Sejarah Kali Bekasi: Candrabhaga, Bendung Bekasi, dan Banjir

Daftar Isi

Setiap musim hujan, nama Kali Bekasi kembali jadi buah bibir: grup WhatsApp RW ramai dengan angka "TMA Cileungsi", warga Jatiasih siap-siap memindahkan motor ke lantai dua, dan pintu air di Jalan M. Hasibuan diawasi 24 jam. Tapi sungai yang membelah kota kita ini bukan cuma soal banjir. Ia punya riwayat panjang: dari nama kuno Candrabhaga, era irigasi, sampai jadi bahan baku air minum jutaan orang.

Kali Bekasi adalah sungai sepanjang kurang lebih 43 km yang terbentuk dari pertemuan Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi di perbatasan Kota Bekasi–Kabupaten Bogor, mengalir ke utara membelah Kota Bekasi, lalu bermuara di Teluk Jakarta di wilayah Babelan, Kabupaten Bekasi. Di tengah kota, alirannya dibendung oleh Bendung Bekasi (dikenal juga sebagai Bendung Prisdo) yang menjaga muka air agar bisa disadap untuk air baku dan irigasi, dan yang bersilangan dengan saluran Kalimalang (Tarum Barat) dari Jatiluhur.

Artikel ini menelusuri Kali Bekasi dari hulu sampai muara: jejaknya di Prasasti Tugu, bendung dan saluran yang mengubah perannya, catatan banjir besar 1924 sampai 2025, masalah pencemaran, dan proyek normalisasi yang sudah lama dijanjikan.

Foto lawas Kali Bekasi di dekat Bekasi, sebelah timur Batavia, karya Woodbury & Page sebelum 1880, koleksi KITLV
"Kali Bekasi bij Bekasi ten oosten van Batavia", foto Kali Bekasi sebelum tahun 1880 ketika tepiannya masih berupa kebun dan semak. Foto: Woodbury & Page (Batavia), koleksi KITLV/Leiden University Library via Wikimedia Commons (CC BY 4.0).

Dari Mana Kali Bekasi Berasal dan ke Mana Bermuara?

Kalau kamu berdiri di jembatan dekat Perumahan Pondok Gede Permai, Jatiasih, kamu sedang berada di "titik nol" Kali Bekasi. Di sinilah Sungai Cikeas (dari arah barat daya) dan Sungai Cileungsi (dari arah tenggara) bertemu. Keduanya berhulu di kawasan Pegunungan Jonggol dan sekitarnya di Kabupaten Bogor: Wikipedia Indonesia mencatat titik-titik hulunya di Sukaraja, Babakan Madang, Sukamakmur, dan Jonggol, pada ketinggian 700 sampai 1.400 meter. Pertemuan dua sungai ini sudah tergambar jelas di peta topografi Belanda tahun 1901 yang kini tersimpan di Leiden.

Peta topografi tahun 1901 yang menunjukkan pertemuan Sungai Cikeas dan Cileungsi menjadi Kali Bekasi
Tempuran Cikeas–Cileungsi, hulu Kali Bekasi, dalam peta Topographisch Bureau Batavia tahun 1901. Sumber: Leiden University Libraries via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Dari tempuran itu, Kali Bekasi mengalir ke utara melewati Jatiasih, Pekayon, Rawalumbu, Margajaya, pusat Kota Bekasi (jalurnya dilintasi rel kereta tak jauh dari Stasiun Bekasi), Bekasi Utara, lalu masuk wilayah Kabupaten Bekasi di Babelan. Muaranya berada di Teluk Jakarta, di Desa Hurip Jaya, Babelan. Sejak akhir 1970-an, sebagian besar air Kali Bekasi di hilir dialihkan ke Kanal Cikarang-Bekasi-Laut (CBL), saluran pengendali banjir yang dibangun 1977–1980 dan pada masanya dijuluki saluran terbesar dan termodern di Indonesia.

