Raya di Karawang (1947–1949), sekitar 600 pasukan; julukan "Singa Karawang-Bekasi" dan "Si Belut Putih".
- Jabatan: Koordinator Bupati Jatinegara (1947–1950), Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi (1950–1956), anggota Konstituante (1957–1959).
- Pahlawan Nasional: Keppres No. 085/TK/2006, 3 November 2006; Bintang Mahaputra Adipradana; dianugerahkan 9 November 2006.
Pertanyaan Umum Seputar KH Noer Alie
Kenapa KH Noer Alie dijuluki Singa Karawang-Bekasi?
Julukan itu lahir pada masa gerilya 1947–1949, ketika dia memimpin sekitar 600 pasukan Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah yang berbasis di Karawang dan bergerak di sepanjang koridor Karawang–Bekasi. Keberaniannya menyerang pos Belanda dan kemampuannya lolos dari pengejaran membuat namanya ditakuti. Sumber yang ada tidak menyebut secara pasti siapa yang pertama kali memberi julukan tersebut.
Apa yang terjadi di Pertempuran Sasak Kapuk?
Pada 29 November 1945, pasukan Inggris bergerak ke Bekasi untuk membalas eksekusi awak pesawat Dakota yang jatuh di Cakung. KH Noer Alie bersama Laskar Rakyat dan Hizbullah Bekasi menghadang mereka di Jembatan Sasak Kapuk, Pondok Ungu, dengan senjata seadanya. Sekitar 30 pejuang gugur, dan Noer Alie selamat setelah menceburkan diri ke kali.
Kapan KH Noer Alie ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional?
Dia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 085/TK/2006 tertanggal 3 November 2006, disertai Bintang Mahaputra Adipradana. Penganugerahan dilakukan Presiden SBY pada 9 November 2006 di Istana Negara dan diterima putra sulungnya, KH M. Amien Noer.
Di mana KH Noer Alie belajar agama?
Dia belajar pada guru-guru di Bekasi dan Jakarta seperti Guru Maksum, Guru Mughni, dan Guru Marzuqi Cipinang Muara, lalu enam tahun (1934–1940) di Mekkah pada Syaikh Ali al-Maliki, Syaikh Umar Hamdan, Syaikh Ahmad Fatoni, dan Syaikh Muhammad Amin al-Quthbi. Di Mekkah dia juga memimpin Persatuan Pelajar Betawi.
Apa itu Yayasan Attaqwa dan apa hubungannya dengan KH Noer Alie?
Yayasan Attaqwa adalah lembaga pendidikan Islam yang berpusat di Ujungharapan, Babelan, Kabupaten Bekasi, dan berakar dari pesantren yang didirikan Noer Alie pada 1940. Lembaga ini resmi jadi yayasan (YP3I) pada 1956 dan berganti nama Attaqwa pada 1986. Kini mengelola puluhan cabang dari TK hingga perguruan tinggi.
Jalan apa saja yang memakai nama KH Noer Ali di Bekasi?
Yang paling dikenal adalah Jalan KH Noer Ali di sepanjang Kalimalang, Bekasi Selatan, jalur utama Bekasi–Jakarta yang setiap hari dilewati ratusan ribu kendaraan. Selain itu namanya dipakai untuk Institut Attaqwa KH Noer Alie dan sejumlah sekolah di lingkungan Attaqwa.
Sumber & Referensi
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Noer Alie" (diakses 2026). id.wikipedia.org
- Wikipedia bahasa Inggris, "Noer Alie" dan "Burning of Bekasi" (diakses 2026). en.wikipedia.org
- Jakarta Islamic Centre, "KH Noer Alie Ulama Pejuang Kemerdekaan" dan "Mengenang Pertempuran Sasak Kapuk", mengacu pada Ali Anwar, KH. Noer Alie: Kemandirian Ulama Pejuang. islamic-center.or.id | Sasak Kapuk
- Tokoh.id, "Singa Karawang-Bekasi" (biografi KH Noer Alie). tokoh.id
- Republika, "KH Noer Alie: Singa Karawang-Bekasi (Bag 1)" (6 Agustus 2012). republika.co.id
- Perguruan Attaqwa, "Sejarah" (Yayasan Attaqwa, Ujungharapan). perguruan.attaqwa.or.id
- Indonesiana, "Pejuang Kedaulatan Karawang-Bekasi". indonesiana.id
- Wikimedia Commons, "Noer Alie Konstituante Masjumi.jpg" (Sekretariat Konstituante RI, 1957, domain publik). commons.wikimedia.org
Lain kali kamu lewat Kalimalang dan lihat papan nama Jalan KH Noer Ali, semoga yang terbayang bukan cuma macet, tapi kiai dari Ujungharapan yang berani menghadang tank Inggris dengan bambu runcing dan mengalahkan Belanda dengan bendera kertas. Punya cerita keluarga yang pernah jadi santri atau pasukan Hizbullah di bawah KH Noer Alie? Tulis di kolom komentar atau kirim ke redaksi Planet Bekasi. Cerita-cerita tokoh dan tempat seperti ini kita kumpulkan di label Asal Usul.
Posting Komentar