Tradisi Betawi Bekasi: Nyorog, Lebaran, Babarit, Rebut Dandang
Seminggu sebelum puasa, jalanan kampung di Babelan, Jatiasih, atau Tambun mendadak ramai orang menenteng rantang dan kantong beras ke rumah mertua, kakak tertua, atau guru ngaji. Sebulan kemudian gantian bau asap tungku dodol yang memenuhi gang. Lalu di musim kawinan, tiba-tiba ada dua jawara berbalas pantun dan main silat di depan pintu rumah calon mempelai perempuan. Buat warga Bekasi semua itu biasa, tapi coba tanya asal dan maknanya, jawabannya sering cuma: "Dari dulu emang begitu."
Jawaban singkatnya: tradisi warga Betawi-Bekasi sepanjang tahun, mulai dari nyorog dan munggahan jelang Ramadan, ngaduk dodol dan andilan jelang Lebaran, sedekah bumi atau babarit selepas panen, sampai palang pintu dan rebut dandang di hajatan nikah, adalah hasil pertemuan tiga lapisan budaya: kebiasaan agraris Sunda-Betawi pra-Islam, ajaran Islam yang dibawa para ulama, dan gotong royong khas kampung. Sebagian besar masih hidup sampai sekarang, meski sebagian mulai memudar karena sawah berganti perumahan.

Nyorog: Rantang Buat yang Dituakan Jelang Ramadan
Kalau harus memilih satu tradisi yang paling identik dengan Betawi Bekasi, jawabannya nyorog. Kata nyorog dalam bahasa Betawi kira-kira berarti "mengantarkan" atau "memberikan sesuatu". Prakteknya: anggota keluarga yang lebih muda mengantar bingkisan ke orang yang dituakan, yaitu orang tua, mertua, kakak tertua, paman-bibi, sampai guru ngaji, biasanya seminggu sampai sehari sebelum puasa, dan diulang lagi menjelang Lebaran.
Isinya nggak baku. Infobekasi (2026) menyebut lauk-pauk, beras, buah, atau ikan bandeng. Tirto.id (2025) mencatat bingkisan bisa berupa bahan pokok seperti beras, gula, dan minyak goreng, atau masakan khas seperti gabus pucung, asinan, soto, ketupat, dan opor ayam. Situs Budaya Indonesia yang mengutip sejarawan Bekasi Ali Anwar bahkan menyebut nyorog dulu jadi semacam ujian: masakan anak gadis yang diantar ke rumah calon mertua dinilai diam-diam, apakah layak jadi menantu.
Dari mana asalnya?
Menurut budayawan Betawi Yahya Andi Saputra, seperti dikutip Tirto.id (2025), nyorog berakar pada tradisi baritan, yaitu pemberian sesaji kepada Dewi Sri dalam kepercayaan agraris pra-Islam. Ketika Islam masuk ke Sunda Kelapa dan sekitarnya, para ulama nggak menghapus kebiasaan itu, tapi mengarahkannya: sesaji untuk dewi diganti bingkisan untuk orang tua dan tetangga, dibingkai sebagai amal yang penuh berkah, dan sering disertai pesan-pesan dakwah.
Peneliti dari kampus juga sudah menelaah nyorog Bekasi. Abdul Qodir Zaelani dalam jurnal Al-Ulum (2019) mempelajari nyorog di komunitas Betawi Bekasi dari sudut hukum keluarga Islam dan menyimpulkan tradisi ini berfungsi merawat keharmonisan keluarga, jadi sarana pendidikan sekaligus rekonsiliasi. Penelitian yang terbit di Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (2021) tentang nyorog di Kampung Pondok Benda, Jatiasih, menemukan empat nilai Islam di dalamnya: hormat kepada yang lebih tua, menjaga silaturahmi, sedekah, dan pendidikan untuk anak-anak.
Kondisinya sekarang? Masih hidup, terutama di kampung-kampung lama Kota dan Kabupaten Bekasi. Tapi Budaya Indonesia mencatat generasi muda mulai kurang antusias, sementara orang tua masih rajin menjalankannya.
