Muara Gembong: Sejarah Pesisir Bekasi dari Harimau ke Rob

Daftar Isi

Kalau kamu berdiri di gapura Muara Gembong, kecamatan paling utara Kabupaten Bekasi, kamu bakal susah membayangkan bahwa dulu tempat ini adalah hutan belantara yang dihuni harimau. Sekarang yang terlihat adalah petak-petak tambak, jalan berlumpur, sisa-sisa mangrove, dan di ujungnya, laut yang pelan-pelan makan daratan.

Nama Muara Gembong berasal dari dua kata: muara, tempat Sungai Citarum bertemu Laut Jawa, dan gembong, yang dalam bahasa Jawa dan Kamus Umum Bahasa Indonesia Poerwadarminta (1952) berarti harimau belang alias harimau jawa. Jadi Muara Gembong secara harfiah adalah "muara yang ada harimaunya". Ini bukan sekadar cerita rakyat: koran Belanda De Locomotief edisi 10 Juli 1896 memberitakan penembakan harimau ke-17 di Moearagembong.

Artikel ini menelusuri perjalanan pesisir Bekasi itu: dari kampung bekas prajurit Mataram, pelabuhan transit dan gudang kopi era kolonial, masa jaya "Kampung Dolar" tambak udang, sampai Kampung Beting yang kini tenggelam, lutung jawa yang bertahan di sisa mangrove, dan warga yang setiap minggu kebanjiran rob.

Tegakan mangrove api-api (Avicennia alba) menghadap laut lepas saat pasang di Muara Mati, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi
Tegakan mangrove api-api (Avicennia alba) menghadapi laut lepas saat air pasang di Muara Mati, Muara Gembong, Februari 2022. Foto: Wie146 via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Dari Mana Nama Muara Gembong Berasal?

Penjelasan yang paling kuat datang dari penulis Komunitas Historika Bekasi, Symuge, dalam Sebekasi (2019). Menurutnya, kampung ini awalnya hanya bernama Gembong. Kata itu, menurut KBBI, berarti harimau yang bulunya belang-belang; jagoan; pendekar; orang terkemuka. Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Poerwadarminta tahun 1952 mencatat asalnya dari bahasa Jawa dengan arti harimau tunggal, jagoan, pendekar. Dalam konteks kampung di tepi Citarum, makna "harimau" yang paling masuk akal, dan sang penulis mengaku masih melihat harimau jawa di pintu air tambak Kampung Beting pada 1975.

Kata "Muara" ditambahkan belakangan. Antara abad ke-17 sampai ke-19, aliran Citarum yang bermuara di Kampung Muara Besar menyempit dan mendangkal, sementara cabang yang bermuara di Kampung Gembong makin lebar. Kampung Gembong pun menjadi Muara Gembong. Di arsip kolonial, ejaannya ada yang dipisah "Moeara Gembong", ada yang disambung "Moearagembong".

Versi lain: gembong sebagai "dedengkot" dan tempat pembuangan

Ada versi kedua yang beredar di kalangan warga. Lembaga Pers Mahasiswa Pena Muda Universitas Bhayangkara (2016) mencatat cerita dari seorang warga asli, Son Aji, bahwa "gembong" merujuk pada dedengkot penjahat, karena pada masa Orde Baru wilayah ini disebut-sebut jadi tempat pembuangan atau pengasingan pelaku kejahatan. Okezone (2023) juga menyebut reputasi kelam itu: pada masa Orde Baru, Muara Gembong dikenal sebagai daerah persembunyian penjahat dan peredaran barang ilegal.

Mana yang lebih kuat? Versi harimau punya dukungan kamus dan arsip koran 1896, jauh sebelum Orde Baru. Versi "dedengkot penjahat" lebih tepat dibaca sebagai tafsir belakangan yang menempel pada nama yang sudah ada, meski ia mencerminkan bagaimana Muara Gembong pernah dipandang orang luar: jauh, terpencil, dan sulit diawasi.

