Sejarah Tambun Bekasi: Land Tamboen sampai Tambun Selatan-Utara

Daftar Isi

Kalau kamu bilang "rumah gue di Tambun", orang Jakarta biasanya cuma manggut-manggut. Padahal "Tambun" hari ini adalah dua kecamatan, belasan desa, dan hampir 650 ribu jiwa yang tiap pagi berebut KRL, LRT, dan tol. Yang jarang disadari: nama ini sudah tercatat di arsip kolonial hampir dua abad lalu, jauh sebelum ada perumahan, stasiun, apalagi mal.

Jawaban singkatnya: Tambun berawal sebagai tanah partikelir bernama Land Tamboen yang dikuasai keluarga tuan tanah Tionghoa Khouw sejak 1841, tumbuh sebagai kota kecil di sekitar pasar dan halte kereta yang dibuka 1898, menjadi kantor Kabupaten Jatinegara pada masa revolusi 1945, lalu berubah drastis sejak 1980-an ketika gelombang perumahan menjadikannya kawasan komuter. Pada 2002, Kecamatan Tambun dimekarkan menjadi Tambun Selatan dan Tambun Utara, dan Tambun Selatan kini tercatat sebagai kecamatan berpenduduk terbanyak di Jawa Barat.

Artikel ini merangkai perjalanan itu: dari kebun tebu dan pemberontakan petani 1869, Gedung Tinggi dan stasiun, pasar dan ulama kampung, sampai Grand Wisata dan angka-angka BPS hari ini. Termasuk satu legenda kampung yang namanya masih bikin orang penasaran: Kampung Siluman.

Foto lawas sekitar 1930 memperlihatkan tiang lonceng (klokkenstand) di halaman Landhuis Tamboen, rumah besar tuan tanah Tambun, dari buku V.I. van de Wall, koleksi KITLV
"Klokkenstand van landhuis Tamboen": tiang lonceng di halaman Landhuis Tamboen (kini Gedung Juang Tambun), sekitar 1930, dari buku V.I. van de Wall tentang rumah-rumah besar tua di sekitar Batavia. Lonceng seperti ini dipakai tuan tanah untuk memanggil penggarap. Foto: Anonim, koleksi KITLV 107150/Leiden University Library via Wikimedia Commons (CC BY 4.0).

Land Tamboen: Tambun Sebagai Tanah Partikelir

Dalam dokumen kolonial, wilayah ini disebut Land Tamboen, satu dari sekian banyak particuliere landerijen atau tanah partikelir di timur Batavia. Tanah partikelir adalah tanah yang dijual pemerintah kolonial ke pengusaha swasta, lengkap dengan hak memungut pajak dan meminta kerja wajib dari penduduk yang tinggal di atasnya. Menurut SINDOnews (2022) dan Poros Jakarta (2023), Land Tamboen dikuasai Khouw Tian Sek, saudagar Tionghoa terkemuka di Batavia, sejak 1841. Ia meninggal pada 1843 dan tanahnya diwariskan ke tiga putranya: Khouw Tjeng Tjoan, Khouw Tjeng Kee, dan Khouw Tjeng Po. Komoditasnya beragam: padi, nila, gula, kelapa, karet, dan kacang.

Wikipedia Inggris menyebut Tamboen sebagai tanah terpenting di antara banyak tanah yang dimiliki keluarga Khouw di sekitar Batavia, sehingga keluarga ini dikenal sebagai Khouw van Tamboen. Cabang keluarga inilah yang belakangan melahirkan Khouw Kim An, Majoor der Chinezen terakhir di Batavia. Soal siapa saja penduduk Tambun waktu itu, Okezone dan Poros Jakarta mencatat gelombang pendatang dari Cirebon pada 1823–1824, meski sumber yang sama tidak menjelaskan lebih jauh siapa mereka. Kalau kamu ingin memahami sistem tanah partikelir dan bagaimana keluarga Khouw membangun kekayaannya, baca artikel Tanah Partikelir Bekasi: Tuan Tanah Khouw sampai UU 1958.