Daerah aliran sungai (DAS) Bekasi luasnya sekitar 1.410 km², dari Kabupaten Bogor di hulu sampai Kabupaten Bekasi di hilir, dan dikelola Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC). Menurut sejarawan Bekasi Ali Anwar, selama berabad-abad orang Bekasi hidup mengandalkan sungai ini: rumah menghadap ke kali, perahu jadi transportasi utama dari Bogor sampai muara, dan kalau air datang, mereka membangun rumah panggung.

Apakah Kali Bekasi Sama dengan Candrabhaga di Prasasti Tugu?

Pertanyaan ini menyambungkan sungai kita dengan sejarah 1.500 tahun lalu. Prasasti Tugu dari masa Raja Purnawarman (Tarumanegara, abad ke-5 M) menyebut penggalian dua sungai: Candrabhaga dan Gomati. Filolog R.M. Ng. Poerbatjaraka sekitar tahun 1951 mengajukan teori bahwa Candrabhaga adalah Kali Bekasi, sekaligus asal nama "Bekasi" lewat perubahan Candrabhaga menjadi Bhagasasi, lalu Bacassie dalam ejaan Belanda. Sejarawan Ali Anwar, seperti dikutip Kompas.com (2020), menggambarkan sodetan Candrabhaga dan Gomati itu sebagai upaya raja mencegah banjir ke arah keraton dan pertanian. Artinya, kalau teori ini benar, Kali Bekasi adalah proyek pengendalian banjir paling tua yang tercatat di Nusantara.

Tapi ini belum bulat. Penelitian J. Noorduyn dan H.Th. Verstappen (1972) menempatkan Candrabhaga di sekitar Tugu, Jakarta Utara, dengan Kali Cakung sebagai bekas alurnya. Jadi ada dua versi: Candrabhaga = Kali Bekasi (versi populer, dipakai pemerintah daerah) dan Candrabhaga = Kali Cakung (versi arkeologis-geografis). Pembahasan lengkapnya ada di artikel Asal-Usul Nama Bekasi: Dari Candrabhaga ke Bekassie dan Prasasti Tugu dan Jejak Tarumanegara di Bekasi. Yang jelas, nama "Bhagasasi" masih hidup sebagai nama PDAM Kabupaten Bekasi yang menyadap air dari sungai ini.

Bendung Bekasi: Pintu Air yang Menentukan Nasib Kota

Di Jalan Mayor Madmuin Hasibuan, tak jauh dari pusat kota, berdiri Bendung Bekasi, yang oleh warga dan dokumen Pemkot juga disebut Bendung Prisdo atau "Bendung Lama". Fungsinya, menurut Wikipedia Indonesia yang mengutip dokumen Pemkot Bekasi, adalah menjaga elevasi muka air Kali Bekasi supaya air bakunya bisa dialirkan ke Jakarta (PAM Jaya) dan ke jaringan irigasi di hilir bendung, serta untuk PDAM Tirta Bhagasasi dan Tirta Patriot. Operasionalnya di bawah BBWSCC: ketika limpasan mencapai batas tertentu, operator membuka atau menutup pintu. Dibuka terlalu dini, hilir Kabupaten Bekasi kebanjiran dan pasokan air baku terganggu; dibuka terlambat, tanggul di hulu terancam.

Kapan bendung ini dibangun? Di sinilah sumbernya tipis. Sejumlah akun komunitas sejarah lokal menyebut bendung ini dibangun sekitar 1955 dan rampung 1960 di masa Presiden Sukarno, tapi kami belum menemukan arsip resmi yang mengonfirmasinya. Yang pasti, Ali Anwar menyebutnya bendung yang sudah tua dan tak lagi mampu menahan debit dari Bogor. Jaringan irigasi Bekasi sendiri sudah matang sejak zaman kolonial: Ramdiansyah (2022) mencatat distrik Bekasi tahun 1920–1940-an memiliki sekitar 65.000 hektare sawah dengan hasil 30–40 pikul per bau, tertinggi di Karesidenan Batavia. Apakah struktur bendung yang sekarang mewarisi bangunan kolonial, masih perlu ditelusuri ke arsip.

