Sejarah Stasiun Bekasi: Dari Rel BOS 1887 ke Jalur Dwiganda

Daftar Isi

Setiap pagi, puluhan ribu orang berdesakan di peron Stasiun Bekasi buat ngejar KRL ke Jakarta. Angka resminya: sekitar 30 ribu penumpang naik-turun per hari pada 2024. Tapi coba tanya penumpang di sebelahmu, sejak kapan kereta lewat Bekasi? Kemungkinan besar jawabannya cuma angkat bahu.

Jawaban singkatnya: jalur kereta Batavia–Bekasi resmi dibuka untuk umum pada 31 Maret 1887, dibangun oleh perusahaan swasta Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij (BOS). Jalurnya lalu diperpanjang ke Cikarang (1890), Kedunggedeh (1891), dan Karawang (1898), sebelum dibeli pemerintah kolonial lewat Staatsspoorwegen (SS) pada 1898. Artinya, rel yang kamu lewati tiap hari sudah berumur hampir 140 tahun.

Di sepanjang umur itu, Stasiun Bekasi bukan cuma tempat naik-turun penumpang. Ia jadi saksi pembantaian tawanan Jepang pada Oktober 1945, titik ujung elektrifikasi KRL pada 1992, dan kini simpul jalur dwiganda (double-double track) yang bikin KRL dan kereta jarak jauh nggak lagi rebutan rel. Yuk, kita telusuri dari awal.

Foto hitam putih pasukan Belanda berpose di depan bangunan lama Stasiun Kranji, Bekasi, 2 Mei 1947
Pasukan Belanda (2e Infanterie Brigadegroep) di depan bangunan lama Stasiun Kranji, 2 Mei 1947. Bangunan bergaya Staatsspoorwegen seperti ini dulu juga berdiri di Stasiun Bekasi. Foto: Dienst voor Legercontacten Indonesië, koleksi Nationaal Archief via Wikimedia Commons (CC0).

Kapan Jalur Kereta Batavia–Bekasi Dibangun?

Ceritanya dimulai pada Juli 1880, ketika sekelompok pengusaha swasta mengajukan proposal konsesi jalur kereta dari Batavia ke arah timur menuju Karawang. Konsesi itu dikabulkan lewat keputusan 4 Januari 1882 kepada pemegang saham pengendali H.J. Meertens dan firma Tiedeman & Van Kerchem, yang kemudian mendirikan Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij, disingkat BOS. Nama jalurnya di masa kolonial: Krawanglijn, lin Karawang.

Prosesnya nggak mulus. Trase jalur berkali-kali direvisi, sampai-sampai konsesinya sempat ditangguhkan pada Oktober 1883. Baru lewat keputusan 19 Februari 1884, rute Batavia–Pasar Senen–Meester Cornelis (Jatinegara)–Bekasi disepakati dan pembangunan dimulai. Tiga tahun kemudian, 31 Maret 1887, ruas Batavia–Bekasi siap dipakai lalu lintas umum. Menurut sejarawan perkeretaapian S.A. Reitsma dalam Korte Geschiedenis der Nederlandsch-Indische Spoor- en Tramwegen (1928), yang dirujuk Wikipedia bahasa Indonesia, jalur itu lalu dipanjangkan bertahap: ke Cikarang pada 14 Agustus 1890, ke Kedunggedeh pada 21 Juni 1891, dan akhirnya ke Karawang pada 20 Maret 1898.

Stasiun Bekasi sendiri tercatat dibuka bersamaan dengan ruas pertama itu, Maret 1887, dengan nama lama Station Bekassie. Ejaan "Bekassie" ini sama dengan yang dipakai orang Belanda untuk nama daerahnya, seperti pernah kita bahas di artikel Asal-Usul Nama Bekasi: Dari Candrabhaga ke Bekassie.

Dari Swasta BOS ke Staatsspoorwegen: Kenapa Jalurnya Dijual?

BOS ternyata nggak sehat secara keuangan. Perusahaan ini terbelit utang, dan ambisinya memperpanjang jalur sampai Cirebon ditolak pemerintah. Di sisi lain, pemerintah kolonial lewat Menteri Urusan Jajahan J.T. Cremer justru butuh jalur ini sebagai bagian dari rencana besar menyambungkan Batavia ke Bandung lewat jalur utara yang lebih cepat.

