Sejarah Sawah Bekasi: Dari Lumbung Padi ke Kawasan Industri
Sebelum jadi kota penuh pabrik dan perumahan, Bekasi lebih dulu dikenal sebagai hamparan sawah hijau yang jadi salah satu penyangga pangan Batavia. Julukan "lumbung padi" itu bukan basa-basi: sejak zaman kolonial, produktivitas sawah Bekasi tercatat lebih tinggi dari daerah sekitarnya, ditopang sistem irigasi yang akarnya bahkan bisa ditarik sampai era Kerajaan Tarumanagara.

Tapi dalam tiga dekade terakhir, cerita itu berbalik drastis. Data citra satelit menunjukkan luas sawah di Kabupaten Bekasi merosot dari sekitar 61.000 hektare pada 1990 jadi tinggal 35.000 hektare pada 2022—susut lebih dari separuh dalam satu generasi, digantikan kawasan industri dan perumahan yang menjamur sejak akhir 1980-an.
Ini bagian dari seri Asal Usul Planet Bekasi. Yuk kita telusuri gimana sawah Bekasi bisa sesubur itu, siapa yang membangun sistem pengairannya, dan kenapa lahan pertanian yang dulu jadi identitas kota ini makin lama makin menyusut.
Akar Irigasi Bekasi: Dari Punawarman sampai Kanal Kolonial
Cerita irigasi di Bekasi sebenarnya udah dimulai jauh sebelum ada VOC atau pemerintah kolonial. Menurut catatan sejarah lokal, pada era Kerajaan Tarumanagara sekitar abad ke-5, Maharaja Purnawarman memerintahkan penggalian dua sungai penting: Sungai Chandrabhaga dan Gomati, yang fungsinya antara lain untuk kepentingan pertanian dan mengendalikan banjir. Nama "Bekasi" sendiri dipercaya berasal dari evolusi kata "Chandrabhaga"—lewat rangkaian pergeseran ucapan jadi Bhagasasi, Bhagasi, Bacassie (ejaan Belanda), sampai akhirnya Bekasi seperti sekarang.
Fondasi pengairan kuno inilah yang bikin dataran Bekasi terus jadi wilayah pertanian andalan di era-era berikutnya. Memasuki masa kolonial Belanda, pemerintah Hindia Belanda membentuk biro irigasi khusus di bawah Departemen Pekerjaan Umum pada 1885 untuk menata sistem pengairan sawah se-Jawa secara terencana. Sampai 1925, investasi irigasi kolonial mencapai 160 juta gulden dan berhasil mengaliri sekitar 1.040.000 hektare sawah di Jawa dengan irigasi permanen. Ada ungkapan yang pas buat menggambarkan logika di baliknya: siapa yang mengendalikan air, mengendalikan panen—dan siapa yang mengendalikan panen, mengendalikan pajak.
Bekasi Distrik Padi Paling Subur di Sekitar Batavia
Berkat pengairan yang relatif baik dan tanah aluvial yang subur, distrik Bekasi di masa kolonial tercatat sebagai salah satu penghasil padi paling produktif di Regentschap Meester Cornelis (cikal bakal wilayah Jakarta Timur dan sekitarnya). Produktivitasnya disebut mencapai 30-40 pikul padi per bau, jauh di atas distrik-distrik lain yang rata-rata cuma 15-30 pikul per bau. Keuntungan besar dari hasil sawah ini sayangnya lebih banyak dinikmati tuan tanah partikelir keturunan Eropa dan pedagang Tionghoa yang menguasai lahan, ketimbang petani penggarap sendiri.
Ketimpangan inilah yang memicu berbagai perlawanan petani, dari aksi Entong Tolo—sosok yang dijuluki "Robin Hood-nya rakyat Bekasi" karena kerap merampas hasil tuan tanah untuk dibagikan ke rakyat kecil—sampai gelombang protes yang dimotori Sarekat Islam pada 1913-1922, termasuk protes petani di Setu (1913) dan pemogokan pembayaran pajak "cuka" (1918). Sawah yang subur ternyata nggak otomatis bikin makmur kalau sistem penguasaan lahannya timpang.
Kali Bekasi dan Peran Sungai dalam Menghidupi Sawah
Selain kanal-kanal irigasi buatan, Kali Bekasi—sungai yang mengalir dari kawasan Bogor lewat Bekasi menuju Laut Jawa—sejak dulu jadi salah satu sumber air utama bagi persawahan di sepanjang alirannya. Kombinasi antara sungai alami dan jaringan irigasi teknis inilah yang bikin Bekasi punya keunggulan dibanding daerah yang cuma mengandalkan tadah hujan. Petani bisa menanam lebih intensif dan risiko gagal panen jauh lebih kecil dibanding wilayah yang sistem airnya masih seadanya.