Kalimalang dan Tarum Barat: air Citarum yang "melintang" di atas Kali Bekasi

Bendung Bekasi punya keunikan: persis di situ, Kali Bekasi berpotongan dengan Saluran Induk Tarum Barat, yang orang Bekasi kenal sebagai Kalimalang. Saluran ini dibangun pada 1960-an sebagai bagian dari proyek Waduk Jatiluhur (dimulai 1957, diresmikan 26 Agustus 1967). Air Citarum dari Bendung Curug di Karawang dialirkan ke barat sejauh lebih dari 60 km, menembus Cikarang, Cibitung, Tambun, Kota Bekasi, sampai Cawang dan Cipinang di Jakarta Timur. Namanya berasal dari kata Jawa malang, "melintang": tidak seperti sungai alami yang mengalir dari gunung ke laut (selatan ke utara), Kalimalang justru memotong dari timur ke barat, menyeberangi Kali Cikarang, Kali Bekasi, dan Kali Sunter.

Perpotongan dengan Kali Bekasi diselesaikan dengan sistem bertingkat: Kalimalang lewat sipon di bawah, Kali Bekasi mengalir di atasnya. Pada Maret 2010, Wali Kota Mochtar Mohamad mengumumkan pembangunan sipon sekitar 50 meter di dekat pintu air Jalan M. Hasibuan yang dibiayai pemerintah pusat. Kini Kalimalang ruas Bekasi–Cawang membawa sekitar 16 m³ per detik air baku untuk Jakarta, dan pada 2016–2018 Kementerian PUPR merehabilitasi 13,5 km ruas itu supaya kapasitasnya naik jadi 21 m³ per detik. Jadi kalau kamu minum air PAM di Jakarta atau Bekasi, besar kemungkinan airnya pernah lewat di titik persilangan ini.

Riwayat Banjir Besar Kali Bekasi: 1924 sampai 2025

Banjir Bekasi bukan fenomena baru. Surya Zainul Lutfi (Universitas Negeri Malang) menyusun kronologi dari koran-koran kolonial: Maret 1924 tanggul di sekitar Stasiun Bekasi sampai Tambun jebol dan jalur kereta ke Semarang dan Bandung terputus; Januari 1926 luapan dari arah Bogor merendam sekitar 100 rumah di Tambun; 1932–1934 giliran Citarum yang meluap sampai Cikarang–Lemahabang. Setelah kemerdekaan, banjir besar pertama terjadi Januari 1961 dengan ratusan hektare sawah rusak; Ali Anwar bahkan menyebut sampai 200.000 warga mengungsi, disusul wabah malaria di kawasan rawa Rawalumbu.

Pembangunan Kanal CBL pada 1973–1984 sempat membuat Bekasi "bebas banjir". Tapi menurut Ali Anwar, justru di sinilah masalah baru dimulai: rawa-rawa dianggap tak berguna dan bantaran Kali Bekasi dibuka untuk perumahan. Kemang Pratama, Kemang Ifi, Pondok Gede Permai, Villa Nusa Indah, Pondok Mitra Lestari semuanya berdiri di pinggir kali; Pondok Gede Permai dibangun 1988 di atas bekas sawah dan rawa tepat di tempuran Cikeas–Cileungsi. Kajian ITB (2025) mencatat porsi permukiman di DAS Bekasi naik dari 24 persen (2000) jadi 42 persen (2024).