Hasilnya, jalur Batavia–Karawang milik BOS diakuisisi negara. Akuisisi disahkan lewat Staatsblad No. 222 tertanggal 9 Juni 1898 dengan harga ƒ3.900.000, dan rampung pada 4 Agustus 1898. Sejak itu jalur ini dikelola Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda. SS langsung mengembangkan jalur ini: stasiun-stasiun BOS yang sederhana diganti bangunan permanen bergaya Indische, lalu relnya diteruskan ke Cikampek dan Purwakarta (diresmikan 27 Desember 1902) dan menembus pegunungan sampai Padalarang pada 2 Mei 1906. Sejak itu Bekasi resmi jadi bagian dari jalur utama Jakarta–Bandung–Jawa.

Pada 1920-an SS membangun jalur ganda di lintas ini. Koran de Preangerbode edisi 24 Juni 1922 melaporkan pembuatan jembatan kembar, termasuk Jembatan Kedunggedeh di atas Citarum yang rangka bajanya diimpor dari Jerman. Pada Oktober 1923, jalur ganda Kemayoran–Cikampek sudah beroperasi. Jadi ketika kamu lihat sepasang rel tua di sisi utara Stasiun Bekasi, itu warisan seabad lalu.

Oktober 1945: Kereta Tawanan Jepang yang Dihentikan di Stasiun Bekasi

Bagian paling kelam dari sejarah stasiun ini terjadi dua bulan setelah proklamasi. Pada 19 Oktober 1945, sebuah kereta dari Jakarta menuju Lapangan Terbang Kalijati, Subang, membawa sekitar 90 anggota angkatan laut Jepang (kaigun) yang hendak dipulangkan ke negaranya. Laskar rakyat Bekasi, yang menurut Tirto.id dipimpin Letnan Dua Zakaria Burhanuddin (wakil komandan TKR Jatinegara) bersama pegawai Djawatan Kereta Api RI di Bekasi, menghentikan kereta itu di Stasiun Bekasi dan mengalihkannya ke rel buntu.

Pemeriksaan gerbong menemukan senjata tersembunyi, sesuatu yang melanggar syarat penyerahan Jepang. Suasana memanas, terjadi baku tembak, dan para tawanan kemudian ditahan di bangunan pegadaian dekat stasiun sebelum dibunuh di tepi Kali Bekasi. Jasad mereka dibuang ke sungai. Sumber-sumber menyebut jumlah korban antara 87 dan 90 orang. Peristiwa ini memicu protes resmi dari Laksamana Muda Tadashi Maeda kepada pemerintah RI, sampai-sampai Presiden Sukarno datang ke Bekasi pada 25 Oktober 1945 untuk menegur warga dan meminta mereka berhenti mengganggu kendaraan yang lewat. Kisah ini juga diabadikan Pramoedya Ananta Toer dalam novel Di Tepi Kali Bekasi (1951).

Untuk mengenang tragedi itu, di tepi Kali Bekasi, tak jauh dari stasiun ke arah Bekasi Timur, berdiri Monumen Kali Bekasi. Tirto.id menyebut monumen ini dibangun pada 1962, sementara detikTravel (2023) mencatat pembangunannya melibatkan kerja sama pemerintah Indonesia dan Jepang; sayangnya kondisinya sekarang kurang terawat. Konteks lebih luas dari peristiwa ini bisa kamu baca di artikel Pertempuran Bekasi 1945: Kali Bekasi, Lautan Api, Karawang-Bekasi.

Stasiun tetangga, Kranji, juga punya cerita dari periode yang sama. Okezone (2023) mencatat Kranji sebagai markas Barisan Pelopor dan lokasi pertempuran 29 November 1945, ketika pejuang berhasil menghadang tentara Inggris yang hendak masuk Bekasi. Foto Nationaal Archief pada 2 Mei 1947 (gambar utama artikel ini) menunjukkan pasukan Belanda berpose di depan bangunan lama Stasiun Kranji, saat wilayah ini sudah diduduki Belanda.

