Pertempuran Bekasi 1945: Kali Bekasi, Lautan Api, Karawang-Bekasi
Setiap 17 Agustus, spanduk "Kota Patriot" bertebaran di Bekasi. Tapi coba tanya, patriot yang mana, dan pertempuran apa yang membuat Bekasi pantas menyandang julukan itu? Kebanyakan dari kita cuma ingat samar-samar ada "Bekasi Lautan Api", entah kapan dan kenapa.
Jawabannya ada di beberapa bulan yang gila pada akhir 1945. Pada 19 Oktober 1945, sekitar 90 tentara Jepang dibantai di tepi Kali Bekasi. Pada 23 November 1945, pesawat Dakota Inggris mendarat darurat di Rawa Gatel, Cakung, dan seluruh 25 orang di dalamnya dibunuh laskar. Inggris membalas: pertempuran pecah di Sasak Kapuk, Pondok Ungu, 29 November 1945, dan pada 13 Desember 1945 pasukan Inggris-India membakar kota Bekasi, sekitar 600 rumah hangus. Peristiwa inilah yang dikenal sebagai Bekasi Lautan Api, dan bersama pertempuran-pertempuran di garis Bekasi–Karawang hingga 1947, menjadi latar puisi Chairil Anwar "Karawang-Bekasi".
Artikel ini merangkai peristiwa-peristiwa itu secara urut, siapa saja pelakunya, mana yang masih diperdebatkan sejarawan, dan di mana tugu-tugu peringatannya bisa kamu kunjungi hari ini.

Kenapa Bekasi Jadi Medan Perang pada 1945?
Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, kekuasaan di sekitar Jakarta praktis kosong. Jepang sudah kalah, Sekutu belum datang. Di ruang kosong itu bermunculan laskar-laskar pemuda: Laskar Hizbullah, Barisan Banteng Hitam, Barisan Rakyat, dan kelompok-kelompok jawara yang menguasai kampungnya masing-masing. Robert Cribb dalam Gangsters and Revolutionaries (1991) menggambarkan Bekasi dan Cakung sebagai wilayah para jago yang punya "pemerintahan" sendiri, sering kali lebih ditakuti daripada tentara resmi.
Tentara Inggris (dengan pasukan India) mendarat di Jakarta pada September 1945. Awalnya hubungan mereka dengan Republik lumayan baik, tapi memburuk setelah bentrok dengan para pemuda dan setelah tentara Belanda (KNIL) ikut menumpang masuk. Pada 19 November 1945, Perdana Menteri Sutan Sjahrir memerintahkan TKR dan laskar mundur dari Jakarta ke daerah sekitarnya. Bekasi, kota kecil berpenduduk sekitar 10.000 orang saat itu, pun jadi garis depan: batas antara Jakarta yang dikuasai Sekutu dan wilayah Republik di timur. Bekasi adalah pintu gerbang yang harus dijaga, apa pun risikonya.
Peristiwa Kali Bekasi, 19 Oktober 1945: Kali yang Berubah Merah
Sebelum urusan dengan Inggris, ada tragedi yang melibatkan Jepang. Menurut Historia.id dan Tirto.id, yang mengutip buku Ali Anwar tentang KH Noer Alie dan Robert Cribb, pada 19 Oktober 1945 sebuah kereta api berangkat dari Jakarta membawa personel kaigun (Angkatan Laut Jepang) menuju Kalijati, Subang, untuk dipulangkan ke negerinya. Di Stasiun Bekasi, kereta itu dihadang laskar rakyat yang dipimpin Letnan Dua Zakaria Burhanuddin, wakil komandan TKR Bekasi, dengan peran besar jawara setempat Haji Jole.
Setelah ditemukan senjata tersembunyi dan terjadi tembak-menembak yang menewaskan komandan Jepang, sekitar 90 tentara Jepang dilucuti, digiring ke tepi Kali Bekasi, lalu dibunuh. Jenazahnya dibuang ke sungai, yang menurut cerita warga airnya berubah merah. Laksamana Maeda, perwira penghubung Jepang yang dulu menyediakan rumahnya untuk penyusunan naskah proklamasi, marah besar dan memprotes resmi ke pemerintah RI. Tragedi ini biasa disebut Peristiwa Kali Bekasi. Hari ini ia diperingati dengan Monumen Kali Bekasi di Jalan Ir. H. Juanda, dekat jembatan yang menghubungkan Bekasi Selatan dan Bekasi Timur; menurut situs Pemkot Bekasi monumen ini dibangun atas kerja sama Bekasi dan Jepang sebagai pesan perdamaian. Kereta dan stasiun yang jadi panggung peristiwa ini kita ulas terpisah dalam artikel Sejarah Stasiun Bekasi.
