Masjid Agung Al-Barkah 1890 dan Masjid-Masjid Tua Bekasi
Empat menara hijau-kuning menjulang 35 meter di sisi Alun-alun Kota Bekasi. Ribuan orang lewat setiap hari di Jalan Veteran, sebagian mampir salat, sebagian cuma memotret kubah birunya. Tapi kalau kamu tanya sejak kapan masjid itu ada, jawabannya sering meleset puluhan tahun: bangunan megah yang sekarang memang baru rampung 2008, tapi umurnya jauh lebih tua dari itu.
Masjid Agung Al-Barkah berawal dari sebuah surau yang dibangun pada tahun 1890, di masa Hindia Belanda, atas prakarsa penghulu Landraad Bekasi, H. Abdul Hamid, di atas tanah wakaf seorang warga bernama Bachroem seluas 3.370 meter persegi. Surau itu tumbuh jadi masjid, ditetapkan sebagai Masjid Agung Kabupaten Bekasi pada 1985, lalu dibangun ulang total pada 2004–2008 menjadi ikon Kota Bekasi yang kita kenal sekarang.
Al-Barkah bukan satu-satunya. Di Kranji ada Masjid Jami An-Nur yang berdiri sejak 1916, di Ujungharapan ada Masjid At-Taqwa yang dibangun KH Noer Alie, dan di Cibarusah ada Masjid Al-Mujahidin yang jadi tempat latihan Laskar Hizbullah pada 1945. Artikel ini menelusuri masjid-masjid tua Bekasi itu: siapa yang membangun, seperti apa arsitekturnya, dan bagaimana mereka terlibat dalam perjuangan 1945.

Kapan Masjid Agung Al-Barkah Berdiri dan Siapa Pendirinya?
Sumber-sumber utama, dari Disparbud Kota Bekasi (2018), Kompas.com (2021), sampai Wikipedia, sepakat pada tahun 1890 sebagai awal berdirinya surau Al-Barkah. Penggagasnya adalah H. Abdul Hamid, yang saat itu menjabat penghulu Landraad, yaitu pejabat urusan agama Islam pada pengadilan kolonial di Bekasi. Tanahnya wakaf dari Bachroem (ditulis juga Bahrun atau Barun), seluas 3.370 m² menurut Kompas.com dan Wikipedia, atau sekitar 3.000 m² menurut Disparbud. Wikipedia Inggris menambahkan bahwa pembangunannya selesai pada 1894. Sejak awal nama yang dipakai sudah Al-Barkah, dari kata barakah atau berkah.
Sejarawan Bekasi Ali Anwar menjelaskan kepada Kompas.com bahwa surau itu kemungkinan besar dibangun tak lama setelah pemerintah Hindia Belanda membangun alun-alun Bekasi beserta gedung-gedung di sekelilingnya, termasuk kantor polisi dan pengadilan yang masih ada di tempat yang sama sampai sekarang. Menurutnya, pemerintah kolonial memang cenderung mengizinkan rumah ibadah karena dianggap tidak mengganggu kekuasaan, sejalan dengan pendekatan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang tiba di Hindia Belanda pada 1889.
Dengan kata lain, Al-Barkah lahir sebagai bagian dari "paket" tata kota kolonial: alun-alun, pendopo, pengadilan, tangsi, dan surau. Pola yang sama bisa kita lihat di banyak ibu kota kabupaten di Jawa.
Dari Surau ke Masjid Agung: Enam Kali Renovasi
Perjalanan fisik Al-Barkah panjang. Merangkum Disparbud Kota Bekasi, Masjidinfo, Langit7, dan Wikipedia Indonesia, tahapannya kira-kira begini:
- 1967/1969: surau direhab menjadi bentuk masjid pada masa Bupati Bekasi M.S. Subandi. Sumber berbeda menyebut 1967 dan 1969.
- 1985: pembangunan senilai Rp225 juta pada masa Bupati H. Abdul Fatah, dan masjid ini ditetapkan sebagai Masjid Agung Kabupaten Bekasi.
- 1988: renovasi bagian depan dan samping kanan menjelang MTQ tingkat Jawa Barat.
