Situs Buni Babelan: Peradaban Tertua Bekasi 2.000 Tahun Lalu
Kalau kamu lewat Babelan, di antara sawah, tambak, dan pipa-pipa migas di utara Bekasi, hampir nggak ada tanda bahwa di bawah kakimu pernah hidup komunitas pesisir yang sudah berdagang dengan India dua ribu tahun lalu. Padahal nama kampung kecil di Desa Muara Bakti itu, Buni, dipakai arkeolog dunia untuk menyebut satu kebudayaan prasejarah: Kebudayaan Buni.
Situs Buni adalah situs prasejarah di Kampung Buni Pasar Emas, Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Situs ini mulai dikenal setelah warga menemukan perhiasan emas di sawah pada akhir 1950-an, lalu diteliti Lembaga Purbakala sejak 1960. Kebudayaan Buni diperkirakan berkembang sekitar 400 SM sampai 100 M (mungkin bertahan sampai abad ke-5), dikenal lewat gerabah berhias geometris, kubur dengan bekal manik-manik dan emas, serta rouletted ware dari India yang jadi bukti kontak dagang paling awal di Asia Tenggara. Banyak ahli menganggap Buni sebagai "nenek moyang" budaya Tarumanegara.
Artikel ini menelusuri bagaimana situs itu ditemukan, apa yang dikubur orang Buni bersama jenazahnya, kenapa pecahan tembikar India bisa nyasar ke Bekasi, dan kenapa situs sepenting ini sampai sekarang belum punya plakat cagar budaya.

Bagaimana Situs Buni Ditemukan? Berawal dari Anting Emas di Lubang Yuyu
Cerita penemuannya nyaris seperti dongeng. Menurut Majalah Arkeologi Indonesia (2011), pada 1960-an seorang petani perempuan bernama Nenek Masnah melihat kilatan cahaya matahari dari lubang yuyu (kepiting sawah) di dekat sawahnya. Yang berkilau ternyata anting-anting emas. Sumber lain, termasuk liputan Dwipa News dan Infobekasi, menempatkan temuan emas pertama sekitar tahun 1958. Detail tahunnya berbeda-beda antar sumber, tapi inti ceritanya sama: begitu kabar emas menyebar, ribuan pencari harta dari berbagai daerah berdatangan ke Babelan.
Dari sinilah kampung itu mendapat julukan yang bertahan sampai sekarang: Pasar Emas. Orang menggali sawah dan pekarangan, menemukan cincin, manik-manik, gelang, gerabah, dan tulang manusia. Barang-barang itu dijual ke pedagang antik. Majalah Arkeologi Indonesia mencatat seorang pedagang bernama Dulloh mengaku kewalahan menampung gerabah, sampai-sampai Museum Nasional pun kadang harus "berutang" dulu untuk membelinya. Perburuan liar ini berlangsung sampai era 1980-an dan awal 1990-an, dan di situlah tragedi situs ini dimulai: konteks arkeologisnya hancur sebelum sempat dipelajari dengan baik.
Siapa yang Meneliti Situs Buni? Soejono, Sutayasa, dan Ekskavasi 1960
Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (cikal bakal Pusat Penelitian Arkeologi Nasional) merespons dengan ekskavasi penyelamatan pada Maret–April 1960 di Desa Buni. Menurut Infobekasi (2026), tim ini dipimpin Prof. Dr. R.P. Soejono, salah satu bapak arkeologi prasejarah Indonesia. Survei lanjutan dilakukan pada 1964, 1969, dan 1970. Nama "Buni" pun dipilih para arkeolog sebagai label untuk seluruh kompleks temuan ini.
Orang yang membuat Buni dikenal dunia adalah I Made Sutayasa, arkeolog dari Bagian Prasejarah Lembaga Purbakala. Dalam artikelnya "Notes on the Buni Pottery Complex, Northwest Java" di jurnal Mankind (1972), Sutayasa memetakan tiga kelompok situs: (1) antara Kali Bekasi dan Citarum di sekitar Buni, Kedungringin, Bulaktemu, Kebonkelapa, Batujaya, dan Puloglatik; (2) di timur laut Rengasdengklok, Karawang, seperti Kobak Kendal, Dongkal, Cibutak, Tegalkunir, dan Karangjati; serta (3) Cibango dekat muara Cilamaya. Jadi "Kebudayaan Buni" bukan cuma satu kampung di Babelan, melainkan rangkaian permukiman pesisir dari Bekasi sampai Karawang, bahkan menurut Wikipedia menjangkau Jakarta dan Banten.