Pemberontakan Tambun 1869

Beban pajak dan kerja wajib di tanah partikelir membuat Tambun jadi titik ledak. Pada 3 April 1869, menurut CNN Indonesia (2016) yang mengutip Robert Cribb dan sejarawan Bekasi Ali Anwar, ratusan petani di bawah pimpinan seorang jawara yang dikenal sebagai Bapak Rama, yang dalam sebagian sumber juga disebut Pangeran Alibasah, menyerbu Tambun. Asisten Residen Meester Cornelis, C.E. Kuijper, beberapa pejabat, dan rumah tuan tanah jadi sasaran. Belanda membalas dengan penangkapan massal, dan para pemimpinnya dieksekusi di alun-alun Bekasi. Peristiwa ini adalah salah satu pemberontakan petani paling awal di sekitar Batavia, dan namanya tercatat sebagai Tamboen di koran-koran Belanda.

Landhuis Tamboen, Gedung Tinggi, Gedung Juang

Kalau tanah partikelir adalah "kerajaan kecil", maka istananya adalah landhuis, rumah besar tuan tanah. Di Tambun, landhuis itu dibangun keluarga Khouw dalam dua tahap, sekitar 1906–1910 dan 1925, tepat di sebelah rel kereta. Warga menyebutnya Gedung Tinggi karena bangunan bertingkat masih langka di pedalaman Bekasi. Foto KITLV yang jadi gambar utama artikel ini memperlihatkan tiang lonceng di halamannya sekitar 1930, dimuat dalam buku V.I. van de Wall tentang rumah-rumah besar tua Batavia.

Riwayat gedung ini adalah riwayat Tambun dalam versi padat: disita Jepang pada 1942, menjadi kantor Kabupaten Jatinegara (cikal bakal Kabupaten Bekasi) dan markas pejuang pada 1945, direbut Belanda saat Agresi Militer hingga 1949, dipakai sebagai kantor DPRD dan Akademi Pembangunan Desa setelah kemerdekaan, lalu direvitalisasi menjadi Museum Bekasi yang dibuka 2021. Jalur relnya persis di belakang gedung, dan di masa revolusi dipakai untuk pertukaran tawanan antara republik dan Belanda. Detailnya sudah kami tulis di Sejarah Gedung Juang Tambun.

Stasiun dan Pasar: Dua Magnet yang Membentuk Kota Tambun

Kota kecil Tambun tumbuh di sekitar dua titik: halte kereta dan pasar. Menurut Wikipedia Indonesia, Stasiun Tambun dibuka pada 1898 dengan nama Halte Tamboen, di km 33+359 lintas Jakarta–Cikampek, kini masuk Desa Mekarsari, Tambun Selatan. Jalur kereta ini adalah bagian dari lintas Batavia–Karawang yang menghubungkan pedalaman Bekasi dengan pelabuhan dan pasar Batavia; produk kebun Land Tamboen tinggal dinaikkan ke gerbong. Bangunan lama stasiun sempat diusulkan jadi cagar budaya, tapi sudah dirobohkan saat proyek jalur ganda dan elektrifikasi (2017); bangunan barunya baru difungsikan 18 November 2023. Kisah jalur relnya ada di artikel Sejarah Stasiun Bekasi.

Pasar Tambun menempel ke stasiun, sampai-sampai pelintasan sebidang di dekatnya dikenal sebagai Perlintasan Pasar Tambun. Pola "stasiun plus pasar" ini sama dengan Bekasi kota. Kami belum menemukan dokumen kapan pasar ini pertama berdiri, tapi biografi ulama Tambun KH Abu Bakar (lahir 1907) menyebut keluarganya menetap "di belakang Pasar Tambun", artinya pasar itu sudah jadi pusat kampung sejak awal abad ke-20. Pada Juni 2023, Pemkab Bekasi menjadikan Pasar Tambun percontohan pasar modern dan digitalisasi dengan pembayaran QRIS dan pojok informasi BPOM.

Ulama, Jawara, dan Kampung Siluman: Tokoh dan Legenda Tambun

Tambun bukan cuma cerita tuan tanah. Di belakang Pasar Tambun lahir KH Abu Bakar bin Sulaiman (1907–1957), yang oleh buku Ulama Pejuang Kabupaten Bekasi terbitan MUI Kabupaten Bekasi (2017), seperti dirangkum di Kompasiana, dicatat sebagai perintis pendidikan Islam di Tambun. Ia mondok di Cipinang Muara pada Guru Marzuqi, lalu bertahun-tahun belajar di Makkah, pulang menjelang kemerdekaan, bergabung dengan Laskar Hizbullah bersama KH Noer Alie, mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Al-Khairiyah (cikal bakal YAPINK di Jalan Sultan Hasanudin) sekitar 1947–1948, membangun Masjid At-Taqwa di dekat Polsek Tambun, dan menjadi ketua pertama PCNU Kabupaten Bekasi. Namanya kini jadi nama jalan di Desa Setiadarma.