Kampung Bekas Prajurit Mataram, Pelabuhan Transit, dan Tsunami 1883

Cerita asal kampung ini terkait dengan peristiwa besar di Batavia. Setelah pasukan Sultan Agung dari Mataram gagal merebut Batavia dari VOC pada 1628 dan 1629, Symuge menuturkan, sebagian prajurit yang selamat memilih tidak pulang karena takut dihukum. Mereka menetap di pesisir utara Bekasi, termasuk di tepi muara Citarum yang saat itu masih hutan dengan harimau, buaya rawa, ular sanca, rusa, bangau, dan kucing hutan. Permukiman baru di hutan yang banyak harimaunya itulah yang disebut Kampung Gembong. Perlu dicatat, ini tradisi lisan yang dirangkum komunitas sejarah lokal; cerita serupa tentang "sisa prajurit Mataram" juga dipakai untuk menjelaskan asal beberapa kampung lain di Bekasi, seperti dibahas dalam artikel Asal-Usul Nama Kecamatan di Bekasi.

Yang lebih terdokumentasi adalah peran ekonominya. Menurut catatan yang sama, di Muara Gembong pernah berdiri pelabuhan transit trayek Cikao–Batavia, dilengkapi gudang kopi dan gudang garam. Cikao adalah pelabuhan sungai di Citarum (kini wilayah Purwakarta) yang jadi pintu keluar kopi Priangan pada abad ke-19. Gudang-gudang itu disebut hancur dihantam gelombang besar akibat letusan Krakatau pada 26–27 Agustus 1883. Kalau ini benar, Muara Gembong pernah jadi simpul perdagangan penting antara pedalaman Priangan dan Batavia, sebelum kereta api mengambil alih jalur logistik.

Delta Citarum: Tanah yang Tumbuh, Lalu Tergerus

Untuk memahami Muara Gembong, kita harus paham Citarum. Sungai terpanjang di Jawa Barat ini membawa lumpur dari Bandung, Cianjur, dan Purwakarta, lalu mengendapkannya di mulut sungai. Endapan itulah yang membentuk delta Citarum, daratan baru yang sebagian besar masuk wilayah Kecamatan Muara Gembong. Wikipedia Inggris menyebut sedimentasi di delta ini masih terus terjadi sampai sekarang.

Penelitian Paryono dan kawan-kawan dalam Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (2017) memberi angkanya: luas daratan hasil sedimentasi di delta Citarum sekitar 3.828 hektare. Tapi ada paradoks. Waduk Jatiluhur menahan sekitar 1,2 juta ton sedimen per tahun, sehingga pasokan lumpur ke pesisir berkurang drastis dibanding sebelum waduk dibangun. Di sisi lain, ombak Laut Jawa terus menggerus. Ketika pasokan lumpur berkurang, mangrove ditebang, dan tanah turun, neraca berbalik: daratan yang dulu tumbuh kini menyusut.

Secara administratif, Muara Gembong resmi jadi kecamatan pada 24 Desember 1981, dimekarkan dari Kecamatan Cabangbungin lewat PP No. 53 Tahun 1981. Luasnya 160,54 km², dengan enam desa: Pantai Harapan Jaya, Pantai Mekar (pusat kecamatan), Pantai Sederhana, Pantai Bakti, Pantai Bahagia, dan Jayasakti. Penduduknya diperkirakan 45.290 jiwa pada pertengahan 2024. Menurut Disaster Channel, pada 1946 wilayah ini hanya terdiri dari dua desa, Pantai Sederhana dan Pantai Mekar, dan Desa Pantai Bahagia baru dibentuk pada 1984.

Dari Hutan Mangrove ke Tambak: Masa Jaya "Kampung Dolar"

Secara ekologis, Muara Gembong dulu adalah hamparan mangrove raksasa. Perum Perhutani mencatat luas hutan mangrove alaminya 10.481 hektare, membentang di Ujung Karawang, sekitar 25 km timur laut Jakarta. Tapi sekitar 93,5 persen di antaranya telah berubah jadi tambak dan lahan pertanian karena tekanan penduduk dan ekonomi. Kajian yang dikutip Mongabay (2026) menyebut mangrove berkurang 55 persen dalam empat dekade (1976–2018), dengan laju degradasi sekitar 255 hektare per tahun, dan hampir 90 persen kawasan telah jadi tambak ikan dan udang.

Perubahan itu sempat mendatangkan kemakmuran. Pada era 1980-an, Kampung Beting di Desa Pantai Bahagia dijuluki "Kampung Dolar" karena tambak udangnya menghasilkan uang yang melimpah. Ketua RT setempat, Maskak, mengenang kepada Info Bekasi (2025) bahwa pada 1990-an hampir setiap nelayan punya tambak. Foto cerita Antara menyebut masa keemasan berlangsung 1998–2005, ketika tokoh masyarakat bernama Sayim mengingat sekali panen tambak bisa menghasilkan jutaan rupiah. Kompas.com (2025) mencatat warga bisa berpenghasilan puluhan juta rupiah sebulan.