Pesawat Dakota Jatuh di Rawa Gatel, 23 November 1945
Sebulan kemudian, giliran Inggris. Pada 23 November 1945, sebuah pesawat angkut Dakota (C-47) milik Royal Air Force mengalami kerusakan mesin dan mendarat darurat di Rawa Gatel, Cakung, di perbatasan Jakarta–Bekasi. Menurut Tirto.id, pesawat itu membawa 25 orang: lima awak RAF dan 20 prajurit India. Keterangan foto resmi Imperial War Museums menyebut korban sebagai "lima anggota RAF dan dua puluh prajurit Maratha", sedangkan A.H. Nasution dalam memoarnya menulis 26 orang. Angka pastinya memang sedikit berbeda antarsumber.
Yang jelas, semua penumpang selamat dari pendaratan, tapi tidak dari apa yang terjadi sesudahnya. Versi Wikipedia Indonesia, yang merangkum Nasution dan sejarawan Inggris Richard McMillan, kira-kira begini: warga desa berkerumun di sekitar pesawat, tentara Inggris melepaskan tembakan peringatan, kerumunan dan laskar balik menyerang dan menangkap mereka. Para tawanan rencananya diserahkan ke TKR, tetapi semuanya dieksekusi sebelum sampai ke markas, dalam kata-kata Nasution "entah oleh siapa". McMillan menyebut pelakunya anggota Barisan Banteng Hitam dan eksekusi terjadi sekitar 26–27 November. Ketika regu penjemput Inggris tiba keesokan harinya, bangkai pesawat sudah hangus dan mereka menemukan jenazah yang dimutilasi. Panglima Sekutu di Jawa, Letnan Jenderal Philip Christison, langsung mengeluarkan ultimatum: kembalikan seluruh awak dalam 24 jam.
Pertempuran Sasak Kapuk, Pondok Ungu, 29 November 1945
Ultimatum tidak dijawab. Pada 29 November 1945, konvoi besar Inggris, terutama dari Resimen Punjab ke-16 dengan dukungan tank, bergerak dari Jakarta menuju Bekasi lewat jalan raya Pondok Ungu. Di jembatan Sasak Kapuk, konvoi itu dihadang sekitar 100 orang Laskar Hizbullah pimpinan KH Noer Alie, sebagian bersenjata senapan, sebagian lagi golok dan bambu runcing. Selain Hizbullah, Tirto.id menyebut kelompok lain yang bergabung di garis Bekasi–Cakung: Madmuin Hasibuan dari TKR Laut, pendekar silat Ama Puradiredja, serta H. Maksum dan H. Darip dari Barisan Rakyat.
Hasilnya timpang. Setelah baku tembak, Hizbullah mundur dengan sekitar 30 orang gugur, 20 luka-luka, dan 15 tertawan. Laporan Inggris hanya mencatat satu prajurit India terluka. Tapi Sasak Kapuk jadi legenda karena inilah kali pertama santri-santri Noer Alie berhadapan langsung dengan tank. Dari sinilah gelar "Singa Karawang-Bekasi" mulai melekat, cerita lengkapnya bisa kamu baca dalam artikel KH Noer Alie, Singa Karawang-Bekasi. Pasukan Inggris lalu masuk Bekasi, menghadapi perlawanan Barisan Banteng Hitam yang menurut laporan Inggris "semuanya tewas", dan setelah diberi tahu seorang bekas tahanan keturunan Ambon, mereka menemukan jenazah-jenazah awak Dakota di pinggir sungai. Sekitar 200 rumah di dekat lokasi pesawat jatuh dibakar saat itu juga.