2002, 2007, 2020, 2025: empat banjir yang diingat warga

  • 2002. Hujan sepekan tanpa henti berbarengan dengan banjir besar Jakarta. Air mencapai 1–1,5 meter di Rawalumbu, Medan Satria, Kayuringin, dan Kranji. Ali Anwar menyebut ini banjir terbesar Bekasi sebelum 2020, dipicu Kali Bekasi yang makin dangkal dan Bendung Bekasi yang tak lagi mampu menahan debit.
  • 2007. Banjir Jabodetabek Februari 2007 juga merendam Bekasi, tetapi menurut Ali Anwar skalanya lebih kecil dibanding 2002, sama seperti banjir 2005 dan 2012.
  • 1 Januari 2020. Hujan 14,5 jam nonstop sejak sore 31 Desember 2019. Debit Kali Bekasi di Bendung Bekasi tercatat 927 m³ per detik, jauh di atas rekor sebelumnya sekitar 700 m³ per detik. Sekitar 70 persen wilayah kota terendam, 41 dari 56 kelurahan terdampak, 9 orang meninggal, dan hampir 150.000 jiwa mengungsi. Di Pondok Gede Permai air mencapai 5–6 meter. Wali Kota Rahmat Effendi dan Ali Anwar sama-sama menyebutnya banjir terparah dalam sejarah Bekasi.
  • 4 Maret 2025. Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) mencatat tinggi muka air Cileungsi menembus 500 cm dari ambang normal 100 cm, dan Kali Bekasi mencapai 875 cm dari batas maksimum 350 cm. Debit yang masuk ke Bendung Bekasi sekitar 1.100 m³ per detik, melampaui kapasitas 1.000 m³ per detik, sehingga pintu air terpaksa dibuka. Wali Kota Tri Adhianto menyebut satu dari tiga pintu Bendung Prisdo rusak sehingga pengendalian tak maksimal. Delapan dari 12 kecamatan terdampak, air di PGP kembali lebih dari 3 meter, dan Jalan Ahmad Yani lumpuh. Peneliti ITB Edi Riawan mencatat puncak banjir bertahan 15 jam dengan kedalaman maksimum 3,32 meter.

Pencemaran: Saat Kali Bekasi Berubah Hitam dan Berbusa

Selain banjir, Kali Bekasi punya masalah lain yang datang tiap kemarau: pencemaran. Merdeka.com (Agustus 2019) mencatat tujuh insiden besar antara Juli 2017 dan Oktober 2018 saja, mulai dari air berubah warna, busa menumpuk, ikan mati, sampai PDAM berhenti produksi. Pada 2019, air kali menghitam dan berbau selama sepuluh hari; sumbernya ditelusuri ke hulu Kali Cileungsi di Kabupaten Bogor, termasuk limbah usaha laundry industri dan pencucian drum, dan produksi PDAM Tirta Patriot turun dari 490 menjadi 420 liter per detik. Kompas.com melaporkan sejak Maret sampai September 2023 Kali Bekasi sudah enam kali tercemar limbah pabrik, dan pada September 2024 Perumda Tirta Patriot kembali harus menghentikan sementara produksi ketika air baku tercemar, mengganggu pasokan ke Bekasi Barat, Bekasi Utara, Medan Satria, dan Pondok Gede.

Ironinya jelas: sungai sumber air minum ratusan ribu pelanggan sekaligus jadi saluran buangan pabrik di hulu yang berada di luar wilayah administrasi Bekasi, sehingga komunitas seperti KP2C terus menuntut penegakan hukum lintas daerah.

Normalisasi Kali Bekasi: Janji Panjang yang Belum Tuntas

Setelah banjir 2020, pemerintah pusat menjanjikan normalisasi Kali Bekasi. Kompas.com (Desember 2020) mencatat anggaran Rp4,7 triliun dengan fase pertama 6–12 km dari Bendung Bekasi sampai Pondok Gede Permai; BBWSCC menyebut rencana 11 km dari tempuran Cikeas–Cileungsi ke Bendung Bekasi. Pelaksanaannya berulang kali molor karena pembebasan lahan. Tanggul PGP kembali jebol pada Februari 2021, dan pada Maret 2025 pekerjaan normalisasi di sekitar Bendung Bekasi disebut belum rampung ketika banjir datang. Sedimentasi pun jadi soal: sebuah sumber yang dikutip Wikipedia menyebut dasar Kali Bekasi belum dikeruk sejak 1973.

