Sejarah Pendidikan Bekasi: Sekolah Tertua 1917 sampai Kampus

Daftar Isi

Setiap pagi, ratusan ribu anak Bekasi berangkat sekolah: dari SD negeri di gang sempit Bekasi Timur, madrasah di Babelan, sampai kampus berbahasa Inggris di tengah kawasan industri Cikarang. Tapi coba tanya, sekolah mana yang paling tua di Bekasi, dan sejak kapan orang Bekasi mengenal bangku sekolah? Jawabannya ternyata lebih tua dari Republik ini.

Jawaban singkatnya: sekolah formal tertua yang masih berdiri di Bekasi adalah SDN Simpangan 01 Lemahabang di Cikarang Utara, yang dibuka Belanda sebagai sekolah desa (Volksschool) pada 1 Januari 1917. Pendidikan pesantren modern dirintis KH Noer Alie di Ujungharapan sejak 1940. SMA negeri pertama, SMAN 1 Bekasi, dibuka 1962 sebagai cabang SMA Negeri Karawang. Kampus pertama, cikal bakal Universitas Islam "45" (Unisma), diresmikan 20 April 1982, hari yang sama dengan lahirnya Kota Administratif Bekasi. Setelah itu datang gelombang kampus era industri: President University (2001/2004) dan Universitas Pelita Bangsa (2019) di Cikarang.

Foto lawas murid-murid sekolah desa (Volksschool) di sebuah desa di Jawa sekitar tahun 1920, koleksi KITLV
"Lagere school in een desa op Java": suasana kelas sekolah desa di Jawa sekitar 1920, sezaman dengan Volksschool Lemahabang di Cikarang (lokasi foto tidak disebutkan). Foto: Anonim, koleksi KITLV/Leiden University Library via Wikimedia Commons (CC BY 4.0).

Sekolah Desa Zaman Belanda: Volksschool Lemahabang 1917

Sebelum abad ke-20, pendidikan di Bekasi praktis hanya ada di langgar dan pengajian. Bekasi waktu itu adalah hamparan tanah partikelir milik tuan-tuan tanah, dan pemerintah kolonial nggak merasa perlu membangun sekolah buat anak petani penggarap. Baru sekitar 1907, di masa politik etis, pemerintah Hindia Belanda mulai membuka Volksschool atau sekolah desa: sekolah tiga tahun dengan pelajaran membaca, menulis, dan berhitung, yang dibiayai sebagian oleh kas desa. Historia.id (2025) mencatat jenjang inilah yang setelah pendudukan Jepang dan kemerdekaan berganti nama jadi Sekolah Rakyat (SR), lalu jadi Sekolah Dasar yang kita kenal sekarang.

Jejak paling nyata dari babak ini ada di Jalan Raya Lemahabang, Cikarang Utara. Beritasatu (2025) melaporkan bahwa SDN Simpangan 01 pertama kali berdiri pada 1 Januari 1917 dengan nama Volksschool Lemahabang, berganti nama jadi Sekolah Rakyat Lemahabang pada masa Jepang, dan sekarang sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Menurut Wahyudi Hafiludin Sadeli, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Bekasi, sekitar 70 persen bangunan aslinya masih terjaga, termasuk pondasi, tiang, pintu, dan genteng bertuliskan "Han Seng Batavia". Dari lima ruang kelas, dua masih dipakai belajar.

Kenapa Lemahabang? Karena pada awal abad ke-20 kampung itu sedang ramai: ada perusahaan beras milik pengusaha bernama Michiels Arnold dan jalur kereta api yang memudahkan distribusi. Sekolah dibangun untuk anak-anak pekerja perusahaan dan warga sekitarnya, yang oleh Wahyudi dibaca sebagai tanda bahwa pendidikan rakyat kecil mulai diperhatikan, walau dalam kerangka kepentingan kolonial. Bagaimana kampung-kampung di sekitar Cikarang berubah dari sawah jadi kota industri, kami bahas di artikel Sejarah Cikarang: Dari Sawah Jadi Kota Industri Jababeka.