Sutayasa mencatat bahwa ekskavasi 1960 tidak menemukan lapisan stratigrafi yang jelas, sebagian karena tanah sudah teraduk oleh penggalian warga. Sebagian besar temuan justru dikumpulkan selama sepuluh tahun dari tangan warga dan pedagang oleh Lembaga Purbakala dan Museum Jakarta. Ini kenapa banyak pertanyaan soal Buni sampai sekarang belum terjawab tuntas.
Gerabah Buni: Ciri Khas yang Bikin Arkeolog Jatuh Hati
Yang paling membedakan Buni dari situs prasejarah lain adalah gerabahnya. Sutayasa membagi tembikar Buni menjadi dua jenis: gerabah abu-abu sederhana dan gerabah berslip merah yang lebih halus. Yang abu-abu punya bentuk dan hiasan sangat beragam: periuk bulat, mangkuk, kendi bercerat, pedupaan, sampai bandul jala. Hiasannya dibuat dengan cara ditera, digores, dan dilubangi: pola anyaman, garis zig-zag (chevron), meander, dan lingkaran memusat dengan garis-garis memancar. Dari sinilah kalimat yang sering dikutip Wikipedia: Buni dikenal karena "tembikar dengan dekorasi geometris yang ditorehkan".
Sutayasa menghubungkan sekitar 90 persen gerabah Buni dengan tradisi Bau-Malay, sementara gerabah slip merahnya menunjukkan pengaruh tradisi Sa Huynh–Kalanay, tradisi tembikar yang berakar di daratan Asia dan tersebar di Vietnam tengah dan Filipina. Artinya, orang Buni bukan komunitas terpencil; mereka bagian dari jaringan budaya pesisir Asia Tenggara. Situs Budaya Indonesia bahkan menyebut sebagian tembikarnya mungkin berasal dari tradisi India Selatan.
Bekal kubur: manik-manik, emas, dan perunggu
Sebagian besar artefak Buni ditemukan sebagai bekal kubur. Rangka manusia dikubur secara langsung (kubur primer) dalam posisi terlentang, ditemani wadah gerabah bertutup dan tanpa tutup, tempayan, kendi, beliung dan gelang batu, perhiasan emas, benda perunggu dan besi, serta manik-manik dari emas, kaca, dan batu karnelian. Sutayasa menyimpulkan Buni berasal dari masa akhir perunggu-besi, alias masa perundagian, ketika manusia Nusantara sudah mengenal pengolahan logam. Wikipedia Indonesia juga mencatat temuan menhir dan meja batu megalitik yang berasosiasi dengan kompleks ini.
Rouletted Ware: Bukti Orang Bekasi Berdagang dengan India 2.000 Tahun Lalu
Inilah temuan yang membuat Buni penting dalam sejarah Asia Tenggara. Di antara pecahan gerabah lokal, arkeolog menemukan pecahan mangkuk halus berwarna abu-abu kehitaman dengan hiasan titik-titik rapat yang dibuat memakai roda bergerigi. Jenis ini disebut rouletted ware, dan asalnya dari India, khususnya pelabuhan kuno Arikamedu di pesisir Tamil Nadu yang pada abad pertama Masehi sudah berdagang dengan Romawi.
Menurut Wikipedia bahasa Inggris, temuan rouletted ware di Kobak Kendal dan Cibutak (Karawang, masih bagian kompleks Buni) adalah rouletted ware India pertama yang tercatat di Asia Tenggara, berasal dari abad ke-1 sampai ke-2 Masehi. Publikasi kuncinya adalah "Romano-Indian Rouletted Pottery in Indonesia" oleh Michael J. Walker dan S. Santoso di jurnal Mankind (1977). Prof. Hasan Djafar dari UI menyebut gerabah Arikamedu ini sebagai bukti kehidupan masyarakat dari akhir prasejarah hingga masa Tarumanegara.
Bayangkan: ketika Roma masih berjaya, mangkuk buatan India Selatan sudah sampai ke pesisir Bekasi–Karawang, entah lewat pedagang India langsung atau lewat rantai perdagangan berjenjang. Orang Buni jelas hidup di jalur pelayaran penting, dan mereka punya sesuatu untuk ditukar: kemungkinan hasil bumi, garam, ikan, atau emas.
Kapan Kebudayaan Buni Berlangsung, dan Apa Hubungannya dengan Tarumanegara?
Soal rentang waktu, sumber-sumber tidak seragam, dan ini perlu kamu tahu. Wikipedia (ID dan EN) memberi angka 400 SM–100 M, dengan catatan mungkin bertahan sampai 500 M. Situs Budaya Indonesia menyebut kompleks gerabahnya berkembang abad ke-2 sampai ke-5 M. Johan Arif, peneliti geoarkeologi ITB (2024), memberi rentang lebih longgar, 200 SM sampai 1000 M, dengan puncak sekitar 2.500–1.700 tahun lalu. Yang disepakati: Buni hidup di masa protosejarah, jembatan antara prasejarah dan masa kerajaan Hindu pertama di Jawa.
