Sejarah Pondok Gede dan Jatiasih: dari Kebun ke Kota Padat

Daftar Isi

Nama "Pondok Gede" konon berasal dari sebuah rumah besar—dalam bahasa Belanda-Jawa disebut "pondok" yang gede alias besar—milik seorang pendeta Belanda yang berdiri sejak 1775. Sementara itu, tetangganya, Jatiasih, menyimpan cerita yang jauh lebih tua, terkait dengan prasasti kerajaan Sunda berusia ratusan tahun. Dua kawasan di Bekasi Selatan ini sama-sama berubah drastis: dari lahan pertanian dan perkebunan kolonial, jadi kawasan permukiman terpadat yang menyangga Jakarta.

Bundaran pusat Jatiasih, Kota Bekasi
Bundaran pusat Jatiasih, Kota Bekasi — kawasan yang dulunya perkampungan dan perkebunan, kini jadi salah satu pusat permukiman Bekasi Selatan. Foto: jatiasih.my.id via Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0).

Perjalanan kedua wilayah ini menarik ditelusuri karena keduanya sempat menjadi satu kecamatan besar sebelum akhirnya mekar dan berkembang pesat lewat gelombang urbanisasi Jabodetabek.

Sebelum masuk lebih dalam, kamu bisa juga membaca kisah wilayah lain di Bekasi lewat label Asal Usul Planet Bekasi.

Asal-Usul Nama Pondok Gede: Bukan Cuma Soal Rumah Besar

Cerita yang paling populer soal nama Pondok Gede menyebut asalnya dari sebuah bangunan besar yang dibangun sekitar 1775 oleh Johannes Hooyman, seorang pendeta Protestan asal Belanda yang juga dikenal sebagai etnograf. Karena ukurannya yang mencolok di tengah hamparan sawah dan padang penggembalaan, penduduk sekitar menyebutnya "pondok yang gede", yang lama-kelamaan menyingkat jadi Pondok Gede.

Namun ada versi lain yang justru membantah legenda ini sebagai satu-satunya penjelasan. Berdasarkan penelusuran arsip Arsip Nasional Republik Indonesia, nama kawasan ini sudah ada sebelum 1746—lebih tua dari tahun pembangunan rumah Hooyman. Bahkan, Gubernur Jenderal VOC G.W. van Imhoff tercatat memberi izin pendirian pasar di Pondok Gede pada 1 Februari 1746. Artinya, nama kawasan ini kemungkinan sudah dipakai sebelum legenda rumah besar itu populer, meski belum ada sumber yang menjelaskan tuntas asal nama versi yang lebih tua ini.

Terlepas dari perbedaan versi soal siapa yang lebih dulu, dua-duanya sepakat bahwa "pondok" di sini merujuk pada bangunan sederhana—awalnya gudang yang diubah jadi tempat tinggal buruh perkebunan—yang kemudian berkembang jadi permukiman.

Johannes Hooyman dan Landhuis yang Kini Jadi Mal

Terlepas dari perdebatan soal asal katanya, rumah besar atau landhuis milik Johannes Hooyman (1741–1789) tetap jadi bagian penting sejarah kawasan ini. Hooyman tiba di Batavia pada 1765, kemudian menjadi anggota Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada 1778, dan mengembangkan usaha pertanian skala besar di lahan yang kini jadi Pondok Gede.

Bangunannya sendiri unik karena memadukan gaya arsitektur Indonesia dan Eropa: lantai dasar bergaya terbuka ala joglo dengan serambi di tiga sisi, sementara bagian depan berlantai dua mengikuti gaya tertutup khas Belanda. Sayangnya, Hooyman tak sempat menikmati lama kediamannya—ia tewas ditembak di depan rumahnya sendiri pada 20 Juni 1789.

Kepemilikan tanah kemudian berpindah ke Lendeert Miero, yang juga dikenal dengan nama Juda Leo Ezekiel, seorang pedagang keturunan Yahudi Polandia yang membeli properti ini pada 1800 setelah membangun kekayaannya dari berdagang. Bangunan bersejarah ini akhirnya dirobohkan pada 1992 untuk dibangun pusat perbelanjaan modern yang kini dikenal sebagai Plaza Pondok Gede—meski sempat mendapat status perlindungan berdasarkan aturan kepurbakalaan. Nama Pondok Gede sendiri tetap lestari sebagai identitas kawasan hingga sekarang, bahkan sempat makin dikenal luas lewat lagu "Ujung Aspal Pondok Gede" milik Iwan Fals yang dirilis pada 1985.

Dari Kebun Sereh ke Perkebunan Karet

Pada masanya, lahan di sekitar landhuis Pondok Gede berfungsi sebagai onderneming atau perusahaan perkebunan kolonial seluas sekitar 325 hektare. Awalnya kawasan ini ditanami sereh wangi untuk kebutuhan industri minyak atsiri, sebelum kemudian beralih fungsi menjadi perkebunan karet seiring meningkatnya permintaan komoditas karet dunia pada awal abad ke-20.