Munggahan dan Nyekar: Persiapan Batin Sebelum Puasa
Nyorog nggak berjalan sendirian. Jelang Ramadan, warga Bekasi juga menjalankan munggahan dan nyekar. Munggahan adalah tradisi Sunda yang sudah jadi milik bersama di Bekasi. Kata dasarnya unggah yang berarti "naik", maksudnya naik ke bulan yang lebih tinggi derajatnya, dan naik pula kualitas diri. Detik Jabar (2025) menjelaskan munggahan awalnya berkaitan dengan penghormatan arwah leluhur, lalu diselaraskan dengan nilai Islam setelah agama itu masuk ke tanah Sunda: bersih-bersih lingkungan dan makam, makan bersama, dan mandi keramas.
Di Kabupaten Bekasi, Berita Cikarang (2026) mengutip Ahmad Djaelani dari Dewan Kebudayaan Kabupaten Bekasi yang mengingatkan bahwa inti munggahan adalah ziarah kubur, saling memaafkan dengan orang tua dan kerabat, serta makan bersama atau botram. Yang berubah cuma tempatnya: kalau dulu di rumah atau di saung sawah, sekarang banyak keluarga munggahan di restoran dan tempat wisata, sebagian gara-gara tren media sosial.
Nyekar atau ziarah kubur biasanya dilakukan sepekan sebelum puasa: keluarga membawa kembang tujuh rupa dan air mawar ke pusara, lalu membaca Yasin dan doa bersama.
Jelang Lebaran: Ngaduk Dodol dan Andilan Kebo
Ngaduk dodol: delapan jam di depan tungku
Bagi orang Betawi, Lebaran tanpa dodol rasanya belum lengkap. Dodol Betawi dibuat dari tepung ketan, gula merah, gula pasir, dan sedikit garam, dimasak di kuali besar di atas tungku kayu bakar, dan harus diaduk terus-menerus. Perajin dodol di Kampung Ceger, Desa Sukajaya, Cibitung, seperti diberitakan situs Kabupaten Bekasi (2022), mengaduk selama tujuh sampai delapan jam. Di kampung itu ada lebih dari 40 perajin, dan menjelang Lebaran permintaan naik sampai 50 persen dengan target produksi 20 ton per bulan.

Karena berat, ngaduk dodol dulu selalu dikerjakan bergotong royong. Situs Seni Budaya Betawi menjelaskan pembagian kerjanya: kaum laki-laki mengaduk dan menumbuk, perempuan meracik adonan dan menggantikan kalau laki-laki kelelahan. Makna simboliknya juga dijaga: tekstur dodol yang lengket melambangkan kerekatan keluarga, dan kerja bergantian laki-laki dan perempuan melambangkan keharmonisan. Pasangannya, uli ketan yang ditumbuk, bahkan punya pantangan tersendiri: yang menumbuk nggak boleh bicara kotor dan nggak boleh dalam keadaan marah.
Hari ini, mengaduk dodol sendiri di rumah sudah jarang. Kebanyakan keluarga membeli dari perajin seperti di Ceger. Kalau kamu penasaran asal-usul dodol, gabus pucung, dan makanan khas lainnya, Planet Bekasi mengulasnya di artikel Asal-Usul Kuliner Khas Bekasi.
Andilan: patungan kerbau sejak jauh hari
Andilan berasal dari kata andil, ikut ambil bagian. Warga sekampung patungan membeli seekor kerbau untuk dipotong sehari atau dua hari sebelum Lebaran. Setorannya mingguan atau bulanan selama setahun, dikelola orang yang dipercaya di kampung yang sekaligus merawat kerbaunya. Setelah dipotong, dagingnya dibagi rata, dimasak jadi semur atau rendang, dan sebagian diantar lagi lewat nyorog ke orang tua dan kerabat.
Kenapa kerbau, bukan sapi? Tirto.id (2026) mencatat pilihan itu berakar pada masa kolonial dan mencerminkan toleransi terhadap tetangga Hindu yang tidak makan daging sapi. Historia.id (2026) mengutip Yahya Andi Saputra yang memaknai andilan sebagai jaring-jaring sosial gotong royong orang Betawi. Sayangnya, tradisi ini yang paling terancam. Mojok (2022) menyebut lahan untuk memelihara kerbau di Jakarta hampir habis, sehingga andilan kini justru bertahan di daerah pinggiran seperti Bekasi dan Bodetabek pada umumnya.
Lebaran: Halal Bihalal, Lebaran Betawi, dan "Lebaran Bekasi"
Hari H Lebaran diisi salat Id, ziarah, sungkem, lalu keliling kampung. Di meja tamu tersaji ketupat, semur (sering dari andilan), dodol, uli, serta kue akar kelapa, rengginang, dan sagon yang dibuat sejak awal Ramadan.
