Sejarah Gedung Juang Tambun: Dari Landhuis Khouw ke Museum Bekasi
Kalau kamu naik KRL Lin Cikarang dan turun di Stasiun Tambun, ada satu bangunan putih dua lantai yang berdiri gagah persis di depan stasiun, di Jalan Sultan Hasanudin. Orang Tambun menyebutnya Gedung Tinggi, papan namanya bertuliskan Gedung Juang 45, dan sejak 2021 di dalamnya ada Museum Bekasi. Tapi tanya warga soal siapa yang membangunnya dan buat apa, jawabannya sering campur aduk antara sejarah, cerita kakek-nenek, dan kisah seram.
Jawaban singkatnya: Gedung Juang Tambun dibangun dalam dua tahap, sekitar 1906–1910 dan 1925, oleh keluarga tuan tanah Tionghoa Khouw van Tamboen sebagai landhuis alias rumah besar pusat tanah partikelir Tambun. Bangunan itu disita Jepang pada 1942, jadi markas pejuang dan kantor Kabupaten Jatinegara pada 1945, sempat direbut Belanda saat Agresi Militer, lalu dipakai berbagai kantor pemerintah selama puluhan tahun. Gedung ini ditetapkan sebagai cagar budaya lewat SK Menteri No. 238/M/1999 dan dipugar pada 2019–2021 menjadi museum digital pertama di Kabupaten Bekasi.
Artikel ini mengurai riwayat gedung itu era demi era: dari rumah tuan tanah, kantor pendudukan Jepang, markas dan tempat tukar tawanan di masa revolusi, kantor DPRD dan kampus, sampai museum. Di bagian akhir, kita bahas juga cerita-cerita rakyat yang beredar tentang gedung ini, dan mana yang sebaiknya dianggap sebagai cerita saja.

Siapa yang Membangun Gedung Juang Tambun?
Gedung ini lahir dari sistem tanah partikelir, yaitu tanah luas di sekitar Batavia yang dijual pemerintah kolonial kepada pengusaha swasta Eropa dan Tionghoa. Pemilik tanah partikelir, yang disebut landheer, punya kuasa hampir seperti pemerintah kecil: menarik pajak, meminta kerja wajib, dan mengatur warga di atas tanahnya. Tambun adalah salah satu tanah partikelir terbesar di timur Batavia, dan pemiliknya adalah keluarga Khouw yang dikenal sebagai Khouw van Tamboen.
Menurut Wikipedia Indonesia yang mengutip penelitian Monique Erkelens (Universiteit Leiden, 2013), pembangunan gedung ini diprakarsai Khouw Tjeng Kee, seorang Luitenant der Chinezen (perwira Tionghoa yang diangkat pemerintah kolonial) dan putra tuan tanah Khouw Tian Sek. Setelah Khouw Tjeng Kee meninggal, pengelolaan tanah partikelir dan landhuis Tambun diteruskan putranya, Khouw Oen Hoei, yang namanya sering ditulis "Kouw Oen Huy" di berbagai artikel lokal. Jadi kalau kamu menemukan dua nama berbeda untuk "pembangun" gedung ini, keduanya sama-sama keluarga Khouw: ayah yang memulai, anak yang meneruskan dan mengelola. Keluarga besar ini punya sepupu yang lebih terkenal, Khouw Kim An, Majoor der Chinezen terakhir di Batavia yang tinggal di Candra Naya.
Pembangunan dilakukan dua tahap. Tahap pertama dimulai 1906 dan selesai 1910; tahap kedua rampung 1925 (IDN Times menyebut tahap kedua berlangsung 1912–1925). Bangunan utamanya seluas sekitar 1.177 meter persegi di atas lahan sekitar 13.900 meter persegi, dengan gaya yang sering disebut neoklasik kolonial: tiang-tiang besar, balkon melengkung di tengah, dan atap tinggi. Halaman depannya konon ditanami pohon mangga, buah yang saat itu belum akrab bagi warga Tambun. Karena bangunan bertingkat masih sangat langka di pedalaman Bekasi, warga menjulukinya Gedung Tinggi.