Legenda yang paling sering ditanyakan adalah Kampung Siluman di Desa Mangunjaya, Tambun Selatan. Menurut tokoh masyarakat Napin Sumpena, seperti dikutip Infobekasi (2020), nama itu lahir pada masa pendudukan Jepang: warga yang menyerang kereta pembawa tentara Jepang di dekat Stasiun Tambun lari ke utara dan lenyap di antara ilalang setinggi tiga meter, sehingga para pengejar menyebut kampung itu "kampung siluman". Ini cerita tutur, bukan arsip, tapi masuk akal secara geografis, karena Mangunjaya memang di utara stasiun. Cerita lain yang hidup di sekitar Gedung Juang, seperti terowongan rahasia ke stasiun, juga sebaiknya diperlakukan sebagai folklor.

Dari Sawah ke Perumahan: Ledakan Tambun 1980–1990-an

Sampai 1970-an Tambun masih kecamatan agraris di Kabupaten Bekasi. Yang mengubah wajahnya adalah tiga hal yang datang berurutan: industri di sepanjang Jalan Raya Bekasi–Cikarang, perumahan massal, dan komuter Jakarta. Perum Perumnas berdiri 18 Juli 1974 dan menurut Tirto (2019) pada awal 1980-an sudah membangun di Bekasi; kompleks Perumnas 3 di Bekasi Timur, yang bersebelahan dengan Jatimulya, jadi salah satu kantong komuter pertama di perbatasan Tambun. Setelah itu pengembang swasta menyusul dengan deretan perumahan yang namanya akrab di telinga warga: Jatimulya, Papan Mas, Bumi Sani Permai, Mangunjaya Indah, sampai Villa Mutiara Gading di sisi utara. Dokumen ITB yang mengulas sejarah Kabupaten Bekasi mencatat penduduk kabupaten meledak menjadi lebih dari 1,5 juta jiwa pada 1996, dan pertumbuhan pesat inilah alasan resmi pemekaran kecamatan pada 2001.

Gelombang berikutnya lebih besar lagi. Sinar Mas Land mulai mengembangkan kota mandiri Grand Wisata seluas sekitar 1.100 hektare di Lambangsari sejak 2005; per 2026 sudah ada 41 klaster dan sekitar 6.500 unit rumah, plus Living World dan rumah sakit. Metland Tambun, Tambun City, dan Stasiun LRT Jatimulya yang beroperasi 2023 melengkapi gambaran Tambun sebagai kota komuter penuh.

Pemekaran 2002: Tambun Selatan dan Tambun Utara

Pertumbuhan itu memaksa pemerintah membelah Tambun. Kabupaten Bekasi memekarkan kecamatan-kecamatannya pada 2001, dari 15 menjadi 23 kecamatan, dan Kecamatan Tambun Utara resmi berdiri pada 14 Maret 2002 sebagai pecahan Kecamatan Tambun; sisanya menjadi Tambun Selatan. Sejak itu keduanya berkembang dengan karakter berbeda:

  • Tambun Selatan (luas 43,10 km², 10 desa/kelurahan: Tambun, Mekarsari, Setiadarma, Setiamekar, Sumberjaya, Lambangjaya, Lambangsari, Mangunjaya, Tridaya Sakti, dan Kelurahan Jatimulya) adalah sisi urban: stasiun KRL dan LRT, Gedung Juang, Pasar Tambun, Grand Wisata, kantor pusat bus Sinar Jaya, dan jumlah SMP/SMA negeri terbanyak di kabupaten.
  • Tambun Utara (luas 29,39 km², 8 desa: Jejalenjaya, Karangsatria, Satriajaya, Satriamekar, Sriamur, Srijaya, Srimahi, Srimukti) masih menyimpan sawah, diapit Kali Bekasi di barat dan Kali CBL di timur; desa-desa "Sri" adalah lumbung padi kecamatan. Gerbang Tol Gabus di Srijaya (Tol Cibitung–Cilincing) belakangan membukanya ke pasar properti.