Yang lebih baru adalah halal bihalal berskala kampung dan organisasi, yang di Bekasi berkembang jadi festival budaya. Dua yang menonjol: Lebaran Betawi Pondok Melati yang digagas Yayasan Kebudayaan Orang Bekasi (KOASI) sejak 2016 di Kampung Sawah, dengan tema tahunan yang menampilkan nyorog, ngarak penganten, palang pintu, ondel-ondel, dan gambang kromong, tapi menurut Pilar Indonesia (2026) sempat vakum tiga tahun terakhir karena minim dukungan; serta Lebaran Bekasi yang digelar Forum Silaturahmi Betawi Bekasi (Forsilabb) dengan panggung seni, kuliner khas, dan UMKM, yang menurut Bekasi Satu (2025) sudah beberapa kali diadakan sejak forum itu berdiri dan sempat terhambat pandemi.
Sedekah Bumi dan Babarit: Syukur Setelah Panen
Kalau nyorog dan Lebaran mengikuti kalender Islam, sedekah bumi mengikuti kalender tani. Disparbud Kota Bekasi memasukkan sedekah bumi ke dalam tujuh kebudayaan khas Bekasi, dan menyebutnya lazim di wilayah yang dekat laut seperti Muaragembong. Bentuknya: doa bersama, arak-arakan hasil bumi, dan makan bersama sebagai ucapan syukur atas panen dan keselamatan kampung.
Versi yang paling utuh bertahan ada di Kampung Adat Kranggan, Jatisampurna, di perbatasan Kota Bekasi dan Bogor, dengan nama babarit atau babaritan. Disparbud Kota Bekasi (2018) mencatat babaritan di Kasepuhan Olot Parta Bala digelar sekitar tahun baru Saka dan diisi pertunjukan tayuban dengan kendang, gong, bonang, saron, dan gambang. Yang lebih besar lagi adalah ritual arak kebo bule yang menurut Dakta (2022) hanya digelar delapan tahun sekali; pada Januari 2022 warga mengarak hasil bumi berupa buah, kue, ikan, daging, dan nasi lima warna di atas ancak bambu 1,5 x 1,5 meter beralas daun pisang. Tokoh adat Suta Tjamin, seperti dikutip Dakta, memaknainya sebagai syukur karena warga diberi kesehatan, sandang, pangan, papan, dan dijauhkan dari bencana. Cerita lengkap kampung ini ada di artikel Kampung Adat Kranggan.
Sedekah bumi versi Betawi juga masih ada di Pondok Melati; situs Pemkot Bekasi mencatat Wakil Wali Kota Tri Adhianto menghadiri sedekah bumi masyarakat Betawi di Sanggar Sasak Djikin, Jalan Raya Hankam, pada Juli 2019.
Hajatan Nikah: Palang Pintu Versus Rebut Dandang
Palang pintu: silat dan pantun di depan pintu
Di Jakarta, rombongan pengantin pria yang datang ke rumah pengantin perempuan akan dihadang palang pintu: jawara dari pihak perempuan menantang jawara pihak laki-laki berbalas pantun, lalu beradu silat (beklai), dan ditutup dengan pengantin pria diuji membaca sike atau salawat. Situs Budaya Betawi IKJ mencatat asal pastinya tak diketahui, tapi cerita rakyat menyebut si Pitung (1874–1903) pun melewati prosesi ini saat menikahi Aisyah.
Rebut dandang: khas Betawi pinggir Bekasi dan Depok
Di Bekasi, palang pintu dikenal, tapi tradisi yang lebih asli adalah rebut dandang atau berebut dandang. Wikipedia Indonesia mencatatnya sebagai tradisi Betawi pinggir yang berkembang di Depok dan Bekasi, dengan pantun berdialek Betawi Ora, dialek yang juga kami bahas di artikel Bahasa Betawi Ora. Urutannya menurut Disparbud Kota Bekasi: dua jawara berbalas pantun, beradu silat, lalu jawara pihak laki-laki menyerahkan dandang, yaitu alat penanak nasi, kepada pihak perempuan. Ada tiga variasi: dandang disematkan di punggung jawara perempuan lalu direbut jawara laki-laki (versi Depok), sebaliknya di punggung jawara laki-laki (versi Bekasi), atau diletakkan di tengah arena. Musiknya pun beda: di Bekasi diiringi gendang pencak, hadroh, atau rebana ketimpring, bukan tanjidor.
