Prasasti Tugu dan Jejak Tarumanegara di Bekasi
Sekitar 1.500 tahun lalu, jauh sebelum ada Kalimalang dan tol Jakarta–Cikampek, seorang raja di pesisir utara Jawa Barat memerintahkan penggalian sungai sepanjang belasan kilometer, selesai dalam tiga minggu, lalu merayakannya dengan menghadiahkan seribu ekor sapi. Cerita ini nggak datang dari dongeng, tapi dari sebuah batu bulat telur yang ditemukan di Tugu, hanya beberapa kilometer dari perbatasan Bekasi hari ini.
Prasasti Tugu adalah prasasti terpanjang peninggalan Kerajaan Tarumanegara, dibuat pada tahun ke-22 pemerintahan Raja Purnawarman (diperkirakan pertengahan abad ke-5 Masehi). Isinya mencatat penggalian dua sungai, Candrabhaga dan Gomati, untuk mengatasi banjir dan mengairi sawah. Prasasti ini ditemukan di Kampung Batutumbuh, Desa Tugu (kini Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara), dan sejak 1911 disimpan di Museum Nasional Indonesia. Dari nama sungai Candrabhaga inilah, menurut sebagian ahli, nama "Bekasi" berasal.
Artikel ini membahas apa sebenarnya isi Prasasti Tugu, siapa Purnawarman, di mana letak sungai yang digalinya, dan jejak Tarumanegara serta pendahulunya yang tersebar di sekitar Bekasi, dari Buni di Babelan sampai candi-candi tua di Batujaya.

Apa Itu Prasasti Tugu dan Di Mana Ditemukan?
Prasasti Tugu dipahat pada batu berbentuk bulat telur berukuran kira-kira satu meter. Tulisannya memakai aksara Pallawa dalam bahasa Sanskerta, disusun sebagai seloka dengan metrum Anustubh, terdiri dari lima baris yang melingkar mengikuti permukaan batu. Ada satu ciri unik: pahatan hiasan tongkat yang ujungnya berbentuk semacam trisula, dipahat tegak memanjang seakan jadi pembatas antara awal dan akhir kalimat.
Lokasi temuannya di Kampung Batutumbuh, Desa Tugu, sekarang masuk Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, tidak jauh dari tepian Kali Cakung dan kawasan Simpang Lima Semper. Keberadaannya tercatat pertama kali dalam laporan Notulen Bataviaasch Genootschap tahun 1879. Pada 1911, atas prakarsa P. de Roo de la Faille, batu itu dipindahkan ke Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yang sekarang jadi Museum Nasional Indonesia, dengan nomor inventaris D.124.
Seperti prasasti Tarumanegara lainnya, Prasasti Tugu tidak mencantumkan tahun. Penanggalannya ditentukan lewat analisis bentuk huruf (paleografi), yang menempatkannya di pertengahan abad ke-5 Masehi. Menariknya, bentuk aksaranya sangat mirip dengan Prasasti Cidanghiang di Pandeglang, Banten, sehingga para ahli menduga pemahatnya (citralekha) adalah orang yang sama.
Isi Prasasti Tugu: Dua Sungai, 21 Hari, dan 1.000 Ekor Sapi
Terjemahan yang lazim dikutip (antara lain di Wikipedia bahasa Indonesia, merujuk kajian J.Ph. Vogel awal abad ke-20 dan para ahli sesudahnya) bisa diringkas begini:
- Candrabhaga. Dahulu sungai bernama Candrabhaga digali oleh maharaja yang mulia dan berlengan kuat, Purnawarman, untuk dialirkan ke laut setelah salurannya melewati istana kerajaan yang termasyhur. Sebagian pembacaan menyebut penggalian Candrabhaga dilakukan oleh Rajadirajaguru, gelar yang ditafsirkan sebagai leluhur atau pendahulu Purnawarman.
- Gomati. Pada tahun ke-22 takhtanya, Purnawarman memerintahkan penggalian sungai yang permai dan berair jernih bernama Gomati, yang mengalir melintasi tanah kediaman "Sang Pendeta Nenekda" sang raja.
- Waktu dan ukuran. Pekerjaan dimulai pada tanggal 8 paruh gelap bulan Phalguna dan selesai pada tanggal 13 paruh terang bulan Caitra, jadi hanya 21 hari. Panjang galiannya 6.122 busur (dhanus).
- Selamatan. Upacara penutup dipimpin para brahmana dengan hadiah 1.000 ekor sapi.