1992: KRL Pertama Masuk Bekasi

Lompat ke era Orde Baru. Ketika layanan KRL Jabotabek diperluas, Bekasi jadi target pertama di sisi timur. Prosesnya panjang: Harian Neraca 3 Mei 1988 masih memberitakan pembebasan lahan PJKA di Bekasi yang belum tuntas, lahan yang akan dipakai untuk Depo KRL Bekasi dan perluasan emplasemen stasiun.

Puncaknya pada 1992. Perumka memasang jaringan listrik aliran atas 1.500 volt DC sepanjang Jatinegara–Bekasi dan membangun stasiun-stasiun baru khusus komuter seperti Buaran, Klender Baru, dan Rawabebek. Proyek ini rampung ketika gardu listrik aliran atas di Kranji dinyalakan pada 8 September dan 8 Oktober 1992, disusul Jatinegara (23 September) dan Jakarta Kota (27 November 1992). Sejak itulah KRL berhenti di Bekasi, dan Bekasi berubah dari kota transit menjadi kota penglaju.

Dua puluh lima tahun kemudian, elektrifikasi diperpanjang ke timur. Proyek 2014–2017 senilai Rp2,3 triliun ini, hasil kerja sama Indonesia–Jepang, diresmikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada 7 Oktober 2017 dan beroperasi mulai 8 Oktober 2017. Lintas Bekasi–Cikarang sepanjang 16,74 km bisa ditempuh 21 menit, dan lahirlah stasiun-stasiun baru: Bekasi Timur, Cibitung, dan Metland Telagamurni.

Stasiun Bekasi Baru dan Jalur Dwiganda (DDT)

Kalau kamu terakhir ke Stasiun Bekasi sebelum 2020, kamu mungkin pangling. Bangunan lama peninggalan Staatsspoorwegen sudah nggak ada. Sebagai gantinya berdiri bangunan bertingkat modern seluas 3.600 m² di dua sisi (utara di Jalan Perjuangan, selatan di Jalan Ir. H. Juanda), lengkap dengan eskalator dan lift.

Perombakan ini bagian dari proyek jalur dwiganda Manggarai–Cikarang sepanjang 34 km yang dimulai 2013. Idenya sederhana: empat rel sejajar, sepasang untuk KRL, sepasang untuk kereta jarak jauh dan barang, supaya nggak saling menunggu. Tahapnya: Jatinegara–Cakung beroperasi 14 April 2019, lalu Cakung–Bekasi diuji coba 21 September 2022 dan resmi dipakai mulai 17 Desember 2022. Sejak itu Stasiun Bekasi punya delapan jalur (dari awalnya lima), dengan jalur 2–3 untuk kereta jarak jauh dan jalur 5–6 untuk KRL.

Saat proyek berjalan, pekerja menemukan bekas saluran air dan fondasi bangunan lama di bawah stasiun. Sebagian jendela kuno dan ornamen ukiran kayu dari bangunan lama dipertahankan sebagai penanda sejarah. Menurut Wikipedia, ujung jalur dwiganda saat ini berhenti di perlintasan sebidang sebelah timur Jembatan Kali Bekasi. Ruas Bekasi–Cikarang belum dibangun; CNBC Indonesia (Mei 2026) melaporkan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menargetkan konstruksinya dimulai 2027 dan tuntas 2029, dengan prioritas yang meningkat setelah tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026.

Ada satu episode kecil yang layak dicatat: pada 1 Maret 2012 PT KAI sempat memutuskan semua kereta jarak jauh nggak berhenti di Bekasi. Warga protes, dan sejak 1 Juli 2013 sebagian kereta kembali berhenti. Hari ini hampir semua kereta antarkota dari Gambir dan Pasar Senen singgah di Bekasi.

Stasiun Lain di Bekasi: Kranji, Tambun, Cikarang, Lemahabang

Kranji (km 24+032)

Stasiun paling barat di Jawa Barat pada lintas ini, sekaligus paling utara di provinsi tersebut. Dulu di antara Kranji dan Cakung ada Stasiun Rawabebek yang dibangun era 1992, tapi sudah dibongkar karena sepi penumpang. Sejak 8 Januari 2019 Kranji memakai bangunan baru yang dibangun di atas bangunan lamanya, dengan satu peron pulau di tengah dua jalur KRL.