Transisi dari kebun sereh ke kebun karet ini mencerminkan pola umum ekonomi perkebunan di pinggiran Batavia pada masa kolonial, di mana lahan-lahan swasta terus menyesuaikan komoditas tanam mengikuti fluktuasi harga pasar dunia. Jejak masa perkebunan inilah yang jadi cikal-bakal sebagian besar permukiman di Pondok Gede sekarang, sebelum akhirnya benar-benar berubah jadi kawasan perumahan padat penduduk pada paruh kedua abad ke-20.

Asal-Usul Nama Jatiasih dan Kampung-Kampungnya

Berbeda dengan Pondok Gede yang erat dengan sejarah kolonial, asal-usul nama Jatiasih justru ditelusuri sejumlah kajian toponimi hingga ke era kerajaan Sunda. Salah satu kajian antropolinguistik mengaitkan nama Jatiasih dengan kata "pengasih", merujuk pada kebaikan hati Sri Baduga—raja yang dikenal lewat prasasti beraksara Sunda Kuno yang ditemukan di Kampung Kebantenan, Bekasi, pada 1867—yang disebut membebaskan pajak bagi wilayah tertentu pada masanya. Perlu dicatat, ini merupakan salah satu tafsir dari kajian toponimi lokal, bukan penjelasan resmi dari pemerintah, sehingga masih terbuka kemungkinan versi lain soal asal kata ini.

Yang lebih menarik, beberapa kampung di dalam wilayah Jatiasih ternyata punya cerita asal-usul namanya masing-masing, banyak di antaranya terkait jejak penyebaran Islam dari Kesultanan Banten dan Cirebon. Kampung Kebantenan, misalnya, konon dinamai dari sebuah pesarean atau tempat istirahat para ulama Banten yang melakukan perjalanan ke Cirebon. Kampung Jatikramat dikaitkan dengan makam keramat Syekh Su'ud, keturunan Sultan Hasanuddin dari Banten, yang menyebarkan Islam di kawasan yang dulu berupa hutan jati lebat sambil bersembunyi dari kejaran penjajah Belanda. Ada pula Kampung Pamahan yang namanya ditautkan pada tokoh bernama Ki Ageng Pamanahan, serta Kampung Pondok Benda dan Kampung Bojongsari yang masing-masing punya legenda tokoh sakralnya sendiri.

Dari Kecamatan Besar ke Pemekaran Wilayah

Secara administratif, Jatiasih dulunya adalah bagian dari Kecamatan Pondok Gede, yang pada masanya tercatat sebagai kecamatan terluas di Kabupaten Bekasi. Menurut catatan kecamatan setempat, Jatiasih mulai memisahkan diri sebagai "kecamatan perwakilan" pada 1986, sebelum akhirnya mendapat status kecamatan definitif pada 1992.

Perubahan status administratif yang lebih besar terjadi pada 1996, ketika status Kota Administratif Bekasi ditingkatkan menjadi Kotamadya (kini disebut Kota) melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1996. Lewat undang-undang ini, tiga kecamatan baru ditambahkan ke wilayah Kotamadya Bekasi, yakni Pondokgede, Jatiasih, dan Bantargebang. Kecamatan Pondok Gede sendiri kemudian terus mengalami pemekaran lebih lanjut, melahirkan kecamatan-kecamatan baru seperti Jatisampurna dan Pondok Melati, sehingga wilayahnya yang dulu sangat luas kini tersisa lima kelurahan: Jatiwaringin, Jatimakmur, Jatibening, Jatibening Baru, dan Jaticempaka.

Sementara itu, Kecamatan Jatiasih saat ini terdiri dari enam kelurahan, yaitu Jatiasih, Jatirasa, Jatimekar, Jatikramat, Jatiluhur, dan Jatisari, dengan luas wilayah sekitar 2.304,9 hektare atau kurang lebih 10,45 persen dari total luas Kota Bekasi.

Ledakan Perumahan: Dari Sawah ke Kota Penyangga Jakarta

Posisi Pondok Gede dan Jatiasih yang berbatasan langsung dengan wilayah DKI Jakarta membuat keduanya jadi incaran utama pengembang properti sejak era 1980-an hingga sekarang. Pondok Gede bahkan kerap dianggap warga sebagai bagian dari Jakarta karena letaknya yang berdempetan dengan Jakarta Timur, meski secara administratif keduanya jelas berbeda wilayah.

Menurut rencana tata ruang Kota Bekasi, Jatiasih memang diperuntukkan sebagai kawasan permukiman dan jasa perdagangan. Titik balik pertumbuhannya terjadi pada 2007, ketika ruas Jakarta Outer Ring Road (JORR) yang melintasi kawasan ini resmi dibuka. Akses tol ini mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menarik gelombang baru penduduk, terutama para komuter yang bekerja di Jakarta tapi memilih tinggal di kawasan yang harganya lebih terjangkau seperti Jatiasih dan Pondok Gede.