Tambun Hari Ini: Kecamatan Terpadat di Jawa Barat

Berapa penduduk Tambun sekarang? Angkanya bergantung tahun dan sumber. iNews (2024), mengutip BPS, mencatat Tambun Selatan berpenduduk 434.579 jiwa pada 2023, terbanyak di Bekasi. Kompilasi GoodStats (2026) menempatkannya di puncak daftar kecamatan berpenduduk terbanyak se-Jawa Barat dengan 454.767 jiwa, jauh di atas Cibinong (Bogor), sementara Wikipedia mencantumkan angka 518.932 jiwa tanpa tahun yang jelas. Tambun Utara, menurut kajian Universitas Diponegoro yang mengutip BPS dan Disdukcapil, mencapai 209.212 jiwa pada 2024, naik dari 162.500 pada 2010.

Apa pun angkanya, gabungan keduanya melampaui 640 ribu jiwa, lebih besar dari banyak kota di Indonesia, di wilayah yang seabad lalu adalah kebun tebu satu keluarga. Kalau kamu penasaran asal kata "tambun" itu sendiri, jawabannya sayangnya belum ada: tak satu pun sumber yang kami temukan menjelaskan artinya, dan kami membahas kemungkinannya di artikel Asal-Usul Nama Kecamatan di Bekasi: Tambun, Kranji, Pondok Gede.

Bangunan baru Stasiun Tambun pada 2024, stasiun KRL Commuter Line Cikarang di Mekarsari, Tambun Selatan
Bangunan baru Stasiun Tambun (2024), difungsikan sejak 18 November 2023 menggantikan bangunan lama Halte Tamboen 1898 yang dirobohkan. Foto: NFarras via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Fakta Singkat

  • Nama kolonial: Land Tamboen, tanah partikelir; dikuasai Khouw Tian Sek sejak 1841, diwariskan ke tiga putranya setelah ia wafat 1843.
  • Pemberontakan Tambun: 3 April 1869, dipimpin Bapak Rama (Pangeran Alibasah); Asisten Residen C.E. Kuijper tewas.
  • Landhuis Tamboen/Gedung Juang: dibangun 1906–1925; kantor Kabupaten Jatinegara 1945; Museum Bekasi sejak 2021.
  • Stasiun Tambun: dibuka 1898 sebagai Halte Tamboen; bangunan baru 18 November 2023.
  • Tokoh: KH Abu Bakar (1907–1957), pendiri Al-Khairiyah/YAPINK dan ketua pertama PCNU Kabupaten Bekasi.
  • Pemekaran: Tambun Utara berdiri 14 Maret 2002; Tambun Selatan 43,10 km² (10 desa/kelurahan), Tambun Utara 29,39 km² (8 desa).
  • Penduduk: Tambun Selatan 434.579 jiwa (BPS 2023) hingga 454.767 (GoodStats 2026), terbanyak di Jawa Barat; Tambun Utara 209.212 jiwa (2024).

Pertanyaan Umum Seputar Sejarah Tambun

Apa itu Land Tamboen?

Land Tamboen adalah nama tanah partikelir Tambun pada masa kolonial, yaitu tanah luas yang dijual pemerintah Hindia Belanda kepada swasta beserta hak memungut pajak dari penduduknya. Sejak 1841 tanah ini dikuasai keluarga saudagar Tionghoa Khouw dari Batavia, yang kemudian dikenal sebagai Khouw van Tamboen.

Kapan Tambun dimekarkan menjadi Tambun Selatan dan Tambun Utara?

Kabupaten Bekasi memekarkan kecamatan-kecamatannya pada 2001 karena pertumbuhan penduduk yang cepat, dan Kecamatan Tambun Utara resmi berdiri pada 14 Maret 2002 sebagai pecahan Kecamatan Tambun. Wilayah yang tersisa, termasuk stasiun dan Gedung Juang, menjadi Kecamatan Tambun Selatan.

Kenapa Tambun Selatan jadi kecamatan terpadat di Jawa Barat?

Karena letaknya di perbatasan Kota Bekasi dan jalur KRL, Tambun Selatan menjadi tujuan perumahan massal sejak 1980-an, dari kompleks Perumnas di perbatasannya sampai kota mandiri Grand Wisata seluas 1.100 hektare sejak 2005. Data BPS 2023 mencatat 434.579 jiwa, dan kompilasi terbaru menyebut lebih dari 450 ribu jiwa di lahan hanya 43 km².

Siapa tokoh sejarah dari Tambun?

Selain keluarga tuan tanah Khouw, Tambun punya KH Abu Bakar (1907–1957), ulama kelahiran belakang Pasar Tambun yang mendirikan lembaga pendidikan Al-Khairiyah (kini YAPINK), membangun Masjid At-Taqwa, ikut Laskar Hizbullah, dan menjadi ketua pertama PCNU Kabupaten Bekasi. Pemberontakan petani 1869 dipimpin jawara Bapak Rama.