Bekasi Lautan Api, 13 Desember 1945
Setelah nasib awak Dakota diketahui, Christison memerintahkan Bekasi dibumihanguskan. Operasi pembalasan diluncurkan 13 Desember 1945. Sejak fajar, kota dibombardir pesawat tempur De Havilland Mosquito dan meriam 25-pounder, lalu pasukan darat masuk membakar rumah demi rumah. Warga sipil dan prajurit TKR sudah lebih dulu mengungsi, sehingga korban jiwa relatif kecil, tetapi sekitar 600 rumah hangus, termasuk puluhan rumah warga Tionghoa yang dievakuasi dulu oleh Inggris. Sebelum pergi, tentara Inggris memasang jebakan dan ranjau di gedung-gedung pemerintah, yang hari itu juga dibersihkan TKR ketika kembali.
Historia.id (2018) merekam kesaksian veteran Edi B. Somad, yang saat diwawancara berusia 90 tahun. Ia mengenang tangsi polisi di alun-alun dihantam, dan kawasan Kayuringin, Pasar Bekasi, Kampung Duaratus, sampai Kampung Tugu nyaris rata jadi debu, dengan rumah-rumah yang disiram bensin sebelum dibakar. Inggris bergerak dari garis demarkasi Cakung sampai Gedung Tinggi di Tambun, yang kini kita kenal sebagai Gedung Juang Tambun.
Dikecam sampai ke London
Pembakaran Bekasi bukan cuma memicu kemarahan Sjahrir, tapi juga jadi berita buruk di Barat. Atasan Christison, Laksamana Louis Mountbatten, menyatakan kecewa karena tidak diberi tahu lebih dulu, dan dalam laporan resminya kemudian menulis bahwa pembalasan memang tak terhindarkan, tetapi tidak sepantasnya dilakukan dengan berdarah dingin. Karena itulah Bekasi Lautan Api sering disandingkan dengan Bandung Lautan Api pada Maret 1946, bedanya, Bandung dibakar oleh pejuangnya sendiri, sedangkan Bekasi dibakar oleh Sekutu.
Dari Bekasi ke Karawang: Latar Puisi "Karawang-Bekasi"
Perang di Bekasi tidak berhenti pada Desember 1945. Sepanjang 1946 garis Cakung–Bekasi–Tambun terus jadi ajang bentrok, dan setelah Agresi Militer Belanda I (Juli 1947) para pejuang terdesak ke timur, ke arah Karawang. Di sanalah pada 9 Desember 1947 terjadi Pembantaian Rawagede: tentara Belanda mengeksekusi penduduk laki-laki desa Rawagede (kini Balongsari, Karawang), dengan korban yang menurut versi Indonesia mencapai 431 orang, sementara laporan resmi Belanda tahun 1969 menyebut sekitar 150. Pada 2012, pengadilan Den Haag menyatakan pemerintah Belanda bertanggung jawab atas peristiwa ini.
Rangkaian pertempuran dan pembantaian di sepanjang poros Bekasi–Karawang inilah yang jadi latar puisi paling terkenal Chairil Anwar setelah "Aku": "Karawang-Bekasi" (dalam ejaan asli "Krawang-Bekasi"), ditulis pada akhir 1940-an, tidak lama sebelum penyair itu meninggal pada April 1949. Puisi ini bertutur dari sudut pandang para pejuang yang sudah gugur dan terbaring di antara Karawang dan Bekasi. Mereka tidak bisa lagi berteriak "merdeka", tulang-tulang mereka berserakan, tetapi mereka minta agar yang masih hidup melanjutkan perjuangan dan menjaga agar pengorbanan itu tidak sia-sia. Baris pembukanya yang termasyhur berbunyi "Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi" (Chairil Anwar, "Krawang-Bekasi").
Ada catatan penting soal puisi ini. H.B. Jassin, kritikus yang menobatkan Chairil sebagai pelopor Angkatan '45, dalam tulisannya "Karya Asli, Saduran, dan Plagiat" di Mimbar Indonesia membahas kemiripan "Karawang-Bekasi" dengan puisi Archibald MacLeish "The Young Dead Soldiers Do Not Speak". Jassin tidak menganggapnya sebagai jiplakan, melainkan saduran yang diberi napas Indonesia, karena konteks Karawang-Bekasi-nya asli milik Chairil. Perlu juga diluruskan: puisi ini tidak merujuk satu peristiwa tunggal. Sebagian penulis mengaitkannya khusus dengan Rawagede, tetapi judulnya sendiri menunjukkan Chairil membayangkan seluruh koridor Bekasi–Karawang tempat pejuang bergelimpangan sejak 1945.
