Peristiwa Rawagede 1947: Tragedi di Poros Karawang-Bekasi

Daftar Isi

Kalau kamu pernah lewat Karawang lalu belok ke arah Rengasdengklok, sekitar tujuh kilometer di utara kota ada bangunan berbentuk kuncup melati dengan patung emas seorang ibu memeluk jasad suami dan anaknya. Itu Monumen Perjuangan Rawagede. Di belakangnya terbaring 181 makam. Nama "Rawagede" sendiri sudah tidak ada di peta; desanya sekarang bernama Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang.

Jawaban singkatnya: Peristiwa Rawagede adalah pembantaian penduduk laki-laki desa Rawagede oleh tentara Belanda pada 9 Desember 1947, ketika mereka gagal menemukan Kapten Lukas Kustario, komandan pasukan Siliwangi yang bergerilya di poros Karawang–Bekasi. Versi Indonesia menyebut korban 431 orang; laporan resmi Belanda tahun 1969 hanya mengakui sekitar 150. Enam puluh empat tahun kemudian, pada 14 September 2011, Pengadilan Den Haag menyatakan negara Belanda bertanggung jawab, dan pada 9 Desember 2011 Duta Besar Belanda meminta maaf di pemakaman Balongsari.

Peristiwa ini terjadi di Karawang, bukan di Bekasi. Tapi ia tidak bisa dilepaskan dari Bekasi: pasukan yang diburu Belanda adalah pasukan yang terdesak dari Bekasi setelah Agresi Militer I, dan puisi yang lahir dari tragedi ini berjudul "Karawang-Bekasi". Artikel ini menelusuri kronologi, angka yang diperdebatkan, jalan panjang menuju pengadilan, dan kenapa warga Bekasi ikut memilikinya.

Papan nama dan bangunan utama Monumen Perjuangan Rawagede berbentuk kuncup melati di Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang
Monumen Perjuangan Rawagede di Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang, 2023. Foto: Ega Nugraha Susanto via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Apa yang Terjadi di Rawagede pada 9 Desember 1947?

Menurut kronologi yang dirangkum Kompas.com (2024) dari situs Kemendikbud, tentara Belanda tiba di Rawagede sekitar pukul empat pagi, 9 Desember 1947, setelah malam hujan deras. Warga yang keluar untuk memulai hari, petani, anak gembala, pedagang, dicegat dan disuruh pulang. Tak lama terdengar tembakan beruntun. Rumah digeledah satu per satu. Laki-laki dewasa disuruh keluar dengan tangan di atas kepala; yang melawan atau lari ditembak. Mereka yang tertangkap dikumpulkan di pekarangan, dibariskan membelakangi tentara, lalu ditanyai satu per satu: di mana Lukas?

Tidak ada yang menjawab. Menurut kesaksian yang sama, para laki-laki itu kemudian ditembak dari jarak sekitar tiga meter. Rumah-rumah yang ditemukan menyimpan lambang Republik atau badan kelaskaran dibakar, di antaranya rumah Lurah Suminta, Iyob Armada, dan Gouw Kim Wat. Penumpang kereta jurusan Karawang–Rengasdengklok yang terjebak di Stasiun Rawagede ikut jadi sasaran: mereka dibariskan di rel, disuruh jongkok, lalu ditembaki; saksi mata menyebut 62 orang tewas di sini. Sepanjang hari itu tidak ada yang berani keluar rumah. Baru keesokan harinya warga, hampir semuanya perempuan, mengurus dan menguburkan jenazah yang bergelimpangan di jalan, halaman, sawah, dan sungai.

Wikipedia bahasa Inggris menyebut pasukan Belanda yang datang berjumlah sekitar 100 orang di bawah komando Mayor Alphons J.H. Wijnen, dengan perintah "membersihkan" desa. Yang penting diingat soal tanggalnya: 9 Desember 1947 adalah satu hari setelah perundingan Indonesia–Belanda dibuka di atas kapal USS Renville, ditengahi Komisi Tiga Negara (Committee of Good Offices) bentukan PBB. Pembantaian ini terjadi ketika kedua pihak secara resmi sedang duduk di meja perundingan.

Siapa Kapten Lukas Kustario dan Kenapa Diburu?