Selain sekolah pemerintah, ada sekolah misi. Di Kampung Sawah, Pondok Melati, gedung kebaktian Gereja Kristen Pasundan yang dibangun 1902 merangkap sekolah, dan Pastor Oscar Cremers, O.F.M. membuka sekolah misi Katolik pada pertengahan 1930-an. Kisah lengkapnya ada di artikel Kampung Sawah Bekasi: Kampung Betawi Tiga Agama.

Pesantren Tua: Attaqwa Ujungharapan dan Generasi Sesudahnya

Kalau sekolah desa adalah jalur pemerintah, pesantren adalah jalur rakyat. Yang paling bersejarah adalah Pesantren Attaqwa di Ujungharapan, Desa Bahagia, Babelan, yang dulu bernama Oejoeng Malang. Situs Perguruan Attaqwa mencatat KH Noer Alie mulai mengajar di kampung halamannya pada 1940, sepulang belajar di Mekkah, dengan pengajian Al-Quran untuk warga desa. Setelah revolusi, dia membentuk Komite Pembangunan, Pemeliharaan, dan Pertolongan Islam pada Februari 1950, yang resmi jadi Yayasan P3I lewat akta nomor 11 tanggal 6 Agustus 1956, lalu berganti nama jadi Yayasan Attaqwa pada 17 Desember 1986. Kepemimpinan diserahkan kepada KH Moh. Amin Noer pada 14 Februari 1987.

Skalanya sekarang luar biasa. Republika (2016) mengutip Muhtadi Muntaha dari Pesantren Attaqwa yang merinci lembaga di bawah yayasan: 36 TK, 62 madrasah ibtidaiyah, 1 SDIT, 23 MTs, 13 SMP, 7 MA, 3 SMU, 1 STM, 1 SMK, Pesantren Tinggi Attaqwa, dan STAI Attaqwa; sampai 2013 ada sekitar 50 cabang yayasan di Bekasi dan sekitarnya. Nama pendirinya kini diabadikan pada Institut Attaqwa KH Noer Alie. Perjalanan hidup sang kiai, dari santri Mekkah sampai Pahlawan Nasional, kami tulis di artikel KH Noer Alie, Singa Karawang-Bekasi.

Attaqwa nggak sendirian. KBE Online (2025) mencatat beberapa pesantren tua lain di Bekasi: Pesantren An Nida Al Islamy (1963), Pesantren An-Nur YAPINK (1969), dan Hidayatunnajah (1989). Di Kampung Sawah, KH Rachmadin Afif mendirikan Yayasan Fisabilillah (Yasfi) pada 1977 yang kini mengelola pesantren dan sekolah dari TK sampai SMA. Angka-angka tahun berdiri pesantren ini berasal dari situs masing-masing dan liputan media lokal, jadi perlu dicek ulang ke arsip yayasan kalau kamu butuh data resmi.

SMAN 1 Bekasi: SMA Negeri Pertama, Lahir sebagai Cabang Karawang

Setelah Kabupaten Bekasi berdiri pada 1950, kebutuhan sekolah menengah makin mendesak. Anak Bekasi yang mau lanjut SMA harus ke Jakarta atau Karawang. Menurut situs resmi SMAN 1 Bekasi dan liputan Infobekasi (2016), sekolah ini dimulai pada 1962 sebagai filial atau kelas jauh dari SMA Negeri Karawang. Belum punya gedung sendiri, sekolah menumpang satu setengah tahun di gedung Sekolah Kepandaian Putri (SKP) yang sekarang jadi SMPN 3 Bekasi, lalu pindah ke bekas SDN Teluk Angsan yang sekarang jadi SMPN 18. Infobekasi menyebut tokoh yang memprakarsai pendiriannya adalah Raden K. Kusumo.