Masalahnya, tambak dibangun dengan menebang mangrove yang selama ini jadi tameng ombak. Begitu tameng itu hilang, laut masuk.

Kampung Beting yang Tenggelam

Sejak 2000-an, laut mulai menggerus lahan pesisir. Antara menyebut sejak 2005 rob rutin menerjang tambak dan menghanyutkan ikan serta udang; tambak-tambak mati, mangrove tersisa sedikit, bahkan pemakaman terendam. Warga Kampung Beting, Udin, mengatakan kepada Kompas.com (Desember 2025) bahwa kampungnya mulai benar-benar tenggelam sekitar 2012. Kini kampung itu terendam hampir seminggu sekali; saat kali dan laut meluap, air masuk rumah setinggi 50 cm. Warga tidak mengungsi, mereka bertahan di balai-balai yang dibuat di dalam rumah.

Posisinya memang terjepit: Citarum mengalir hanya sekitar lima meter di depan rumah tanpa tanggul, dan laut berjarak sekitar 200 meter di belakang, juga tanpa tanggul. Air asin merusak bangunan dengan cepat, sehingga banyak rumah ditinggalkan pemiliknya. Masjid dan sekolah tetap tergenang meski laut tidak sedang pasang; nisan di pemakaman hanya tersisa ujungnya karena tertutup lumpur. Warga bahkan memakamkan jenazah dengan peti supaya tidak hanyut. Madrasah Ibtidaiyah Mansyaul Huda di kampung itu, menurut Disaster Channel, tetap beroperasi untuk 30–40 murid meski halamannya tak pernah kering dan harus tutup saat air laut naik.

Di Pantai Muara Beting, nelayan Kartawijaya bercerita kepada detikTravel (2021) bahwa sekitar satu kilometer garis pantai sudah hilang; dulu Muara Beting dan Muara Jeruji tersambung, kini terpisah berkilo-kilometer. Kompas.com menyebut tiga dari enam desa, yaitu Pantai Bahagia, Pantai Mekar, dan Pantai Sederhana, terdampak abrasi dan rob parah. Sekretaris Jenderal KIARA, Susan Herawati, menilai penyebabnya berlapis: rob yang masif, abrasi, dan penurunan muka tanah, yang semuanya berakar pada gagalnya perlindungan mangrove. Tanpa intervensi pemulihan lingkungan, menurutnya, daratan yang tersisa di desa itu berpotensi tergenang seluruhnya.

Lutung Jawa dan Sisa Hutan yang Bertahan

Di tengah kerusakan itu, ada penghuni asli yang bertahan: lutung jawa (Trachypithecus auratus), primata endemik Jawa yang dilindungi. Mongabay (2026) melaporkan survei akhir 2025 oleh Aspera Madyasta Indonesia memperkirakan populasinya 50–80 individu dalam dua kelompok di Desa Pantai Bahagia. Warga senior mengingat pada awal 1980-an suara lutung terdengar hampir setiap pagi bersama kicau burung. Sekretaris Desa Pantai Bahagia, Ahmad Qurtubi, menyebut ancaman terbesar bukan perburuan, melainkan menyusutnya habitat karena tambak dan permukiman; saat kemarau, lutung kekurangan air tawar dan masuk ke kampung.

Yang menjaga mereka justru warga biasa. Seorang warga bernama Daman, menurut Mongabay, sejak 2012 secara sukarela memantau kelompok lutung setiap hari dan menyediakan air tawar di musim kering. Pemerintah kabupaten sempat mengusulkan lutung sebagai maskot fauna daerah, tapi peraturan desa untuk perlindungannya belum terwujud, dan belum ada lembaga yang memantau populasinya secara jangka panjang.

Program Rehabilitasi: Menanam Ulang Tameng Pantai

Upaya penyelamatan sudah berjalan, walau belum sebanding dengan kerusakan. Wikipedia Inggris mencatat penanaman mangrove di titik-titik rawan sudah dimulai sekitar 2009. Perhutani menetapkan kawasan hutan lindung mangrove Muara Gembong dengan zona perlindungan 2.284,60 ha dan zona pemanfaatan 2.715,40 ha, sambil mewacanakan tukar-menukar sekitar 5.479,80 ha kawasan yang sudah lama dihuni warga. Sejak 2022, menurut Mongabay, melalui SK Menteri LHK No. 287 kawasan ini masuk Kawasan Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) yang membuka jalan bagi perhutanan sosial.

