Landhuis Pondok Gede: Rumah Besar 1775 Asal Nama Pondok Gede
Setiap hari ribuan orang lewat di depan Plaza Pondok Gede, entah buat belanja, nunggu angkot, atau sekadar terjebak macet di Jalan Raya Pondok Gede. Tapi hampir nggak ada yang tahu bahwa persis di lokasi mal itu, selama lebih dari dua abad, pernah berdiri sebuah rumah besar yang justru jadi asal-usul nama "Pondok Gede" sendiri.
Rumah itu dikenal sebagai Landhuis Pondok Gede (orang Belanda menulisnya Pondok Gedeh). Bangunan ini didirikan sekitar tahun 1775 oleh Johannes Hooyman, seorang pendeta Belanda yang juga tuan tanah dan peneliti pertanian. Warga sekitar menyebutnya "pondok yang gede" alias rumah yang besar, dan sebutan itulah yang lama-lama menempel jadi nama kawasan. Setelah berganti-ganti pemilik, dari saudagar Yahudi-Polandia Leendert Miero sampai koperasi TNI AU, rumah bersejarah itu dirobohkan pada 1992 untuk memberi tempat bagi Plaza Pondok Gede.
Artikel ini menelusuri riwayat rumah besar itu: siapa yang membangunnya, kenapa disebut "pondok", bagaimana kawasan tanah partikelirnya berubah jadi perumahan, bandara, dan asrama haji, sampai jejak apa yang masih bisa kita temukan hari ini.

Dari Mana Nama Pondok Gede Berasal?
Versi yang paling populer, dan dipakai hampir semua sumber termasuk situs Disparbud Kota Bekasi, adalah ini: nama Pondok Gede berasal dari rumah besar milik Pendeta Johannes Hooyman yang dibangun sekitar 1775. Karena ukurannya jauh lebih besar dibanding pondok-pondok petani di sekitarnya, orang menyebutnya "pondok gede", lalu jadi nama desa, lalu nama kecamatan.
Kata "pondok" sendiri di sini nggak berarti gubuk. Di kawasan Ommelanden (pinggiran Batavia) abad ke-18, para tuan tanah Belanda membangun rumah peristirahatan di tengah perkebunan mereka, yang disebut landhuis. Orang lokal menyebut rumah-rumah itu "pondok", dan pola ini tersebar di sekitar Jakarta: Pondok Gede, Pondok Kelapa, Pondok Bambu, dan seterusnya. Goodnewsfromindonesia.id (2022) menambahkan versi tutur lain: pondok-pondok pekerja perkebunan yang berdekatan lama-lama disatukan jadi satu bangunan besar. Anggap saja ini pelengkap, bukan catatan sejarah.
Tapi nama itu ternyata lebih tua dari rumahnya
Di sinilah bagian yang menarik. Menurut penelusuran Gusman J. Nawi di situs Sejarah Jakarta (2019), yang juga dikutip Wikipedia bahasa Indonesia, catatan tertua yang menyebut nama Pondok Gede adalah resolusi Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff tertanggal 1 Februari 1746. Isinya: izin penyelenggaraan pasar hari Rabu (Pasar Rebo) atas nama Pieter van de Velde, anggota Raad van Indië yang saat itu memiliki lahan Pondok Gede, bersama Kapitan Jawa penguasa wilayah timur, Soetawangsa. Disparbud Kota Bekasi mengutip arsip ANRI dengan tanggal yang sama untuk izin pendirian pasar di Bekasi dan Pondok Gede.
Artinya, nama "Pondok Gede" sudah dipakai untuk menyebut sebuah kampung hampir 30 tahun sebelum Hooyman membangun rumahnya pada 1775. Kesimpulan Nawi: kemungkinan sudah ada bangunan besar lebih awal di lahan itu, atau nama kampung sudah lebih dulu ada dan landhuis Hooyman hanya "mengukuhkan" sebutan tersebut. Jadi kalau ada yang bilang "Pondok Gede itu dari rumahnya Hooyman", jawabannya: iya, tapi nggak sesederhana itu.
Siapa Johannes Hooyman, Pendeta yang Jadi Tuan Tanah?
Johannes Hooyman lahir di Enkhuizen, Belanda, 17 Oktober 1741, dan tiba di Batavia tahun 1765 sebagai pendeta Lutheran. Ia bukan pendeta biasa. Pada 1778 ia ikut bergabung dengan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, perkumpulan ilmiah tertua di Asia yang kelak jadi cikal bakal Museum Nasional. Di tanah Pondok Gede ia melakukan berbagai percobaan pertanian. Disparbud Kota Bekasi menyebut ia menguji budidaya kopi yang kemudian jadi komoditas ekspor, sementara Sejarah Jakarta mencatat kebun tebu, nila (indigo), dan komoditas perkebunan lainnya.