Dari mana nama Kampung Siluman di Tambun?

Menurut cerita tutur warga Desa Mangunjaya, nama itu muncul pada masa Jepang ketika warga yang menyerang kereta tentara di dekat Stasiun Tambun menghilang di antara ilalang tinggi sehingga disebut seperti siluman. Ini legenda lisan yang belum didukung dokumen arsip.

Sejak kapan Stasiun Tambun ada?

Stasiun Tambun dibuka pada 1898 sebagai Halte Tamboen di jalur Batavia–Karawang. Bangunan lamanya dirobohkan saat proyek jalur ganda dan elektrifikasi, dan bangunan baru difungsikan pada 18 November 2023. Stasiun ini berada tepat di belakang Gedung Juang Tambun.

Sumber & Referensi

  1. SINDOnews, "Sejarah Tambun Bekasi yang Dulunya Perkebunan Milik Saudagar Tionghoa Ternama" (18 Desember 2022). sindonews.com
  2. Poros Jakarta, "Sejarah Tambun, Gedung Juang, dan Peran Orang Tionghoa: Land Tamboen dan Transformasi Gedung Juang 45" (2023); Okezone, "Sejarah dan Asal Usul Tambun Bekasi" (13 Desember 2023). porosjakarta.com
  3. Wikipedia bahasa Inggris, "Khouw family of Tamboen"; Wikipedia bahasa Indonesia, "Stasiun Tambun", "Tambun Selatan, Bekasi", "Tambun Utara, Bekasi" (diakses 2026). id.wikipedia.org
  4. CNN Indonesia, "Bekasi, Titik Awal Pemberontakan Jawara Betawi" (21 Juni 2016). cnnindonesia.com
  5. Ega Permana Pradipa, "Gambaran Umum Kecamatan Tambun Utara", Bab II skripsi Universitas Diponegoro (2025), mengutip BPS Kabupaten Bekasi dan Disdukcapil 2024. eprints2.undip.ac.id
  6. Bab 3 "Gambaran Umum Wilayah Studi: Sejarah Kabupaten Bekasi", tugas akhir ITB (2010). digilib.itb.ac.id
  7. iNews Bekasi, "Deretan Kecamatan Terpadat di Bekasi" (9 Desember 2024), mengutip BPS 2023; GoodStats, "10 Kecamatan dengan Penduduk Terbanyak di Jawa Barat" (21 Juni 2026). inews.id
  8. Muhammad Mulky Al Haramein, "KH. Abu Bakar: Ulama Kharismatik Tambun-Bekasi (1907–1957)", Kompasiana (7 Januari 2025), merangkum Bahar Maksum dkk., Ulama Pejuang Kabupaten Bekasi (MUI Kabupaten Bekasi, 2017). kompasiana.com
  9. Infobekasi, "Asal-usul Nama 'Kampung Siluman' di Tambun" (12 September 2020). infobekasi.co.id
  10. Sinar Mas Land, "Sinar Mas Land Hadirkan Klaster NuOne di Grand Wisata Bekasi" (19 Februari 2026); Tirto, "Sejarah Perum Perumnas" (18 Juli 2019); Pemkab Bekasi, "Pasar Tambun Percontohan Pasar Modern dan Digitalisasi" (Juni 2023). sinarmasland.com
  11. Wikimedia Commons, "Klokkenstand van landhuis Tamboen in Meester Cornelis te Batavia, KITLV 107150" (c. 1930, Leiden University Library, CC BY 4.0) dan "Tambun Station in 2024" (NFarras, CC BY-SA 4.0). commons.wikimedia.org

Dari lonceng tuan tanah yang memanggil penggarap ke kebun tebu, sampai pengumuman KRL yang memanggil komuter ke peron: Tambun sudah berganti wajah berkali-kali dalam dua abad. Kamu warga lama Jatimulya, Papan Mas, atau Kampung Siluman yang ingat kapan perumahanmu dibangun dan seperti apa Tambun sebelum ada tol? Atau punya foto Pasar Tambun dan stasiun lama? Tulis di kolom komentar atau kirim ke redaksi Planet Bekasi, karena bagian 1980–1990-an dari cerita ini paling sedikit dokumennya, dan kalian yang menyimpannya. Cerita kampung lainnya ada di label Asal Usul.

Posting Komentar