Tugu dan Monumen Peringatan yang Bisa Kamu Kunjungi
Bekasi menyimpan beberapa penanda dari masa itu, dan hampir semuanya bisa dijangkau dalam satu sore:
- Tugu Agus Salim (Tugu Perjuangan) di simpang Jalan KH Agus Salim, Bekasi Timur. Tugu batu ini bertatahkan pecahan peluru meriam, mortir, granat tangan, dan selongsong peluru 12,7 mm yang dikumpulkan dari medan pertempuran di sekitar Bekasi dan Cakung. Situs Pemkot Bekasi menyebutnya sebagai pengingat perlawanan terhadap Belanda dan Sekutu saat Bekasi Lautan Api, Desember 1945.
- Monumen Perjuangan Rakyat (Monumen Alun-alun) di Jalan Veteran, depan Polres Metro Bekasi Kota. Tugu segi lima dari batu ini dibangun 5 Juli 1955 untuk memperingati 10 tahun proklamasi sekaligus 5 tahun Kabupaten Bekasi, mengenang perlawanan pemuda Bekasi terhadap Sekutu dan NICA pada 1945 serta rapat akbar rakyat Bekasi pada awal 1950.
- Monumen Kali Bekasi di Jalan Ir. H. Juanda, dekat jembatan Kali Bekasi, mengenang Peristiwa Kali Bekasi 19 Oktober 1945. Relief serupa juga terpahat di dinding Taman Makam Pahlawan Bekasi.
- Tugu Perjuangan Lima Pilar (dibangun masa Bupati Abdul Fatah, 1975) dengan lima menara berbentuk bambu runcing setinggi 17 meter dan relief empat babak sejarah: penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, dan masa pembangunan.
- Gedung Juang Tambun (Gedung Tinggi), bekas rumah tuan tanah yang jadi markas pejuang dan titik terjauh gerak maju Inggris pada Desember 1945; kini museum.
Fakta Singkat
- 19 Oktober 1945: Peristiwa Kali Bekasi, sekitar 90 tentara Jepang dibunuh di tepi Kali Bekasi setelah keretanya dihadang di Stasiun Bekasi.
- 23 November 1945: Pesawat Dakota RAF mendarat darurat di Rawa Gatel, Cakung; 25 orang di dalamnya (5 awak RAF, 20 prajurit India) dibunuh laskar; Nasution menyebut 26.
- 29 November 1945: Pertempuran Sasak Kapuk, Pondok Ungu; sekitar 100 Laskar Hizbullah pimpinan KH Noer Alie menghadang konvoi Resimen Punjab ke-16; 30 gugur, 20 luka, 15 tertawan.
- 13 Desember 1945: Bekasi Lautan Api, sekitar 600 rumah dibakar pasukan Inggris-India atas perintah Letjen Philip Christison; dikecam Sjahrir dan disesalkan Mountbatten.
- 9 Desember 1947: Pembantaian Rawagede, Karawang; korban 431 (versi Indonesia) atau sekitar 150 (versi Belanda).
- Puisi "Krawang-Bekasi": karya Chairil Anwar (1922–1949), ditulis akhir 1940-an; disebut Jassin sebagai saduran dari puisi Archibald MacLeish.
- Monumen: Tugu Agus Salim, Monumen Alun-alun (1955), Monumen Kali Bekasi, Tugu Perjuangan Lima Pilar (1975), Gedung Juang Tambun.
Pertanyaan Umum Seputar Pertempuran Bekasi 1945
Apa itu Bekasi Lautan Api dan kapan terjadi?
Bekasi Lautan Api adalah pembakaran kota Bekasi oleh pasukan Inggris-India pada 13 Desember 1945 sebagai pembalasan atas pembunuhan awak pesawat Dakota yang mendarat darurat di Cakung. Sekitar 600 rumah hangus setelah kota dibombardir pesawat Mosquito dan artileri sejak fajar.