Riwayat hidupnya berakhir tragis. Menurut Sejarah Jakarta dan Goodnewsfromindonesia.id, Hooyman tewas ditembak di depan landhuis miliknya sendiri pada 1789 (Nawi menyebut tanggal 20 Juni 1789). Siapa pelakunya dan apa motifnya belum kami temukan dalam sumber yang bisa diverifikasi, jadi kami nggak akan mengarang cerita di bagian ini.
Seperti Apa Rupa Landhuis Pondok Gede?
Beruntung, ada foto-foto lawas dari koleksi KITLV dan Tropenmuseum yang menunjukkan bentuknya. Deskripsi arsitekturnya cukup konsisten di berbagai sumber, terutama yang merujuk ke buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta karya Adolf Heuken:
- Bangunannya sangat panjang dengan atap besar. Lantai keduanya pernah dibongkar dan atapnya diperpanjang menyesuaikan bagian belakang.
- Lantai satu dibangun dengan gaya Indonesia yang terbuka, ada serambi di tiga sisinya, mirip konsep joglo.
- Bagian depan bertingkat dua dibangun dengan gaya tertutup khas Belanda. Kombinasi dua gaya ini dulu lazim di rumah-rumah tuan tanah.
- Interiornya, menurut Heuken, pernah menunjukkan cita rasa tinggi: ada plesteran hias di beberapa ruangan dan serambi, plus aneka ornamen pada pintu dan kusen jendela.

Satu catatan penting buat kamu yang mau cari foto lawas sendiri: di arsip Belanda ada dua "Pondok Gedeh". Satu di tenggara Meester Cornelis (yang kita bahas), satu lagi perkebunan teh dan karet di kaki Gunung Salak dekat Buitenzorg (Bogor). Banyak foto Tropenmuseum berjudul "Pondok Gedeh-landen" sebenarnya merujuk ke yang di Bogor. Foto yang benar-benar menunjukkan landhuis kita biasanya diberi keterangan "Meester Cornelis".
Dari Hooyman ke Miero ke Inkopau: Pemilik yang Berganti-ganti
Setelah Hooyman meninggal, riwayat kepemilikan Pondok Gede jadi cerita panjang tentang tanah partikelir, yaitu tanah luas yang dijual pemerintah kolonial ke swasta lengkap dengan hak memungut pajak dan kerja wajib dari penduduknya. Kalau kamu mau tahu bagaimana sistem ini bekerja di seluruh Bekasi, baca artikel Planet Bekasi Tanah Partikelir Bekasi: Tuan Tanah Khouw sampai UU 1958.
Leendert Miero, bekas serdadu yang jadi juragan (1800–1834)
Pada 3 Januari 1800, lahan Pondok Gede disewa oleh Leendert Miero, seorang Yahudi asal Polandia (nama aslinya ditulis berbeda-beda: Jehoede Leip Jegiel Igel menurut Sejarah Jakarta, Juda Leo Ezekiel menurut Disparbud). Setelah 20 tahun menetap, pada 1820 ia berhasil memiliki lahannya dan merenovasi landhuis yang semula berbahan kayu jati menjadi bangunan beton bergaya Indies. Miero wafat 10 Mei 1834 dan dimakamkan di belakang landhuis. Sumber utama kisah ini adalah mingguan Yahudi De Vrijdagavond edisi 29 Juli 1932, yang dikutip Nawi.
Nama Miero mungkin pernah kamu dengar dari cerita viral "satpam yang balas dendam beli rumah majikannya". Cerita itu, yang diangkat CNBC Indonesia (2024) dengan merujuk Heuken dan Herald van der Linde, memang tentang orang yang sama: Miero datang ke Batavia sebagai serdadu VOC, dihukum cambuk karena tertidur saat jaga di rumah Reinier de Klerk, lalu bersumpah suatu hari akan membeli rumah itu. Tapi rumah yang ia beli pada 1818 adalah villa De Klerk di Molenvliet, yang sekarang jadi Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada, bukan Landhuis Pondok Gede. Situs ANRI sendiri mencatat Miero sebagai pemilik tanah Pondok Gede yang juga menguasai gedung tersebut. Jadi Miero punya dua rumah besar, dan yang di Pondok Gede adalah tempat ia tinggal dan dimakamkan.
Keluarga Khouw, perusahaan Tionghoa, lalu pemerintah kolonial
Menurut Nawi, setelah era Miero tanah Pondok Gede jatuh ke tangan Khouw Tjeng Tjoan (1808–1880), anggota keluarga bangsawan Tionghoa terkaya di Hindia Belanda yang juga menguasai banyak tanah partikelir di Bekasi. Setelah itu berpindah ke Handel-Bouw Cultuur Maatschappij Thiam Ki, kemudian dibeli kembali oleh pemerintah kolonial sekitar 1920 sampai Perang Dunia II. Survei arkeologi Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta pada Januari 1988, yang dirangkum Wikipedia dari laporan Kompas (2012), menyebut luas lahannya mencapai 325 hektar, semula perkebunan sereh, lalu berubah jadi perkebunan karet.