Di sinilah kaitannya dengan Tarumanegara. Wikipedia menulis bahwa Tarumanegara (abad ke-4 sampai ke-7) kemungkinan merupakan penerus Kebudayaan Buni setelah masyarakatnya mengadopsi agama Hindu. Bukti fisiknya ada di Situs Batujaya, Karawang. Menurut Johan Arif (FITB ITB, 2024), jejak Buni Pottery Complex di Batujaya ditemukan sejak 1984, dan pada ekskavasi 2003, 2008, dan 2010 di dekat Candi Blandongan ditemukan rangka manusia (pada 2010 sekitar sepuluh individu, termasuk anak-anak) sekitar 50 cm di bawah dasar candi, berasosiasi dengan gerabah Buni. Dengan kata lain, candi-candi Buddha Batujaya dibangun persis di atas kuburan orang Buni. Peralihan dari masyarakat pesisir prasejarah ke kerajaan bercorak India terjadi di tanah yang sama.
Kalau kamu sudah baca artikel Prasasti Tugu dan Jejak Tarumanegara di Bekasi, sekarang gambarnya lebih lengkap: sebelum Purnawarman menggali Candrabhaga, sudah ada orang Buni yang membuat gerabah dan mengubur leluhurnya di dataran rawa pesisir ini.
Kondisi Situs Buni Hari Ini: Museum di Rumah Warga dan SK yang Tak Kunjung Turun
Ini bagian yang bikin miris. Situs Budaya Indonesia menyebut lokasi penemuan asli sudah sebagian besar rusak, sebagian ditempati fasilitas industri, dan area sisanya terbelah kanal CBL (Cikarang–Bekasi–Laut). Dwipa News (2021) menambahkan bahwa aktivitas penggalian sudah berhenti karena lahan Kampung Buni kini menjadi permukiman dan area perusahaan migas.
Artefak yang tersisa di kampung tersimpan di sebuah rumah sederhana dekat Masjid Jami Nurul Yakin yang diberi label "Museum Buni Pasar Emas". Penjaganya, Atikah, adalah istri almarhum kolektor yang sejak 2000-an mengumpulkan temuan dari penggalian pribadi dan sumbangan warga: kapak batu, manik-manik, tanduk rusa yang membatu, kendi, bandul jala terakota, sampai rahang dan tulang manusia. Pemerintah Kabupaten Bekasi pernah mengambil sebagian koleksi untuk dipajang di Gedung Juang Tambun.
Secara hukum, situs ini ada di posisi menggantung. Pada Oktober 2016, Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (Dr. Hasan Djafar, Drs. Soeroso, dan arsitek Bambang Eryudhawan) merekomendasikan Buni layak jadi situs cagar budaya dan menyampaikannya ke Pemkab Bekasi. Pada Oktober 2017, Disbudpora Kabupaten Bekasi mengumumkan Situs Buni dan Masjid Al-Mujahidin Cibarusah sedang diajukan menunggu verifikasi kementerian. Tapi menurut Wawai News (Juni 2025), hampir satu dekade kemudian belum ada SK penetapan, plakat, maupun perlindungan nyata, padahal UU Cagar Budaya No. 11/2010 mengamanatkan penetapan dalam 30 hari setelah rekomendasi. Tokoh masyarakat H. Naryo (70) menyayangkan situs ini seperti terlupakan, dan warga mengusulkan pembangunan Museum Budaya Buni yang layak. Infobekasi (Juli 2026) masih melaporkan hal serupa: situs belum terlindungi memadai dan terus tergerus pembangunan.
Fakta Singkat
- Lokasi: Kampung Buni Pasar Emas, Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi (sekitar 6°05' LS, 107°01' BT).
- Penemuan: perhiasan emas ditemukan warga di sawah sekitar 1958–1960-an; kampung dijuluki "Pasar Emas" karena perburuan emas massal.
- Penelitian resmi: ekskavasi Lembaga Purbakala Maret–April 1960; survei 1964, 1969, 1970; publikasi I Made Sutayasa di jurnal Mankind (1972).
- Rentang waktu: sekitar 400 SM–100 M, mungkin bertahan hingga abad ke-5 M (versi lain: 200 SM–1000 M).
- Temuan khas: gerabah abu-abu dan slip merah berhias geometris, kubur primer dengan bekal manik-manik emas/kaca/karnelian, beliung batu, benda perunggu-besi.
- Kontak India: rouletted ware dari Arikamedu (abad ke-1–2 M) di Kobak Kendal dan Cibutak, yang pertama tercatat di Asia Tenggara (Walker & Santoso, 1977).
