Sejarah Pasar Bekasi: Pasar Proyek, Pasar Baru, Tambun, Kranji
Coba tanya orang Bekasi Timur, "Mau ke Proyek?" Hampir semua bakal paham: itu kawasan pasar lama di sekitar Jalan Ir. H. Juanda dan Jalan H. Agus Salim, dekat Stasiun Bekasi. Tapi kalau kamu tanya kenapa pasar kok disebut "Proyek", jawabannya sering cuma angkat bahu. Padahal di balik nama seadanya itu ada pasar yang umurnya sudah lewat 275 tahun.
Ringkasnya begini: Pasar Bekasi (kini dikenal sebagai Pasar Proyek dan Pasar Baru) adalah pasar tertua di Bekasi. Izin resminya dikeluarkan Gubernur Jenderal VOC G.W. van Imhoff pada 1 Februari 1746, dan lokasinya sejak awal ada di tepi timur Kali Bekasi, tempat jalur sungai bertemu jalan darat Bogor–Batavia. Nama "Proyek" baru muncul pada 1978, ketika pasar keringnya dibangun ulang jadi Pusat Pertokoan Bekasi dan papan bertuliskan "Proyek Pembangunan" terpampang di depannya. Kondektur angkot yang lebih dulu memakai nama itu, dan warga mengikutinya sampai sekarang.
Artikel ini menelusuri riwayat pasar-pasar tua Bekasi: dari izin VOC, peran Kali Bekasi dan stasiun kereta, pecinan dan kelenteng di sekitarnya, kelahiran Pasar Baru, sampai nasib Pasar Tambun dan Pasar Kranji hari ini. Kami hanya menulis yang bisa dilacak sumbernya.

Sejak Kapan Pasar Bekasi Ada?
Ada tiga angka tahun yang sering muncul, dan penting untuk membedakannya.
1746, izin resmi VOC. Ini yang paling kuat. Endra Kusnawan (Wisata Sejarah Bekasi, 2016) dan Goodnewsfromindonesia.id (2024) sama-sama mengutip dokumen Arsip Nasional (ANRI): pada 1 Februari 1746 Gubernur Jenderal G.W. van Imhoff mengeluarkan surat izin pendirian pasar di Bekasi dan Pondok Gede. Pasar Bekasi saat itu buka setiap hari Rabu dan berlokasi di sebelah timur Kali Bekasi. Resolusi yang sama juga jadi catatan tertua nama Pondok Gede, yang kami bahas di artikel Landhuis Pondok Gede.
1752, "era van Riemsdijk". Blog sejarah Poestaha Depok (2019), yang menggali koran-koran Belanda lama, menduga pasar didirikan sekitar 1752 sebagai simpul dagang utama di aliran Kali Bekasi, pada masa keluarga Jeremias van Riemsdijk (kelak Gubernur Jenderal 1775–1777) membuka land atau tanah partikelir Bekasi. Kata kuncinya "diduga": angka 1752 belum kami temukan dalam dokumen primer, jadi perlakukan sebagai perkiraan, bukan tanggal pasti.
1823, catatan koran pertama. Masih menurut Poestaha Depok, Pasar Bekasi pertama kali disebut di Bataviasche Courant edisi 26 April 1823. Catatan pajak tahun 1829 menyebut pasar buka pada hari Sabtu ("Pasar Sabtoe"), dan The Java Annual Directory and Almanac for 1816 yang dikutip Kusnawan juga mencatat hari pasar sudah bergeser dari Rabu ke Sabtu.
Beberapa media menulis pasar ini "berdiri sejak abad ke-16". Kami nggak menemukan dasar dokumennya; VOC sendiri baru berdiri 1602. Angka yang aman: pasar ini sudah pasti ada sejak pertengahan abad ke-18.
Kenapa Pasar Tumbuh di Tepi Kali Bekasi?
Jawabannya soal transportasi. Sebelum ada jalan raya dan rel, sungai adalah jalan tol-nya. Peta tahun 1724 yang dibahas Poestaha Depok sudah menunjukkan Fort Bacassie, benteng VOC di muara Kali Bekasi, dengan hanya beberapa kampung di pedalaman seperti Bantar Gebang. Hasil bumi dari pedalaman, menurut Kusnawan, dibawa pedagang dari Bantar Gebang, Cileungsi, Citeureup, sampai Bogor, lalu diperdagangkan di pasar yang letaknya persis di titik temu sungai dan jalan darat.