Fungsinya di masa kolonial sederhana tapi penting: rumah tinggal sekaligus kantor administrasi tanah partikelir Tambun. Dari sinilah pajak dipungut dan urusan ribuan petani penggarap diatur. Kalau kamu ingin tahu bagaimana sistem tanah partikelir membentuk Bekasi, baca juga artikel Sejarah Kota Bekasi: Dari Kabupaten 1950 Sampai Pemekaran 1997.
Era Jepang 1942–1945: Disita dan Jadi Pusat Pendudukan
Begitu Jepang menduduki Jawa pada 1942, landhuis dan tanah partikelir Tambun disita dari keluarga Khouw. Pada 1943 tentara Jepang menjadikan gedung ini salah satu pusat kekuatannya di wilayah Bekasi. Riwayat keluarga Khouw sebagai penguasa Tambun praktis berakhir di sini; setelah kemerdekaan, tanah partikelir dihapus pemerintah Republik.
Wikipedia Indonesia juga mengaitkan gedung ini dengan peristiwa akhir pendudukan Jepang, ketika sebuah kereta yang membawa tentara Jepang melintas di Bekasi, dibelokkan ke rel buntu, dan para serdadu yang sebagian besar tak bersenjata dibunuh pejuang lalu jenazahnya dibuang ke Kali Bekasi. Peristiwa Kali Bekasi pada Oktober 1945 memang tercatat dalam sejarah, tapi keterkaitannya langsung dengan Gedung Tinggi tidak dijelaskan sumber mana pun secara rinci. Peristiwa itu kami bahas terpisah dalam artikel Pertempuran Bekasi 1945: Kali Bekasi, Lautan Api, Karawang-Bekasi.
Masa Revolusi: Markas Pejuang, Kantor Kabupaten, dan Tukar Tawanan
Inilah babak yang membuat gedung ini disebut "Gedung Juang". Setelah proklamasi 1945, Komite Nasional Indonesia (KNI) menjadikan Gedung Tinggi sebagai kantor Kabupaten Jatinegara, nama wilayah yang kelak menjadi Kabupaten Bekasi. Sekaligus, gedung ini menjadi pusat pertahanan dan komando para pejuang yang berbasis di Tambun dan Cibarusah.
Posisinya strategis. Tambun cuma beberapa kilometer di timur Sasak Jarang, batas terluar wilayah yang dikuasai Sekutu dan Belanda di sekitar Batavia (kini perbatasan Bekasi Timur dan Tambun Selatan). Pertahanan Belanda di Bekasi sering diserang pejuang, sehingga mereka kerap mundur memperkuat garis di Klender. Gedung Tinggi ada di sisi republik dari garis depan itu.
Fungsi yang paling sering dikenang adalah sebagai tempat perundingan pertukaran tawanan. Di gedung ini, pejuang republik yang ditawan Belanda dipulangkan ke wilayah Bekasi, sementara serdadu Belanda yang ditawan pejuang dikembalikan ke Batavia. Prosesnya memanfaatkan jalur kereta: rel Stasiun Tambun berada persis di belakang gedung, sehingga tawanan bisa langsung dinaikkan kereta ke arah Jakarta. Peristiwa ini diabadikan dalam relief di kompleks gedung dan menjadi salah satu cerita utama di museum sekarang. Hubungan erat gedung dengan jalur rel ini kami ulas juga dalam artikel Sejarah Stasiun Bekasi.
Pada Agresi Militer Belanda I, akhir Juli 1947, gedung ini jatuh ke tangan Belanda setelah serangan bertubi-tubi dan dikuasai hingga 1949. Baru pada 1950, setelah pengakuan kedaulatan, gedung kembali dipegang Indonesia dan aktivitas pemerintahan berjalan lagi dari sini.