Berapa panjang 6.122 busur? Satu dhanus biasanya diperkirakan sekitar 1,8 meter, sehingga banyak sumber menyebut angka sekitar 11 km. Noorduyn dan Verstappen (1972) menghitung sekitar 11 km, atau bisa sampai 19 km tergantung tafsiran satuannya, dan mereka lebih condong ke 11 km. Angka 21 hari untuk galian sepanjang itu menunjukkan pengerahan tenaga kerja dalam jumlah besar, yang artinya kerajaan ini sudah punya organisasi sosial yang rapi.
Kenapa raja repot-repot menggali sungai?
Dataran rendah pesisir dari Jakarta sampai Bekasi sejak dulu langganan banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Penggalian dan pelurusan sungai adalah jawaban teknik sipil zaman itu: air banjir dialirkan lebih cepat ke laut, sekaligus membuka lahan basah jadi sawah dan jalur transportasi. Kalau hari ini kamu lihat Kali Bekasi meluap di Pondok Gede Permai atau proyek normalisasi sungai di Jakarta, ingat bahwa "proyek pengendalian banjir" di kawasan ini sudah berumur 1.500 tahun.
Siapa Purnawarman dan Kerajaan Tarumanegara?
Tarumanegara (atau Tarumanagara) adalah kerajaan bercorak Hindu tertua kedua di Nusantara yang punya bukti arkeologis, setelah Kutai di Kalimantan Timur. Kerajaan ini berkuasa di Jawa bagian barat sekitar abad ke-5 sampai ke-7 Masehi. Buktinya ada tujuh prasasti: Ciaruteun, Kebon Kopi, Jambu, Pasir Awi, dan Muara Cianten di sekitar Bogor; Tugu di Jakarta Utara; dan Cidanghiang di Banten. Hampir semuanya menyebut satu nama raja: Purnawarman.
Dari prasasti-prasasti itu, Purnawarman digambarkan sebagai raja gagah berani yang telapak kakinya disamakan dengan telapak kaki Dewa Wisnu, penanda bahwa ia penganut Hindu aliran Waisnawa. Catatan Tiongkok melengkapinya: biksu Fa Hsien singgah di Jawa pada 414 M dan menyebut di "Ye-po-ti" banyak brahmana tapi sedikit penganut Buddha. Kronik dinasti-dinasti Tiongkok juga mencatat utusan dari kerajaan "To-lo-mo" (dibaca sebagai Taruma) antara 528 sampai 669 M.
Soal tahun pemerintahan Purnawarman yang sering dikutip, yaitu 395–434 M, perlu dicatat bahwa angka ini bersumber dari Naskah Wangsakerta, kumpulan naskah abad ke-17 yang keasliannya masih diperdebatkan sejarawan. Yang bisa dipastikan dari prasasti hanyalah bahwa ia memerintah setidaknya 22 tahun pada abad ke-5.
Di Mana Sungai Candrabhaga dan Gomati? Kaitan dengan Bekasi
Inilah bagian yang paling menarik buat warga Bekasi, sekaligus paling diperdebatkan. Ada dua pandangan utama.
Pandangan 1: Candrabhaga adalah Kali Bekasi
Filolog R.M. Ng. Poerbatjaraka (1884–1964) berpendapat sungai Candrabhaga di prasasti adalah Kali Bekasi sekarang, yang mengalir dari pertemuan Cikeas dan Cileungsi di perbatasan Kota Bekasi–Bogor, melewati tengah Kota Bekasi, lalu bermuara di Teluk Jakarta di Babelan. Dari nama Candrabhaga pula ia merekonstruksi asal kata Bekasi: Candrabhaga → Bhagasasi → Bhagasi → Bacassie (ejaan Belanda) → Bekasi. Pandangan ini diikuti Pemerintah Kota Bekasi, Wikipedia Indonesia, dan sebagian besar media. Kami membahasnya tuntas di artikel Asal-Usul Nama Bekasi.
Pandangan 2: Candrabhaga adalah Kali Cakung di kawasan Tugu
Pada 1972, J. Noorduyn (filolog) dan H.Th. Verstappen (ahli geomorfologi) menerbitkan kajian Purnavarman's River-works near Tugu. Mereka menolak teori lama yang menempatkan sungai-sungai itu di dekat Bogor, dan juga tidak mengarahkannya ke Kali Bekasi. Menurut mereka, bekas alur Candrabhaga adalah Kali Cakung yang mengalir ke utara, sementara Gomati adalah saluran baru yang dibelokkan ke timur laut memanfaatkan cekungan alami di antara gundukan pantai purba (beach ridges). Bukti kuncinya: batu prasasti diletakkan persis di sudut pertemuan alur lama dan alur baru, seperti tugu peresmian proyek. Tirto.id (2025) mengutip pandangan ini dan Kenneth Hall (1985), yang menambahkan bahwa proyek itu menjadikan kawasan Tanjung Priok yang semula rawa layak huni dan cocok untuk pelabuhan.