Goodnewsfromindonesia.id menggambarkan posisinya dengan tepat: pasar terjepit di antara Kali Bekasi dan jalan raya yang menghubungkan Bogor ke Muara (Jakarta). Jalan itu kemudian diperkuat pada era Daendels awal abad ke-19 (Jalan Raya Pos), yang menurut Infobekasi.co (2020) makin meningkatkan aktivitas pasar. Pada 1913, seperti dicatat Poestaha Depok dari Bataviaasch Nieuwsblad, jembatan Bekasi selesai dibangun dengan anggaran f44.680, menghubungkan dua tepi sungai secara permanen.
Stasiun Bekasi 1887: pasar makin ramai
Lompatan berikutnya datang dari rel. Stasiun Bekasi dibangun pada 1887, dan letaknya cuma beberapa ratus meter dari pasar. Kusnawan dan Infobekasi.co sama-sama mencatat pasar makin ramai setelah stasiun berdiri: pedagang dan hasil bumi bisa datang-pergi ke Batavia dalam hitungan jam. Cerita lengkap stasiunnya bisa kamu baca di artikel Planet Bekasi Sejarah Stasiun Bekasi.
Pecinan, Kelenteng, dan Bekasi Lautan Api
Pasar tua hampir selalu punya pecinan, dan Pasar Bekasi bukan pengecualian. Menurut Kusnawan, komunitas Tionghoa tinggal sekaligus berdagang di sekitar pasar, dan jejaknya paling jelas adalah Kelenteng Hok Lay Kiong di Jalan Kenari I, Bekasi Timur. Disparbud Kota Bekasi menyebut kelenteng ini berusia kurang lebih 300 tahun dan berdiri sangat dekat dengan Bekasi Junction, di tengah kawasan yang dulu dikenal sebagai pasar lama. Kalau angka 300 tahun itu benar, kelenteng dan pasar lahir hampir bersamaan.
Kawasan ini juga pernah hancur. Pada 13 Desember 1945, pasukan Inggris (Resimen Punjab ke-16) membumihanguskan Bekasi sebagai balasan atas tewasnya penumpang pesawat Dakota yang jatuh dekat Bekasi pada akhir November; menurut Wikipedia bahasa Indonesia, sekitar 600 rumah dibakar hari itu. Goodnewsfromindonesia.id (2022) mencatat pembakaran meluas dari alun-alun Bekasi sampai Kranji, Teluk Pucung, dan Bulak Kapal, dengan 641 keluarga (3.379 jiwa) kehilangan rumah. Kusnawan secara spesifik menyebut Pasar Bekasi ikut jadi korban peristiwa "Bekasi Lautan Api" itu, dan Tugu Agus Salim yang memperingatinya berdiri persis di Jalan H. Agus Salim, jalan pasar itu sendiri. Jadi bangunan pasar yang kita lihat sekarang bukan bangunan abad ke-18; yang bertahan adalah lokasinya.
Kenapa Disebut Pasar Proyek?
Ini pertanyaan yang paling sering ditanyakan, dan jawabannya cukup jelas berkat wawancara Infobekasi.co dengan sejarawan lokal Ali Anwar (2020), yang sejalan dengan tulisan Kusnawan (2016):
- Pada 1970-an, Pasar Bekasi dibagi dua: pasar basah (sayur, ikan, bahan pangan) dan pasar kering (pakaian, alat rumah tangga).
- Pada 1978, area pasar kering dibangun ulang dengan gaya modern berupa ruko-ruko, dinamai Pusat Pertokoan Bekasi.
- Selama pembangunan, di depan lokasi terpampang papan besar bertuliskan "Proyek Pembangunan". Kondektur angkutan umum yang meneriakkan tujuan lebih gampang bilang "Proyek! Proyek!" daripada nama resminya.
- Nama itu menempel. Sejak 2010 Pusat Pertokoan Bekasi berganti nama jadi Bekasi Junction, tapi warga tetap menyebutnya Pasar Proyek.
Disparbud Kota Bekasi menambahkan bahwa istilah "Proyek" juga lekat karena kawasan itu terus-menerus jadi lokasi pembangunan infrastruktur. Intinya sama: nama ini lahir dari papan proyek, bukan dari nama resmi mana pun. Ini contoh klasik toponimi jalanan, seperti "Pasar Rebo" yang lahir dari hari pasar.
