Sejarah Bekasi Zaman Jepang 1942-1945: Romusha & Kali Bekasi
Kalau kamu nanya ke warga Bekasi soal masa penjajahan, kebanyakan bakal langsung nyebut Belanda. Padahal ada tiga setengah tahun yang jauh lebih pahit: masa pendudukan Jepang, 1942-1945. Di periode inilah rakyat Bekasi dipaksa kerja rodi (romusha), sawah dan ternak mereka dirampas buat kebutuhan perang, sekaligus—tanpa disadari Jepang sendiri—dipersiapkan jadi bibit perlawanan yang bikin Bekasi kelak dijuluki "Bumi Patriot".

Bekasi masuk kekuasaan militer Jepang sejak awal Maret 1942, tak lama setelah Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Subang. Selama pendudukan, wilayah ini—yang saat itu masih berstatus distrik di bawah Regentschap Meester Cornelis—mengalami perubahan drastis: sistem pemerintahan diseragamkan ala Jepang, romusha dikerahkan besar-besaran, dan hasil bumi disita untuk mesin perang Asia Timur Raya. Ketegangan itu nggak langsung reda begitu Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945; justru dua bulan berikutnya Bekasi jadi lokasi salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia.
Artikel ini bagian dari seri Asal Usul Planet Bekasi yang ngupas potongan-potongan sejarah kampung kita yang jarang diceritain lengkap. Yuk kita telusuri, apa aja yang sebenarnya terjadi di Bekasi selama tiga setengah tahun di bawah bendera Hinomaru.
Bekasi Jadi "Gun": Wajah Baru di Bawah Kekuasaan Militer Jepang
Begitu Belanda angkat kaki, Jepang menata ulang sistem pemerintahan di Jawa memakai istilah-istilah baru: karesidenan jadi shu, kabupaten jadi ken, dan kewedanan jadi gun. Menurut catatan sejarah lokal yang dihimpun Komunica, di masa inilah nama Bekasi tercatat sebagai "Bekasi Gun"—setingkat kewedanan di bawah struktur pemerintahan yang berpusat di Batavia (Jakarta). Perubahan nama ini kelihatan sepele, tapi sebenarnya mencerminkan cara Jepang mengontrol wilayah secara militeristik: setiap gun punya aparat yang bertanggung jawab langsung menyetor tenaga kerja dan hasil bumi ke atasannya.
Di balik penataan administratif ini, kehidupan sehari-hari warga Bekasi berubah total. Sekolah-sekolah diwajibkan mengajarkan bahasa Jepang dan menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, sementara aparat desa dipakai buat mendata siapa saja yang bisa dikerahkan kerja paksa. Struktur inilah yang jadi jalan masuk kebijakan paling menyakitkan dari masa pendudukan: romusha.
Romusha: Ribuan Warga Dikerahkan Kerja Paksa
Romusha—dari bahasa Jepang yang berarti "pekerja"—adalah sebutan untuk rakyat non-Jepang yang dipaksa bekerja untuk kepentingan militer Jepang selama Perang Dunia II. Kebijakan ini mulai digencarkan sejak pertengahan 1942, ketika Jepang mulai kehilangan keunggulan di front Pasifik dan butuh tenaga kerja masif untuk membangun jalan, rel kereta, lapangan terbang, sampai benteng pertahanan di berbagai penjuru Jawa dan luar Jawa.
Petani-petani miskin di Jawa, termasuk dari desa-desa di Bekasi, jadi sasaran utama perekrutan ini. Mereka dikumpulkan lewat aparat desa, dijanjikan upah dan makan yang layak, tapi kenyataannya jauh dari itu: jam kerja panjang, makanan minim, sanitasi buruk, dan pengawasan yang keras. Sejarawan mencatat kebijakan ini menimbulkan banyak korban tewas, hilang, maupun cacat—meski angka pasti khusus untuk romusha asal Bekasi belum terdokumentasi rinci sampai sekarang. Banyak dari mereka yang dikirim ke luar daerah tak pernah kembali, meninggalkan cerita pilu yang diwariskan turun-temurun di kampung-kampung Bekasi hingga kini.
Sawah dan Hasil Bumi Dirampas untuk Kebutuhan Perang
Selain tenaga manusia, Jepang juga mengeksploitasi hasil pertanian Bekasi yang saat itu sudah dikenal subur. Ironisnya, wilayah yang sejak zaman kolonial jadi salah satu lumbung padi di sekitar Batavia ini justru jadi lahan penyitaan: padi, ternak, dan hasil bumi lain dikumpulkan paksa untuk mencukupi kebutuhan logistik Perang Asia Timur Raya. Petani hanya diizinkan menyisakan sebagian kecil hasil panen untuk kebutuhan sendiri.