Warisan sungai dan kanal kolonial inilah yang kelak jadi modal utama ketika pemerintah Indonesia merancang sistem irigasi berskala lebih besar pasca-kemerdekaan untuk menopang kebutuhan pangan Jakarta dan sekitarnya yang terus bertambah penduduknya.
Kalimalang: Saluran Raksasa yang Mengubah Wajah Persawahan Bekasi
Puncak pembangunan irigasi modern di Bekasi datang lewat proyek Kalimalang, atau nama resminya Saluran Induk Irigasi Tarum Barat. Nama "Kalimalang" sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti "melintang", karena aliran kanal ini nggak mengikuti pola sungai alami dari gunung ke laut, melainkan membentang menyamping dari Bendung Curug di Purwakarta hingga Sungai Cipinang di Jakarta Timur, melintasi Karawang, Cikarang, Cibitung, Tambun, dan Kota Bekasi.
Pembangunan Kalimalang dimulai pada 1957 di era Presiden Sukarno, seiring pembangunan Bendungan Jatiluhur (kemudian dinamai Bendungan Ir. H. Djuanda) yang jadi sumber airnya. Bendungan Jatiluhur sendiri diresmikan pada 26 Agustus 1967 oleh Presiden Soeharto sebagai proyek multiguna: irigasi untuk sekitar 242.000 hektare sawah di Karawang dan Bekasi, pembangkit listrik, pengendali banjir, sekaligus penyedia air baku. Berkat Kalimalang, petani di Bekasi yang tadinya cuma bisa panen sekali setahun mulai bisa panen dua sampai tiga kali dalam setahun—lompatan besar yang memperkuat status Bekasi sebagai lumbung padi Jawa Barat sepanjang paruh kedua abad ke-20.
Selain untuk sawah, Kalimalang juga jadi sumber air baku bagi jutaan warga Jakarta dan Bekasi lewat operator seperti PDAM Tirta Bhagasasi dan PT Aetra. Fungsi ganda inilah yang bikin Kalimalang tetap jadi infrastruktur vital sampai hari ini, jauh melampaui perannya sebagai saluran irigasi semata.
Kenapa Julukan "Lumbung Padi" Bekasi Perlahan Pudar
Ironisnya, justru di saat sistem irigasi sudah matang, lahan sawah Bekasi malah mulai tergerus. Titik baliknya ada di akhir 1980-an: lewat Keputusan Presiden RI Nomor 53 Tahun 1989, pemerintah menetapkan zona kawasan industri seluas 6.000 hektare di Lemahabang dan Cibitung. Pembebasan lahan dimulai 1989 dan pembangunan besar-besaran berlangsung sejak 1992, melahirkan kawasan-kawasan industri raksasa seperti Jababeka, MM2100, EJIP, GIIC, dan Lippo Cikarang yang kini menampung lebih dari 7.500 pabrik.
Dampaknya ke lahan pertanian sangat nyata. Data menunjukkan luas sawah di Kabupaten Bekasi anjlok dari sekitar 61.000 hektare (1990) jadi 44.000 hektare (2013), lalu terus menurun jadi sekitar 35.000 hektare (2022). Ekspansi kawasan industri dan perumahan jadi penyebab utama, sampai-sampai pemerintah daerah kini mengusulkan skema insentif-disinsentif: setiap alih fungsi sawah wajib diganti lahan baru senilai setara, sementara pemilik yang mempertahankan sawahnya mendapat kemudahan izin dan keringanan pajak. Upaya ini penting bukan cuma soal nostalgia, tapi juga menyangkut ketahanan pangan Jawa Barat—mengingat Bekasi masih diharapkan jadi salah satu andalan produksi beras di provinsi ini.
Jejak Sawah yang Masih Bertahan di Bekasi
Meski gempuran industri dan properti begitu besar, bukan berarti sawah di Bekasi sudah habis sama sekali. Sebagian wilayah utara Kabupaten Bekasi seperti Pebayuran, Sukatani, dan Cabangbungin masih mempertahankan hamparan sawah yang cukup luas, mengandalkan jaringan irigasi turunan dari sistem Tarum Barat maupun sumber air Kali Bekasi. Wilayah-wilayah inilah yang jadi tumpuan terakhir untuk menjaga status Bekasi sebagai salah satu penopang lumbung padi Jawa Barat, di tengah tekanan alih fungsi lahan yang terus berlangsung di kawasan selatan dan tengah yang lebih dekat dengan pusat industri.
Kalau kamu penasaran gimana kawasan-kawasan industri itu awalnya juga tumbuh dari lahan yang sama, cerita transformasi Bekasi dari kota agraris ke kota industri ini juga jadi salah satu topik yang layak ditelusuri lebih dalam di seri Asal Usul Planet Bekasi.