Pasar Baru: Pasar Basah yang Dipindah ke Timur
Kalau Pasar Proyek adalah "anak" dari pasar kering, Pasar Baru Bekasi adalah anak dari pasar basahnya. Menurut Kusnawan, pada 1985 pasar basah dipindahkan ke sisi timur, dan karena bangunannya baru, orang menyebutnya Pasar Baru. Nama itu bertahan sampai sekarang: Pasar Baru Bekasi Timur di sekitar Jalan Ir. H. Juanda dan Jalan Mohamad Yamin, pasar rakyat milik Pemkot Bekasi.

Masalah klasik Pasar Baru adalah pedagang yang tumpah ke jalan. Go Bekasi (Juni 2026) mencatat kawasan Juanda–Pasar Baru puluhan tahun macet karena lapak memenuhi trotoar dan badan jalan. Pemkot Bekasi di bawah Wali Kota Tri Adhianto lalu memulai penataan: PKL direlokasi ke dalam gedung pasar, trotoar dan drainase diperbaiki. Pengelolaan Pasar Baru juga dialihkan dari Dinas Perdagangan ke BUMD PT Mitra Patriot. Saat sidak Agustus 2026, seperti dilaporkan Rakyat Bekasi, Blok 2 sedang disiapkan jadi plaza terbuka untuk menampung sekitar 300 pedagang dari Jalan Mohamad Yamin, sementara pedagang masih mengeluhkan keamanan dan lift barang yang belum terpasang.
Bagaimana dengan Pasar Tambun dan Pasar Kranji?
Dua pasar ini juga sering disebut pasar tua, tapi jujur saja, dokumentasi sejarahnya jauh lebih tipis dibanding Pasar Bekasi. Kami belum menemukan sumber yang menyebut tahun berdirinya. Yang bisa dipastikan:
Pasar Tambun
Letaknya menempel di Stasiun Tambun, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi; Wikipedia bahkan mencatat "Perlintasan Pasar Tambun" sebagai nama pelintasan sebidang di dekat stasiun. Pola stasiun-plus-pasar yang sama dengan Bekasi. Pada Juni 2023, Pemkab Bekasi memilih Pasar Tambun sebagai percontohan pasar modern dan digitalisasi: pembayaran QRIS, pojok informasi BPOM untuk uji bahan berbahaya, dan tera ulang timbangan, seperti diberitakan situs resmi bekasikab.go.id.
Pasar Kranji
Pasar milik Pemkot Bekasi di Bekasi Barat ini justru jadi contoh revitalisasi yang gagal. Menurut Poskota (2024), perjanjian kerja sama dengan pengembang swasta diteken 27 Desember 2019 dengan target rampung 24 bulan, tapi pembangunan nyaris nggak jalan. Monitor Indonesia (April 2026) melaporkan proyek Pasar Kranji Baru mangkrak tujuh tahun, sekitar 800 pedagang masih di penampungan sementara, dan dana sekitar Rp40 miliar yang disetor pedagang sebagai uang muka dipertanyakan. Direktur pengembangnya sempat ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Negeri Bekasi. Kalau kamu penasaran asal nama Kranji dan Tambun sendiri, ada di artikel Asal-Usul Nama Kecamatan di Bekasi: Tambun, Kranji, Pondok Gede.
Pasar Tua di Tengah Kota Mal
Goodnewsfromindonesia.id menyebut masa kejayaan Pasar Bekasi berlangsung dari pertengahan abad ke-18 sampai 1980-an, dan mulai tersaingi sejak Mall Metropolitan berdiri di dekat Tol Bekasi Barat pada 1990-an. Sejak itu Bekasi jadi kota mal, tapi Pasar Proyek dan Pasar Baru tetap hidup karena satu hal yang nggak bisa ditiru mal: lokasinya persis di simpul sungai, jalan raya, dan stasiun yang sudah dipakai orang sejak 1746. Disparbud Kota Bekasi pun kini memasukkan kawasan pasar lama dan Kelenteng Hok Lay Kiong dalam daftar destinasi sejarahnya.
Fakta Singkat
- 1 Februari 1746: Gubernur Jenderal van Imhoff mengizinkan pendirian pasar di Bekasi (dan Pondok Gede); pasar buka hari Rabu di timur Kali Bekasi.
- 1816–1829: hari pasar bergeser ke Sabtu ("Pasar Sabtoe"); catatan koran pertama di Bataviasche Courant 26 April 1823.
- 1887: Stasiun Bekasi dibuka, pasar makin ramai.
- 13 Desember 1945: Pasar Bekasi ikut terbakar dalam peristiwa Bekasi Lautan Api.