Hasilnya bisa dilihat sekarang: lahan pertanian dan perkebunan yang dulu mendominasi kedua wilayah ini nyaris seluruhnya berubah menjadi kompleks perumahan, ruko, dan fasilitas komersial. Kepadatan penduduk terus meningkat seiring makin banyaknya warga Jabodetabek yang menjadikan kawasan ini rumah kedua sambil tetap beraktivitas di Jakarta. Kalau kamu tertarik menelusuri sejarah wilayah penyangga Jakarta lain di Bekasi, jelajahi arsip Asal Usul di Planet Bekasi.

Fakta Singkat

  • Nama Pondok Gede dikaitkan dengan rumah besar (landhuis) milik Johannes Hooyman yang dibangun sekitar 1775.
  • Izin pendirian pasar di Pondok Gede oleh VOC sudah tercatat sejak 1 Februari 1746, lebih tua dari legenda rumah Hooyman.
  • Johannes Hooyman tewas ditembak di depan rumahnya sendiri pada 20 Juni 1789.
  • Landhuis Pondok Gede dirobohkan pada 1992 dan lokasinya kini menjadi Plaza Pondok Gede.
  • Jatiasih berstatus kecamatan perwakilan sejak 1986, dan menjadi kecamatan definitif sejak 1992.
  • UU Nomor 9 Tahun 1996 menambahkan Kecamatan Pondokgede, Jatiasih, dan Bantargebang ke Kotamadya Bekasi.
  • Pembukaan ruas tol JORR pada 2007 mempercepat pertumbuhan permukiman di Jatiasih dan Pondok Gede.

Pertanyaan Umum Seputar Sejarah Pondok Gede dan Jatiasih

Dari mana asal nama Pondok Gede?

Nama Pondok Gede paling sering dikaitkan dengan rumah besar (landhuis) milik pendeta Belanda Johannes Hooyman yang dibangun sekitar 1775. Namun, arsip menunjukkan nama kawasan ini kemungkinan sudah dipakai sebelum 1746, sehingga legenda rumah besar bukan satu-satunya penjelasan yang bisa dipastikan.

Kenapa Pondok Gede sering dianggap bagian dari Jakarta?

Karena letak geografisnya yang berbatasan langsung dan berdempetan dengan wilayah Jakarta Timur, sehingga banyak orang mengira wilayah ini masih masuk DKI Jakarta, padahal secara administratif Pondok Gede adalah kecamatan di Kota Bekasi.

Bagaimana asal-usul nama Jatiasih?

Salah satu kajian toponimi mengaitkan nama Jatiasih dengan kata "pengasih", merujuk pada kebaikan Raja Sri Baduga yang membebaskan pajak wilayah tertentu, sebagaimana tercatat dalam prasasti Kebantenan. Namun ini adalah salah satu tafsir dari penelitian lokal, bukan penjelasan tunggal yang telah dikonfirmasi lewat sumber resmi.

Sejak kapan Jatiasih menjadi perumahan padat penduduk?

Pertumbuhan permukiman di Jatiasih makin cepat sejak pembukaan ruas tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) pada 2007, yang membuat kawasan ini makin diminati komuter Jakarta karena harga hunian yang lebih terjangkau.

Apa yang terjadi dengan bangunan landhuis Pondok Gede sekarang?

Bangunan bersejarah itu dirobohkan pada 1992 untuk pembangunan pusat perbelanjaan, dan lokasinya kini dikenal sebagai Plaza Pondok Gede, meski nama kawasan tetap dipertahankan sebagai identitas wilayah.

Sumber & Referensi

  1. "Asal Usul Nama Pondok Gede yang Diambil dari Rumah Besar Milik Pendeta Belanda", Sindonews (2022). daerah.sindonews.com
  2. "Sejarah dan Asal Usul Pondokgede, Dahulu Lokasi Peternakan Milik Johannes Hoojiman", Okezone News (2023). news.okezone.com
  3. "Memori Landhuis Pondok Gede, Rumah Mewah yang Kini Telah Lenyap", Good News From Indonesia (2022). goodnewsfromindonesia.id
  4. "Asal Usul Pondok Gede, Wilayah Bekasi yang Sering Disebut Masuk Jakarta", iNews Bekasi (2022). bekasi.inews.id
  5. "7 Daerah di Bekasi dan Jakarta yang Pakai Nama Pondok, Lengkap dengan Sejarahnya", Sindonews (2023). daerah.sindonews.com
  6. "Pondokgede, Bekasi" dan "Jatiasih, Bekasi", Wikipedia Bahasa Indonesia. id.wikipedia.org/wiki/Pondokgede,_Bekasi
  7. "Theologi pada Toponimi Nama-Nama Kampung di Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi", kajian antropolinguistik, Academia.edu. academia.edu
  8. "PROFIL KELURAHAN | Jatiasih", situs resmi Kelurahan Jatiasih, Kota Bekasi. kel-jatiasih.bekasikota.go.id

Kamu tinggal di Pondok Gede atau Jatiasih dan punya cerita dari orang tua atau kakek-nenek soal kampung ini di masa lalu? Ceritakan ke redaksi Planet Bekasi, siapa tahu jadi bagian dari catatan sejarah warga yang belum banyak terekam.

Posting Komentar