Pago Rado dan Inkopau (1946–1992)
Pada 1946 lahan itu berpindah ke NV Pago Rado, dan pada 1962 dibeli TNI Angkatan Udara melalui Induk Koperasi Angkatan Udara (Inkopau). Ini masuk akal secara geografis: Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma persis di sebelah baratnya. Pada 1987 Inkopau sempat menulis surat kepada Gubernur DKI Jakarta tentang rencana pembangunan pusat rekreasi dan perbelanjaan di areal Pondok Gede, dan menjanjikan bangunan kuno itu akan dilestarikan, bahkan dijadikan sentra taman rekreasi. Kenyataannya, seperti ditulis Wikipedia mengutip Kompas, pada 1992 landhuis dibongkar dan di atasnya berdiri Plaza Pondok Gede.
Kawasan Pondok Gede: Dari Tanah Partikelir ke Asrama Haji dan Bandara
Yang menarik, "tetangga-tetangga" Landhuis Pondok Gede punya akar yang sama: tanah partikelir milik orang yang sama pula. Wikipedia bahasa Indonesia mencatat bahwa pada abad ke-17 kawasan Cililitan merupakan tanah partikelir Tandjoeng Oost milik Pieter van der Velde, nama yang juga muncul sebagai pemilik Pondok Gede pada resolusi 1746 (Nawi menyebutnya sebagai pemilik Landhuis Tandjong Oost sekaligus lahan Pondok Gede). Sekitar 1924, sebagian perkebunan karet Tandjoeng Oost itu diubah jadi lapangan terbang pertama di Batavia, Vliegveld Tjililitan, yang pada 17 Agustus 1952 berganti nama jadi Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Sejak 10 Januari 2014 bandara ini kembali melayani penerbangan komersial.
Di seberang jalan dari Halim, berdiri Asrama Haji Pondok Gede. Menurut detik.com (2023), pembangunannya dimulai 1978 dan diresmikan 1979 di lahan sekitar 15 hektar, setelah Arab Saudi mewajibkan karantina jemaah asal Indonesia pascakasus kolera El Tor, dan Kementerian Agama capek menyewa wisma dengan biaya besar. Lokasinya di Jalan Raya Pondok Gede, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Ya, kamu nggak salah baca: Asrama Haji "Pondok Gede" secara administratif ada di Jakarta, bukan Bekasi. Ini bukti bahwa nama Pondok Gede dulunya menaungi kawasan yang jauh lebih luas daripada kecamatan Pondokgede sekarang.
Pondok Gede sebagai kecamatan Kota Bekasi pun dulu jauh lebih besar. Wikipedia mencatat wilayah aslinya mencakup area yang kini jadi tiga kecamatan tersendiri: Jatiasih, Jatisampurna, dan Pondok Melati. Kalau kamu penasaran bagaimana nama-nama kecamatan itu lahir, Planet Bekasi sudah membahasnya di Asal-Usul Nama Kecamatan di Bekasi: Tambun, Kranji, Pondok Gede.
Perubahan dari perkebunan ke perumahan terekam juga dalam budaya pop. Sindonews (2022) mengingatkan bahwa Iwan Fals merekam lagu "Ujung Aspal Pondok Gede" di album Sore Tugu Pancoran (1985), yang bercerita tentang kampung yang perlahan tergusur pembangunan kota. Lagu itu ditulis persis pada dekade ketika lahan-lahan bekas partikelir di Pondok Gede berubah jadi kompleks perumahan.
Jejak yang Masih Tersisa Hari Ini
Jujur saja: yang tersisa dari Landhuis Pondok Gede secara fisik hampir nggak ada. Plaza Pondok Gede berdiri di atasnya sejak 1992, sempat terbakar pada 1999 lalu dibangun kembali dengan Atrium Pondok Gede, seperti dirangkum Media Literasi (2025). Makam Miero yang dulu ada di belakang landhuis juga nggak lagi bisa ditemukan dalam sumber-sumber yang kami baca.
Yang tersisa adalah jejak-jejak tak berwujud:
- Nama Pondok Gede itu sendiri, yang dipakai kecamatan, jalan raya penghubung Jakarta–Bekasi, terminal, asrama haji, dan rumah sakit haji.
- Foto-foto arsip KITLV Leiden dan Tropenmuseum, yang kini bebas diakses di Wikimedia Commons.