Nama yang dicari tentara Belanda hari itu adalah Lukas Kustario (sering ditulis Kustaryo), kelahiran Magetan, 20 Oktober 1920. Tirto.id (Petrik Matanasi, 2020) dan Kompas.com mencatat ia bekas budancho (komandan regu) PETA yang pada masa revolusi menjadi komandan kompi di Batalyon Tajimalela, Divisi Siliwangi, di bawah Kolonel A.H. Nasution. Perawakannya kecil, tapi gesit dan penuh akal: ia dikenal menyamar memakai seragam Belanda untuk menyergap patroli, dan pernah membajak rangkaian kereta berisi persenjataan. Belanda menjulukinya "Begundal Karawang" dan menghargai kepalanya 10.000 gulden.

Tirto menempatkan kisah ini dalam konteks yang penting buat kita: setelah Bekasi jatuh ke tangan Belanda, Karawang menjadi basis Republik terdekat dari Jakarta. Pasukan Lukas beroperasi di koridor Karawang–Bekasi yang sama dengan laskar Hizbullah-Sabilillah pimpinan KH Noer Alie, dan justru di koridor inilah patroli Belanda paling sering disergap. Pada 9 Desember 1947 Lukas sendiri, menurut Kompas.com, bersembunyi di Desa Pasirawi, hanya sekitar dua kilometer dari Rawagede. Belanda tidak pernah mendapatkannya. Ia kemudian ikut menumpas pemberontakan Madiun 1948 dan RMS di Maluku, pensiun sebagai brigadir jenderal, dan sempat duduk di parlemen dari IPKI.

Satu hal yang perlu jujur kita akui: sumber-sumber Indonesia sering menyebut Rawagede sebagai "balas dendam" karena Belanda gagal menangkap Lukas. Itu tafsir yang masuk akal dan didukung kesaksian warga, tapi versi Belanda, seperti dirangkum Wikipedia EN, memakai bahasa perintah "membersihkan" desa dari pejuang Republik. Dua bingkai itu tidak saling meniadakan, hanya menunjukkan siapa yang bercerita.

Kaitan Rawagede dengan Bekasi: Satu Poros, Satu Perang

Kenapa media warga Bekasi menulis peristiwa yang secara administratif ada di Karawang? Karena sejak 1945 perang di timur Jakarta memang tidak mengenal batas kabupaten. Garis depan Republik bergeser dari Cakung ke Bekasi, ke Tambun, lalu ke Karawang. Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I pada 21 Juli 1947 (Belanda menyebutnya Operatie Product), pasukan mereka bergerak dari Batavia ke timur lewat Bekasi, Kranji, Cikarang, menuju Karawang dan Cikampek. Foto-foto Dinas Kontak Militer Belanda (DLC) koleksi Nationaal Archief merekam perjalanan itu, termasuk sebuah tabrakan kereta pada 24 Juli 1947 ketika lokomotif liar dilepaskan pihak Republik ke arah kereta yang mengawal gerak maju pasukan Belanda.

Lokomotif dan gerbong kereta terguling setelah tabrakan pada 24 Juli 1947, saat pasukan Belanda bergerak ke Karawang dalam Agresi Militer I
Agresi Militer I di poros Bekasi–Karawang: kereta pengawal pasukan Belanda ditabrak lokomotif liar yang dilepaskan pihak Republik, 24 Juli 1947 (arsip menyebut lokasi dekat Klari, Karawang; seri fotonya berjudul "tabrakan kereta di jembatan Kranji"). Foto: Fotograaf Onbekend / DLC, Nationaal Archief via Wikimedia Commons (CC0).

Setelah Bekasi dan Cikarang dikuasai Belanda, pejuang dari Bekasi tidak pulang, mereka mundur ke Karawang dan berubah jadi gerilyawan. Di situlah pasukan Siliwangi seperti kompi Lukas dan laskar Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah pimpinan KH Noer Alie, Singa Karawang-Bekasi, yang berkedudukan di Karawang, terus mengganggu pos-pos Belanda. Beberapa penulis biografi Noer Alie bahkan mengaitkan kemarahan Belanda di Rawagede dengan aksi ribuan bendera merah putih kertas yang ditancapkan warga atas perintahnya, meski ini tafsir biografis, bukan kesimpulan yang disepakati semua sejarawan.