Kombinasi romusha yang menyedot tenaga kerja produktif plus penyitaan hasil panen ini bikin banyak keluarga di Bekasi jatuh ke jurang kelaparan menjelang akhir masa pendudukan. Kondisi inilah yang kelak jadi salah satu alasan kuat kenapa rakyat Bekasi begitu cepat dan keras merespons setiap ancaman terhadap kemerdekaan yang baru diproklamasikan—mereka sudah terlalu lama menderita untuk diam saja.
PETA dan Bibit Perlawanan yang Ditanam Jepang Sendiri
Uniknya, di tengah kebijakan yang menyengsarakan, Jepang juga (tanpa sadar) menyiapkan modal perlawanan buat rakyat Indonesia sendiri. Untuk memperkuat pertahanan menghadapi Sekutu, Jepang membentuk organisasi semi-militer seperti PETA (Pembela Tanah Air) di berbagai daerah, termasuk Bekasi. Pemuda-pemuda lokal dilatih baris-berbaris, menggunakan senjata, dan taktik dasar militer—keterampilan yang beberapa bulan kemudian justru dipakai buat melawan Jepang sendiri dan menghadapi tentara Sekutu serta NICA (Netherlands Indies Civil Administration) begitu Indonesia merdeka.
Bekas anggota PETA dan pemuda-pemuda yang sempat mengenyam pelatihan militer inilah yang jadi tulang punggung Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan berbagai laskar rakyat di Bekasi pada masa revolusi. Tanpa sadar, kebijakan militerisasi Jepang justru mempercepat kesiapan rakyat Bekasi untuk bertempur mempertahankan kemerdekaan.
Jepang Menyerah, tapi Bekasi Belum Tenang: Peristiwa Kali Bekasi
Jepang resmi menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, dan dua hari kemudian Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tapi kekalahan Jepang nggak otomatis bikin semua tentaranya langsung angkat kaki dari tanah air. Di Bekasi, sisa ketegangan ini meledak jadi salah satu peristiwa paling terkenal dalam sejarah kota ini: Peristiwa Kali Bekasi, 19 Oktober 1945.
Ceritanya, sebuah kereta api membawa sekitar 90 anggota Kaigun (angkatan laut Jepang) menuju Lapangan Terbang Kalijati di Subang, dalam perjalanan pulang ke Jepang. Laskar rakyat dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Bekasi—di bawah komando Atmadinata dan Mayor Sambas, dengan Letnan Dua Zakaria Burhanuddin sebagai wakil komandan—curiga Jepang masih menyembunyikan senjata meski sudah kapitulasi. Kereta pun dihentikan paksa di Bekasi. Ketika ditemukan senjata tersembunyi, terjadi baku tembak yang menewaskan komandan Kaigun. Situasi memanas, laskar rakyat berhasil melucuti dan menguasai seluruh rombongan, lalu menggiring ke-90 tentara Jepang itu ke tepi Kali Bekasi. Di sanalah mereka semua dieksekusi.
Peristiwa ini memicu protes keras dari Laksamana Tadashi Maeda, perwira penghubung Angkatan Laut Jepang yang sebelumnya justru dikenal membantu proses persiapan kemerdekaan Indonesia. Melihat situasi yang bisa memicu eskalasi lebih besar, Presiden Sukarno turun langsung ke Bekasi pada 25 Oktober 1945 untuk memberi pengertian soal pentingnya disiplin dan koordinasi dengan pemerintah pusat di tengah gejolak revolusi.
Dari Kali Bekasi ke "Bekasi Lautan Api": Lahirnya Julukan Bumi Patriot
Ketegangan pasca-kemerdekaan di Bekasi belum selesai sampai di situ. Sebulan setelah Peristiwa Kali Bekasi, tepatnya akhir November 1945, sebuah pesawat Dakota milik Inggris jatuh di dekat Bekasi. Sejumlah penumpangnya tewas dibunuh milisi lokal—diduga dari Barisan Banteng Hitam—pada 26-27 November 1945. Komandan pasukan Inggris di Jawa, Letnan Jenderal Philip Christison, membalas dengan memerintahkan pembakaran wilayah Bekasi. Antara 29 November hingga 13 Desember 1945, sekitar 600 rumah di Bekasi hangus dibakar pasukan Inggris, sementara laskar Hizbullah dan Barisan Banteng Hitam yang bertahan nyaris seluruhnya tewas dalam pertempuran yang tak seimbang itu. Peristiwa yang dikenal sebagai "Bekasi Lautan Api" ini sempat dikecam media Barat dan Perdana Menteri Sutan Sjahrir sendiri.
Rentetan peristiwa dari masa pendudukan Jepang, Peristiwa Kali Bekasi, sampai Bekasi Lautan Api inilah yang membentuk citra Bekasi sebagai wilayah dengan rakyat pejuang yang keras kepala mempertahankan kemerdekaan—julukan "Bumi Patriot" yang sampai sekarang melekat pada Kabupaten Bekasi. Kalau kamu penasaran soal asal-usul nama Bekasi sendiri, cerita itu jauh lebih tua lagi dan bisa kamu telusuri di label Asal Usul Planet Bekasi.