Penegeriannya ditetapkan lewat SK Kantor Wilayah Depdikbud Jawa Barat pada 30 Juli 1964, dan angkatan pertama lulus pada 1965. Sejak itu alamatnya di Jalan KH Agus Salim, Bekasi Timur, awalnya nomor 77 lalu nomor 181 sampai sekarang. Wikipedia Indonesia menyebut tahun 1963 sebagai tahun peresmian; perbedaan ini tampaknya soal mana yang dihitung, tahun mulai belajar (1962) atau tahun peresmian dan penegerian (1963–1964). Yang jelas, inilah SMA negeri tertua di Bekasi, dan sampai 2010 sudah meluluskan sekitar 45 angkatan. Alumninya antara lain Muliaman D. Hadad, mantan Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Eep Saefulloh Fatah, pengamat politik.

Sekolah-sekolah negeri lain menyusul di era 1970–1990-an, dan sejak 1 Januari 2017 pengelolaan SMA dan SMK dialihkan dari Dinas Pendidikan Kota Bekasi ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, sehingga Pemkot kini hanya mengurus PAUD, TK, SD, dan SMP.

Unisma 1982: Kampus Pertama yang Lahir Bareng Kota Bekasi

Kampus pertama di Bekasi lahir dari keresahan seorang bupati. H. Abdul Fatah, Bupati Bekasi 1973–1983, menurut Indonesiana (2021) berpendapat bahwa kota hanya akan maju kalau punya sumber daya manusia yang cerdas. Dia mendirikan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) "45" Bekasi pada 12 April 1982, dan setelah lokakarya di Jatiluhur pada 1 April 1982 diputuskan mendirikan Akademi Pembangunan Desa (APD). Kopertis Wilayah IV mengeluarkan izin operasional pada 17 April 1982, dan pada 20 April 1982 Menteri Dalam Negeri meresmikan kegiatan belajar mengajarnya, tepat di hari yang sama Kota Administratif Bekasi diresmikan.

Dari akademi kecil itu, lembaganya tumbuh cepat: menjadi Akademi Administrasi Pembangunan (1984), lalu STISIP (1985), dan pada 1987 empat sekolah tinggi (STISIP, STKIP, STIE, dan STIPER) dilebur jadi Universitas Islam "45" Bekasi berdasarkan SK Mendikbud No. 0483/O/1987. Kampusnya berdiri di lahan sekitar 10 hektare di Jalan Cut Meutia No. 83, Margahayu, Bekasi Timur, dengan 7 fakultas, sekolah pascasarjana, dan 28 program studi. Selama puluhan tahun, Unisma adalah kampus swasta tertua dan terbesar di Bekasi.

Babak barunya baru saja dimulai. Situs resmi kampus menyatakan bahwa terhitung 28 Agustus 2025 pengelolaan Unisma dialihkan dari YPI "45" kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan kampus bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Indonesia. Antara (2025) melaporkan seremoni alih kelolanya pada 16 September 2025 dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Fauzan. Jadi kalau kamu mendengar nama "UM Indonesia" di Bekasi, itu Unisma yang sama.

Kampus Era Industri: President University dan Pelita Bangsa

Gelombang kedua pendidikan tinggi di Bekasi datang bersama pabrik. Ketika Jababeka tumbuh jadi kota industri pada 1990-an, pendirinya S.D. Darmono bersama Prof. Donald W. Watts, Presiden Bond University di Queensland, merancang konsep universitas berbahasa Inggris pada September 1997 untuk mencetak pemimpin industri. Menurut situs resmi kampus, lembaganya mulai beroperasi 2001 sebagai Sekolah Tinggi Teknik Cikarang, lalu pada 16 April 2004 mendapat status universitas lewat SK Menteri Pendidikan No. 54/D/0/2004 dengan nama President University. Kampusnya di Jababeka Education Park, Cikarang Utara, kini punya sekitar 10.000 mahasiswa, 26 program studi di 7 fakultas, dan Wikipedia Inggris mencatat pada 2025 ada 439 mahasiswa asing atau sekitar 7,8 persen, salah satu yang tertinggi di Indonesia.