Dandang adalah simbol tanggung jawab laki-laki menafkahi rumah tangga. Keluarga yang memilih upacara ringkas, menurut Disparbud, cukup menggantinya dengan orang tua mempelai perempuan mengalungkan bunga ke calon menantu, lalu langsung akad.
Rangkaian hajatan Betawi Bekasi
Rebut dandang cuma satu babak. Disparbud Kota Bekasi (2017), mengutip Andi Sopandi, menggambarkan hajatan Bekasi tempo dulu: pengantin pria diantar orang tua, kerabat, dan tetangga sambil membawa bawaan dalam dondang, tandu hias khas Bekasi berpengaruh Sunda-Betawi, dengan ahli pantun laki-laki yang mengiringi rombongan. Dulu pengantin perempuan dibawa ke rumah penghulu dengan delman bertirai kain hitam sebagai tanda bagi orang yang berpapasan. Hiburannya tanjidor, topeng, atau wayang kulit Bekasi. Kini rangkaian itu dipadatkan jadi satu hari, tapi ngarak penganten dan rebut dandang tetap paling ditunggu.
17 Agustusan: Tradisi Paling Muda, Paling Merata
Tradisi paling muda sekaligus paling merata lintas etnis dan agama adalah 17 Agustusan. Lomba andalannya, panjat pinang, menurut CNN Indonesia (2026) ditelusuri sejarawan ke tradisi masyarakat Tionghoa di Nusantara, lalu diadopsi orang Belanda sebagai hiburan pesta: pribumi memanjat memperebutkan hadiah, orang Belanda menonton. Setelah merdeka maknanya dibalik jadi simbol kerja sama.
Di Bekasi, 17 Agustusan berjalan dua lapis: lomba dan karnaval tingkat RT/RW, misalnya Desa Muktiwari, Cibitung, yang pada 16–17 Agustus 2025 menggelar senam bersama, tari kreasi anak, upacara, karnaval keliling desa, dan jaipongan; serta pawai tingkat kota seperti Karnaval Pesona Nusantara Pemkot Bekasi pada 20 Agustus 2023 di Jalan Ahmad Yani dengan lebih dari 500 peserta. Ondel-ondel dan tanjidor sering ikut diarak, sehingga 17 Agustusan diam-diam jadi panggung baru kesenian Betawi Bekasi.
Fakta Singkat
- Nyorog berarti "mengantarkan"; dilakukan yang muda ke yang dituakan seminggu hingga sehari sebelum Ramadan dan diulang jelang Lebaran. Menurut Yahya Andi Saputra berakar pada tradisi baritan pra-Islam.
- Munggahan dari kata Sunda unggah (naik): ziarah kubur, saling memaafkan, dan makan bersama sebelum puasa.
- Dodol Betawi di Kampung Ceger, Cibitung, diaduk 7–8 jam di tungku kayu; lebih dari 40 perajin, permintaan naik 50 persen jelang Lebaran (bekasikab.go.id, 2022).
- Andilan adalah patungan kerbau setahun penuh, dipotong 1–2 hari sebelum Lebaran; kerbau dipilih karena toleransi terhadap tetangga Hindu.
- Babarit/arak kebo bule Kampung Kranggan digelar delapan tahun sekali; terakhir 14 Januari 2022 dengan nasi lima warna di atas ancak bambu 1,5 x 1,5 meter.
- Rebut dandang adalah tradisi Betawi pinggir Bekasi dan Depok: pantun, silat, lalu penyerahan dandang sebagai simbol tanggung jawab laki-laki; di Bekasi diiringi gendang pencak, hadroh, atau rebana ketimpring.
- Lebaran Betawi Pondok Melati digagas KOASI sejak 2016; Lebaran Bekasi digelar Forsilabb.
Pertanyaan Umum Seputar Tradisi Betawi Bekasi
Apa itu nyorog dan kapan dilakukan?
Nyorog adalah tradisi Betawi mengantar bingkisan makanan atau bahan pokok kepada orang tua, mertua, kerabat yang lebih tua, dan guru sebagai tanda hormat dan silaturahmi. Di Bekasi biasanya dilakukan seminggu sampai sehari sebelum Ramadan, lalu diulang menjelang Idulfitri. Isinya bisa rantang masakan, beras, gula, buah, atau ikan bandeng.
Apa bedanya palang pintu dengan rebut dandang?