1950–1999: Kantor PU, Batalyon Kian Santang, DPRD, sampai Kampus
Setelah 1950, Gedung Tinggi jadi semacam "rumah singgah" berbagai lembaga Kabupaten Bekasi yang baru lahir. Urutannya, menurut Wikipedia Indonesia yang mengacu pada laporan Pemkab Bekasi dan Klik Bekasi (2014):
- 1950: Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bekasi menjadi penghuni pertama, disusul kantor dan jawatan lain hingga 1982.
- 1951: ditempati TNI Angkatan Darat, Batalyon Kian Santang.
- Hingga 1960: kantor lembaga wakil rakyat, mulai DPRD Sementara, DPRD Tingkat II Bekasi, sampai DPRD-GR.
- 1962: dipakai sebagai tempat tahanan politik anggota Partai Komunis Indonesia.
- 1982: Bupati Abdul Fatah (menjabat 1973–1983), yang juga dikenal sebagai budayawan, mendirikan Akademi Pembangunan Desa (APD) dengan gedung ini sebagai kampusnya. APD kelak berkembang menjadi Universitas Islam "45" Bekasi yang kini berkampus di Jalan Cut Meutia dekat Kalimalang.
- 1999: menjadi kantor sekretariat Pemilu, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, serta kantor Pemadam Kebakaran; mobil damkar sempat parkir siaga di kompleks gedung sebelum dipindah ke Cibitung.
Pada 4 Oktober 1999, lewat SK Menteri No. 238/M/1999, gedung ini ditetapkan sebagai cagar budaya dan tercatat dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya dengan nomor CB.939, dengan pemilik dan pengelola Pemerintah Kabupaten Bekasi.
Dari "Rumah Kelelawar" ke Museum Bekasi (2016–2021)
Status cagar budaya tidak otomatis membuat gedung terawat. Laporan Republika pada Mei 2016 menggambarkan kondisinya cukup memprihatinkan: plafon berlubang, dinding berlumut, atap bocor, ruangan-ruangan kosong tanpa pameran, dan petugas kebersihan yang dipangkas dari 12 menjadi 6 orang. Yang paling dikenang warga: setiap menjelang magrib, jutaan kelelawar keluar dari gedung, meninggalkan kotoran dan bau di lantai dan tangga. Penjaga gedung saat itu, yang sudah bertugas sejak 1992, menyayangkan minimnya perhatian pemerintah terhadap bangunan bersejarah ini.
Titik baliknya datang pada 2019. Pemerintah Kabupaten Bekasi memulai revitalisasi menyeluruh dengan melibatkan arsitek konservasi dan budayawan, supaya karakter asli bangunan tetap terjaga sambil menambahkan teknologi multimedia interaktif. Menurut penelitian Imbron, Miftahul Falah, dan Nyai Kartika dalam jurnal Fajar Historia (2024), pada 2019 gedung ini masih sekadar bangunan cagar budaya tanpa daya tarik kunjungan, dan pada 2021 resmi berubah menjadi museum digital yang menyajikan sejarah Kabupaten Bekasi, dikelola Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Bekasi. Museum dibuka untuk umum pada Maret 2021.
Hari ini museum yang dikenal sebagai Museum Bekasi atau Museum Digital Gedung Juang 45 itu menampilkan perjalanan Bekasi dari masa prasejarah (termasuk temuan Buni di Babelan), Tarumanegara, kolonial, sampai revolusi, dengan layar sentuh, proyeksi, dan diorama. Koleksi fisiknya antara lain keris, plakat tembaga, dan foto prasasti Tarumanegara. Tiket masuk gratis, dan menurut IDN Times museum buka Selasa sampai Minggu pukul 09.00–16.00 WIB (jam operasional bisa berubah, sebaiknya cek akun resmi Pemkab Bekasi sebelum datang). Aksesnya gampang: keluar Stasiun Tambun, gedungnya ada di depan mata. Cerita soal temuan prasejarah yang dipamerkan di sini bisa kamu baca di artikel Situs Buni Babelan.