- 1997: renovasi bagian dalam dan tempat wudu senilai Rp100 juta pada masa Bupati Muh. Djamhari.
- 2002: renovasi muka masjid dan pembangunan kantor.
- 2004–2008: pembangunan ulang total pada masa Wali Kota Bekasi H. Achmad Zurfaih. Peletakan batu pertama dilakukan Sabtu, 26 Juni 2004, seusai salat Subuh.
Soal biaya renovasi besar itu ada dua angka yang beredar: Disparbud Kota Bekasi menyebut sekitar Rp9,5 miliar, sementara Masjidinfo mencatat Rp22,86 miliar. Perbedaan ini mungkin karena yang satu menghitung tahap awal dan yang lain total sampai 2008, tapi kami belum menemukan dokumen resmi yang menegaskan. Wikipedia Inggris menyebut renovasi dimulai 2003, sedangkan sumber lokal menyebut 2004; bisa jadi 2003 adalah tahun perencanaan dan 2004 awal konstruksi.
Yang jelas, hasilnya mengubah wajah masjid sepenuhnya. Menurut Ali Anwar, tak ada lagi jejak surau lama yang tersisa selain tanah tempatnya berdiri; atap bersusun khas langgar Jawa diganti dengan gaya Timur Tengah. Lahannya pun bertambah: Masjidinfo mencatat perluasan sekitar 7.000 m² pada tahap 2004–2008.
Arsitektur Al-Barkah: Empat Menara, Kubah 18 Meter, Delapan Pintu Jati
Masjid hasil renovasi itu bergaya modern Timur Tengah dengan sentuhan tropis. Ciri-cirinya, menurut Wikipedia Indonesia, Masjidinfo, dan Kompas.com:
- Empat menara setinggi 35 meter (Wikipedia Inggris menulis 40 meter), yang dimaknai sebagai empat tiang ilmu.
- Dua kubah, kubah utama berdiameter 18 meter dengan kaligrafi Asmaul Husna, 99 nama Allah, di bagian dalamnya. Kubahnya berwarna biru safir yang mencolok di tengah alun-alun.
- Delapan pintu kayu jati berukir motif Jepara, melambangkan delapan pintu surga, plus ornamen bunga berkelopak delapan di berbagai sudut.
- Dinding berlapis kayu yang menurut pengurus Media Center masjid, Eko Purwanto, membuat ruangan terasa sejuk tanpa pendingin udara.
- Halaman luas dengan pohon kurma, plaza, taman, area parkir, ruang pertemuan, perpustakaan, dan sarana pendidikan Islam.
Daya tampungnya disebut hingga 10.000 jemaah. Saat Idulfitri 1443 H (2 Mei 2022) kapasitasnya dibatasi 2.500 orang karena protokol kesehatan. Sejak Kota Bekasi berpisah dari Kabupaten Bekasi pada 1997, masjid ini menjadi Masjid Agung Kota Bekasi. Cerita pemekaran itu bisa kamu baca dalam artikel Sejarah Kota Bekasi: Dari Kabupaten 1950 Sampai Pemekaran 1997.
Surau Markas Pejuang: Al-Barkah dan Revolusi 1945
Bagian yang paling sering diceritakan warga adalah peran surau ini di masa revolusi. Menurut Ali Anwar, KH Noer Alie, pahlawan nasional asal Babelan, termasuk orang yang menghidupkan surau Al-Barkah. Para pejuang biasanya berkumpul setelah salat Subuh untuk membicarakan pergerakan dan politik, kebiasaan yang berbeda dengan generasi sekarang yang nongkrong sore hari. Eko Purwanto meyakini, karena letaknya bersisian dengan alun-alun yang dipakai untuk apel besar, surau ini juga digunakan untuk salat para tentara dan pelajar pimpinan Noer Alie. Kisah sang kiai kami ulas dalam artikel KH Noer Alie, Singa Karawang-Bekasi.