Para ahli sepakat, tanggul dan pengerukan saja tidak cukup. Kadri (Universitas Trisakti, 2008) memproyeksikan debit 789,6 m³ per detik pada 2020 tanpa intervensi, dan kenyataannya lebih buruk. Edi Riawan dari ITB menekankan perbaikan fisik harus dibarengi pemulihan tutupan lahan di hulu dan peringatan dini berbasis data. KP2C mencatat dari 147.000 hektare DAS, hutan yang tersisa hanya sekitar 1.700 hektare. Selama hulu di Sentul dan Jonggol terus berubah jadi perumahan, Bendung Bekasi akan terus dipaksa menahan air yang seharusnya diserap tanah.

Fakta Singkat

  • Panjang dan DAS: sekitar 43 km; luas DAS Bekasi 1.410 km² (Bogor–Kota Bekasi–Kabupaten Bekasi).
  • Hulu: tempuran Sungai Cikeas dan Cileungsi di Jatiasih/Bantargebang; keduanya berhulu di Pegunungan Jonggol, Kabupaten Bogor.
  • Muara: Teluk Jakarta di Hurip Jaya, Babelan; sebagian besar aliran hilir dialihkan lewat Kanal CBL (dibangun 1977–1980, dirampungkan bertahap sampai 1984).
  • Bendung Bekasi (Prisdo): Jalan Mayor Madmuin Hasibuan; menjaga muka air untuk air baku PAM Jaya, Tirta Bhagasasi, Tirta Patriot, dan irigasi hilir; kapasitas sekitar 1.000 m³/detik; dikelola BBWSCC.
  • Kalimalang/Tarum Barat: dibangun 1960-an dari Bendung Curug (Jatiluhur) ke Jakarta, lebih dari 60 km, menyeberangi Kali Bekasi lewat sipon di Bendung Bekasi; membawa sekitar 16 m³/detik air baku Jakarta.
  • Debit rekor: 927 m³/detik (1 Januari 2020) dan sekitar 1.100 m³/detik (4 Maret 2025); TMA Kali Bekasi 875 cm dari batas 350 cm.
  • Banjir besar tercatat: 1924, 1926, 1932–1934, 1961, 1977, 2002, 2007, 2020, 2025; 2020 terparah dengan 9 korban jiwa dan sekitar 70 persen kota terendam.

Pertanyaan Umum Seputar Kali Bekasi

Di mana hulu dan muara Kali Bekasi?

Kali Bekasi berawal dari pertemuan Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi di perbatasan Jatiasih (Kota Bekasi) dan Kabupaten Bogor, yang keduanya berhulu di Pegunungan Jonggol. Sungai ini mengalir ke utara sepanjang sekitar 43 km dan bermuara di Teluk Jakarta di Hurip Jaya, Babelan, Kabupaten Bekasi, dengan sebagian aliran hilirnya dialihkan ke Kanal Cikarang-Bekasi-Laut.

Apa fungsi Bendung Bekasi?

Bendung Bekasi atau Bendung Prisdo di Jalan M. Hasibuan menjaga tinggi muka air Kali Bekasi supaya air bakunya bisa disadap untuk PAM Jaya, PDAM Tirta Bhagasasi dan Tirta Patriot, serta irigasi di hilir. Pintu-pintunya diatur BBWSCC saat debit tinggi. Di titik ini pula Kalimalang menyeberang lewat sipon di bawah dasar sungai.

Apakah Kalimalang sama dengan Kali Bekasi?

Tidak. Kalimalang adalah saluran buatan (Saluran Induk Tarum Barat) yang dibangun 1960-an untuk membawa air Citarum dari Jatiluhur ke Jakarta, mengalir melintang dari timur ke barat. Kali Bekasi adalah sungai alami yang mengalir dari selatan ke utara. Keduanya bersilangan di Bendung Bekasi.