Angka penanamannya cukup besar: 190.000 bibit mangrove pada 2023 dan 450.000 bibit pada 2024 di desa-desa pesisir. Satgas Citarum Harum juga ikut menanam. Tapi menanam saja tidak cukup; warga Kampung Beting sudah bertahun-tahun meminta tanggul di bibir pantai, dan Camat Muara Gembong, Sukarmawan, saat banjir rob Desember 2025 berharap pembangunan giant sea wall dipercepat karena ribuan hektare tambak terendam.

Akses Jalan dan Kondisi Warga Hari Ini

Muara Gembong hanya sekitar 70 km dari Jakarta, tapi terasa jauh. Dari gerbang Desa Pantai Bahagia ke Kampung Beting jaraknya 3–4 km, namun jalannya terdiri dari batu, pasir, dan lumpur; pengendara motor butuh sekitar 30 menit, dan saat hujan atau rob jalan jadi licin. Sebagian sudah dipasang paving block, tapi banyak yang rusak. Di sisi lain, Pemkab Bekasi memperbaiki sekitar 1 km jalan menuju Pantai Muarabungin di Desa Pantai Bakti pada 2021 untuk mendukung wisata dan akses nelayan.

Banjir rob Desember 2025 menunjukkan betapa rentannya kawasan ini. Menurut Antara, sejak 1 Desember 2025 sekitar 14.000 jiwa di lima desa terdampak, dengan Pantai Bahagia paling parah, dan genangan 30 cm sampai satu meter. Pemkab menyalurkan bahan pokok, air mineral, dan alas tidur lewat BPBD. Warga yang tinggal, seperti Sayim yang dikutip Antara, bahkan bertanya apakah Muara Gembong masih ada lima atau enam tahun lagi. Di tengah itu, ekowisata mangrove, produk olahan seperti dodol dan jus mangrove, serta wisata Pantai Muara Bungin dan Pantai Pasir Putih mulai dikembangkan sebagai sumber penghasilan alternatif.

Fakta Singkat

  • Arti nama: muara Citarum + gembong (bahasa Jawa: harimau belang); De Locomotief 10 Juli 1896 memberitakan harimau ke-17 ditembak di Moearagembong.
  • Kecamatan: dibentuk 24 Desember 1981 (PP No. 53/1981), pemekaran dari Cabangbungin; luas 160,54 km²; 6 desa; sekitar 45.290 jiwa (2024).
  • Mangrove: luas alami 10.481 ha, sekitar 93,5% telah jadi tambak dan lahan pertanian (Perhutani); menyusut 55% dalam 1976–2018.
  • Delta Citarum: daratan hasil sedimentasi sekitar 3.828 ha; Waduk Jatiluhur menahan sekitar 1,2 juta ton sedimen per tahun (Paryono dkk., 2017).
  • Kampung Beting: dijuluki "Kampung Dolar" era 1980–1990-an; tambak hancur sejak 2000-an; mulai tenggelam sekitar 2012; kini terendam hampir seminggu sekali.
  • Lutung jawa: 50–80 individu dalam dua kelompok di Desa Pantai Bahagia (survei akhir 2025).
  • Rehabilitasi: 190.000 bibit mangrove (2023) dan 450.000 bibit (2024); kawasan masuk KHDPK sejak 2022.
  • Rob Desember 2025: sekitar 14.000 jiwa di lima desa terdampak, genangan hingga 1 meter.

Pertanyaan Umum Seputar Muara Gembong

Apa arti nama Muara Gembong?

Muara Gembong berarti muara sungai (Citarum) yang dihuni harimau. Kata gembong dalam bahasa Jawa, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia Poerwadarminta (1952) dan KBBI, berarti harimau belang, jagoan, atau pendekar. Kampung ini awalnya bernama Gembong; kata "Muara" ditambahkan setelah aliran Citarum berpindah ke sana.

Apakah benar dulu ada harimau di Muara Gembong?

Ya. Koran De Locomotief edisi 10 Juli 1896 memberitakan penembakan harimau ke-17 di Moearagembong, dan penulis Komunitas Historika Bekasi mengaku masih melihat harimau jawa di pintu air tambak Kampung Beting pada 1975. Harimau jawa kini dinyatakan punah.