Fakta Singkat
- Nama "Bekasi" dipercaya berasal dari "Chandrabhaga", sungai yang digali atas perintah Maharaja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanagara sekitar abad ke-5.
- Di masa kolonial, produktivitas sawah distrik Bekasi mencapai 30-40 pikul padi per bau, tertinggi di sekitar Regentschap Meester Cornelis.
- Pemerintah Hindia Belanda membentuk biro irigasi resmi pada 1885 dan berinvestasi hingga 160 juta gulden untuk irigasi sawah se-Jawa hingga 1925.
- Kalimalang (Saluran Induk Irigasi Tarum Barat) mulai dibangun 1957 pada era Presiden Sukarno, memakai air dari Bendungan Jatiluhur yang diresmikan 26 Agustus 1967.
- Berkat Kalimalang, petani Bekasi bisa panen 2-3 kali setahun, dari yang sebelumnya hanya sekali.
- Kepres No. 53 Tahun 1989 menetapkan 6.000 hektare lahan di Lemahabang-Cibitung sebagai zona industri, awal masifnya alih fungsi sawah.
- Luas sawah Kabupaten Bekasi anjlok dari sekitar 61.000 hektare (1990) menjadi sekitar 35.000 hektare (2022).
Pertanyaan Umum Seputar Sejarah Pertanian Bekasi
Kenapa Bekasi dulu dijuluki lumbung padi?
Karena sejak zaman kolonial, sawah di distrik Bekasi tercatat sangat produktif berkat tanah aluvial yang subur dan sistem irigasi dari Kali Bekasi maupun kanal-kanal buatan, dengan hasil panen jauh di atas rata-rata distrik lain di sekitar Batavia.
Apa itu Kalimalang dan apa hubungannya dengan sawah Bekasi?
Kalimalang adalah nama populer untuk Saluran Induk Irigasi Tarum Barat, kanal sepanjang puluhan kilometer yang mengalirkan air dari Bendungan Jatiluhur ke Bekasi dan Jakarta. Saluran ini memungkinkan petani Bekasi panen padi dua sampai tiga kali setahun, jauh meningkat dibanding sebelumnya.
Sejak kapan sawah di Bekasi mulai berubah jadi kawasan industri?
Perubahan besar dimulai akhir 1980-an, ditandai Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1989 yang menetapkan zona industri di Lemahabang dan Cibitung. Pembangunan kawasan industri besar-besaran berlangsung sejak awal 1990-an dan terus meluas hingga sekarang.
Berapa luas sawah yang tersisa di Bekasi sekarang?
Berdasarkan data citra satelit, luas sawah di Kabupaten Bekasi tinggal sekitar 35.000 hektare pada 2022, turun drastis dari sekitar 61.000 hektare pada 1990. Sebagian besar sisa sawah terkonsentrasi di wilayah utara seperti Pebayuran dan Cabangbungin.
Apakah masih ada upaya melindungi sawah yang tersisa di Bekasi?
Ada. Pemerintah daerah mengusulkan skema insentif-disinsentif, di mana setiap konversi sawah wajib diganti lahan baru bernilai setara, sementara pemilik yang mempertahankan sawahnya mendapat kemudahan perizinan dan keringanan pajak.
Sumber & Referensi
- Wikipedia Indonesia — "Kali Malang" — id.wikipedia.org
- Pemerintah Kabupaten Purwakarta (2020-an) — "Sejarah Bendungan Jatiluhur" — purwakartakab.go.id
- Radar Bekasi (2023) — "Jejak Sejarah Berkembangnya Kawasan Industri di Kabupaten Bekasi" — radarbekasi.id
- Radar Bekasi (2023) — "Sejarah Kalimalang Dulu dan Kalimalang Sekarang di Bekasi" — radarbekasi.id
- Antara News Megapolitan (2024) — "Strategi Kendalikan Tata Ruang Lindungi Lahan Sawah" — megapolitan.antaranews.com
- Jatim Times (2026) — "Menguasai Jawa Lewat Air: Politik Irigasi Kolonial Belanda dan Lahirnya Revolusi Pertanian" — jatimtimes.com
- Wikipedia Indonesia — "Kabupaten Bekasi" — id.wikipedia.org
- Kumparan (2023) — "Sejarah Kalimalang, Peran, dan Perkembangannya di Jawa Barat" — kumparan.com
Setiap kali kamu lewat Kalimalang yang sekarang lebih ramai motor dan mobil ketimbang perahu petani, coba bayangin dulu di sepanjang jalur itu terhampar sawah yang jadi sumber pangan Jakarta dan Bekasi. Kalau kampungmu masih punya sawah, atau justru menyimpan cerita tentang sawah yang berubah jadi perumahan, share ceritanya di kolom komentar Planet Bekasi—biar generasi berikutnya tetap tahu dari mana asal "lumbung padi" itu.
Posting Komentar