Dan ada puisinya. Chairil Anwar menulis "Krawang-Bekasi" pada akhir 1940-an, tidak lama sebelum wafat pada April 1949, dengan suara para pejuang yang sudah gugur dan "terbaring antara Krawang-Bekasi". Wikipedia Indonesia menyebut Pembantaian Rawagede sebagai salah satu inspirasinya, dan penggalan puisi itu terpahat pada stela di belakang patung emas monumen. Tapi judulnya menyebut dua nama, bukan satu: Chairil membayangkan seluruh koridor, dari Sasak Kapuk dan Bekasi Lautan Api sampai Rawagede. Latar Bekasinya bisa kamu baca di artikel Pertempuran Bekasi 1945: Kali Bekasi, Lautan Api, Karawang-Bekasi.

431 atau 150? Angka yang Diperdebatkan

Angka korban Rawagede adalah contoh klasik dua versi sejarah yang hidup berdampingan.

  • Versi Indonesia: 431 orang. Ini angka yang dipakai Yayasan Rawagede, monumen, Wikipedia (ID dan EN), dan hampir semua media Indonesia. Kompas.com menjelaskan asalnya: perkiraan jumlah jenazah yang dikuburkan warga keesokan harinya, termasuk orang-orang yang tidak dikenal identitasnya (misalnya penumpang kereta). Sebagian jenazah juga hanyut terbawa banjir, sehingga angka pastinya memang tidak akan pernah diketahui.
  • Versi Belanda: sekitar 150 orang. Angka ini berasal dari Excessennota, laporan resmi pemerintah Belanda tahun 1969 tentang "ekses" kekerasan tentaranya di Indonesia 1945–1949. Sumber-sumber Indonesia dan Wikipedia menyebut laporan itu hanya mengakui sekitar 150 korban.

Yang jarang disebut: pihak internasional sudah mengecam peristiwa ini sejak awal. Komisi Tiga Negara PBB dalam laporannya pada Januari 1948 menyebut tindakan Belanda di Rawagede "deliberate and ruthless" (disengaja dan kejam), tapi tidak ada sanksi dan tidak ada proses pidana, walaupun menurut Wikipedia EN Jenderal Spoor sendiri sempat merekomendasikan penyelidikan terhadap Mayor Wijnen. Tidak seorang pun pernah diadili.

Gugatan KUKB dan Putusan Den Haag 2011

Yang membuat Rawagede berbeda dari banyak pembantaian lain adalah ujungnya di pengadilan. Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB), organisasi berbasis di Belanda yang dipimpin Jeffry Pondaag, mendampingi para janda Rawagede menggugat negara Belanda. Penggugatnya adalah para janda korban (sumber menyebut antara tujuh sampai sembilan orang), seorang anak korban, dan keluarga Saih bin Sakam, satu-satunya penyintas yang selamat dari barisan eksekusi. Investigasi wartawan Belanda Arnold Karskens ikut membuka mata publik di sana.

Pemerintah Belanda berlindung di balik argumen kedaluwarsa (verjaring): peristiwanya sudah lebih dari enam puluh tahun. Pada 14 September 2011, Rechtbank 's-Gravenhage (Pengadilan Distrik Den Haag) menolak argumen itu; menurut rangkuman KUKB, hakim menilai pembelaan kedaluwarsa "tidak dapat diterima" mengingat beratnya peristiwa, dan menyatakan negara Belanda bertanggung jawab serta wajib membayar ganti rugi. Kompas.com menyebut hakim ketuanya D.A. Schreuder. Kementerian Luar Negeri RI menyambut putusan itu sebagai pemenuhan rasa keadilan.

Ganti ruginya, menurut Wikipedia EN, disepakati sebesar 20.000 euro per penggugat; media Indonesia mengonversinya ke sekitar Rp220–244 juta per orang. Lalu pada 9 Desember 2011, tepat 64 tahun setelah pembantaian, Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan datang ke kompleks pemakaman di Balongsari dan, dalam bahasa Inggris dan Indonesia, menyampaikan permintaan maaf atas nama pemerintah Belanda untuk tragedi Rawagede 9 Desember 1947. Sebagian janda yang menang di pengadilan sudah berusia di atas 80 tahun ketika mendengarnya.