Cerita Rakyat Seputar Gedung Tinggi: Terowongan dan Noni Belanda
Bangunan tua yang pernah kosong puluhan tahun dan jadi sarang kelelawar hampir pasti melahirkan cerita. Dua yang paling populer di Tambun:
Terowongan rahasia ke stasiun
Warga sekitar sering menyebut ada terowongan bawah tanah dari gedung ke stasiun (versi Republika 2016 menyebut Stasiun Bekasi, versi yang beredar di media sosial menyebut Stasiun Tambun yang memang tepat di belakang gedung). Konon terowongan itu dipakai untuk menyelundupkan tawanan dan logistik di masa revolusi, dan kini ditutup untuk umum. Cerita ini masuk akal secara geografis, mengingat gedung memang pernah jadi tempat tukar tawanan lewat jalur kereta. Tapi sampai sekarang tidak ada dokumentasi arkeologis atau arsip yang membuktikan terowongan itu ada, jadi sebaiknya diperlakukan sebagai cerita rakyat, bukan fakta.
Penampakan noni Belanda
Seperti banyak gedung kolonial di Jawa, Gedung Tinggi juga punya kisah "noni Belanda" yang katanya sesekali terlihat di lantai atas. Media lokal seperti KBE Online (2026) yang memuat cerita ini sendiri menegaskan bahwa kisah tersebut berada di ranah cerita mistis masyarakat dan bukan fakta terverifikasi. Kami sependapat: nikmati sebagai bumbu, jangan dijadikan alasan takut datang ke museum yang justru sekarang terang, bersih, dan ramai anak sekolah.
Yang jelas bukan mitos adalah ini: gedung ini pernah jadi saksi pergantian tangan kekuasaan dari tuan tanah Tionghoa, Jepang, republik muda, Belanda, lalu republik lagi, semuanya dalam waktu kurang dari sepuluh tahun. Itu sudah cukup dramatis tanpa perlu hantu.
Fakta Singkat
- Nama: Gedung Juang Tambun / Gedung Juang 45 / Gedung Tinggi / Landhuis Tamboen; kini Museum Bekasi.
- Lokasi: Jalan Sultan Hasanudin No. 39, Setiadarma, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi; tepat di depan Stasiun Tambun.
- Pembangun: keluarga Khouw van Tamboen (Khouw Tjeng Kee, diteruskan putranya Khouw Oen Hoei/Kouw Oen Huy), tuan tanah partikelir Tambun.
- Tahun pembangunan: tahap I 1906–1910, tahap II selesai 1925; bangunan sekitar 1.177 m² di lahan sekitar 13.900 m².
- Era revolusi: kantor Kabupaten Jatinegara dan markas pejuang (1945), tempat pertukaran tawanan Belanda–republik, dikuasai Belanda 1947–1949.
- Cagar budaya: SK Menteri No. 238/M/1999 (4 Oktober 1999), Regnas CB.939.
- Museum: revitalisasi 2019–2021, dibuka Maret 2021 sebagai museum digital pertama Kabupaten Bekasi; tiket gratis.
Pertanyaan Umum Seputar Gedung Juang Tambun
Siapa Kouw Oen Huy dan apa hubungannya dengan Gedung Juang?
Kouw Oen Huy (ejaan Wikipedia: Khouw Oen Hoei) adalah putra Luitenant Khouw Tjeng Kee dari keluarga tuan tanah Khouw van Tamboen. Ayahnya memulai pembangunan landhuis pada 1906, dan setelah sang ayah meninggal, Khouw Oen Hoei meneruskan pengelolaan tanah partikelir dan gedung ini hingga disita Jepang pada 1942.
Kenapa disebut Gedung Juang?