Keduanya sama-sama memadukan pantun dan silat di prosesi pernikahan. Palang pintu lazim di Betawi Jakarta dan ditutup dengan ujian mengaji atau salawat pengantin pria. Rebut dandang khas Betawi pinggir Bekasi dan Depok: setelah pantun dan silat, jawara pihak laki-laki menyerahkan dandang sebagai simbol tanggung jawab menafkahi, dengan pantun berdialek Betawi Ora dan iringan gendang pencak atau rebana.
Apa itu andilan dan apakah masih ada di Bekasi?
Andilan adalah patungan warga sekampung membeli kerbau yang dipotong sehari atau dua hari sebelum Lebaran, lalu dagingnya dibagi rata. Di Jakarta tradisi ini nyaris hilang karena tidak ada lagi lahan memelihara kerbau, dan menurut Mojok (2022) kini bertahan di daerah pinggiran seperti Bodetabek, termasuk kampung-kampung Bekasi yang masih punya lahan.
Apa itu babarit atau sedekah bumi Kranggan?
Babarit atau babaritan adalah upacara syukur hasil bumi Kampung Adat Kranggan, Jatisampurna, yang digelar sekitar tahun baru Saka dengan doa, arak-arakan hasil bumi, dan tayuban. Ritual besarnya, arak kebo bule, hanya digelar delapan tahun sekali; terakhir pada Januari 2022.
Apakah tradisi-tradisi ini masih hidup?
Sebagian besar masih hidup, terutama nyorog, munggahan, ngaduk dodol, dan rebut dandang di hajatan. Yang paling terancam adalah andilan karena kebutuhan lahan, dan festival seperti Lebaran Betawi Pondok Melati yang sempat vakum karena minim dukungan. Komunitas seperti KOASI, Forsilabb, dan kasepuhan Kranggan jadi penjaga utamanya.
Sumber & Referensi
- Tirto.id, "Nyorog Betawi Sambut Ramadhan, Warisan Masa Penyebaran Islam" (2025). tirto.id
- "Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Nyorog di Kampung Pondok Benda Kecamatan Jatiasih Kota Bekasi", Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama Vol. 4 No. 1 (2021). jurnal.uinsu.ac.id
- Abdul Qodir Zaelani, "Nyorog Tradition of Betawi Community in The Perspective of Islamic Family Law (A Case in The Betawi Community in Bekasi, West Java)", Al-Ulum Vol. 19 No. 1 (2019). journal.iaingorontalo.ac.id
- Infobekasi, "Ini 4 Tradisi Kebiasaan Orang Bekasi Jelang Bulan Puasa Ramadan" (2026). infobekasi.co.id
- Detik Jabar, "Asal-usul Munggahan Menyambut Ramadan di Sunda" (2025). detik.com
- Pemkab Bekasi, "Jelang Lebaran, Omset Penjualan Dodol Betawi di Kabupaten Bekasi Naik 50 Persen" (2022). bekasikab.go.id
- Historia.id, "Andilan Orang Betawi Menyambut Lebaran" (2026). historia.id
- Disparbud Kota Bekasi, "Prosesi Berebut Dandang". disparbud.bekasikota.go.id
- Disparbud Kota Bekasi, "Acara Perkawinan Khas Bekasi" (2017). disparbud.bekasikota.go.id
- Wikipedia Indonesia, "Rebutan dandang". id.wikipedia.org
- Dakta, "Jaga Tradisi, Warga Kranggan Gelar Sedekah Bumi dan Ritual Adat Arak Kebo Bule" (2022). dakta.com
- Pilar Indonesia, "Bang Ilok: KOASI, Penjaga Tradisi Betawi Bekasi, Lebaran Betawi Pondok Melati yang Dirindukan" (2026). pilarindonesia.id
- CNN Indonesia, "Sejarah Panjat Pinang, Tradisi 17 Agustus yang Berawal dari Kolonial" (2026). cnnindonesia.com
- Wikimedia Commons, "Pesta Pernikahan Adat Betawi" (2018, Rifdakamila, CC BY-SA 4.0). commons.wikimedia.org
Dari rantang nyorog sampai dandang yang direbut jawara, tradisi-tradisi ini adalah cara warga Bekasi merawat hubungan dengan orang tua, tetangga, tanah, dan Tuhan. Kalau di kampungmu masih ada andilan kebo, babarit, atau rebut dandang dengan versi yang beda, tulis di kolom komentar atau kirim ceritanya ke redaksi Planet Bekasi. Kisah seperti ini kita kumpulkan di label Asal Usul.
Posting Komentar