Tambun (km 33+359)

Berawal sebagai Halte Tamboen, stasiun ini menempel di belakang Gedung Juang Tambun. Pada masa perang kemerdekaan, gedung itu jadi tempat perundingan pertukaran tawanan: pejuang Indonesia yang tertangkap dikembalikan lewat Bekasi, sementara serdadu Belanda dikirim balik ke Batavia dengan kereta dari stasiun ini. Bangunan lamanya sempat diusulkan jadi cagar budaya, tapi sudah dirobohkan saat proyek elektrifikasi; bangunan barunya baru difungsikan 18 November 2023. Cerita gedungnya kita ulas terpisah dalam artikel Sejarah Gedung Juang Tambun.

Cikarang (km 43+400)

Dibuka BOS pada 14 Agustus 1890 sebagai Halte Tjikarang dengan dua jalur, lalu jadi empat jalur pada 1920-an. Di belakang haltenya ada sepur badug untuk bongkar muat beras, daun jati, kayu, garam, dan ternak, yang ramai pada 1970–1980-an dan masih dipakai untuk ternak sampai sekitar 2001/2002. Sekarang Cikarang adalah stasiun besar tipe B dengan delapan jalur (sejak 23 Agustus 2021), ujung timur KRL, dan sejak 1 Februari 2022 melayani kereta jarak jauh.

Lemahabang (km 47+628)

Stasiun kecil ini menyimpan nama yang sudah hilang dari peta: Kecamatan Lemahabang, yang sejak Perda Kabupaten Bekasi No. 26 Tahun 2001 dimekarkan menjadi Cikarang Utara, Selatan, Timur, dan Pusat. Keunikannya, peronnya dibelah perlintasan sebidang Jalan Raya Lemahabang, dan dari jalur 4 ada percabangan ke Cikarang Dry Port milik Jababeka untuk angkutan peti kemas sejak akhir 2012.

Fakta Singkat

  • Pembukaan: Batavia–Bekasi 31 Maret 1887 oleh BOS; Bekasi–Cikarang 14 Agustus 1890; Cikarang–Kedunggedeh 21 Juni 1891; Kedunggedeh–Karawang 20 Maret 1898.
  • Akuisisi negara: Staatsspoorwegen membeli jalur BOS seharga ƒ3.900.000 (Staatsblad No. 222, 9 Juni 1898).
  • Letak: km 26+403 dari Jakarta Kota, ketinggian +19 m, Kelurahan Marga Mulya, Bekasi Utara; kelas besar tipe A.
  • 19 Oktober 1945: kereta berisi sekitar 90 tentara Jepang dihentikan di Stasiun Bekasi; para tawanan dibunuh di Kali Bekasi. Monumen Kali Bekasi dibangun (menurut Tirto.id) pada 1962.
  • Elektrifikasi: gardu LAA Kranji dinyalakan 8 September 1992; KRL diperpanjang ke Cikarang 8 Oktober 2017 (proyek Rp2,3 triliun).
  • Jalur dwiganda: Jatinegara–Cakung 14 April 2019; Cakung–Bekasi 17 Desember 2022; Bekasi–Cikarang direncanakan 2027–2029.
  • Penumpang: sekitar 30.263 orang per hari (2024, data KAI); delapan jalur, empat peron pulau.

Pertanyaan Umum Seputar Sejarah Stasiun Bekasi

Kapan Stasiun Bekasi pertama kali dibuka?

Stasiun Bekasi dibuka bersamaan dengan ruas kereta Batavia–Bekasi pada 31 Maret 1887, dibangun oleh perusahaan swasta Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij (BOS). Nama lamanya adalah Station Bekassie. Bangunan permanen bergaya Indische dibangun setelah jalur ini diambil alih Staatsspoorwegen pada 1898.

Apa itu BOS dan kenapa jalurnya dibeli pemerintah?

BOS adalah perusahaan kereta api swasta yang mendapat konsesi jalur Batavia–Karawang pada 1882. Perusahaan ini terbelit utang, sementara pemerintah kolonial ingin memperpanjang jalur ke Bandung lewat Cikampek. Pada 1898 negara membelinya seharga 3,9 juta gulden dan mengelolanya lewat Staatsspoorwegen.