Mana yang lebih kuat? Secara arkeologis dan geografis, pandangan Noorduyn–Verstappen lebih terukur karena bertumpu pada lokasi temuan prasasti dan bentang alam. Tapi keduanya nggak harus saling meniadakan. Kali Cakung sendiri hanya beberapa kilometer di barat Kali Bekasi, dan kawasan Tugu–Cilincing berada di bentang dataran rendah pesisir yang sama dengan Babelan dan Tarumajaya. Jadi, apa pun letak persis Candrabhaga, proyek Purnawarman berlangsung di lanskap yang hari ini kita kenal sebagai Jakarta Utara dan Bekasi bagian utara.
Jejak Tarumanegara dan Pendahulunya di Sekitar Bekasi
Di Kota Bekasi sendiri belum ditemukan prasasti Tarumanegara. Tapi kalau kita memperlebar pandangan ke pesisir utara Bekasi dan Karawang, jejak peradaban yang mendahului dan menyertai Tarumanegara justru sangat kaya.
Situs Buni, Babelan: peradaban sebelum kerajaan
Desa Buni di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, memberi nama pada Kebudayaan Buni, budaya tembikar prasejarah yang berkembang di pesisir utara Jawa Barat, Jakarta, dan Banten sekitar 400 SM sampai 100 M, dan mungkin bertahan hingga 500 M. Tembikarnya khas dengan hiasan geometris yang ditoreh, dan di situs-situs Buni ditemukan rouletted ware, tembikar buatan India abad ke-1–2 M, bukti perdagangan jarak jauh paling awal di Asia Tenggara yang tercatat. Temuan lainnya berupa manik-manik bekal kubur, menhir, dan meja batu. Para arkeolog menduga Tarumanegara adalah penerus masyarakat Buni setelah mereka mengadopsi agama Hindu. Kisah lengkap situs ini kami ulas dalam artikel Situs Buni Babelan.
Percandian Batujaya, Karawang: candi tertua di Nusantara
Sekitar 500 meter di utara Citarum dan enam kilometer dari pantai, di Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, Karawang, terhampar kompleks percandian Buddha dari bata yang dianggap tertua di Indonesia. Situs ini pertama diteliti tim arkeologi Universitas Indonesia pada 1984, lalu digali Puslit Arkenas bersama EFEO Prancis. Sampai 2016 tercatat 62 gundukan (unur), 51 di antaranya terkonfirmasi berisi sisa bangunan. Candi Jiwa dan Candi Blandongan sudah dipugar; di Blandongan ditemukan amulet Buddha dan lempeng emas beraksara Pallawa. Penanggalan karbon menunjukkan lapisan tertua dari abad ke-2 M. Di bawah candi-candi itu ada lapisan kubur prasejarah dengan tembikar Buni, jadi Batujaya adalah tempat kita bisa melihat transisi dari masyarakat Buni ke masa Hindu-Buddha secara langsung.
Prasasti Kebantenan: lompatan ke masa Sunda
Di Kota Bekasi ditemukan Prasasti Kebantenan, lempeng-lempeng tembaga berisi keputusan Sri Baduga Maharaja dari Kerajaan Sunda pada abad ke-15–16. Ini bukan peninggalan Tarumanegara, tapi menunjukkan bahwa wilayah Bekasi terus jadi bagian penting dari kerajaan-kerajaan Sunda yang menggantikannya. Jadi garisnya panjang: Buni (prasejarah) → Tarumanegara (abad ke-5–7) → Sunda/Pajajaran (sampai abad ke-16) → Bekasi kolonial dan modern.
Fakta Singkat
- Nama: Prasasti Tugu; koleksi Museum Nasional Indonesia, inventaris D.124.
- Lokasi temuan: Kampung Batutumbuh, Desa Tugu (kini Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara), dekat Kali Cakung.
- Tercatat: 1879 (Notulen Bataviaasch Genootschap); dipindah ke museum 1911 atas prakarsa P. de Roo de la Faille.
- Bahan dan aksara: batu bulat telur ±1 m; aksara Pallawa, bahasa Sanskerta, lima baris melingkar, metrum Anustubh.
- Isi: penggalian Sungai Candrabhaga dan Sungai Gomati (6.122 busur ≈ 11 km, 21 hari) pada tahun ke-22 pemerintahan Purnawarman; hadiah 1.000 sapi untuk brahmana.