Fakta Singkat
- Jepang mulai berkuasa di Jawa, termasuk Bekasi, sejak awal Maret 1942 setelah Belanda menyerah di Kalijati, Subang.
- Menurut catatan sejarah lokal, wilayah Bekasi pada masa pendudukan tercatat dengan sebutan administratif "Bekasi Gun".
- Rakyat Bekasi, sebagian besar petani, dikerahkan sebagai romusha untuk proyek infrastruktur dan pertahanan militer Jepang.
- Hasil sawah dan ternak warga banyak disita untuk kebutuhan Perang Asia Timur Raya, memicu kelaparan menjelang akhir pendudukan.
- Organisasi bentukan Jepang seperti PETA melatih pemuda Bekasi secara militer—modal yang kelak dipakai melawan Jepang dan Sekutu.
- 19 Oktober 1945, dua bulan setelah Jepang kapitulasi, 90 tentara Kaigun Jepang tewas dieksekusi di tepi Kali Bekasi.
- Presiden Sukarno mengunjungi Bekasi pada 25 Oktober 1945 untuk meredam ketegangan pasca-Peristiwa Kali Bekasi.
Pertanyaan Umum Seputar Sejarah Bekasi Zaman Jepang
Kapan tepatnya Jepang mulai menduduki Bekasi?
Jepang menguasai Jawa, termasuk Bekasi, sejak awal Maret 1942 setelah pasukan Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Subang. Pendudukan ini berlangsung sampai Jepang kapitulasi kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945.
Apa itu romusha dan kenapa warga Bekasi jadi korbannya?
Romusha adalah kebijakan kerja paksa Jepang yang mengerahkan rakyat, terutama petani, untuk membangun infrastruktur perang seperti jalan, rel, dan lapangan terbang. Bekasi yang mayoritas penduduknya petani jadi salah satu sasaran perekrutan karena tenaga kerjanya dianggap melimpah.
Benarkah nama Bekasi sempat diganti jadi "Bekasi Gun" di masa Jepang?
Menurut penelusuran sejarah lokal, istilah "Bekasi Gun" memang tercatat sebagai sebutan administratif wilayah Bekasi pada masa itu, mengikuti sistem tata pemerintahan Jepang yang membagi wilayah jadi shu, ken, dan gun. Namun detail struktur lengkapnya belum banyak didokumentasikan secara resmi, jadi klaim ini masih perlu verifikasi lebih lanjut dari sumber arsip primer.
Apa hubungan Peristiwa Kali Bekasi dengan masa pendudukan Jepang?
Meski terjadi dua bulan setelah Jepang menyerah, Peristiwa Kali Bekasi pada 19 Oktober 1945 tetap berkaitan erat karena korbannya adalah 90 tentara Jepang yang masih berada di Indonesia. Peristiwa ini jadi salah satu babak akhir dari kehadiran militer Jepang di Bekasi sekaligus awal dari gejolak revolusi kemerdekaan di kota ini.
Kenapa Bekasi dijuluki "Bumi Patriot"?
Julukan ini lahir dari rentetan peristiwa perlawanan rakyat Bekasi sejak masa pendudukan Jepang hingga awal revolusi kemerdekaan, termasuk Peristiwa Kali Bekasi dan "Bekasi Lautan Api" pada akhir 1945. Ketangguhan warga menghadapi tekanan dari berbagai pihak inilah yang membentuk identitas Bekasi sebagai wilayah pejuang.
Sumber & Referensi
- Tirto.id (2023) — "Di Kali Bekasi, Tentara Jepang Dibantai Atas Nama Kemerdekaan" — tirto.id
- Wikipedia English (2024) — "Kali Bekasi incident" — en.wikipedia.org
- Wikipedia English (2024) — "Burning of Bekasi" — en.wikipedia.org
- Komunica.id (2024) — "Jejak Sejarah Perjalanan Kabupaten Bekasi" — komunica.id
- Kompas.com/Stori (2023) — "Romusha: Pengertian, Latar Belakang, dan Tujuannya" — kompas.com
- Wikipedia Indonesia — "Kabupaten Bekasi" — id.wikipedia.org
Sejarah kelam sekaligus heroik ini adalah bagian dari darah daging Bekasi hari ini—dari kampung-kampung yang dulu kehilangan warganya karena romusha, sampai tepian Kali Bekasi yang jadi saksi bisu drama kemerdekaan. Kalau keluarga besar kamu punya cerita turun-temurun soal masa pendudukan Jepang di kampungmu, yuk share di kolom komentar Planet Bekasi—siapa tahu jadi potongan puzzle sejarah yang selama ini belum banyak diketahui orang.
Posting Komentar