Kenapa Kampung Beting tenggelam?

Kampung Beting di Desa Pantai Bahagia terjepit antara Citarum dan laut, keduanya tanpa tanggul. Mangrove pelindungnya ditebang untuk tambak sejak 1980–1990-an, lalu abrasi, rob, dan penurunan muka tanah menghancurkan tambak pada 2000-an dan menenggelamkan kampung sekitar 2012. Kini kampung terendam hampir seminggu sekali.

Berapa luas mangrove Muara Gembong yang tersisa?

Perhutani mencatat luas mangrove alami 10.481 hektare, dan sekitar 93,5 persen telah berubah jadi tambak dan lahan pertanian. Kajian lain menyebut mangrove berkurang 55 persen dalam 1976–2018 dengan laju sekitar 255 hektare per tahun. Penanaman ulang mencapai 190.000 bibit (2023) dan 450.000 bibit (2024).

Apa yang istimewa dari lutung jawa di Muara Gembong?

Lutung jawa (Trachypithecus auratus) adalah primata endemik Jawa yang dilindungi, dan Muara Gembong adalah salah satu habitat tersisanya di pesisir dekat Jakarta. Survei akhir 2025 memperkirakan 50–80 individu dalam dua kelompok. Warga setempat menjaganya secara sukarela, dan pemkab mengusulkannya sebagai maskot fauna daerah.

Bagaimana cara ke Muara Gembong dan seperti apa jalannya?

Muara Gembong berjarak sekitar 70 km dari Jakarta, dan sudah masuk peta wisata Kabupaten Bekasi. Jalan utama sebagian sudah diperbaiki, tapi akses ke kampung pesisir seperti Kampung Beting masih berupa batu, pasir, dan lumpur; 3–4 km terakhir bisa memakan 30 menit dengan motor dan licin saat rob.

Sumber & Referensi

  1. Symuge (Komunitas Historika Bekasi), "Asal Usul Nama Kampung Muara Gembong", Sebekasi (2019). sebekasi.com
  2. Kompas.com, "Di Tengah Desa Pantai Bahagia, Ada Kampung yang Terus Tenggelam" (4 Desember 2025). kompas.com
  3. Mongabay Indonesia, "Lutung Jawa di Muara Gembong, Minim Data dan Bertahan di Hutan Mangrove" (13 Agustus 2026) dan "Aksi Masyarakat Jaga Lutung Jawa di Tengah Kerusakan Mangrove Muaragembong" (18 Agustus 2026). mongabay.co.id
  4. Perum Perhutani, "Perhutani Pertahankan Hutan Lindung Mangrove Muara Gembong". perhutani.co.id
  5. Paryono, A. Damar, S.B. Susilo, R. Dahuri & H. Suseno, "Sedimentasi Delta Sungai Citarum, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi", Jurnal Penelitian Pengelolaan DAS (2017). neliti.com
  6. Antara News, "Pemkab Bekasi salurkan bantuan korban banjir rob Muaragembong" (7 Desember 2025). antaranews.com; Antara Foto, "Yang Tersisa di Muara Gembong" (foto cerita Rivan Awal Lingga). antarafoto.com
  7. detikTravel, "Pantai Muara Beting Bekasi yang Terancam Hilang" (2021). detik.com; Info Bekasi, "Menelusur Jejak Kampung Dolar di Pantai Beting Muara Gembong" (17 Desember 2025). infobekasi.co.id
  8. Wikipedia, "Muaragembong" (EN) dan "Muaragembong, Bekasi" (ID), diakses 2026. en.wikipedia.org; Okezone, "Kenapa Dinamakan Muara Gembong?" (2023). okezone.com; LPM Pena Muda UBJ, "Asal Mula Penamaan Muara Gembong" (2016). penamudaubj.wordpress.com

Muara Gembong adalah pengingat bahwa Bekasi bukan cuma kawasan industri dan perumahan; di ujung utaranya ada pesisir yang sejarahnya seumur Batavia dan nasibnya sedang dipertaruhkan. Kalau kamu punya kerabat di Pantai Bahagia, Pantai Mekar, atau Pantai Sederhana, atau menyimpan foto lama tambak dan mangrove di sana, bagikan ceritamu ke redaksi Planet Bekasi. Kisah-kisah pesisir dan asal-usul kampung kita kumpulkan di label Asal Usul, seperti juga cerita Situs Buni Babelan di pesisir sebelahnya.

Posting Komentar