- Status: direkomendasikan jadi cagar budaya oleh Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (Oktober 2016); hingga 2025–2026 belum ada SK penetapan.
Pertanyaan Umum Seputar Situs Buni
Di mana letak Situs Buni?
Situs Buni berada di Kampung Buni Pasar Emas, Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, sekitar 15–20 km di utara pusat Kota Bekasi ke arah pesisir. Sebagian situs asli kini tertutup permukiman, fasilitas migas, dan terbelah kanal CBL.
Apa itu Kebudayaan Buni?
Kebudayaan Buni adalah kebudayaan protosejarah masyarakat pesisir utara Jawa Barat, Jakarta, dan Banten yang berkembang sekitar 400 SM–100 M. Namanya diambil dari Kampung Buni di Babelan, tempat pertama kali temuannya dikenali. Ciri khasnya gerabah berhias geometris, kubur berbekal perhiasan, dan bukti perdagangan dengan India.
Kenapa disebut Pasar Emas?
Setelah warga menemukan perhiasan emas kuno di sawah pada akhir 1950-an, ribuan pencari emas berdatangan dan jual-beli barang temuan berlangsung ramai seperti pasar. Julukan "Pasar Emas" melekat sampai kini, meski perburuan liar itu justru merusak konteks arkeologi situs.
Apa bukti orang Buni berhubungan dengan India?
Ditemukannya rouletted ware, mangkuk halus berhias titik-titik roda bergerigi yang diproduksi di Arikamedu, India Selatan, pada abad ke-1–2 M. Temuan di Kobak Kendal dan Cibutak (kompleks Buni di Karawang) tercatat sebagai rouletted ware India pertama yang diketahui di Asia Tenggara.
Apa hubungan Buni dengan Tarumanegara dan Batujaya?
Banyak ahli menganggap Tarumanegara (abad ke-4–7 M) sebagai kelanjutan masyarakat Buni yang kemudian mengadopsi budaya Hindu-Buddha. Di Situs Batujaya, Karawang, rangka manusia dengan gerabah Buni ditemukan di bawah dasar Candi Blandongan, menunjukkan candi dibangun di atas permukiman dan kuburan Buni yang lebih tua.
Apakah Situs Buni sudah jadi cagar budaya?
Belum secara resmi. Tim Ahli Cagar Budaya Nasional merekomendasikannya pada Oktober 2016 dan Pemkab Bekasi mengumumkan pengajuannya pada 2017, tetapi hingga pemberitaan 2025–2026 belum ada surat keputusan penetapan maupun plakat di lokasi. Koleksi warga tersimpan di "Museum Buni Pasar Emas" yang dikelola swadaya.
Sumber & Referensi
- Wikipedia bahasa Indonesia, "Kebudayaan Buni" (diakses 2026). id.wikipedia.org
- Wikipedia bahasa Inggris, "Buni culture" (diakses 2026). en.wikipedia.org
- I Made Sutayasa, "Notes on the Buni Pottery Complex, Northwest Java", Mankind Vol. 8 (1972), hlm. 182–184. os.pennds.org (PDF)
- M.J. Walker & S. Santoso, "Romano-Indian Rouletted Pottery in Indonesia", Mankind (1977). onlinelibrary.wiley.com
- Johan Arif, "Misteri Masyarakat Buni dari Batujaya", FITB Institut Teknologi Bandung (19 Juni 2024). fitb.itb.ac.id
- Majalah Arkeologi Indonesia, "Situs Komunitas Buni Hancur karena Emas" (Desember 2011). hurahura.wordpress.com
- Antara Megapolitan, "Ini Dua Situs Bekasi Yang Akan Menjadi Cagar Budaya" (14 Oktober 2017). megapolitan.antaranews.com
- Dwipa News, "Situs Buni Babelan, Jejak Peradaban yang Terabaikan" dan "Jejak Terakhir Benda Arkeologi di Babelan" (7 Februari 2021). dwipanews.com
- Wawai News, "Situs Buni yang Terlupakan, Warisan Peradaban Manusia di Ujung Lupa" (1 Juni 2025). wawainews.id
- Budaya Indonesia, "Situs Buni" (2015). budaya-indonesia.org
Dua ribu tahun lalu, orang Buni di Babelan sudah menukar hasil bumi dengan mangkuk dari India. Hari ini, sisa peninggalan mereka disimpan di sebuah rumah warga, menunggu selembar SK yang tak kunjung datang. Kalau kamu warga Babelan atau pernah dengar cerita "Pasar Emas" dari orang tua, tulis di kolom komentar atau kirim ke redaksi Planet Bekasi. Cerita-cerita seperti ini kita kumpulkan di label Asal Usul, biar sejarah tertua Bekasi nggak ikut terkubur.
Posting Komentar