Setelah Rawagede: dari Sulawesi sampai Rutte

Putusan Rawagede membuka pintu. Pada 12 September 2013 De Zwaan kembali meminta maaf, kali ini untuk eksekusi massal pasukan Westerling di Sulawesi Selatan 1946–1947. Dan pada 17 Februari 2022, setelah penelitian besar lembaga-lembaga sejarah Belanda menyimpulkan tentaranya melakukan kekerasan ekstrem secara sistematis, Perdana Menteri Mark Rutte menyampaikan permintaan maaf terdalam kepada rakyat Indonesia atas kekerasan sistematis dan ekstrem pada 1945–1949. Jalan itu dimulai dari sembilan janda di sebuah desa di Karawang.

Monumen Perjuangan Rawagede dan Makam Sampurna Raga

Monumen di Jalan Monumen Rawagede No. 2, Balongsari, mulai dibangun November 1995 dan diresmikan 12 Juli 1996, dikelola Yayasan Rawagede pimpinan K. Sukarman. Setiap unsurnya diberi makna: bangunan utama berbentuk kuncup melati yang belum mekar, puncak piramida setinggi 5 meter terbagi empat untuk angka 1945, 17 anak tangga untuk tanggal 17 Agustus, dan lantai dasar segi delapan untuk bulan Agustus. Di dalamnya ada diorama pembantaian, di dinding luar relief perjuangan rakyat Karawang, dan di lantai atas patung emas seorang ibu memeluk jasad suami dan anaknya, yang sering diidentifikasi sebagai kakak-beradik Adul dan Atung. Di belakang patung, stela dengan penggalan "Karawang-Bekasi".

Di bagian belakang terhampar Taman Makam Pahlawan Sampurna Raga, tempat sekitar 181 korban dimakamkan dengan nama masing-masing. Setiap 9 Desember warga dan keluarga korban menggelar peringatan di sini. Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat menyebut monumen ini "simbol kesedihan, pengorbanan, dan harapan", dan Detik menyebutnya dark heritage, warisan yang menyimpan luka. Dari Bekasi, tempat ini bisa dicapai lewat Tol Jakarta–Cikampek keluar Karawang Barat lalu ke arah Rengasdengklok, kira-kira satu jam perjalanan.

Fakta Singkat

  • Tanggal dan tempat: 9 Desember 1947, Kampung Rawagede, kini Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, ±7 km utara Kota Karawang.
  • Konteks: pasca Agresi Militer I (21 Juli–5 Agustus 1947); sehari setelah perundingan Renville dibuka (8 Desember 1947).
  • Pelaku dan target: ±100 tentara Belanda di bawah Mayor Alphons Wijnen, memburu Kapten Lukas Kustario (Batalyon Tajimalela, Siliwangi), hadiah 10.000 gulden.
  • Korban: 431 (versi Indonesia, jumlah jenazah yang dikuburkan) vs ±150 (Excessennota Belanda, 1969); 62 di antaranya penumpang kereta di Stasiun Rawagede.
  • Putusan: Pengadilan Distrik Den Haag, 14 September 2011; negara Belanda bertanggung jawab, argumen kedaluwarsa ditolak; ganti rugi 20.000 euro per penggugat.
  • Permintaan maaf: Dubes Tjeerd de Zwaan di Balongsari, 9 Desember 2011; disusul permintaan maaf untuk Sulawesi Selatan (2013) dan PM Mark Rutte (17 Februari 2022).
  • Monumen: dibangun November 1995, diresmikan 12 Juli 1996; TMP Sampurna Raga berisi ±181 makam.

Pertanyaan Umum Seputar Peristiwa Rawagede

Apakah Rawagede berada di Bekasi?

Tidak. Rawagede, kini Desa Balongsari, berada di Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, sekitar 7 km di utara Kota Karawang. Namun peristiwanya bagian dari rangkaian perang di poros Karawang–Bekasi 1945–1947, karena pasukan yang diburu Belanda adalah pasukan Republik yang terdesak dari Bekasi setelah Agresi Militer I.

Berapa jumlah korban Pembantaian Rawagede?