Ada pula cerita yang lebih dramatis: Soekarno disebut pernah singgah salat di surau ini dalam perjalanan ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, sehari sebelum proklamasi. Perlu jujur di sini: menurut Eko Purwanto sendiri, itu "banyak cerita" dari warga yang masih dikorek keterangannya oleh pengurus masjid. Posisi surau di pusat kota, dekat jalur utama Jakarta–Karawang, membuat cerita itu masuk akal, tapi belum ada dokumen yang menegaskannya. Sebaiknya kita anggap sebagai tradisi lisan yang menarik, bukan fakta yang sudah terverifikasi.
Yang lebih pasti adalah bagaimana surau ini nyaris lenyap. Setelah pesawat Dakota Inggris jatuh di Rawa Gatel pada 23 November 1945 dan awaknya dihabisi pejuang setempat, tentara Sekutu melancarkan aksi balasan pada 13 Desember 1945. Bekasi dibakar dari Kranji, Teluk Buyung, Teluk Pucung, sampai Bulak Kapal; alun-alun ikut habis. Ali Anwar mendapat informasi bahwa surau sempat dibakar, tapi tidak banyak bagian yang terbakar, mungkin karena tentara masih menghormati rumah ibadah. Rangkaian peristiwa ini kami bahas lengkap dalam artikel Pertempuran Bekasi 1945.
Masjid At-Taqwa Ujungharapan: Masjid yang Dibangun Bersama Pesantren
Di Kampung Ujungharapan (dulu Ujungmalang), Desa Bahagia, Kecamatan Babelan, berdiri Masjid Jami At-Taqwa di Jalan KH Noer Ali. Inilah masjid yang dibangun KH Noer Alie setelah ia pulang dari Mekkah pada 1940 dan mendirikan pesantren di kampungnya. Menurut Media Indonesia dan Jendela Islam (2024), masjid ini berdiri sekitar 1952, awalnya bangunan kayu berukuran 30 x 30 meter, dibangun karena dua masjid yang ada saat itu terlalu jauh untuk salat Jumat warga. Cucu sang kiai, Ustaz Anis Abdul Quddus, mengatakan kepada Poskota (2021) bahwa lokasi ini dulu menjadi titik berkumpulnya kekuatan dan penyusunan strategi perlawanan terhadap penjajah.
Prinsip Noer Alie, seperti dikutip Poskota: kalau membangun masjid harus sekaligus membangun sekolah, dan sebaliknya. Karena itu At-Taqwa tidak bisa dipisahkan dari Pesantren Attaqwa yang berkembang di sekelilingnya. Kini bangunannya berukuran sekitar 50 x 50 meter, dua lantai, berkapasitas sekitar 5.000 jemaah, berlantai marmer, dengan kubah hijau, lengkung bergaya Mesir, dan tiga pintu utama dari kayu jati ukiran Jepara yang mengadopsi desain pintu masjid Madinah. Masjid ini membawahi lebih dari 40 musala di Ujungharapan, dan iktikaf Ramadannya diikuti ratusan orang.
Masjid Al-Mujahidin Cibarusah: Kawah Candradimuka Laskar Hizbullah
Di Kampung Babakan, Cibarusah, Kabupaten Bekasi, berdiri Masjid Al-Mujahidin yang dulu dikenal sebagai Masjid Babakan Kaum. Soal umurnya ada perbedaan tajam. Ketua yayasan masjid, Munawar Fuad Noeh, menyebut kepada Suara.com (2021) bahwa masjid ini berdiri sejak 1619. Tapi Sindonews (2016) mencatat bukti fisiknya lebih muda: prasasti marmer bertuliskan "HERBOUWD 1935 / COMITE MASDJID" (dibangun ulang 1935), kaligrafi di pintu masuk bertanggal Juni 1937, dan sertifikat Departemen Agama yang menyebut tahun 1930. Kata herbouwd memang berarti "dibangun kembali", jadi bangunan sebelumnya pasti lebih tua, tapi angka 1619 belum didukung dokumen. Bangunannya masih menyimpan enam tiang utama, pintu dan jendela bergaya kolonial, serta tongkat khutbah kayu berujung besi.