Apa yang terjadi di Stasiun Bekasi pada Oktober 1945?

Pada 19 Oktober 1945, laskar rakyat menghentikan kereta berisi sekitar 90 tentara angkatan laut Jepang yang menuju Kalijati. Setelah senjata tersembunyi ditemukan, para tawanan ditahan lalu dibunuh di tepi Kali Bekasi. Peristiwa ini memicu protes Laksamana Maeda dan kunjungan Presiden Sukarno ke Bekasi pada 25 Oktober 1945.

Sejak kapan KRL beroperasi sampai Bekasi?

KRL mulai melayani Bekasi setelah elektrifikasi Jatinegara–Bekasi rampung pada September–November 1992, ditandai penyalaan gardu listrik aliran atas di Kranji pada 8 September 1992. Layanan KRL diperpanjang ke Cikarang mulai 8 Oktober 2017.

Apa itu double-double track (DDT) dan sudah sampai mana?

DDT atau jalur dwiganda adalah empat rel sejajar yang memisahkan KRL dari kereta jarak jauh dan barang. Ruas Jatinegara–Cakung beroperasi April 2019 dan Cakung–Bekasi sejak 17 Desember 2022. Ruas Bekasi–Cikarang belum dibangun dan ditargetkan pemerintah mulai 2027.

Stasiun apa saja yang ada di wilayah Bekasi?

Di Kota Bekasi ada Kranji, Bekasi, dan Bekasi Timur. Di Kabupaten Bekasi ada Tambun, Cibitung, Metland Telagamurni, Cikarang, Lemahabang, dan Kedunggedeh, plus Rengasbandung yang sudah tidak aktif. Stasiun Rawabebek di Bekasi Barat sudah dibongkar.

Sumber & Referensi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia, "Jalur kereta api Jakarta–Cikampek–Padalarang" (diakses 2026), merujuk S.A. Reitsma, Korte Geschiedenis der Nederlandsch-Indische Spoor- en Tramwegen (1928). id.wikipedia.org
  2. Wikipedia bahasa Indonesia, "Stasiun Bekasi", "Stasiun Kranji", "Stasiun Tambun", "Stasiun Cikarang", "Stasiun Lemahabang" (diakses 2026). id.wikipedia.org
  3. Abi Mu'ammar Dzikri, "Di Kali Bekasi, Tentara Jepang Dibantai atas Nama Kemerdekaan", Tirto.id (22 Agustus 2025), mengutip Robert Cribb (1991), Ali Anwar (2016), dan Andi Sopandi (2003). tirto.id
  4. Dinas Pendidikan Kota Bekasi, "Monumen Kali Bekasi, Bukti Sejarah yang Nyata". disdik.bekasikota.go.id
  5. detikTravel, "Terabaikan, Monumen Pembantaian Tentara Jepang Dekat Stasiun Bekasi" (31 Januari 2023). travel.detik.com
  6. Kementerian Perhubungan RI, "Menhub Resmikan KRL Lintas Bekasi-Cikarang dan Stasiun Bekasi Timur" (7 Oktober 2017). kemenhub.go.id
  7. Redigest, "KAI dan Dirjen Perkeretaapian Uji Coba Jalur Dwiganda Bekasi-Cakung" (21 September 2022). redigest.web.id
  8. CNBC Indonesia, "Pembangunan Jalur Kereta Ganda Bekasi-Cikarang Mulai 2027, Tuntas 2029" (21 Mei 2026). cnbcindonesia.com
  9. Wikimedia Commons, "2e Infanterie Brigadegroep op het station Krandji" (2 Mei 1947, Nationaal Archief, CC0). commons.wikimedia.org

Lain kali kamu berdiri di peron 5 nunggu KRL yang telat, ingat bahwa di bawah kakimu ada fondasi stasiun berumur 139 tahun, dan beberapa ratus meter ke timur ada sungai yang pernah jadi kuburan massal. Punya foto lawas Stasiun Bekasi, Tambun, atau Cikarang dari album keluarga? Atau cerita kakek-nenek yang dulu kerja di jawatan kereta api? Kirim ke redaksi Planet Bekasi. Cerita-cerita seperti ini kita kumpulkan di label Asal Usul.

Posting Komentar