- Umur: pertengahan abad ke-5 M (analisis paleografi; tidak ada angka tahun di prasasti).
- Situs terkait di sekitar Bekasi: Situs Buni, Babelan (400 SM–100 M) dan Percandian Batujaya, Karawang (diteliti sejak 1984; 62 unur).
Pertanyaan Umum Seputar Prasasti Tugu dan Tarumanegara di Bekasi
Apa isi Prasasti Tugu?
Prasasti Tugu mencatat penggalian dua sungai: Candrabhaga, yang dialirkan ke laut setelah melewati istana, dan Gomati, yang digali sepanjang 6.122 busur dalam 21 hari pada tahun ke-22 pemerintahan Raja Purnawarman. Proyek itu ditutup dengan selamatan para brahmana dan hadiah 1.000 ekor sapi.
Di mana Prasasti Tugu ditemukan dan sekarang disimpan?
Prasasti ini ditemukan di Kampung Batutumbuh, Desa Tugu, yang kini menjadi Kelurahan Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara. Sejak 1911 disimpan di Museum Nasional Indonesia (dulu Museum Bataviaasch Genootschap) di Jakarta dengan nomor inventaris D.124.
Apa hubungan Prasasti Tugu dengan Bekasi?
Sungai Candrabhaga yang disebut dalam prasasti diidentifikasi oleh Poerbatjaraka sebagai Kali Bekasi, dan dari nama itulah kata "Bekasi" ditelusuri. Pendapat lain (Noorduyn dan Verstappen, 1972) menempatkan Candrabhaga di Kali Cakung dekat Tugu, kawasan yang secara historis juga bagian dari wilayah Bekasi lama.
Siapa Raja Purnawarman?
Purnawarman adalah raja Tarumanegara yang namanya muncul di hampir semua prasasti kerajaan itu, memerintah pada abad ke-5 Masehi. Ia digambarkan sebagai penganut Hindu Waisnawa yang gagah berani dan dikenal lewat proyek-proyek pengairan. Tahun 395–434 M yang sering dikutip berasal dari Naskah Wangsakerta yang masih diperdebatkan.
Apakah ada situs Tarumanegara di Bekasi?
Di Kota Bekasi belum ditemukan prasasti Tarumanegara. Namun di Babelan, Kabupaten Bekasi, ada Situs Buni, pusat kebudayaan tembikar prasejarah yang dianggap pendahulu Tarumanegara, dan di Karawang yang bertetangga ada Percandian Batujaya, kompleks candi bata tertua di Indonesia yang diperkirakan dibangun pada masa Tarumanegara.
Berapa panjang sebenarnya 6.122 busur?
Satu busur (dhanus) biasanya diperkirakan sekitar 1,8 meter, sehingga 6.122 busur setara sekitar 11 km. Noorduyn dan Verstappen menyebut rentang 11 sampai 19 km tergantung tafsir satuan, dan menganggap 11 km paling masuk akal.
Sumber & Referensi
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Prasasti Tugu" (diakses 2026), memuat teks dan terjemahan serta rujukan Vogel (1925), Bosch (1951), Noorduyn & Verstappen (1972). id.wikipedia.org
- Wikipedia (English), "Tugu inscription" (diakses 2026). en.wikipedia.org
- J. Noorduyn & H.Th. Verstappen, "Purnavarman's River-works near Tugu", Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 128 (1972), hlm. 298–307. researchgate.net
- Muhamad Alnoza, "Kampanye Purnawarman dan Skenario Tanjung Priok", Tirto.id (7 Mei 2025). tirto.id
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Tarumanagara" (diakses 2026). id.wikipedia.org
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Kebudayaan Buni" (diakses 2026), merujuk Manguin & Indrajaya (2006) dan Miksic (2004). id.wikipedia.org
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Percandian Batujaya" (diakses 2026). id.wikipedia.org
- Disparbud Kota Bekasi, "Asal kata Bekasi" (2018). disparbud.bekasikota.go.id
Batu bulat telur itu sekarang duduk tenang di etalase kaca Museum Nasional, tapi sungai-sungai yang diceritakannya masih mengalir di halaman belakang kita. Kalau kamu pernah ke Museum Nasional, ke Situs Buni, atau ke Candi Jiwa di Batujaya, ceritakan pengalamanmu di kolom komentar. Dan kalau di kampungmu ada gundukan tanah yang dikeramatkan atau temuan gerabah tua, kabari redaksi Planet Bekasi. Siapa tahu itu bab berikutnya dari cerita panjang di label Asal Usul.
Posting Komentar