Yang membuatnya penting secara nasional adalah peristiwa 1945. Laskar Hizbullah, milisi pemuda Islam yang dibentuk 8 Desember 1944 di bawah koordinasi Masyumi, menggelar latihan perdananya di Cibarusah mulai 28 Februari 1945. Menurut Wikipedia Indonesia, pesertanya 500 orang dari berbagai pesantren di Jawa dan Madura, dengan KH Mas Mansyur sebagai komandan latihan dan Prawoto Mangkusasmito sebagai wakilnya, diawasi perwira Jepang dari Beppan. Ketua Pusat Pimpinan Hizbullah adalah KH Zainul Arifin. Masjid Al-Mujahidin jadi markas dan tempat salat para peserta; lokasinya yang berhutan dan jauh dari pusat administrasi Jepang membuatnya cocok untuk latihan semi-militer. Para alumni Cibarusah kemudian pulang melatih pemuda di daerah masing-masing, dan jadi tulang punggung laskar-laskar Islam pada perang kemerdekaan, termasuk Hizbullah Bekasi yang dipimpin KH Noer Alie.
Masjid Jami An-Nur Kranji: Seabad di Pinggir Jalan Raya
Masjid tua lain yang mudah dijangkau adalah Masjid Jami An-Nur di Jalan Jenderal Sudirman, Kranji, Bekasi Barat, sekitar 200 meter dari Stasiun Kranji. Menurut Ketua DKM Kemal Fasya kepada Poskota (2024), masjid ini dibangun pada 1916 di atas tanah wakaf Haji Jadang, tokoh asal Klender yang menikah dengan warga setempat. Awalnya bangunan kayu sederhana bergaya rumah Betawi dengan atap limas dan tiang-tiang besar; kini sudah empat kali direnovasi, terakhir sekitar 1980-an, menjadi bangunan dua lantai seluas 1.400 m² dengan dinding keramik hijau dan cokelat tua. Kranji sendiri adalah salah satu titik pertempuran Desember 1945, sehingga masjid ini kemungkinan besar ikut menyaksikan masa-masa itu, meski sumber yang kami temukan belum merinci perannya.
Fakta Singkat
- Al-Barkah berdiri: 1890 (selesai 1894 menurut Wikipedia EN), sebagai surau di Alun-alun Bekasi, Jalan Veteran.
- Pendiri: H. Abdul Hamid, penghulu Landraad Bekasi; tanah wakaf Bachroem 3.370 m².
- Status Masjid Agung: ditetapkan 1985 (Kabupaten Bekasi); kini Masjid Agung Kota Bekasi.
- Renovasi total: 2004–2008, Wali Kota Achmad Zurfaih; batu pertama 26 Juni 2004; biaya Rp9,5 miliar (Disparbud) atau Rp22,86 miliar (Masjidinfo).
- Arsitektur: 4 menara 35 m, kubah utama diameter 18 m dengan Asmaul Husna, 8 pintu jati ukir Jepara, kapasitas hingga 10.000 jemaah.
- 1945: surau jadi tempat berkumpul pejuang; alun-alun dibakar Sekutu 13 Desember 1945, surau sebagian terbakar.
- Masjid tua lain: An-Nur Kranji (1916), Al-Mujahidin Cibarusah (dibangun ulang 1935; latihan Hizbullah 28 Februari 1945, 500 peserta), At-Taqwa Ujungharapan (sekitar 1952, KH Noer Alie).
Pertanyaan Umum Seputar Masjid Agung Al-Barkah dan Masjid Tua Bekasi
Kapan Masjid Agung Al-Barkah Bekasi dibangun?
Masjid Agung Al-Barkah berawal dari surau yang dibangun tahun 1890 pada masa Hindia Belanda, di sisi Alun-alun Bekasi. Surau itu direhab jadi masjid pada akhir 1960-an, ditetapkan sebagai Masjid Agung pada 1985, dan dibangun ulang total pada 2004–2008.
Siapa pendiri Masjid Al-Barkah?
Pembangunannya dipelopori H. Abdul Hamid, penghulu Landraad (pejabat agama pada pengadilan kolonial) Bekasi, di atas tanah wakaf seorang warga bernama Bachroem seluas 3.370 meter persegi. Nama Al-Barkah, yang berarti berkah, sudah dipakai sejak awal.