Kapan banjir terparah di Bekasi terjadi?

Banjir 1 Januari 2020 disebut terparah dalam sejarah Bekasi: sekitar 70 persen wilayah kota terendam, 41 dari 56 kelurahan terdampak, 9 orang meninggal, dan debit Kali Bekasi mencapai 927 m³ per detik. Banjir 4 Maret 2025 mencatat debit lebih tinggi lagi, sekitar 1.100 m³ per detik, dengan delapan dari 12 kecamatan terdampak.

Kenapa Kali Bekasi sering berwarna hitam dan berbau?

Karena limbah industri dari hulu, terutama di sepanjang Kali Cileungsi, Kabupaten Bogor. Insiden pencemaran berulang sejak 2017 hingga 2024 membuat PDAM Tirta Patriot beberapa kali menurunkan atau menghentikan produksi air bersih.

Apa hubungan Kali Bekasi dengan Candrabhaga?

Poerbatjaraka (sekitar 1951) berteori bahwa Kali Bekasi adalah Sungai Candrabhaga yang digali Raja Purnawarman menurut Prasasti Tugu abad ke-5, dan dari nama itulah "Bekasi" berasal. Namun Noorduyn dan Verstappen (1972) menempatkan Candrabhaga di kawasan Tugu, Jakarta Utara, sehingga soal ini masih terbuka.

Sumber & Referensi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia, "Kali Bekasi" (diakses September 2026). id.wikipedia.org
  2. Kompas.com, "Bekasi, Kota Rawa-rawa yang Langganan Banjir sejak Zaman Kerajaan" (11 Januari 2020), wawancara sejarawan Ali Anwar. megapolitan.kompas.com
  3. JEO Kompas.com, "Banjir Bekasi: Ironi Rawa yang Jadi Kota Penuh Beton" (2020). jeo.kompas.com
  4. Surya Zainul Lutfi, "Sejarah Banjir Bekasi 1924–2002" (ringkasan di Lintas Perkoro). lintasperkoro.com
  5. Katadata, "Kronologi Banjir Bekasi, Bendung Meluap hingga Pompa Air Tidak Beroperasi" (Maret 2025); Antara, "Musabab petaka Kali Bekasi meluap" (Maret 2025). katadata.co.id · antaranews.com
  6. ITB, "Dosen Meteorologi ITB Ungkap Fakta Banjir Bekasi 2025: Tanggul Tak Lagi Cukup" (2025). itb.ac.id
  7. Kementerian PUPR, "Kementerian PUPR Rehabilitasi Saluran Tarum Barat untuk Tingkatkan Pasokan Air Baku Jakarta" (27 Oktober 2016); Tempo, "Sipon di Kali Bekasi Dibangun Tahun Ini" (3 Maret 2010). pu.go.id · tempo.co
  8. Merdeka.com, "Pencemaran Kali Bekasi Semakin Parah, Airnya Berwarna Hitam dan Bau" (1 Agustus 2019); Kompas.com, "Normalisasi Kali Bekasi Masih Tahap Lelang, Anggarannya Rp 4,7 Triliun" (7 Desember 2020). merdeka.com · kompas.com
  9. Pancar Catur Ramdiansyah, "Bekasi pada Masa Kolonial (1925–1945)", Historia Madania 6(1), 2022; Wikimedia Commons, "Kali Bekasi bij Bekasi ten oosten van Batavia, KITLV 3032". journal.uinsgd.ac.id · commons.wikimedia.org

Kali Bekasi adalah cermin kota kita: pernah jadi jalan raya perahu, jadi sumber air minum, lalu jadi ancaman tiap Januari dan Maret. Kalau kamu tinggal di bantaran, punya foto lawas Bendung Bekasi, atau ingat betul banjir 2002 dan 2020 di kampungmu, ceritakan di kolom komentar atau kirim ke redaksi Planet Bekasi. Cerita-cerita sungai dan kampung seperti ini kita kumpulkan di label Asal Usul.

Posting Komentar