Di sisi lain Kalimalang, Universitas Pelita Bangsa (UPB) tumbuh dari bawah. Yayasan Pelita Bangsa dibentuk lewat akta notaris 19 Mei 2000, membuka Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi pada 2000–2001 dengan program Manajemen dan Akuntansi, lalu Sekolah Tinggi Teknik (STT) Pelita Bangsa. Keduanya digabung menjadi universitas berdasarkan SK Kementerian No. 664/KPT/I/2019 tanggal 2 Agustus 2019, dan diresmikan Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum pada 21 September 2019 di kampus Jalan Inspeksi Kalimalang, Cikarang Pusat. Posisinya yang dikelilingi kawasan industri membuat UPB dikenal sebagai kampus kelas karyawan.

Selain keduanya, sejumlah kampus Jakarta membuka kampus cabang di Bekasi, di antaranya Universitas Bhayangkara Jakarta Raya dengan Kampus II di Jalan Raya Perjuangan, Bekasi Utara. Ditambah STAI dan Institut Attaqwa di Babelan, pilihan kuliah di Bekasi kini jauh lebih beragam dibanding 1982, ketika satu-satunya pilihan adalah akademi kecil yang menumpang gedung.

Benang Merah: Dari Langgar ke Kampus Internasional

Kalau ditarik garis, pendidikan Bekasi tumbuh dalam empat gelombang. Pertama, gelombang kolonial 1917–1942 dengan sekolah desa tiga tahun di kampung-kampung ramai seperti Lemahabang, plus sekolah misi. Kedua, gelombang pesantren dan madrasah 1940–1960-an yang dipimpin KH Noer Alie dan kiai-kiai lain, yang sampai sekarang jadi tulang punggung pendidikan dasar di Kabupaten Bekasi. Ketiga, gelombang sekolah negeri sejak 1962 seiring Bekasi jadi kabupaten mandiri. Keempat, gelombang kampus sejak 1982, yang berubah karakter dari kampus daerah (Unisma) jadi kampus industri dan internasional (President University, Pelita Bangsa) setelah Cikarang jadi kota pabrik.

Setiap gelombang punya pola yang sama: sekolah dibangun di tempat yang sedang ramai secara ekonomi, dan digerakkan oleh tokoh yang keras kepala, entah itu pengusaha beras, kiai, bupati, atau pengembang kawasan industri.

Fakta Singkat

  • SDN Simpangan 01 Lemahabang, Cikarang Utara: berdiri 1 Januari 1917 sebagai Volksschool Lemahabang; kini cagar budaya, sekitar 70 persen bangunan asli.
  • Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Babelan: dirintis KH Noer Alie 1940; Yayasan P3I 6 Agustus 1956; jadi Yayasan Attaqwa 17 Desember 1986; sekitar 50 cabang hingga 2013.
  • SMAN 1 Bekasi: mulai 1962 sebagai filial SMA Negeri Karawang; SK penegerian 30 Juli 1964; lulusan pertama 1965; Jalan KH Agus Salim No. 181, Bekasi Timur.
  • Unisma: cikal bakal Akademi Pembangunan Desa diresmikan 20 April 1982; jadi universitas 1987 (SK Mendikbud 0483/O/1987); kampus 10 ha di Jalan Cut Meutia; sejak 28 Agustus 2025 dikelola PP Muhammadiyah sebagai Universitas Muhammadiyah Indonesia.
  • President University: konsep 1997, beroperasi 2001 sebagai Sekolah Tinggi Teknik Cikarang, status universitas 16 April 2004; sekitar 10.000 mahasiswa, 26 prodi.
  • Universitas Pelita Bangsa: yayasan 19 Mei 2000, STIE 2001, jadi universitas lewat SK 2 Agustus 2019, diresmikan 21 September 2019 di Cikarang Pusat.
  • Sejak 1 Januari 2017, SMA/SMK di Kota Bekasi dikelola Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Pertanyaan Umum Seputar Sejarah Pendidikan Bekasi

Apa sekolah tertua di Bekasi?

Sekolah formal tertua yang masih beroperasi adalah SDN Simpangan 01 Lemahabang di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, yang dibuka Belanda sebagai Volksschool Lemahabang pada 1 Januari 1917. Bangunannya kini berstatus cagar budaya dan dua ruang kelas aslinya masih dipakai belajar.

Kapan SMAN 1 Bekasi berdiri?