Apakah Soekarno pernah salat di Masjid Al-Barkah?
Ada cerita warga bahwa Soekarno singgah salat di surau Al-Barkah dalam perjalanan ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Pengurus masjid sendiri menyebutnya masih berupa cerita yang sedang ditelusuri, dan belum ada dokumen yang menegaskan. Jadi sebaiknya dianggap sebagai tradisi lisan.
Apa peran Masjid Al-Barkah dalam perjuangan 1945?
Menurut sejarawan Ali Anwar, surau Al-Barkah dihidupkan antara lain oleh KH Noer Alie dan jadi tempat para pejuang berkumpul membicarakan pergerakan setelah salat Subuh. Saat Sekutu membakar Bekasi pada 13 Desember 1945, alun-alun habis terbakar, tapi surau hanya sebagian yang terbakar.
Apa masjid tertua di Bekasi?
Dari yang bersumber jelas, Al-Barkah (1890) adalah yang tertua di Kota Bekasi, disusul Masjid Jami An-Nur Kranji (1916). Di Kabupaten Bekasi, Masjid Al-Mujahidin Cibarusah diklaim berdiri sejak 1619, tapi bukti fisiknya berupa prasasti "dibangun ulang 1935"; angka 1619 belum didukung dokumen.
Di mana Laskar Hizbullah dilatih di Bekasi?
Latihan perdana Laskar Hizbullah digelar di Cibarusah, Kabupaten Bekasi, mulai 28 Februari 1945, diikuti 500 pemuda dari pesantren se-Jawa dan Madura dengan KH Mas Mansyur sebagai komandan latihan. Masjid Al-Mujahidin di Kampung Babakan Cibarusah menjadi markasnya.
Sumber & Referensi
- Kompas.com, "Masjid Agung Al-Barkah Bekasi: Surau Markas Pahlawan, Disinggahi Soekarno Saat Diculik ke Rengasdengklok" (24 April 2021). kompas.com
- Disparbud Kota Bekasi, "Masjid Agung Al-Barkah" (23 November 2018). disparbud.bekasikota.go.id
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Masjid Al-Barkah", dan Wikipedia bahasa Inggris, "Al-Barkah Mosque" (diakses 2026). id.wikipedia.org
- Masjidinfo, "Masjid Agung Al-Barkah Kota Bekasi" (2010). masjidinfo.net; Langit7, "Sejarah Masjid Agung Al-Barkah Bekasi" (2021). langit7.id
- Media Indonesia, "Mengenal Masjid At Taqwa Bekasi Utara, Simbol Kota Santri" (2025). mediaindonesia.com; Poskota, "Masjid Jami At-Taqwa Ujung Harapan, Simbol Perjuangan Pahlawan Bekasi" (23 April 2021). poskota.co.id
- Sindonews, "Masjid Mujahidin Cibarusah, Saksi Perjuangan Laskar Hizbullah" (11 Desember 2016). sindonews.com; Suara.com, "Masjid Al Mujahidin Cibarusah, Saksi Sejarah Perjuangan Laskar Hizbullah" (26 April 2021). suara.com
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Laskar Hizbullah" (diakses 2026). id.wikipedia.org
- Poskota, "Berada di Jantung Kota Bekasi, Masjid Jami An Nur Masih Kokoh di Usia 1 Abad" (12 Maret 2024). poskota.co.id; Wikimedia Commons, "Masjid Al-Barkah kota Bekasi - panoramio.jpg" (2014). commons.wikimedia.org
Masjid-masjid tua ini bukan cuma tempat salat; mereka adalah arsip hidup Bekasi, dari tata kota kolonial sampai rapat subuh para pejuang. Kalau di kampungmu ada masjid atau langgar yang umurnya lebih dari 70 tahun, apalagi kalau masih menyimpan prasasti, mimbar lama, atau cerita 1945, kirim fotonya dan ceritanya ke redaksi Planet Bekasi. Kisah-kisah seperti ini kita kumpulkan di label Asal Usul, supaya jejaknya nggak hilang bersama renovasi berikutnya.
Posting Komentar