- 1978: pasar kering dibangun jadi Pusat Pertokoan Bekasi; papan "Proyek Pembangunan" melahirkan nama Pasar Proyek. Sejak 2010 bernama Bekasi Junction.
- 1985: pasar basah dipindah ke timur, jadi Pasar Baru Bekasi.
- 2019–2026: revitalisasi Pasar Kranji mangkrak; sekitar 800 pedagang terdampak.
Pertanyaan Umum Seputar Pasar Tua Bekasi
Apa pasar tertua di Bekasi?
Pasar Bekasi, yang kini dikenal sebagai Pasar Proyek (Bekasi Junction) dan Pasar Baru di Bekasi Timur. Izin pendiriannya dikeluarkan Gubernur Jenderal VOC van Imhoff pada 1 Februari 1746, sehingga umurnya sudah lebih dari 275 tahun.
Kenapa Pasar Bekasi disebut Pasar Proyek?
Karena pada 1978, saat pasar kering dibangun ulang menjadi Pusat Pertokoan Bekasi, di depannya terpasang papan "Proyek Pembangunan". Kondektur angkot menyebut tujuan itu "Proyek", dan nama itu dipakai warga sampai sekarang meski gedungnya sudah bernama Bekasi Junction sejak 2010.
Apa bedanya Pasar Proyek dan Pasar Baru Bekasi?
Keduanya berasal dari satu Pasar Bekasi yang dibagi dua pada 1970-an. Pasar kering (pakaian, perkakas) menjadi Pasar Proyek/Bekasi Junction, sedangkan pasar basah (sayur, ikan, pangan) dipindah ke timur pada 1985 dan disebut Pasar Baru.
Apa peran Kali Bekasi dalam sejarah pasar?
Kali Bekasi adalah jalur angkut hasil bumi dari pedalaman (Bantar Gebang, Cileungsi, Bogor) sebelum ada jalan raya dan rel. Pasar didirikan di tepi timur sungai, di titik temu dengan jalan Bogor–Batavia, dan makin ramai setelah Stasiun Bekasi dibuka pada 1887.
Di mana lokasi Pasar Proyek sekarang?
Di kawasan Jalan Ir. H. Juanda dan Jalan H. Agus Salim, Kelurahan Bekasi Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, dekat Stasiun Bekasi dan Kelenteng Hok Lay Kiong. Gedung utamanya kini bernama Bekasi Junction.
Sumber & Referensi
- Endra Kusnawan, "Tentang Pasar Proyek Bekasi", Wisata Sejarah Bekasi (2016): wisatasejarahbekasi.blogspot.com
- Mutiara Annisa, "Sejarah Pasar Proyek Bekasi" (wawancara Ali Anwar), Infobekasi.co (2020): infobekasi.co
- Rizky Kusumo, "Merawat Keramaian Pasar Tertua di Bekasi, Dibangun Sejak Zaman VOC", Goodnewsfromindonesia.id (2024): goodnewsfromindonesia.id
- Poestaha Depok, "Sejarah Bekasi (1): Asal Mula Kota Bekasi di Sungai Bekasi; Perkembangan Tanah Partikelir dan Terbentuknya Pasar Bekasi" (2019): poestahadepok.blogspot.com
- Disparbud Kota Bekasi, "Klenteng Hok Lay Kiong": disparbud.bekasikota.go.id
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Bekasi Lautan Api": id.wikipedia.org; Rizky Kusumo, "Bekasi Lautan Api, Pertempuran Heroik para Pejuang dari Kota Patriot", Goodnewsfromindonesia.id (2022): goodnewsfromindonesia.id
- Pemkab Bekasi, "Pasar Tambun Percontohan Pasar Modern dan Digitalisasi di Kabupaten Bekasi" (2023): bekasikab.go.id
- Rakyat Bekasi, "Sidak Revitalisasi Pasar Baru, Wali Kota Bekasi Temukan Sejumlah Catatan" (2026): rakyatbekasi.com; Monitor Indonesia, "Revitalisasi Pasar Kranji Baru Bekasi Mangkrak 7 Tahun" (2026): monitorindonesia.com
Kamu pedagang atau anak pedagang Pasar Proyek yang masih ingat papan "Proyek Pembangunan" tahun 1978? Atau tahu cerita berdirinya Pasar Tambun dan Pasar Kranji yang belum tercatat di mana-mana? Kirim ke Planet Bekasi, karena sejarah pasar adalah sejarah warga itu sendiri. Temukan kisah lainnya di rubrik Asal Usul.
Posting Komentar