Versi Indonesia menyebut 431 orang, berdasarkan perkiraan jenazah yang dikuburkan warga keesokan harinya termasuk yang tak dikenal. Laporan resmi Belanda Excessennota tahun 1969 hanya mengakui sekitar 150 korban. Angka pastinya tidak akan pernah diketahui karena sebagian jenazah hanyut terbawa banjir.

Siapa Lukas Kustario?

Lukas Kustario (lahir Magetan, 1920) adalah komandan kompi Batalyon Tajimalela, Divisi Siliwangi, bekas budancho PETA kelahiran Magetan. Ia dijuluki "Begundal Karawang" oleh Belanda karena sering menyamar dan menyergap patroli di poros Karawang–Bekasi. Belanda gagal menangkapnya, dan ia kemudian pensiun sebagai brigadir jenderal.

Apa isi putusan pengadilan Den Haag 2011?

Pada 14 September 2011 Pengadilan Distrik Den Haag menolak argumen kedaluwarsa pemerintah Belanda, menyatakan negara Belanda bertanggung jawab atas eksekusi di Rawagede, dan mewajibkan ganti rugi kepada para penggugat, yaitu para janda korban, seorang anak korban, dan keluarga satu-satunya penyintas. Ganti ruginya disepakati 20.000 euro per orang.

Kapan Belanda meminta maaf untuk Rawagede?

Pada 9 Desember 2011, tepat 64 tahun setelah pembantaian, Duta Besar Belanda Tjeerd de Zwaan menyampaikan permintaan maaf resmi atas nama pemerintah Belanda di kompleks pemakaman Balongsari. Ini permintaan maaf resmi pertama Belanda untuk satu peristiwa spesifik pada masa 1945–1949.

Apa hubungan Rawagede dengan puisi "Karawang-Bekasi"?

Puisi "Krawang-Bekasi" karya Chairil Anwar ditulis pada akhir 1940-an dengan suara para pejuang yang gugur di antara Karawang dan Bekasi. Wikipedia Indonesia menyebut Pembantaian Rawagede sebagai salah satu inspirasinya, dan penggalan puisi itu terpahat di stela monumen, meski judulnya merujuk pada seluruh koridor pertempuran 1945–1947.

Sumber & Referensi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia, "Pembantaian Rawagede" dan "Monumen Perjuangan Rawagede" (diakses 2026). id.wikipedia.org
  2. Wikipedia (EN), "Rawagede massacre" (diakses 2026). en.wikipedia.org
  3. Kompas.com, "Mengenang Tragedi Rawagede 9 Desember 1947, Mengapa Lukas Kustaryo Diburu Militer Belanda?" (9 Desember 2024). kompas.com
  4. Petrik Matanasi, "Karena Tak Mendapatkan Lukas, Belanda Membantai Penduduk Rawagede", Tirto.id (2020). tirto.id
  5. KUKB, "Vonnis uitspraak Rawagede-rechtszaak 14 september 2011". kukb.nl
  6. Kompas.com, "Deretan Permintaan Maaf Belanda kepada Indonesia" (18 Februari 2022). kompas.com
  7. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat (Kemendikbud), "Monumen Perjuangan Rawagede: Simbol Sejarah Kesedihan, Pengorbanan, dan Harapan" (2025). kebudayaan.kemdikbud.go.id
  8. Wikipedia bahasa Indonesia, "Agresi Militer Belanda I" (diakses 2026); Nationaal Archief / Wikimedia Commons, seri foto DLC "Treinbotsing bij de brug te Krantji" (Juli 1947). commons.wikimedia.org

Rawagede mengingatkan kita bahwa sejarah Bekasi tidak berhenti di batas kabupaten. Para pejuang yang gugur di sana banyak yang berangkat dari kampung-kampung kita. Kalau kakek atau nenekmu punya cerita tentang masa gerilya Karawang–Bekasi, atau keluargamu pernah ziarah ke Balongsari, tulis di kolom komentar atau kirim ke redaksi Planet Bekasi. Cerita-cerita seperti ini kita simpan di label Asal Usul, supaya yang terbaring antara Karawang dan Bekasi tidak jadi sekadar nama di batu.

Posting Komentar