Apa bedanya Peristiwa Kali Bekasi dengan peristiwa pesawat Dakota?
Peristiwa Kali Bekasi (19 Oktober 1945) adalah pembunuhan sekitar 90 tentara Jepang di tepi Kali Bekasi setelah kereta mereka dihadang laskar. Peristiwa Dakota (23 November 1945) adalah pembunuhan 25 awak dan penumpang pesawat Inggris di Rawa Gatel, Cakung, yang memicu Bekasi Lautan Api. Keduanya sering tertukar karena sama-sama terjadi di Bekasi pada akhir 1945.
Siapa yang memimpin pertempuran Sasak Kapuk?
Laskar Hizbullah pimpinan KH Noer Alie menghadang konvoi Inggris di jembatan Sasak Kapuk, Pondok Ungu, pada 29 November 1945. Sekitar 100 laskar bersenjata seadanya menghadapi Resimen Punjab ke-16 yang didukung tank; 30 orang gugur di pihak Hizbullah.
Apakah puisi "Karawang-Bekasi" Chairil Anwar tentang Bekasi Lautan Api?
Tidak secara khusus. Puisi itu berbicara atas nama para pejuang yang gugur di sepanjang poros Karawang–Bekasi selama revolusi 1945–1947, termasuk korban Pembantaian Rawagede. Menurut H.B. Jassin, puisi ini merupakan saduran dari "The Young Dead Soldiers Do Not Speak" karya Archibald MacLeish yang diberi konteks Indonesia.
Di mana lokasi tugu peringatan Bekasi Lautan Api?
Tugu Agus Salim di simpang Jalan KH Agus Salim, Bekasi Timur, adalah penanda utamanya, dengan hiasan selongsong peluru dan pecahan granat dari medan pertempuran. Monumen Perjuangan Rakyat di Alun-alun Bekasi (Jalan Veteran) dan Gedung Juang Tambun juga berkaitan dengan periode yang sama.
Kenapa Bekasi disebut Kota Patriot?
Julukan itu merujuk pada peran Bekasi sebagai garis depan pertahanan Republik di timur Jakarta pada 1945–1949, dari Sasak Kapuk, Bekasi Lautan Api, sampai pertempuran-pertempuran di Kranji dan Tambun yang jadi latar puisi "Karawang-Bekasi".
Sumber & Referensi
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Bekasi Lautan Api" (diakses 2026), merangkum McMillan (2006), Cribb (1991), Nasution, dan Mountbatten (1969). id.wikipedia.org
- Abi Mu'ammar Dzikri, "Awak Pesawat Dakota Dimutilasi, Bekasi Jadi Lautan Api", Tirto.id (2025). tirto.id
- Randy Wirayudha, "Bekasi Lautan Api di Mata Dua Saksi", Historia.id (2018). historia.id
- Hendi Jo, "Saat Kali Bekasi Berwarna Merah", Historia.id. historia.id
- Abi Mu'ammar Dzikri, "Di Kali Bekasi, Tentara Jepang Dibantai atas Nama Kemerdekaan", Tirto.id (2025). tirto.id
- Pemerintah Kota Bekasi, "Bangunan Bersejarah" (diakses 2026); Disparbud Kota Bekasi, "Monumen Perjuangan Rakyat (Alun-alun Bekasi)". bekasikota.go.id
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Chairil Anwar" dan "Pembantaian Rawagede" (diakses 2026). id.wikipedia.org
- Imperial War Museums, foto SE 6050 "The British Occupation of Java" (Desember 1945), via Wikimedia Commons. commons.wikimedia.org
Delapan puluh tahun setelah asap Bekasi Lautan Api hilang, yang tersisa adalah tugu-tugu kecil yang sering kita lewati tanpa menoleh. Kalau kakek-nenekmu pernah cerita soal mengungsi ke Tambun atau Cikarang pada Desember 1945, atau di kampungmu ada makam pejuang yang tak tercatat, kirim ceritanya ke redaksi Planet Bekasi. Kisah-kisah seperti ini kita simpan di label Asal Usul, supaya "Kota Patriot" bukan sekadar tulisan di spanduk.
Posting Komentar