- Nama Pasar Rebo di Jakarta Timur, yang oleh Nawi dikaitkan dengan izin pasar hari Rabu tahun 1746.
Fakta Singkat
- 1746: Resolusi Gubernur Jenderal van Imhoff (1 Februari) mengizinkan pasar hari Rabu di lahan Pondok Gede milik Pieter van de Velde; catatan tertua yang menyebut nama Pondok Gede.
- 1775: Landhuis Pondok Gede dibangun oleh Pendeta Johannes Hooyman (1741–1789), anggota Bataviaasch Genootschap.
- 1800–1834: Leendert Miero menyewa (1800) lalu memiliki (1820) lahan tersebut; merenovasi rumah kayu jati jadi beton bergaya Indies; wafat 10 Mei 1834.
- 325 hektar: luas lahan perkebunan Pondok Gede menurut survei arkeologi Januari 1988.
- 1962: lahan dibeli TNI AU (Inkopau).
- 1992: landhuis dibongkar, digantikan Plaza Pondok Gede.
- Tetangga: Halim Perdanakusuma (lapangan terbang sejak sekitar 1924, ganti nama 1952) dan Asrama Haji Pondok Gede (diresmikan 1979).
Pertanyaan Umum Seputar Landhuis Pondok Gede
Apa itu Landhuis Pondok Gede?
Landhuis Pondok Gede adalah rumah besar (landhuis) milik tuan tanah di tengah perkebunan Pondok Gede, dibangun sekitar 1775 oleh Pendeta Johannes Hooyman. Bangunannya memadukan lantai bawah bergaya terbuka Indonesia dan bagian depan bertingkat dua bergaya Belanda. Rumah ini dibongkar pada 1992.
Kenapa daerah itu dinamai Pondok Gede?
Karena warga menyebut rumah besar di perkebunan itu sebagai "pondok yang gede". Namun arsip menunjukkan nama Pondok Gede sudah dipakai sejak resolusi van Imhoff 1746, hampir 30 tahun sebelum rumah Hooyman berdiri, sehingga kemungkinan sudah ada bangunan besar lebih awal atau nama kampung lebih dulu ada.
Di mana lokasi bekas Landhuis Pondok Gede sekarang?
Di lokasi Plaza Pondok Gede, Jalan Raya Pondok Gede, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, di perbatasan dengan Jakarta Timur. Landhuis dibongkar pada 1992 untuk pembangunan pusat perbelanjaan tersebut.
Siapa Leendert Miero dan apa hubungannya dengan Pondok Gede?
Leendert Miero adalah pengusaha Yahudi asal Polandia, bekas serdadu VOC, yang menyewa lahan Pondok Gede sejak 1800 dan memilikinya sejak 1820. Ia merenovasi landhuis jadi bangunan beton bergaya Indies dan dimakamkan di belakang rumah itu pada 1834. Ia juga membeli villa Reinier de Klerk (kini Gedung Arsip Nasional) pada 1818.
Apakah Asrama Haji Pondok Gede berada di Bekasi?
Tidak. Asrama Haji Pondok Gede berada di Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, di Jalan Raya Pondok Gede. Namanya mengikuti nama kawasan Pondok Gede yang dulu lebih luas daripada batas administratif kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, sekarang.
Sumber & Referensi
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Museum Rumah Pondokgede" (diakses 2026): id.wikipedia.org/wiki/Museum_Rumah_Pondokgede
- Gusman J. Nawi, "Mengenang Landhuis Pondok Gede", Sejarah Jakarta (2019): sejarahjakarta.com
- Disparbud Kota Bekasi, "Pondok Gede 1752" (2017): disparbud.bekasikota.go.id
- Rizky Kusumo, "Memori Landhuis Pondok Gede, Rumah Mewah yang Kini Telah Lenyap", Goodnewsfromindonesia.id (2022): goodnewsfromindonesia.id
- Thomas Pulungan, "Asal Usul Nama Pondok Gede yang Diambil dari Rumah Besar Milik Pendeta Belanda", Sindonews (2022): daerah.sindonews.com
- ANRI, "Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada" (tentang Leendert Miero): pusdipres.anri.go.id
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma" (sejarah Tandjoeng Oost dan Vliegveld Tjililitan): id.wikipedia.org
- detik.com, "Sejarah Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Dibangun 1977 dan Makin Eksis saat Ini" (2023): detik.com
Kamu warga Pondok Gede, Jatiwaringin, atau Jatibening yang masih ingat bentuk rumah tua di lokasi Plaza Pondok Gede sebelum 1992? Atau punya foto lama keluarga dengan latar bangunan itu? Kirim ceritamu ke Planet Bekasi. Jejak yang hilang dari peta masih bisa kita selamatkan lewat ingatan warga, dan temukan kisah-kisah serupa di rubrik Asal Usul.
Posting Komentar