Karena pada masa revolusi 1945–1949 gedung ini menjadi kantor Kabupaten Jatinegara, markas pertahanan pejuang Tambun dan Cibarusah, serta tempat perundingan pertukaran tawanan antara Belanda dan republik. Nama "Gedung Juang 45" dipakai untuk mengenang peran itu, sementara warga lama tetap menyebutnya Gedung Tinggi.
Apakah Gedung Juang Tambun sudah jadi cagar budaya?
Ya. Gedung ini ditetapkan sebagai cagar budaya melalui SK Menteri No. 238/M/1999 tertanggal 4 Oktober 1999 dan terdaftar di Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya dengan nomor CB.939. Pemilik dan pengelolanya adalah Pemerintah Kabupaten Bekasi.
Kapan Gedung Juang jadi museum, dan berapa tiketnya?
Revitalisasi berlangsung 2019–2021 dan museum digital dibuka untuk umum pada Maret 2021. Tiket masuk gratis. Jam buka yang dilaporkan media adalah Selasa–Minggu pukul 09.00–16.00 WIB, tapi sebaiknya cek informasi terbaru dari Pemkab Bekasi sebelum berkunjung.
Benarkah ada terowongan dari Gedung Juang ke stasiun?
Cerita itu beredar luas di kalangan warga Tambun dan media sosial, dikaitkan dengan fungsi gedung sebagai tempat tukar tawanan lewat kereta. Namun belum ada bukti arkeologis atau arsip yang mengonfirmasinya, sehingga sebaiknya dianggap cerita rakyat.
Bagaimana cara ke Gedung Juang Tambun dengan transportasi umum?
Paling mudah naik KRL Commuter Line Lin Cikarang dan turun di Stasiun Tambun; gedungnya persis di seberang pintu keluar stasiun. Alternatifnya angkot Koasi K16, angkutan Elf jurusan Cikarang–Terminal Bekasi, atau BisKita Trans Wibawa Mukti Koridor 1.
Sumber & Referensi
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Gedung Juang Tambun" (diakses 2026), mengutip Monique Erkelens, The Decline of the Chinese Council of Batavia (Universiteit Leiden, 2013). id.wikipedia.org
- Imbron, Miftahul Falah & Nyai Kartika, "Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Gedung Juang Tambun sebagai Museum Digital Kabupaten Bekasi, 2019-2021", Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan (2024). e-journal.hamzanwadi.ac.id
- IDN Times, "Sejarah Gedung Juang Tambun, Saksi Perjuangan Rakyat Bekasi". idntimes.com
- Republika, "Gedung Bersejarah yang Jadi 'Rumah Kelelawar'" (9 Mei 2016). republika.co.id
- Pemerintah Kabupaten Bekasi, "Museum Digital Gedung Juang 45 Resmi Dibuka" (2021). bekasikab.go.id
- WowBekasi, "Gedung Juang Bekasi: Dari Benteng Perlawanan Hingga Museum Digital Pertama di Kabupaten Bekasi" (10 April 2025). wowbekasi.id
- KBE Online, "17 Tempat yang Katanya Angker di Jatimulya, Tambun Selatan dan Bekasi Timur" (9 September 2026), untuk cerita rakyat. kbeonline.id
- Wikimedia Commons, "Gedung Juang 45 Tambun.jpg" (Herusutimbul, 2017, CC BY-SA 4.0). commons.wikimedia.org
Gedung Tinggi sudah 120 tahun berdiri menyaksikan Tambun berubah dari tanah partikelir jadi kawasan padat yang dilewati KRL tiap beberapa menit. Kalau kakek atau nenekmu punya cerita soal gedung ini, entah pernah jadi pegawai di sana, ikut antre tukar tawanan, atau cuma takut lewat depannya waktu kecil, tulis di kolom komentar atau kirim ke redaksi Planet Bekasi. Cerita tempat-tempat bersejarah Bekasi kita kumpulkan di label Asal Usul.
Posting Komentar