SMAN 1 Bekasi mulai menerima murid pada 1962 sebagai filial SMA Negeri Karawang, menumpang di gedung SKP yang kini jadi SMPN 3. Penegeriannya ditetapkan 30 Juli 1964 dan angkatan pertama lulus 1965. Sebagian sumber, termasuk Wikipedia, menyebut 1963 sebagai tahun peresmian.

Apa universitas pertama di Bekasi?

Universitas Islam "45" (Unisma) Bekasi, yang berawal dari Akademi Pembangunan Desa yang diresmikan 20 April 1982 oleh Bupati H. Abdul Fatah lewat YPI "45", lalu menjadi universitas pada 1987. Sejak 28 Agustus 2025 kampus ini dikelola PP Muhammadiyah dan berganti nama menjadi Universitas Muhammadiyah Indonesia.

Kapan Pesantren Attaqwa didirikan dan siapa pendirinya?

Pesantren Attaqwa dirintis KH Noer Alie pada 1940 di Ujungharapan, Babelan, sepulang beliau belajar di Mekkah. Kelembagaannya resmi lewat Yayasan P3I pada 1956 dan berganti nama menjadi Yayasan Attaqwa pada 17 Desember 1986. Kini yayasan ini menaungi puluhan TK, MI, MTs, MA, SMP, SMA, SMK, dan perguruan tinggi.

Apa bedanya President University dan Universitas Pelita Bangsa?

Keduanya sama-sama di Cikarang. President University dirintis Jababeka bersama akademisi Australia, beroperasi sejak 2001 dan berstatus universitas sejak 2004, berbahasa pengantar Inggris dengan banyak mahasiswa asing. Universitas Pelita Bangsa lahir dari STIE dan STT Pelita Bangsa yang digabung pada 2019, dan lebih dikenal sebagai kampus kelas karyawan di Kalimalang.

Sumber & Referensi

  1. Beritasatu, "Sekolah Seabad di Bekasi, Saksi Bisu Zaman Belanda yang Masih Berdiri" (2025). beritasatu.com
  2. Historia.id, "Sepenggal Cerita tentang Sekolah Rakyat di Masa Lalu" (2025). historia.id
  3. Perguruan Attaqwa, "Sejarah". perguruan.attaqwa.or.id
  4. Republika, "Pesantren Attaqwa Bekasi, Wasilah Membangun Kampung Surga" (2016). republika.co.id
  5. SMAN 1 Bekasi, "Profil Sekolah". sman1bekasi.sch.id
  6. Infobekasi, "Menengok Sekolah Tertua di Kota Bekasi, SMA Negeri 1" (2016). infobekasi.co.id
  7. Wikipedia Indonesia, "SMA Negeri 1 Kota Bekasi". id.wikipedia.org
  8. Indonesiana, "Mengenang Sejarah Pendiri dan Napak Tilas Kampus Tertua di Bekasi, Unisma" (2021). indonesiana.id
  9. Unisma Bekasi / UM Indonesia, "Identitas: Sejarah". unismabekasi.ac.id
  10. Antara, "Unisma Bekasi transformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Indonesia" (2025). antaranews.com
  11. President University, "History". president.ac.id
  12. Tempo.co, "Wagub Jabar Resmikan Universitas Pelita Bangsa Bekasi" (2019). tempo.co
  13. Dinas Pendidikan Kota Bekasi, "Sejarah Pembentukan". disdik.bekasikota.go.id
  14. Wikimedia Commons, "Lagere school in een desa op Java, KITLV 2684" (c. 1920, Leiden University Library). commons.wikimedia.org

Dari ruang kelas berjendela jaring besi di Lemahabang sampai laboratorium di Jababeka, sejarah pendidikan Bekasi adalah sejarah orang-orang yang percaya bahwa anak kampung berhak pintar. Kamu alumni sekolah tua di Bekasi, atau punya foto angkatan lama, buku rapor zaman SR, atau cerita guru legendaris di kampungmu? Kirim ke redaksi Planet Bekasi atau tulis di kolom komentar. Cerita seperti ini kita kumpulkan di label Asal Usul.

Posting Komentar